Karena Gaun

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak
Lolos moderasi pada: 6 February 2017

Namanya Desfa. Nama panjangnya Desfanisa Rosalina. Dia anak yang kurang mampu. Anak kedua dari 4 bersaudara. Kakaknya pertama, Desta Pratama, tapi ia telah menikah dan tinggal di negeri penghasil gingseng. Kakak kedua, Adistya Wulandari atau disapa Distya. Adiknya Dheni Saputra. Ia bersekolah di SD Bintang Gemerlang, Sd favorit Desfa. Ia bisa bersekolah karena mendapat beasiswa. Begitu dengan Distya, yang masih tingkat Smp dan Dheni yang masih Tk.

Semua teman sekolah Desfa kaya raya. Ia mempunyai sahabat yang kaya, namun tak pilih-pilih teman. Namanya, Shasmina Putri Terizza (Shasmi), Augista Putriaza (Gista), dan Verizca Melvira (Veri).

Pada suatu hari, di sekolah tepatnya waktu istirahat, “Desfa! Fa, ini ada undangan untukmu,” ujar Shasmi seraya memberi kartu undangan pink berglitter pink dan berpita.
“Kuharap kamu datang, ya…,” pinta Gista. “Kalau nggak datang, kami memusuhimu!” ancam sekaligus canda Veri. “Insya Allah, Gis, Shas, Ver!” gumam Desfa. “Minggu depan lusa, ya Shas?” tanya Desfa. “Yup!” ujar Shasmi. “Tapi aku tak punya baju bagus,” gumam pelan dan kecil Desfa. “Apa kamu bilang, Des?” sahut Gista yang asyik merapikan dasinya. “Oh, nggak ada,” kata Desfa berusaha menutupi. Kring… Kring… Kring… bel masuk berbunyi. Mereka masuk lalu memulai jam pelajaran kedua.

“Assalamualaikum!” salam Desfa sembari masuk ke gubuknya yang sebesar kamar orang kaya, mungkin. “Waalaikum salam!” jawab emak dan Dheni. Distya masih sekolah sedangkan bapak masih narik. Bapaknya bekerja sebagai tukang becak. Ia ganti baju lalu makan siang dengan tempe dan beras. Untung hari ini ada yang memberi keluarga Desfa lauk dan beras yang cukup untuk 2 bulan kedepan.

Mereka makan bersama di bawah. “Mak! minggu lusanya Shasmi ultah! aku ngasih apa, mak?” curhat Desfa. “Desfaku, kan banyak barang bekas, kan kamu juga bisa buat pakarya. Mengapa nggak ngasih Shasmi barang buatan kamu,” usul emak lembut. “Iya, Emak! kan ada barang bekas.Gimana kalau buat, Aha! buku cerita menggambar!” seru girang gadis berusia 10 tahun.

Usai makan, ia mengumpul 100 secarik kertas yang masih bagus, lalu memulainya. Untung pas ultahnya, Gista memberi cat warna dengan kuas. Juga Shasmi memberi spidol warna warni pas Ultahnya. Ia mulai membuat gambar dan cerita. Sungguh cantik! hampir, kertasnya agak lecek tak terlihat. Judulnya “Dunia Cholicio”. “Siap! ah capek bianget yo…,” gumam Desfa seraya meregang otot tangannya. “Tapi, aku nggak punya baju bagus,” gumam Desfa.

“Des! ayo sholat dhuhur dulu!” teriak emak. Desfa segera wudhu di kali (sungai) di belakang rumah, lalu sholat dhuhur. Usai sholat, ia menaruh sajadah dan mukena ke almari tua yang dimakan rayap. Ia berbinar melihat setumpuk pakaian bekas yang kekecilan. Desfa mengunting, srek! srek. Lalu dijahit sambung menyambung. “Hmm… ada hiasan yang kurang!” gumam Desfa. Ia memberi kain yang melingkari pinggang. Juga ada kerudungnya ia buat. Prang! celengan ayam Desfa dipecahkan olehnya. Ada sekitar 30an.

Ia mengganti baju terbaiknya, lalu menuju toko buku. Ia beli 4 pita yang sudah jadi, 1 toples berisi 6 warna, dan bintang berkelap-kelip. Harganya hanya dua puluh enam ribu rupiah, loh… karena lagi diskon besar-besaran. Lalu pulang. Ia menabur banyak serbuk glitter, pita di gaun sama kerudung buatannya, dan bintang yang berkelap-kelip. Gaun bekasnya sangat tak terlihat bekasnya. “Gaun sudah, kado sudah, kertas kado!” seru Desfa. Desfa mampir ke warung mbak Sita. “mbak Sita!” Desfa memanggil teh Sita sesampai di warungnya. “Dalem, Des!” sapa mbak Sita. “Tuku kertas kado,” sahut Desfa. “Piro?” tanya mbak Sita. “Siji wae,”. Lalu mbak Sita mengambil pesanan Desfa. Desfa membayar dengan uang pas. Oya, mbak Sita ini kalau ketemu Desfa, memakai bahasa Jawa. Untung Desfa bisa sedikit-sedikit. “Makasih!” ujar Desfa seraya berjalan menuju rumah. “Iyo!”.

Sesampai di rumah, Desfa membungkusnya sangat cantik. Ia wudhu dan sholat Ashar. Usai Sholat dan merapikan alatnya, ia belajar sangat tekun.

Ini hari ultah Shasmi. Acaranya pukul delapan pagi tepat. Atau dalam bahasa inggris Eight ‘O Clock (sorry kalau aku terlalu sombong). Ini pukul setengah delapan tepat. Desfa berjalan menuju rumah Shasmi. Karena dekat, jadi butuh waktu 5 menit. Rupanya hanya pesta kecil-kecilan. Yang diundang hanya sahabat dekatnya.

“Assalamualaikum, Shas! Gis! Ve!” salam Desfa sampai di rumah Shasmi. “Waalaikum salam!” mata mereka berbinar saat melihat gaun buatan Desfa yang dibuatnya. “Wow! bagus kali gaun sama kerudungnya!” puji Shasmi. “Beli di mana, Des?” tanya Gista. “Mana punya uang aku beli gaun ini!” cela Desfa. “Hmm… gini, aku kan punya kain bekas, kugunting, kuhias, ya, ginilah! pitanya, bintang dan glitternya aku beli. Lumanya murah,” jelas Desfa. “Oya, nih! aku lali, yo.. maaf!” ujar Desfa seraya memberi kadonya. “Aduh, kok repot kali! makasih, ya…,” ujar Shasmi seraya menerima kadonya. “Ehem, Des!” seru Gista. “Dalem!” kata Desfa. “Aku boleh pesan, tak?” pinta Gista. “I’am to…,” seru Veri dan Shasmi. “Boleh! tapi gaunnya, dekorasinya, hiasannya, kalian yang milih, harganya, lima puluh ribu aja!” seru Desfa. “Baik!”. Lalu mereka memulai pesta.

Banyak yang ingin memesan gaun buatan tangan lembut Desfa. Sekarang, gubuknya menjadi rumah istana! ia bisa menghajikan orangtuanya. Ia terkenal di negara Saudi Arabia, Korea, dan negara di Eropa. Pokoknya ia sukses berkat gaun buatan Desfa saat dipakai di acara ultah Shasmi.

Cerpen Karangan: Alyaniza Nur Adelawina
Facebook: Alya Aniza

Cerpen Karena Gaun merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Arisan Permen Maika

Oleh:
Maika tersenyum, sambil tersipu malu ia menganggukan kepala ketika Bunda mengajak untuk menemaninya pergi kerumah Tante Diana. Sore itu Tante Diana mengadakan acara Arisan di rumahnya. Sesampai disana, Maika

Hujan Petir

Oleh:
Kulihat, awan hitam mulai menghiasi langit sore. Kedua temanku merasa gembira. Mereka adalah Shila dan Sindy. Tak lama kemudian, hujan pun turun. Kami bertiga bersorak-sorai. Tiba-tiba “DUUAAAAARRR!” Suara petir

Mencari Moony

Oleh:
“Hai! Namaku Karen Chityla Redove. Aku mempunyai seorang kakak yang usil. Namanya Wendy Mieyen Redove. Biasanya di panggil Wiwi, tapi aku panggilnya Wifi. Hehehe… Paginya “Karen, wiwi Buruan, turun

Ayam Mole

Oleh:
“Nadia, ayo makan siang!” seru mama dari lantai bawah. Aku bersorak senang. Waktu makan siang adalah favoritku. Apalagi menunya masakan mama. Wuiih sedap banget… Menu favoritku adalah ayam mole.

Membuat Camilan Hangat

Oleh:
Pada minggu pagi yang cerah, Asyina dan Nafdziah mengunjungi rumah Nenek dan kakek Jihan. Nenek dan kakek Jihan ini adalah tetangga Asyina dan Nafdziah. Mereka senang ke rumah Nenek

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

4 responses to “Karena Gaun”

  1. Dinbel pertiwi says:

    Waaaaahhhhh, bagus ceritanya.

  2. kayla azkiya says:

    Bagus banget ceritanya alyaniza
    Arigato gozaimasu

  3. Shafa M.R. says:

    Katanya anak kedua, kok ada kakak kedua lagi? kan anak ke-2 dari empat bersaudara. BTW, Bagyuuuss banget ceritanya. Aku support kamu sampai kamu seperti idolamu di cerpenmu, yaitu kak Tita Larasati Tjoa!

  4. Alyaniza N.A says:

    Makasih,ya..Ka Dinbel Pertiwi,kak Kayla Azkiya,kak Shafa M.R..
    Untuk kak Shafa:Maaf ya,kalo banyak kesalahan/kekeliruanKayaknya pas aku nulis itu lagi ngantuk berat kali

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *