Bakat Terpendam Seorang Anak Tunawicara

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak
Lolos moderasi pada: 21 March 2017

Namaku Asilianty Laifah, biasa dipanggil Silia. Aku berada di keluarga miskin, namun bisa makan, walau 1 hari 2 kali. Aku hanya tinggal sama ibuku, ayahku telah meninggal sebelum aku dilahirkan karena leukimianya sudah akut. Aku juga mempunyai kekurangan, yaitu aku tunawicara atau tidak bisa berbicara. Aku mendapat beasiswa di sekolah elit, yaitu National Elementary School (NES). Karena pihak sekolah menurutnya aku pintar (memang begitu menurut mereka, namun menurutku aku biasa-biasa aja), jadi perlengkapan sekolah aku dikasih dan Spp aku dibebaskan. Di sekolah, temanku hanya Annisa Latifiah (Latif), Arsyntha Andara Azilah (Syntha), dan Ilhamsyah Allam Mustafa (Ilham). Mereka semua membenciku termasuk geng: The Ferfect Girls. Anggotanya ialah Nida, Zehra, Afufa, Nerny, Lazita, Fenittha sebagai ketua. Mereka semua mapan-mapan, tapi sifatnya yang sombong itu membuat mereka dijauhi. Nida itu adalah kembaran Latif, namanya Annida Letifiah.

Pada suatu hari, di sekolah…
Kukuruyuk!! Kukuruyuk!! petok petok!!
Bunyi ayam tetangga sebelah. Aku pun terbangun dari tidurku. ‘Sudah jam lima!’ batinku. Aku pun segera mandi dan sekalian wudhu di sungai tepat di belakang gubukku. Sungainya masih jernih. Usai mandi, kebetulan ini hari senin, aku mengenakan seragam merah-putih lengkap dasi dan topi, ikat pinggang, dan kerudung putih. Lalu aku Salat Subuh. Usai Salat, aku merapikan alat Salatku. Lalu aku menghampiri ibu yang menyiapkan sarapan, kebetulan tetangga sebelah kami namanya bu. Anneta, sangat kaya dan baik. Ia memberi kami lauk dan nasi untuk stok selama 10 bulan.

“Halo sayang… Sarapan dulu nanti biar ndak pingsan saat upacara” sapa Ibu. Aku menganggukan kepala. Aku melahap menu sarapan hari ini, nasi dengan telur dadar dan air putih. Langsung aku melahap sarapanku. Usai sarapan, aku menggendong tasku. Kebetulan tadi malam aku sudah menyusun buku untuk hari ini. ‘Bu, aku berangkat dulu, assalamualaikum!!’ salamku dengan bahasa isyarat sembari mencium telapak tangan kanan ibuku. “Iya sayang, hati-hati! Waalaikumsalam!!” jawab ibu. Aku cukup berjalan kaki, kebetulan jarak dari rumah sekitar 300 Meter-an.

Sesampai di sekolah, aku menuju kelasku dan menaruh tasku di bangku. “SILIA!! !SILIA!! ADA KABAR BAIK!!!” teriak Ilham sembari menghampiriku. Aku menyobek secarik kertas di buku, menulis sesuatu untuk Ilham. Ilham membacanya: Kabar baik apaan, sih Ham?
Ilham menjawab dengan menulis:
Kamu dipanggil Bu. Malya (wali kelasku).
Aku menjawab:
Masa?! emang kenapa, Ham?
Ilham menjawab:
Ndak tau juga!!tapi Latif sama Syntha di ruang bu Malya!! Ia juga dipanggil

Aku segera menuju ruang bu Malya. Tok.. Tok.. Tok.. aku mengetuk pintu ruang bu Malya. “Masuk!” seru orang di dalamnya. Aku membukanya. Di sana sudah ada bu Malya, Latif, Syntha, dan pak Ally (kepsek di sekolahku). “Ada lomba untuk memperingati ultah sekolah ini, kamu dipilih lomba menggambar dengan tema ‘National Elementary School’, Latif lomba menyanyi lagu nasional, dan Syntha lomba puisi dengan tema guru!” ucap pak Ally. Aku kaget, begitu juga Latif dan Syntha. Memang Latif mempunyai suara sangat apik, Syntha memang pintar mengarang puisi, dia pernah dipilih lomba puisi nasional, mendapat juara 4. “Kapan, pak acaranya?” tanya Latif yang disambut anggukan kepalaku. “1 minggu lagi,” jawab bu Malya. Kami pamit kepada guru dan menuju kelas. “Kalian kenapa?” tanya Ilham. “Alah!!! paling Silia and the grup ngelanggar, jadi bayar denda!!” cela Nida. “Heh! Nida ucapanmu nggak sopan!!!” marah Latif seraya memukul kepala Nida dengan keras. Nida balas menampar pipi Latif yang sawo matang. Spontan aku, Syntha, dan Ilham melerai. Untung bisa dilerai, kalau tak, ya panggil guru

Teng!! Tung!! Tong!! Bell!!!
Bel berbunyi. Seluruh siswa baris di lapangan untuk melaksanakan upacara bendera. Usai upacara, kami masuk kelas masing-masing. Usai berdoa, guru agama kami, Bu. Almi masuk ke kelas kami. Kebetulan di kelasku mayoritas muslim. “Kita akan periksa Pr minggu lalu!” tegas Bu. Almi. “Yang nggak kerjakan maju!!”. Semua anggota The Ferfect Girl maju. Mereka tak mengerjakan Pr. Memang sama bu Almi, yang tidak mengerjakan Pr, yang mengerjakan Pr di rumah menjewer mereka. Usai dapat hukuman, kami belajar seperti biasa.

SATU MINGGU KEMUDIAN…
Kukuruyuk!! Kukuruyuk!!!
Seperti biasa, aku melaksanakan rutinitas pagi hari. Usai sarapan, aku pamit dan menuju sekolah. Sesampai di kelas, aku latihan menggambar lagi. Aku selalu latihan setelah salat Isya’. Karena aku belajar setelah salat Maghrib, habis latihan menggambar, baru aku makan malam. “Hai Silia! kamu nih, latihan terus, kudoain agar kamu juara…,” celetuk Ilham, Syntha, dan Latif yang tiba-tiba datang. Aku hanya tersenyum seraya mengucap dalam hati ‘Amin!! makasih doanya sahabat!’. “Masa anak bisu bisa menang!? akulah, pasti bisa menang!!!” pamer Fenittha, ia juga ikut lomba menggambar. Semua anggotanya mengiyakan. Namun aku dan sahabatku menganggap mereka angin saja. ‘Ham kamu lomba apa?’ tanyaku pada ilham dengan bahasa isyarat, kebetulan ketiga sahabtku bisa bahasa Isyarat. “Lomba Pidato bahasa Jawa!” jawab Ilham.

Lomba Selesai
Pengumuman juara 1 Minggu lagi

1 Minggu berlalu…
Sesampai di kelas, aku membaca buku pelajaran hari ini agar menghilangakn rasa deg-degan ku. “He anak bisu!! jangan harap loe yang menang!!” teriak Fenittha. Anggota geng Fenittha mencaci maki aku. Aku hanya tetap fokus kebuku. “Heh!!! kenapa kalian caci maki Silia!!??” teriakan yang keras itu membuat anggota geng The Ferfect Girl berhenti mencaci maki aku, itu Latif!

“Nida!! kuberi tahu nanti Papa kalau kamu ngejek Silia!” bentak Latif. Mereka pergi sembari mengoceh kesal.

Selesai Upacara
“Jangan bubar dulu!!” seru pak Ally menggunakan mik untuk amanat pembina upacara. Semua baris seperti tadi. Rupanya pengumuman juara lomba seminggu lalu! Pertama pengumuman juara pidato bahasa Jawa, Ilham juara 3! ke dua juara mengarang cerpen anak, ke tiga lomba fashion show, ke empat mengarang puisi, Syntha juara 1!, ke lima pidato bahasa Inggris, ke enam menyanyi, Latif juara 2!, ke tujuh lomba estafet, ke delapan adalah terakhir, yaitu lomba menggambar!!!

“Ok yang terakhir! lomba menggambar! juara 3 Nazifya Aufya kelas 4! juara 2 Benno Satrio kelas 6! juara 1, Fenittha Cantika Ratu kelas 5!!!” ucap Pak Ally. “Sabar, ya kamu Sil” ucap Latif. “Eh, ralat! juara 1 Asilianty Laifah kelas 5!!” ralat pak Ally. Apa?! aku pun maju. Aku menerima hadiah lomba sekabupaten, aku juara 2, lalu seprovinsi juara 3, nasional juara 2, dan internasional juara 1 girangnya hatiku. Aku sekarang kaya raya, tapi tidak mau sombong. Ini adalah titipan semata-mata dari Yang Diatas. Geng The Ferfect Girl bubar dan meminta maaf padaku dan sahabatku. Aku dan sahabatku menerimanya. Temanku semua yang dulu membenciku sekarang menyayangiku. Aku, Latif, Syntha, Ilham, Fenittha, Nida, Zehra,
Afufa, Nerny dan Lazita bersahabat walaupun 10 hari memenangkan lomba menggambar seInternasional, aku sudah dipanggil oleh maha kuasa. Selamat tinggal Ibu, Sahabatku!! semoga kita ketemu di akhirat nanti… Amin!! I Love You Mom and Best Friends…

Cerpen Karangan: Alyania Nur Adelawina
Facebook: Alya Aniza

Cerpen Bakat Terpendam Seorang Anak Tunawicara merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Misteri Yang Tidak Terpecahkan

Oleh:
Pada suatu desa yang indah dan subur, terdapat sebuah rumah yang konon pada zaman Belanda dulu kala itu dipakai sebagai tempat pembuangan mayat orang-orang pribumi pada saat itu semenjak

BFF In My Dream

Oleh:
Di sekolah, Ray termasuk anak yang pendiam. Ia mempunyai teman banyak, tapi tidak mempunyai satu pun sahabat. Ray pintar dalam pelajaran, terutama pelajaran Matematika dan Ipa. Malam hari, ketika

Menanam Seribu Pohon

Oleh:
Pagi itu, suara Ibu membuatku terbangun dari tidurku. Tak tahunya, ibu ingin mengajakku pergi ke taman untuk menghadiri acara menanam seribu pohon di desaku jam 08.00 nanti. Aku pun

Cincin di Taman

Oleh:
“Kring… kring,…” suara jam weker Dira yang sudah berdering untuk membangunkannya. “Hoaii… aku harus segera bersiap untuk pergi joging bersama Lili” kata Dira dan segera bangun dari tempat tidurnya.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *