Bermain Kasti

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak
Lolos moderasi pada: 24 March 2017

Pemanasan di halaman depan SD Kawruh 2 masih berlangsung. Bambang adalah salah satu siswa kelas III yang menyukai praktek di pelajaran olahraga. Mereka bisa belajar di luar ruang kelas cukup lama. Setelah pemanasan.

“Hari ini Bapak Surono tidak bisa hadir mengajar olahraga karena sakit. Bagi siswa-siswi kelas III dimohon tetap olahraga sesuai dengan olahraga kesukaan masing-masing!!” Ketua kelas membacakan kertas berisi pesan dari Bapak Surono.
“Yeee… yee… Yihaa!!” Semua siswa berjingkrak tanda bahagia karena bisa lebih bebas.
“Teman-teman, ayo kita main bola!!” Seru Bambang.
“AYO!!!” Ujar Paijo dan Bambang mengambil bola dari dalam gudang. Setelah bola sudah siap.
“Eh, tunggu! Kalau kalian main bola di halaman, lalu yang perempuan di mana?” Ujar Darsi kebingungan.
“Oh iya, (berpikir sejenak) kalau kita main kasti saja bagaimana?” Ujar Paijo.
“Ide bagus, Jo. Kan bisa adil” Ujar Darsi.
“Aku enggak setuju, kita laki-laki kan punya hak buat main bola.” Ujar Bambang.
“Gimana sih, Bams. Terus yang perempuan main di mana?” Sahut Darsi.
“Itu urusan kalian, keluar sekolah saja sana!!” Ujar Bambang.
“Kita kan enggak boleh keluar sekolah tanpa didampingi Bapak Surono. Ya sudah, terserah kalian. Aku sama teman-teman perempuan tidak usah olahraga saja.” Ujar Darsi dengan muka memerah.

Paijo lebih menginginkan jika mereka bermain bersama-sama antara siswa dan siswi. Paijo membisikkan sesuatu ke telinga Bambang.
“Bams, gini aja. Kalau kita menang kasti nanti anak-anak perempuan harus beliin anak laki-laki jajanan bakso. Gimana?” Ujar Paijo. Bambang berpikir agak lama dan sempat mengatakan tidak mau kepada Paijo, tetapi keputusan akhirnya.
“Boleh juga. Kita pasti menang kok.” Ujar Bambang dengan nada percaya diri tinggi.

Setelah Darsi bersama teman-temannya pergi cukup jauh dari hadapan Bambang. Bambang memanggilnya lagi untuk menyetujui bermain kasti, tetapi dengan persyaratan tim yang kalah harus membelikan tim yang menang. Darsi dan teman-teman perempuan menyetujui hal itu. Lalu dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok putra dan putri. Setelah suit, yang berada di dalam kandang adalah tim putra, tim putri berjaga. Paijo sebagai pemukul pertama sangat cepat dalam berlari hingga tiba saatnya pemukul terakhir yaitu Bambang yang bermain dan menjadi penentu dapat atau tidaknya poin. Setelah memukul tiga kali dengan baik, dan sebagian teman-temannya sudah kembali ke kandang. Di pukulan terakhir, Bambang agak lemah tetapi dia sudah berlari. Itu membuat bola kasti mudah ditangkap oleh penjaga.
“Bukkk…!!” Lemparan Darsi mengenai pergelangan tangan Bambang dengan sangat keras.
“Aduh… aduh sakit.” Bambang kesakitan memegangi pergelangan tangan kirinya sambil merasa sebal dengan Darsi.
“Gimana tanganmu, Bams? Apa kamu enggak usah main aja?” Tanya Paijo yang sudah keluar kandang.
“Enggak, Jo. Aku akan tetap melawan mereka.” Ujar Bambang dengan menahan rasa sakit dan menggertakkan giginya.

Sekarang giliran tim putri yang berada di kandang. Pemukul pertama adalah Menik yang berhasil lari secepat mungkin. Disusul pemukul kedua yaitu Darsi yang juga memaksimalkan kecepatannya berlari. Tapi setengah berlari, dia jatuh dan menangis. Tidak banyak yang sempat melihat kronologi saat Darsi terjatuh kecuali Menik, karena mereka fokus kepada bola kasti.
“Eh… Darsi jatuh.” Ujar Paijo. Lalu mengangkatnya bersama Joko ke luar arena permainan. Darsi menangis sangat kencang dan akhirnya permainan dibubarkan.
Menik melihat Bambang mengulurkan kakinya untuk menyandung Darsi supaya Darsi terjatuh tetapi dia tidak berani mengatakannya pada teman-teman yang lain.
Luka Darsi di telapak tangan dan lutut dibersihkan oleh Menik, diberi obat merah dan perban supaya cepat sembuh. Darsi berterima kasih kepada Menik dan berhenti menangis.

Setelah jam pelajaran olahraga berakhir dan siswa siswi sudah berganti pakaian. Darsi dengan menyeret kaki kanannya menghampiri Bambang yang duduk di bangku.
“Bams, maaf tidak bisa menyelesaikan pertandingan. Tetapi aku tahu pasti timmu menang dan hari ini tim putra sudah bekerja keras. Ini bakso untuk tim putra, maaf jika kurang. Karena aku membelikan itu hanya dengan Menik, teman-teman tim putri banyak yang tidak setuju jika aku mengambil kesimpulan bahwa yang menang tim putra. Jadi mereka tidak mau membelikan.” Ujar Darsi. Bambang merasa terharu dengan perbuatan Darsi.
“Darsi, aku mau ngomong tapi jangan marah ya.” Ujar Bambang.
“Ada apa?” Tanya Darsi penasaran.
“Sebenarnya tadi aku yang buat kamu jatuh. Aku menyandung kakimu.” Ujar Bambang.
“Apa??” Ujar Darsi dengan nada tinggi lalu menghela nafas.
“Maaf ya, Darsi. Itu baksonya buat kamu aja.” Ujar Bambang dengan muka sedih.
“Tidak apa-apa, Bams. Sudah aku maafkan tapi jangan diulangi lagi ya.” Ujar Darsi.
“Iya, Dar, terima kasih. Itu baksonya makan saja sama Menik.” Ujar Bambang.
“Tidak, Bams. Tolong panggil tim putra, kita makan bareng-bareng.” Ujar Darsi.
“Tapi…” Ujar Bambang.
“Tim putra, kumpul di bangku Bambang. Ayo kita makan bakso bareng!!!” Seru Darsi dengan nada tinggi.
“Wah… akhirnya makan bakso gratis. Yeee!!!” Ujar Paijo.

Cerpen Karangan: Monika Novita P
Facebook: Moniqa Novitha Pratiwie

Cerpen Bermain Kasti merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kesombonganku Adalah Sengsaraku

Oleh:
Di taman yang indah dan sejuk, hiduplah kupu-kupu dan lebah yang sangat cantik warnanya. Mereka bersahabat dan selalu bermain bersama. Kupu-kupu itu mempunyai warna nan elok bagaikan warna pelangi,

Sahabat Yang Telah Pergi

Oleh:
Hari itu aku berangkat ke sekolah dan menjumpai tiga orang sahabatku, yang bernama salsa, laila dan lela. Mereka sahabatku dari kelas satu tapi berbeda kelas, aku menyapa ketiga sahabatku

Warisan

Oleh:
Lisa, seorang anak remaja yang masih duduk dibangku sekolah menengah atas. Dia anak dari keluarga yang kurang mampu. Beda dengan teman-temannya yang memiliki materi yang berkecukupan. Suatu hari, di

Emy

Oleh:
Rumah kardus adalah rumahku. Aku hanya hidup sebatang kara. Entah kemana perginya orangtuaku. Aku sudah biasa dengan kebisingan kota ini. Kerjaku hanya mengamen setiap hari. Disaat orang lain sekolah

Persahabatan itu Indah

Oleh:
Bagiku, persahabatan itu indah. Karena sahabat bisa membuat kita merasakan senang, tertawa, bersedih, marah, jengkel, dan lain lain. Dan itulah yang terjadi padaku. Aku mempunyai seorang sahabat, namanya Dina.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *