Amandel Morgan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Perpisahan
Lolos moderasi pada: 14 January 2016

Kedua mataku tidak henti-hentinya berbinar melihat objek di luar jendela kamar yang begitu menggoda. Tempat itu bagaikan surga kecil yang selalu aku singgahi bersama dia. Dia ialah Morgan, sahabatku.

“Kemarin aku nggak lihat Morgan, apa dia marah gara-gara ulahku?” sudah berapa kali aku bertanya seperti itu pada diriku sendiri. Tentu saja, sudah dua hari ini aku tidak pernah lagi mendengar kabar dari sang jagoan kecil itu.

Kincir angin yang ku pegang berputar mengibarkan rambut tipisku. Ku lihat, Morgan asyik melahap es krim cokelat kesukaannya. Tiap hari ada es krim, apa dia tidak takut akan amandelnya itu? Hmm…

“Gan,” tegurku tanpa menatap ke wajahnya. Sorot mataku hanya terpacu pada bukit hijau yang menjulang di hadapan kami. “Kalau kamu besar nanti, mau jadi apa?” tanyaku sekedar memecah keheningan.
“Aku? Aku mau jadi orang yang pertama kali memakan seribu jenis es krim.” jawabannya begitu menggelikan. Imajinasinya memang begitu tinggi. Maklum saja, kami baru berusia 9 tahun, masih bisa dibilang ‘labil’ lah.

“Hahaha, sumpah lucu banget.” tawaku seolah pecah melebihi kepingan kaca *abaikan.
Alis kanannya menaik, “Kenapa ketawa, memangnya ada yang lucu?” Bukannya diam, aku malah semakin tertawa mendengar ucapannya yang ia jawab dengan wajah polos.
“Enggak ada, kok. Becanda, Gan.” Ia seperti patung hidup. Hanya diam dan sesekali melahap makanan manis itu. Aku langsung menatapnya, tidak ada satu pun ekspresi marah yang terlihat.

“Kenapa? Ngambek ya.” aku perlahan membaringkan tubuhku di hamparan rumput. Morgan mengikutinya, ia membiarkan bibirnya berlumuran es krim.
“Kalau iya, kenapa?”
“Dasar tukang ambekan.” ucapku sedikit menyindir. Dengan jahilnya, aku menarik hidung mancung Morgan.
“Huh! Aku kan enggak suka hidungku dimain-in.” gerutunya.

“Habisnya kamu diam aja, sih. Makanya aku bikin ulah. Hihihi.”
“Awas ya…” Tanpa aba-aba lagi, aku berlari dengan kecepatan maksimum. Morgan mengejarku dari belakang sambil membawa sisa es krimnya. Karena kurang berhati-hati atau apa, Morgan tersandung batu kecil dan es krim tersebut terjatuh ke permukaan tanah. Langsung saja Morgan menangis layaknya anak kecil yang tidak dibelikan mainan. Aku lalu mendekatinya, bermaksud untuk menyudahi acara tangisannya itu.

“Cup-cup-cup, jangan nangis dong.” aku masih saja bercanda melihat sahabatku menangis. Tidak patut ditiru memang kelakuanku ini. Perlahan, tangisan itu mulai berhenti. Tapi sayangnya, Morgan langsung berlari meninggalkanku. Ada yang salah? Tidak biasanya dia bersikap seperti itu. Aku menganggapnya itu sesuatu yang wajar, mungkin saja ia ingin mengambil es krimnya lagi dan memasukkannya ke mulutnya itu.

Kembali aku mengingat kejadian lucu kemarin. Namun setelah itu, Morgan tidak lagi mendatangi rumahku hanya untuk sekedar berbasa-basi. Ah, tidak cara lain lagi. Aku lalu berniat menuju ke rumahnya untuk meminta maaf dan kembali bersamanya lagi. Kalian tahu, sehari tidak bersama sahabat seperti separuh nyawa yang hilang. Aku memang terlalu bijak atau lebay sepertinya, hahaha.

“Hai, Gan.” sapaku saat wajah Morgan tampak. Suaraku memang sengaja ku lembutkan seperti kain sutra. Morgan sepertinya ingin pergi ke suatu tempat. Lihat saja, pakaiannya rapi sekali.
“Ada apa? Tumben ke sini.”
“Ehm, aku ke sini untuk minta maaf.” Huft, aku tahu aku salah. Dan, berpuluh-puluh kali aku mengucapkan ‘maaf’ padanya, tapi malangnya aku berbuat nakal lagi.
“Minta maaf untuk apa? Aku rasa kamu nggak ada salah sama aku.”
“Minta maaf untuk semuanya.” balasku demikian. Morgan lalu menarik tangan kananku. Mau diajak ke mana aku ini.

Langkahnya terhenti di depan sebuah tempat aku dan dia sering bermain. Ayunan. Ia lalu duduk dan mendorong kakinya di ayunan tersebut.
“Aku benci mengatakan ini, tapi–”
“Tapi apa?” dengan penasaran aku menanti pernyataannya.
“Mungkin hari ini, hari terakhirku bersamamu.” Mulutku terasa beku. Kejutan yang begitu pahit.
“Apa? Maksudmu, kamu akan pergi?” Morgan mengganguk. Ia berjalan mendekati dan memelukku. Pelukan sahabat di waktu akhir. Aku membalasnya, barang kali ini bukan perpisahan.

“Aku pergi untuk mengoperasi amandelku yang membengkak ini.” ucapnya jujur. No problem, sadar akan bahaya terlalu banyak menikmati es krim itu penting baginya.
“Tidak apa. Semoga operasi itu berjalan lancar.” Morgan mengangguk dan melepaskan pelukan hangat itu.
“Tahu nggak. Mungkin impianku melahap 1000 jenis es krim segera ku lupakan jauh-jauh.” Aku tertawa. Dasar bodoh, aku kira dia hanya bergurau. Morgan hanya tersenyum manis. Manisnya melebihi gula aren kesukaanku. Eh?

Tiba-tiba saja muncul ide usilku. Sebagai kenang-kenangan, aku langsung menarik hidungnya. Siapa tahu dia kangen akan ulahku ini, hehehe.

The End

Cerpen Karangan: Raysazahra
Facebook: Raysa Zahra II

Cerpen Amandel Morgan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sepupuku Bukan Musuhku

Oleh:
Sewaktu itu, sepupuku punya sahabat dan aku tau mereka buat perjanjian di persahabatan mereka. Dan beberapa hari yang lalu, aku dan sepupuku sempat berkelahi dan aku sempat meminta maaf

Cinta yang Tumbuh di Kota Medan

Oleh:
“Kiki, cepetan! Udah ditunggu Uwak tuh!” teriak ibuku yang sedang menungguku di ruang tamu. “iyaa bu.. tunggu.. bentar lagi kok..” sahutku seraya membereskan barang-barangku ke koper. Tak lama kemudian,

Persahabatan itu Indah

Oleh:
Bagiku, persahabatan itu indah. Karena sahabat bisa membuat kita merasakan senang, tertawa, bersedih, marah, jengkel, dan lain lain. Dan itulah yang terjadi padaku. Aku mempunyai seorang sahabat, namanya Dina.

Mimpi Meraih Prestasi

Oleh:
Seperti biasa emak Limbok selalu membuka daun jendela kamar Limbok setiap pukul 05.30 pagi. Jendela kamar sudah terbuka sejam lalu, namun Limbok masih saja mengeluarkan dengkuran. Kedua kakinya yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *