Kehidupan Si Beruang Kecil

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Fabel (Hewan)
Lolos moderasi pada: 15 December 2015

Di sebuah hutan, hiduplah seekor beruang kecil bernama Beru yang amat lucu dan baik hati, tak heran ia mempunyai banyak teman. Namun, semua itu kini berubah, semenjak kejadian yang menimpanya. Ia jatuh dari pohon yang mengakibatkan tulangnya patah. Hingga ia harus berjalan dengan terpincang-pincang. Satu persatu temannya pergi meninggalkannya. Tak ada yang mau berteman dengan Beru karena mereka merasa jijik dengan kakinya.

Hal itulah yang makin membuat Beru merasa dikucilkan. Beru sedih, kesehariannya hanya diisi dengan merenung. Tapi, setiap kali Beru mencoba untuk merenung, ia teringat akan nasihat Almarhumah Ibunya, “Beru, apapun yang terjadi denganmu, kamu harus tetap tegar dan kuat. Jangan berputus asa, walaupun seluruh dunia membencimu. Yakinlah kamu pasti bisa.”

“Taraaaa..” Seulas senyum mengembang di bibir kecil Beru. Lukisan indah bertema pemandangan itu, membuatnya puas. Ya, melukis adalah bakat terpendam Beru. Ia sangat suka melukis. Hingga satu hari, Beru berpikir, “aku sangat suka melukis, namun untuk apa jika lukisanku hanya ku simpan, aku harus memanfaatkan bakatku itu.” Beru pun memutuskan untuk menjual lukisannya pada penjual kerajinan seni di pasar raya hutan tempat tinggalnya.

Pada hari pertama, Beru menjajakkan lukisannya pada Pak Huha si burung hantu. Awalnya, Beru sempat tak percaya diri dan takut. Mengingat keadaan fisiknya yang tak sempurna. Ditambah lagi dengan perilaku Pak Huha yang keras dan acuh tak acuh. “Permisi pak, saya ingin menjajakkan lukisan sa…” Belum selesai bicara, Pak Huha sudah menyela perkataan Beru dengan kata-kata yang kasar. “Sana pergi kamu, jika kamu di sini tak ada pelanggan yang mau mendatangi tokoku.” Bentak Pak Huha. Beru pun meninggalkan toko Pak Huha.

Ia mencoba ke toko sebelah, hasilnya pun sama. Toko demi toko yang didatanginya sama-sama menolaknya. Tanpa disadari, air matanya menetes. Beru memilih untuk pulang, langkah kecilnya diiringi dengan tangisan keputusasaan. Beru menangis sambil memandang lukisannya. Tiba-tiba Beru merasakan usapan hangat di pundaknya.
“Nak, mengapa kau menangis?” Rupanya Paman Bobi si beruang dewasa.
“Tak ada yang mau membeli lukisanku ini paman..” Jawab Beru sambil memperlihatkan lukisannya itu. Nampaknya Beru belum juga menghentikan air matanya itu.

“Wah.. lukisan yang sangat indah, bodoh sekali orang-orang yang menolak lukisanmu” Puji Paman Bobi.
“Terima kasih paman, tapi apakah paman tak jijik melihatku? Semua orang menjauhiku, bahkan semua pedagang di pasar mengusirku.” Keluh kesah Beru membuat hati Paman Bobi teriris. Dengan penuh kasih sayang Paman Bobi memeluk tubuh kecil Beru.

“Aha.. Paman punya ide, bagaimana kalau lukisannya kita jual sendiri? Kita tak perlu menjual terlebih dahulu pada penjual-penjual di pasar.” Jelas paman panjang lebar sambil merenggangkan pelukannya dari Beru.
“Tapi sama saja, tak akan ada orang yang mau melihat lukisanku.”
“Tenang saja, paman yang akan menjualnya. Itu pun jika kamu mau..”
“Iya paman aku pasti mau, terima kasih paman..” Rupanya Beru mulai merasa senang. Ia tak membiarkan lagi air matanya membasahi pipinya.
“Tapi dengan satu syarat, kau harus berjanji padaku jika kau akan terus tersenyum.” Beri menjawab dengan anggukan pasti.

Pagi ini, Beru dan Paman Bobi pergi untuk menjual lukisan. Ada beberapa lukisan yang mereka bawa. Paman Bobi sudah menyiapkan semuanya, tinggal menaruh lukisannya. Setelah persiapan beres, Beru dan Paman Bobi membuka toko kecilnya. Hasilnya pun menyenangkan, banyak pelanggan yang mendatangi toko Beru. Tak jarang mereka juga membeli lukisan Beru. Beru sangat senang.

Kini, lukisan Beru banyak diminati. Peminatnya pun hingga ke luar hutan. Semenjak itu, Beru menjadi pelukis terkenal. Sedangkan, teman-teman Beru merasa bersalah jika selama ini meninggalkan Beru. Mereka meminta maaf. Begitu pula dengan Pak Huha, ia merasa menyesal telah menolak Beru tempo hari. Akhirnya, semua kembali seperti dulu. Beru merasa sangat senang.

Cerpen Karangan: Annisa Amalia
Facebook: Annisa Amalia
Hai.. perkenalkan, nama saya Annisa Amalia. Sekarang saya bersekolah di SMPN 3 Peterongan di Ponpes Darul Ulum Peterongan Jombang. Alamat saya di Jombang Jawa Timur. Jika ingin lebih kenal saya, bisa follow twitter: @Annisaa_Amaliaa dan ig saya: @Nisaaee. Sekian.

Cerpen Kehidupan Si Beruang Kecil merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Diva Si Anak Istimewa

Oleh:
Kali ini, pukul 08.00 anak itu datang membawa kesuraman. Seluruh kelas menatapnya tajam. Seolah olah ia adalah seseorang yang ingin diterkam oleh mangsa. “Huuu… Diva virus!!!” teriak Talitha. “Diva

Cahaya di Malam Hari

Oleh:
Di suatu malam Minggu, seorang bunda menyuruh anaknya untuk naik ke atas tempat tidur. Namun, anaknya itu susah untuk diperintah. Ia selalu saja tidak menghiraukan omongan bundanya. “Cahaya, untuk

Kenapa Harus Aku

Oleh:
Perkenalkan namaku Xica (panggil: sica). aku mempunyai seorang kakak. Ia bernama Xico (panggil: sico. Papa dan mamaku sedang ada di luar negeri. Jadi, aku di rumah hanya bersama kakakku

Si Landak Baik Hati

Oleh:
Pada suatu hari di hutan gunung muria tinggallah seekor Landak. Landak adalah hewan kecil yang mempunyai duri-duri tajam di tubuhnya seperti durian. Ia tinggal di sebuah lubang pohon bekas

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

0 responses to “Kehidupan Si Beruang Kecil”

  1. Keyfa Inezia E says:

    Ceritanya bagus dan menarik…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *