Jangan Putus Asa Irma

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak
Lolos moderasi pada: 1 April 2017

Irma terduduk di sofa ruang tamunya. Ia murung belakangan ini. Dia baru-baru saja mengirim cerpen yang berjudul Sebuah Harapan. Penerbit menjanjikannya untuk menerbitkan 1 bulan kemudian. Tapi 1 bulan sudah lewat dan sekarang sudah hampir mencapai 2 bulan.

“Irma, kamu kenapa nak?” Tanya Ibu sambil membawa cemilan dan 2 cangkir teh.
“Bu, penerbit menjanjikan untuk menerbitkan buku Irma 1 bulan dulu. Dan sekarang sudah hampir 2 bulan penerbit tidak menepati janjinya,” Jawab Irma hampir menangis.
“Mungkin banyaknya kiriman buku atau cerpen sehingga penerbit kewalahan. Irma tunggu saja ya.” Ujar Ibu sambil memegang bahu Irma.

Di suatu pagi…
“Kring, kring, kring,” Jam weker Irma berbunyi. Irma segera bangun lalu membereskan tempat tidurnya lalu menyambar handuknya dan bergegas ke kamar mandi. Selesai mandi Irma memakai baju sekolahnya lalu berdandan setelah itu dia turun ke bawah untuk sarapan bersama keluarganya.
“Pagi Ayah, Ibu!” Ujar Irma.
“Pagi juga sayang!” Balas Ibu dan Ayah. Setelah sarapan Irma diantar Ayah ke sekolah dan tidak lupa berpamitan kepada Ayah dan Ibunya.

Setelah sampai di sekolah Irma segera mencium tangan Ayahnya dan berjalan ke arah kelasnya.
“Pagi Irma,” Sapa Desi teman sebangkunya. “Pagi juga Des.” Ujar Irma.
“Kok murung Ir?” Tanya Desi.
“Nggak papa,” Jawab Irma lemas.

Teng nong teng nong teng nong` bel pertanda masuk telah berbunyi. Para murid kelas 5-B segera berhamburan ke tempat duduk masing-masing.
“Berdiri, ucapkan salam,” Ucap Anggi sang ketua kelas.
“Selamat pagi Bu,” Suara satu kelas ketika Bu Alya masuk kelas.
“Baik, hari ini kita belajar tentang cara penulisan cerpen,” Ucap Bu Alya.
Bu Alya menjelaskan tentang cara penulisan cerpen. Semua murid memperhatikan termasuk Irma yang memperhatikan serius sekali.
“Ok, sudah cukup.” Suara Bu Alya mengakhirkan penjelasannya.

Ketika istirahat Irma lebih memilih ke perpustakaan daripada ke kantin atau ke warung Mak Baedah, warung langganan Irma. Istirahat sudah berakhir karena hari ini para guru rapat jadi semua murid boleh dipulangkan. Irma berjalan gontai menuju rumahnya.

“Assalamualaikum, Bu Irma pulang.” Ucap Irma.
“Walaikumsalam, eh Irma sudah pulang,” Balas Ibu.
“Irma tadi ada penerbit tempat Irma menerbitkan buku. Dia tadi ke sini dia bilang sama Ibu ternyata cara penulisanmu kurang rapi mulai dari paragrafnya, huruf-hurufnya, dan sebagainya itu kurang rapi,” Jelas Ibu panjang lebar.
“Jadi itu ya, yang membuat cerpen Irma tidak diterbitkan oleh penerbit?” Tanya Irma.
“Iya, seharusnya Irma membacanya ulang ketika ingin menerbitkannya. Jangan asal tunjuk. Jadinya kan kamu sendiri yang rugi,” Jawab Ibu.
“Ya sudah masuk yuk.” Ajak Ibu.

Irma segera mengganti pakaian sekolahnya dengan pakaiannya sehari-hari. Lalu dia mengambil air wudhu lalu memakai mukenanya. Selesai sholat dhuhur Irma segera makan siang bersama Ayah dan Ibunya.

Selesai makan Irma segera menulis ulang cerpennya. Setelah selesai dia mengajak Ayah ke penerbit untuk menerbitkan bukunya yang berjudul `Jangan Putus Asa Irma`.

Beberapa bulan kemudian cerpennya diterbitkan. Irma senang bukan kepalang akhirnya dia berhasil menerbitkan buku pertamanya. Sekarang dia rajin menulis buku. Agar semuanya diterbitkan. Sekarang Irma sudah memiliki toko buku terkenal sebagiannya dia tulis dengan tangan kreatifnya.

Selesai

Cerpen Karangan: Elsa Puspita Ronald
Blog: kampungmarindu.KM.blog.com
Aku mohon ya kak tolong dipublikasikan.

Cerpen Jangan Putus Asa Irma merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hantu Palsu

Oleh:
Halo namaku ajeng aku bersekolah di SDK Sang Timur. Hobiku membaca, cita-citaku adalah penulis terkenal. Sepulang sekolah aku melihat toko buku di seberang sekolahku, toko buku itu sudah sangat

Terimakasih Sahabatku

Oleh:
Halo! Namaku Eryka. Aku adalah anak yang termasuk pintar. Tapi aku nggak jago melukis. Padahal, aku pingin banget ikut lomba melukis. “Son, kamu enak ya, jago melukis.” Kataku kepada

Gunung Bromo

Oleh:
Felysha terlihat sedang mengepak kopernya. dia memasukkan beberapa baju ganti, baju tidur, jaket, topi, dan kaus kaki. dia juga memasukkan smartphonenya, earphone, kamera tisu, dan sarung tangan ke dalam

Rahasia Dibalik Pena Nenek

Oleh:
Mentari telah bangkit meraih angkasa. Burung-burung bersenandung merdu penuh makna. Terlihat sesosok wanita tua sedang asik memandang ke arah langit. Tersenyum anggun namun penuh arti. “Nek! Nenek! Lala berangkat

Cimissy

Oleh:
Viona Angel Husna itulah nama lengkapku. Aku biasa dipanggil Viona. Aku berumur 11 tahun. aku mempunyai dua adik perempuan dan dua kakak perempuan. Aku sering memanggil ibuku dengan sebutan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *