Boneka Robot Kucing

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak
Lolos moderasi pada: 19 June 2017

“Hua!! Pokoknya aku pingin melihara kucing!! “bentakku. “Tapi, kamu alergi sama kucing, sayang,” ucap Bundaku dengan lembut. “Tap.. Tapi, kucing itu imut,” tangisku. “Mengertilah dengan keadaanmu itu, adikku tersayang,” ucap kakakku, kak Razwa. “Kami melarang demi kesehatanmu, Va,” kata Ayah dengan bijak. Aku masuk ke kamar. Brrak!!! kubanting pintu kamar dengan penuh amarah. “Huhuhu!” aku menangis tanpa mengeluarkan suara. Agar tidak ketahuan Bunda, Ayah dan kak Razwa.

Namaku Sarazvati Larashari Nassar. Panggil aku Razva. Aku punya kakak bernama Sarazwati Larashati Nassar. Kami tidak anak kembar, cuma nama saja yang kembar. Nama bundaku Halimah Asyyifa atau biasa dipanggil bu Imah. Nama ayahku Mohammad Nukman Nassar atau biasa dipanggil pak Nukman. Aku kelas 1 SDI Madinatullah. Kak Razwa bersekolah sama denganku, cuma kak Razwa kelas 4. Aku sangat menyukai hewan kesayangan Rasulullah SAW, yaitu KUCING. Sayangnya, aku sangat alergi bulu kucing. Uh! rasanya ingin memelihara hewan imut itu. Awalnya, saat liburan ke rumah Shivi, saudara sepupuku. Ia mempunyai 2 ekor kucing. Saat aku bermain bersama Krucil (nama salah satu kucing Shivi), aku selalu bersin. Lalu aku dibawa ke dokter. Dokter mendiagnosisku kalau aku alergi kucing.

“Dik Razva,” ucap kak Razwa seraya membuka pintu kamar. Aku sigap mengelap air mataku. “Apa?!” tanyaku. “Nanti malam ke pasar malam. Ikut nggak?” tanya kak Razwa. “Itut!!!” ucapku manja. Itut itu artinya ‘ikut’. “Habis isya’, ya..?” “Sip!!” seruku. Pasar malam bisa menjadi obat sedihku. Aku sangat senang.

Sehabis shalat Isya’, aku sudah bersiap. Kutunggu keluargaku di ruang tamu. “Nanti di pasar malam mau main apa?” tanya kak Razwa yang tiba-tiba duduk di sampingku. “Bianglala, nengok tong setan, mancing ikan mainan. Sama nanti beli popcorn, arum manis, sama jagung manis ya kak…” “Haha! iya adikku. Asal dituruti ama bunda ayah,” sindir kak Razwa. Aku cemberut. Tetapi hanya pura-pura. Setelah semua siap, kami menuju pasar malam.

Ayah memarkirkan mobil di parkiran pasar malam. Ku segera turun. Langsung kami membeli tiket untuk main permainan. Aku dan kak Razwa bermain bianglala, melihat tong setan, memancing ikan mainan di kolam, naik kereta, dan lainnya. Aku juga membeli arum manis, popcorn, jagung manis, dan kacang rebus.

“Sayamg, ayo pulang!” tegur ayah dan bunda melihatku melamun melihat ke arah penjual mainan. “Eh, n..ggak.. papa.. papa… ko.. kok,” ucapku terbata. Bunda mengerti apa yang kuinginkan. “Ayo beli sayang!”. Akhirnya aku mempunyai boneka kucing yang bisa bergerak dan mengeong, namun tidak makan dan membuang kotoran. Cara mengisi tenaganya pun hanya perlu 3 butir baterai jam. Kini, aku tidak merajuk tidak dibelikan Kucing.

Cerpen Karangan: Alyaniza Nur Adelawina
Facebook: Alya Aniza (poto profil memakai kerudung putih, berhias bunga-bunga)
maaf nggak nyambung. soalnya nggak ada ide

Cerpen Boneka Robot Kucing merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Special Gift From My Brother

Oleh:
Seperti biasanya ketika aku dan adikku sedang berkumpul kita pasti selalu bertengkar, entah akhirnya akan ada yang nangis, marah, ngadu ke mama dan lain-lain. Aku selalu melihat adikku adalah

Hantu Bawah Tangga

Oleh:
Waktu itu saya masih berumur 9 tahun, waktu itu ada sebuah tulisan di mading sekolah SD saya yang mengatakan bahwa dulu ada alumni sekolah saya ini, mempunyai dendam kepada

Perang Bedak

Oleh:
Hari itu, hari Jumat, tanggal 14-06-2013. Setelah UKK, aku berangkat seperti biasa, sampai sana sudah ada Alma. Ketika itu, Alma membawa permainan, 10 menit kemudian, Fira datang lalu aku,

Yang Istimewa Belum Tentu Sempurna

Oleh:
“kita main sepeda yuk!” ucap Alexa sambil mengeluarkan sepeda lipatnya yang berwarna merah. “ayo!” ucap Victoria sambil mendorong sepeda lipatnya yang berwarna putih. Hai, namaku Lilian Sastrawibawa. Panggil aku

Milia dan Boneka Kayu

Oleh:
Milia gadis kecil berumur sembilan tahun itu memiliki sebuah boneka kayu peninggalan almarhum kakeknya. Milia senang sekali dengan boneka itu, ia selalu membawa boneka itu ke sekolah, sampai sampai

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *