Hadiah Boneka Wayang untuk Dewa

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak
Lolos moderasi pada: 2 September 2020

Sore itu Dewa mengaku sudah mengerjakan PR.
“Dewa, jangan bohong ya sama mama!” kata mamanya dengan sabar menasehati. Dewa selalu sibuk dengan boneka wayang yang ia namai Arjuna. Dewa yang masih duduk di kelas 3 SD itu sangat menyukai boneka wayang dari kayu yang dibelikan oleh Ayahnya. Kebetulan hadiah itu didapat saat ia berulang tahun ke 8.

Dewa sebenarnya anak yang rajin. Hanya saja, Dewa akan lebih memilih bermain dengan boneka wayang Arjunanya daripada mengerjakan PR lebih dulu. Baginya, Arjuna adalah boneka wayang yang hebat dan pemberani. Seperti yang sering ia dengar dan lihat dari cerita maupun tayangan televisi.

“Mama tadi sudah memeriksa buku catatan PR mu, ternyata belum kamu kerjakan,” ujar mama.
Tanpa melihat wajah mamanya, Dewa menjawab “Sebentar ma, pasti Dewa kerjakan kok” sambil sibuk bermain boneka wayangnya.
“Oh iya, ulang tahun ke 9 nanti Dewa boleh minta kado ulang tahun sendiri ya ma, Dewa mau minta dibelikan boneka wayang Bima.” Pinta Dewa dengan antusias.
“Boleh, asalkan kamu yang rajin ya belajarnya!” mama menjawab.

Pagi-pagi sekali Dewa sudah siap berangkat sekolah bersama Ayahnya. Dewa selalu meminta ke mama untuk menjaga boneka Arjuna miliknya ketika ia berada sedang di sekolah. Semua teman-teman Dewa pun sudah hafal dengan kegemaran Dewa yang berbeda dari temannya kebanyakan. Seperti bermain bola, kelereng, atau playstation.

“Eh, kalian harus tahu nih berita bagus dari aku” Dewa saat bercerita dengan teman-temannya di depan kelas. Seperti biasa, mereka sedang istirahat dan memakan bekal makan siang masing-masing di depan kelas.
“Apa De, palingan kamu mau cerita kan kalau boneka Arjunamu itu menang lagi melawan raksasa, hahahaha…” sahut Desta salah satu temannya.
“Kalian salah, mamaku bilang kalau ulang tahunku ke-9 nanti, aku akan dibelikan boneka wayang Bima, yes, yes, yes!” ujar Dewa sambil meletakkan kotak makanannya dan melompat-lompat.
“Oh”, “Bima….” temannya serentak menyahut bersamaan.

Sepulang sekolah, masih memakai seragam, Dewa langsung memegang Arjuna. “Kamu tenang saja ya, segera kamu akan punya teman.” Ujar Dewa seolah-olah mengajak bicara boneka wayang kesayangannya tersebut.

“Dewa.. ayo segera ganti pakaian. Seragamnya besok masih dipakai lagi. Main-mainnya nanti dulu.” Teriak mama dari dapur dengan nada santai.
“Bermainnya nanti saja, setelah ini kamu akan kedatangan seorang teman baru.” Kata mama.
“Siapa ma, anaknya teman mama ya?” Dewa bertanya penasaran.

Mama sudah menyiapkan guru les privat untuk Dewa. Mama berpikir Dewa akan lebih semangat belajar dan mengerjakan PR jika ada orang lain yang membimbingnya. Mengingat mamanya juga sibuk membuat pesanan kue. Terkadang Dewa lepas dari pengawasannya. Apalagi beberapa hari ini ia sering malas dan menunda-nunda mengerjakan PR.

Akhirnya orang yang ditunggu-tunggu datang.
“Halo… kamu pasti Dewa kan?” sosok perempuan cantik menepuk pundak Dewa dari belakang. Saat itu Dewa sedang bermain dengan Arjuna di teras. Dewa menengok dan hanya membalas senyuman manis dan lembut dari wajahnya yang imut itu.
“Wah wah wah… kalian kelihatan sudah akrab ya?” sahut mama sambil membawa minuman dari dapur.
“Dewa.. kenalkan ini Kak Citra, guru les baru kamu yang akan mengajari Dewa.”
“Kak Citra ini juga masih kuliah lho, sama kayak Dewa, Kak Citra juga punya tugas kuliah. Kalau Dewa menyebutnya PR. Dewa yang nurut ya sama Kak Citra!” ujar mama.
“Kebetulan Kak Citra ini tahu banyak lho tentang cerita-cerita wayang yang kamu suka. Jadi, kamu bisa tanya-tanya kalau mau.” Tambah mama.
Guru les Dewa itu memang masih berkuliah di jurusan bahasa dan sastra.

“Dewa.., Dewa katanya suka wayang Arjuna ya?” tanya Kak Cit dengan antusias dan menaikkan alisnya. Berharap bisa cepat akrab dengan Dewa.
“Iya,” jawab Dewa dengan nada singkat.
“Eh, kamu juga tahu kan kalau dalam pewayangan itu, Arjuna tokoh keren yang pemberani dan tampan?” Kak Citra bertanya lagi.
“Tahu kok,” lagi-lagi Dewa membalas singkat dan cuek.
Kak Citra tahu benar bagaimana anak seusia Dewa yang tidak mudah akrab dengan orang lain. Dewa masih merasa asing walaupun Kak Citra berusaha ingin lebih dekat dengannya.

Hari itu, seperti biasa Kak Citra datang ke rumah dan membantu Dewa mengerjakan PR nya. Namun, Dewa tampak masih memasang wajah malas dan ogah-ogahan karena asyik bermain dengan Arjuna. Padahal sudah menjelang Ujian Tengah Semester.

“Dewa, kamu dapat PR apa hari ini?” tanya Kak Cit.
“Matematika, Kak.” Dewa sambil menunjuk ke arah tasnya. Dewa malah asyik memegang boneka wayangnya. Kak Cit mengalah untuk membuka tas Dewa dan menyiapkannya untuk dikerjakan.

“Dewa, kamu tahu nggak, kalau kita juga bisa bermain dengan boneka wayangmu sambil belajar.” Kak Cit terus berusaha tak kehilangan akal.
“Masak sih,” Dewa menanggapinya dengan santai. Sesekali menghitung dan menulis jawaban di buku PR nya. Sementara Kak Cit juga terus memantau nilai Dewa di sekolah dari buku-buku belajarnya.

Hari ini Hari Minggu, Dewa sangat senang karena les juga libur. Bahkan, Ayahnya mengajak Dewa jalan-jalan ke luar.
Hari berikutnya Kak Cit seperti biasa datang lagi. “Dewa, tebak deh apa yang Kakak Citra bawa,” Kak Cit dengan antusias memperlihatkan bawaannya.
“Wah,… ini tokoh-tokoh wayang ya kak?” Dewa tidak sabar membuka isi tas Kak Cit berisi banyak sekali boneka wayang. Di Hari libur, Kak Cit sengaja menyiapkan semuanya. Membuat boneka wayang dari kardus bekas yang ditempeli dengan kertas gambar tokoh pewayangan. Ada Abimanyu, Bima, Anoman, dan masih banyak lagi.

Hari-hari berikutnya, mereka semakin akrab. Sesekali Dewa berhasil menjawab pertanyaan Kak Cit tentang pelajaran. Kak Cit menghadiahi Dewa dengan cerita-cerita wayang yang menarik. Dewa sangat antusias menyimak. Cerita Kak Cit disampaikan dengan nyaman, santai, dan penuh dramatisasi adegan yang lucu, menyenangkan, sekaligus menegangkan.

“Hoo.. hoo.. hooo, kau banyak bicara juga ternyata Anoman..?”
“E..e.. biarlah aku banyak bicara, daripada kamu banyak makan, sampai perutmu buncit.”
“Ayo makan terus Bima..”

Begitu penggalan cerita Kak Cit yang membuat Dewa tertawa sampai terbahak-bahak. Mama Dewa pun ikut senang mendengar Dewa bisa tertawa lepas. Mama merasa tidak salah memilih Kak Citra sebagai guru les Dewa.

“Dewa… minggu depan kamu sudah Ujian Tengah Semester kan?” tanya Kak Cit
“Iya Kak, beruntung ada Kak Citra yang ngajarin Dewa. Kak Citra juga baik banget sudah mau cerita-cerita dan ngasih boneka wayang ke Dewa.” Jawab Dewa.

Kali ini Dewa sudah sangat berbeda. Dia menjadi anak yang semakin penurut dan tambah manis. Tidak malas-malasan lagi mengerjakan PR. Dia sangat semangat. Dewa merasa bahwa belajar ternyata juga menyenangkan. Apalagi ditambah mendengarkan cerita-cerita wayang dari Kak Citra.

“Dewa, Kak Cit punya kabar gembira lagi nih buat Dewa.”
“Apa kak?” Dewa menjawab dengan penasaran sampai mengerutkan dahinya.
“Mama Dewa tadi bilang ke Kak Cit, kalau nilai Ulangan Dewa bagus, Dewa akan dapat hadiah boneka wayang Bima yang lebih bagus.”
“HOREY…” teriak Dewa kegirangan.

Oktober 2017

Cerpen Karangan: Lely Retno Sari
Blog / Facebook: lelyy

Cerpen Hadiah Boneka Wayang untuk Dewa merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Gelas Bocor

Oleh:
Ada 2 orang sahabat, tepatnya sih 2 orang perempuan. Mereka bekerja di perusahaan yang sama, mereka bernama karina (ran) dan syahila (lala) Pada suatu ketika ran mengajak lala makan

My Friendship

Oleh:
Hai! Namaku Tania Zafirah Utami, panggil saja Tania. Hari ini adalah hari pertamaku sekolah di sekolah menengah pertama (SMP). Tepatnya, disini sedang diadakan MOS (Masa Orientasi Siswa). Perasaanku sudah

Tiga Angsa dan Anak Ayam

Oleh:
Pada suatu hari hiduplah tiga angsa dan seekor ayam betina. Mereka hidup rukun dan saling berbagi. Setiap pagi hari sang pemilik tiga angsa dan seekor ayam betina itu, memberi

Mati Lampu


“Ibuuuuuu!! Aku takut” teriakku sekencangnya dengan harapan ibu terbangun dan menghampiriku di kamar. “Ibuuu mati lampu” teriakku lagi karena tak kunjung direspon oleh ibu. Entahlah mungkin ibu sedang terlelap

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *