Handmade

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak
Lolos moderasi pada: 17 May 2013

Hai, teman! Perkenalkan, namaku Vivyliana Mulia. Aku sangat menyukai seni, ya… baik itu seni sastra ataupun kerajinan. Namun, seni yang sedang Aku kembangkan sekarang adalah, kerajinan. Aku, Kakakku dan sepupuku, membangun sebuah toko aksesori yang menjual berbagai aksesori buatan tangan-tangan kami.

Usaha yang sedang kami jalani ini kami beri nama Handmade. Handmade kami buka bukan tanpa kerja keras lho. Banyak yang harus kami lakukan. Dari dulu sampai sekarang, Aku, Kak Hana dan Shena, sudah berjuang keras untuk membuat sebuah gallery. Gallery inilah yang membuat kita tertarik untuk membangun Handmade. Awalnya, gallery kami hanya di isi oleh barang-barang seni yang hanya bisa di pajang, sampai akhirnya, Shena mengusulkan idenya.
“Vivy, Kak Hana! Bagaimana kalau kita buat kerajinan tangan yang dapat digunakan sehari-hari. Selama ini, Aku ingin menunjukkan hasil karyaku kepada teman-temanku yang lain!” usul shena ketika kami bertiga tengah mengumpulkan barang-barang bekas untuk dijadikan kerajinan.
“Hmmm… benar juga usulmu, Shen! Aku setuju!” ujarku semangat.
“Itu bisa kita coba, ya sudah! Kita coba buat sekarang,” susul Kak Hana. Kami bertiga pun mempercepat mencari barang bekas yang kami butuhkan. Setelah sudah cukup banyak, kami memulai membuat kerajinan.

Tangan kecilku berusaha membuat kotak pensil dari sebuah botol susu yang cukup lebar. Aku memulai dari menggunting botol. Setelah jadi, Aku sempurnakan lagi bentuknya. Dan terakhir, Aku mewarnainya dengan cat khusus milik Kak Hana. Setelah selesai, ku jemur di balkon kamarku agar cepat kering.
“Kak! Tadi Kakak buat apa?” tanyaku.
“Kakak buat jepit rambut dari bungkus sabun cuci yang dibersihkan…” jawab Kak Hana yang sedang mengamati karya buatannya, ia mulai tertarik dengan ide usulan Shena.
“Kalau kamu, Shen?” tanyaku lagi.
“Aku? Aku buat… um… hiasan pensil dari tutup botol kaca,” jelas Shena. Aku hanya mengangguk, lalu, kami bertiga saling berbagi cara membuat kerajinan yang tadi kami buat.

Seiring berjalannya waktu, kegemaran kita membuat barang kerajinan, berkembang menjadi sebuah gallery. Gallery milik kita bertiga ini hanya dinikmati untuk kita bertiga, rencananya, kita akan membukanya untuk umum ketika karya yang dikumpulkan sudah banyak.
“Hmmm… isi gallery kita masih belum cukup nih!” dengus Shena yang baru selesai menghitung hasil karya yang ada di gallery.
“Masa, sih? Perasaan… sudah banyak deh yang kita kumpulkan di sini! Memangnya ada berapa jumlahnya?” tanyaku tak percaya.
“Sembilan puluh tiga buah!” ujar Shena.
“Hah?! Shena, itu sudah terbilang banyak… apalagi barang-barang di sini berbeda semua! Tidak ada yang sama!” ujarku makin heboh.
“Betul itu, lagi pula… menurut Kakak, bagaimana kalau hobi kita, kita jadikan untuk menjadi peluang usaha? Kita bisa membuka toko aksesori. Dan barang yang kita jual adalah murni buatan kita!” usul Kak Hana yang terus mengamati jajaran kerajinan tangan yang dibuat kami bertiga.
“Hmmm… Aku sih setuju saja… tapi, itu berarti kita harus bekerja lebih keras, untuk membuat kerajinan tangan yang lebih banyak lagi!” ujar Shena.
“Belum lagi… barang bekasnya! Kita harus mengumpulkannya terlebih dahulu…” usulku.
“Tenang saja… kita kerjakan satu per satu. Sekarang, kita lakukan hal yang biasa kita lakukan. Mencari barang bekas yang masih berguna!” seru Kak Hana, Aku dan Shena mengangguk tanda setuju.
“Kak! Aku cari di rumah saja ya? Kalau tidak salah… Ibu sering menyimpan barang bekas yang masih bagus di dalam gudang!” ujar Shena.
“Baiklah… silahkan! Vivy, kita juga coba cari di gudang, yuk!” ajak Kak Hana, Aku mengangguk. Lalu kami bertiga pun berlari menuju rumah masing-masing.

Sesampainya di rumah, Aku dan Kak Hana langsung menuju gudang. Kami membuka perlahan pintu gudang yang sedikit berdebu. Setelah pintu terbuka kami masuk ke dalam dan melihat tumpukkan barang bekas berharga tertumpuk di situ. Aku dan Kak Hana saling berpandangan lalu mengangguk bersamaan. Kami berdua dengan sigap mengambil masing-masing satu buah karung yang akan kami isi dengan barang bekas.
“Satu, dua, tiga… empat karung!” hitungku.
“Waw! Cukup banyak… mungkin cukup! Ayo kita bawa!” seru Kak Hana.
“Di bawa ke mana Kak? Barang-barang ini berat sekali kalau hanya di bawa dua orang!” jawabku seraya mengelap peluhku yang bercucuran.
“Tenang saja, kita minta bantuan Deno dan Seno! Sebentar, Kakak panggil mereka berdua dulu…” ujar Kak Hana. Deno dan Seno adalah adikku yang kembar, mereka berdua selalu kompak satu sama lain.

Tak lama kemudian, Kak Hana datang. Tak hanya bersama Deno dan Seno, ternyata ia juga bersama Shena.
“Vy! Ayo! Kita langsung bawa ini semua ke halaman belakang!” ujar Kak Hana.
“Baik, Kak! Shena! Kamu bantu Vivy! Deno, Seno! Kalian bawa dua karung lainnya! Isinya hanya plastik dan kardus bekas kok!” perintah Kak Hana. Aku dan Shena pun bekerja sama membawa satu karung yang berisi barang-barang berat, seperti botol kaca dan yang lainnya. Sedangkan Deno dan Seno, mereka hanya tinggal menyeret karung yang isinya sangat ringan.
Sekitar kurang lebih 15 menit, kami berhasil memindahkan 4 karung berisi barang bekas menuju halaman belakang. Kulihat, ada dua karung yang ku tebak itu adalah milik Shena.
“Nah… sudah semua! Ayo kita mulai! Deno, Seno, terima kasih kalian sudah mau membantu…” ujarku manis. Aku, Kak Hana dan Shena segera mengambil posisi yang nyaman untuk membuat kerajinan tangan, sedangkan Deno dan Seno mereka pergi meninggalkan kami menuju ke dalam rumah.
La…la…la… mulut kami bersenandung ria sedangkan tangan kecil kami dengan lincahnya membuat satu demi satu kerajinan tangan yang mungkin akan berguna.

Satu, dua, tiga jam berlalu. Peluh kami bercucuran di dahi. Kami beristirahat sejenak, mata kecil ini melihat tumpukkan barang bekas yang tedinya tak berguna sekarang telah berubah menjadi barang berguna yang bernilai.
“Kak! Ini ada lemon tea dari Ibu!” ujar Deno dan Seno tiba-tiba. Ditangan Deno terlihat 2 buah gelas berisi lemon tea segar. Aku dan Kak Hana langsung mengambilnya dan meneguknya. Sedangkan Shena, ia mengambilnya dari tangan mungil Seno.
“Makasih ya?” ujarku, Kak Hana dan Shena kompak. Wajah kami terlihat lebih segar dari sebelumnya setelah meneguk lemon tea yang segar.
“Iya…” jawab mereka berdua. Mereka pun berlari menuju ke dalam.
“Hmmm… Kak! Sebentar lagi cukup nih! Tapi kita istirahat dulu ya? Aku masih capek!” ujarku. Kak Hana hanya mengangguk, ku lihat dirinya juga masih merasa lelah.

Kami pun beristirahat selama satu jam. Setelah satu jam berlalu, tangan kami mulai mengambil gunting dan alat-alat lainnya untuk meneruskan pekerjaan kami.
“Huft! Akhirnya selesai juga…” ujar Shena. Ia meregangkan otot-otot jari tangannya yang pegal. Begitu juga denganku dan Kak Hana. Kami merasa lega, usaha kami untuk membuat banyak barang akhirnya selesai.
“Sebaiknya… kita istirahat dulu di rumah masing-masing. Ini semua… biar Kakak yang bereskan! Nanti sore… kita minta bantuan Ayah dan Ibu untuk bangunan yang akan kita jadikan toko,” ujar Kak Hana.
“Kak! Aku ikut bantu saja, deh!” ujar Shena, Aku mengangguk tanda setuju. Kami bertiga pun membereskan kerajinan tangan kami dan meletakkannya di dalam 3 kardus berukuran sedang. Setelah semuanya beres, kami beristirahat di rumah masing-masing.
Aku dan Kak Hana memutuskan untuk berbincang-bincang sejenak di kamar Kak Hana.
“Hmmm… Vivy! Kita bilang sama Ayah dan Ibu sekarang saja, yuk! Mumpung mereka lagi di rumah!” ujar Kak Hana ketika kami berdua baru beberapa menit di kamar.
“Ya sudah! Tapi Kak, Aku mau ngadem di sini dulu… Kakak duluan saja,” jawabku sambil mengipas-ngipas tubuhku dengan majalah milik Kak Hana.
“Baiklah… nanti kamu nyusul ya?” seru Kak Hana yang langsung berlari menuju Ayah dan Ibu. Aku pun mengipas-ngipas tubuhku lagi agar tidak gerah. Sampai akhirnya, Aku pun langsung menyusul Kak Hana.

Kulihat Kak Hana, Ayah dan Ibu sedang ada di ruang tengah. Mereka terlihat asyik menonton TV di sana.
“Hey! Kak! Bagaimana?” ujarku pelan.
“Sip!” jawab Kak Hana sseraya melihat Ayah dan Ibu.
“Iya sayang… Ayah dan Ibu mengizinkan kalian bertiga. Nanti… Ibu minta bantuan tante Ayri untuk bantu kalian ya?” ujar Ibu.
“Yey! Akhirnya…” ucapku girang. Ternyata, Ayah dan Ibu memang ingin memberiku saran agar membuat usaha, namun, kami sudah telebih dahulu mengungkapkan ide. Urusanku masalah toko sudah selesai, semuanya sudah di tanggung Ibu, Ayah, Tante Ayri dan Om Harry. Tante Ayri dan Om Harry adalah orang tua dari Shena.

Setelah semua persiapan siap, toko milikku, Kak Hana dan Shena pun di buka. Di awal, kami memberikan promo. Seperti membeli barang sebanyak 3 buah akan mendapatkan 1 souvenir gratis. Dan kami juga memberikan potongan harga untuk beberapa barang.
Mulai hari ini dan seterusnya… Handmade terus kami jalani bertiga. Tentunya, usaha ini tak akan ada jika tanpa bantuan kedua orang tua kami.

Cerpen Karangan: Fadillah Amalia

Cerpen Handmade merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Membagikan Telur

Oleh:
Siang itu, rumah si kembar Delancey (Dela) dan Stacey (Aci) yang sibuk dikejutkan oleh seseorang. “Halo, anak-anak! sibuk sekali kalian sampai pamanmu ini tidak dibukakan pintu,” kata sosok misterius

Kucing Kesayangan Isabel

Oleh:
Isabella Anastasta itulah namaku. Aku kerap disapa Isabel. Nama bundaku adalah Ilena Anastasya. Nama ayahku Ilyasa Ramadhani. Aku juga punya kucing kesayangan. Ia bernama Prety. Prety itu kucing anggora

Arti Berbagi Dan Menghargai Uang

Oleh:
Matahari memancarkan sinarnya. Sinarnya yang hangat menyinari dunia ini. Sinarnya mempunyai arti penting bagi kehidupan. Sinarnya mampu memberi warna bagi kehidupan. Aku membuka mataku. Perlahan-lahan aku beranjak dari tempat

Boneka Baru Ratna

Oleh:
“Ratna kamu ini kenapa suka sama boneka sih? boneka itu mainan anak kecil.” kata kak Rita sewot. “iya kenapa sih kakak suka boneka? main boneka itu kan gak seru!”

Kantong Ajaib Si Tikus

Oleh:
Doraemon adalah karakter kartun kesukaan Ciko. Saking sukanya, anak lelaki 8 tahun itu membuat kamarnya dipenuhi gambar robot kucing itu. Suatu hari setelah Ciko selesai menonton film doraemon di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *