Kelompok 3

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak
Lolos moderasi pada: 24 September 2013

Hari biasa di sekolah yang biasa, hari hari Shanti Tulia Komang Cedil ari dan Pramana seperti biasa saja ngak ada sesuatu yang aneh. “ttteeettt!” bunyi bel sekolah. Mereka pun segera berbaris di depan Padmasana, dan melakukan Tri Sandya, setelah melakukan Tri Sandya mereka pun segera berbaris di depan kelas untuk menjawab pertanyaan dari wali kelas yaitu bu pindah. “2 kali 3 berapa?” semua anak pun mengangkat tangan ya semua anak. Setelah itu bu pindah pun memilih di antara 30 anak tersebut “6!” dan mereka pun masuk bergantian dengan soal yang mereka jawab.

“ari kamu udah selesai pr nya?” Tanya Pramana “udah kok” jawab ari “pinjam rik pinjam” kata Cedil. Sedangkan Shanti, Tulia dan Komang mengobrol sesuatu yang sifatnya cewek. “terus?” Tanya Shanti “terus aku dan keluargaku mandi di sungai yang jernih itu” kata Tulia dengan bangga semua anak pasti bahagia karena telah melewati liburanya masing masing. “kalau aku liburanya ke tiara bagus lho!” kata Komang (biasa, kebiasaan anak kecil pasti suka yang namanya liburan) “kalau kamu shan kamu liburanya kemana?” Tanya Tulia “kalau aku di rumah saja aku ngak bisa liburan karena aku harus menjaga adiku” kata Shanti “aku denger kamu pernah di gigit anjing” Tanya Komang Shanti mengangguk “benar aku di gigit anjing karena aku harus mengantar adiku ke warung” jawab Shanti “aku aja punya adik ngak segitu gitunya” kata Tulia.

1 jam kemudian…
“anak anak ayo kerjakan soal ini” kata bu pindah semuanya pun mengerjakan tugas tersebut. Sekarang mereka ada di kelas 3 sd jadi mereka duduknya berkelompok. Mereka duduk di urutan kelompok 3 makanya kelompoknya namanya kelompok 3. Shanti duduk dengan Cedil katanya sih supaya dapat nyontek, sedangkan yang lain ya diatur oleh Cedil si ketua kelompok. Mereka selalu bernyanyi dan bermain bersama, biasanya sambil menunggu guru yang sedang pergi ke toilet. Menyanyikan berbagai lagu nasional yang sudah diajarkan, lagu daerah dan lagu ost film kartun naruto. Dan ternyata ngak Cuma Cedil, Pramana dan ari saja yang suka dengan film itu anak perempuan yanga ada di keolmpok mereka juga suka dengan film itu. Maklum kartun itu adalah kartun yang terbaru dan juga terpopuler saat itu.

Cedil pun nyontek ke Shanti. “HA HA HA CUH!” Shanti bersin dan bersinnya itu tepat di mukanya Cedil. “iii ingus…” kata Tulia “tenges” kata ari Cedil pun langsung keluar untuk cuci muka sedangkan Shanti tetap mengerjakan soalnya. Kadang kadang di sela sela waktu menuggu guru mereka asik bermain stipo (alat penghapus pulpen) “waaa lari…!” kata Cedil para stipo pun langsung berlari untuk menyelamatkan diri agar ngak digunakan oleh si Pramana yang saat itu lagi menulis. “AAA…!” Teriak Tulia “dia tertangkap!” kata ari. Setelah digunakan para stipo pun langsung mengangkat jenazah stipo Tulia dengan buku untuk dimakamkan (mirip kayak main boneka ya? Tapi bonekanya ini terbuat dari alat tulis dan bukan boneka asli).

“ada tugas kelompok” kata Cedil “ya tugas kelompoknya ya apa?” Tanya Tulia “katanya sih membuat gambaran pakai kertas yang sebesar meja ini” “sebesar meja ini?” kata Pramana Shanti hanya diam sambil menulis di atas kertas. “gimana caranya kita dapat kertas sebesar itu?” Tanya Komang “kita beli aja” jawab Tulia “kalau begitu aku yang beli ya? Di dekat rumahku ada toko alat lukis” sahut ari “benar juga” kata Cedil tapi kapan kira kira ngerjainnya?” tanyanya “nanti sepulang sekolah di sekolah lagi pula rumahmu kan ngak jauh dari sini kan ri? Aku juga bawa alat lukis” jawab Shanti dengan muka datar lalu melanjutkan menulis. “kalau begitu nanti sepulang sekolah di sekolah supaya cepet” kata Cedil.
“nah sudah selesai” kata Tulia “kalau dibikin bingkai pasti lebih bagus” kata Pramana “ngak usah! Lagi pula ngak bagus!” sahut Tulia “bagus!” tidak!” Tulia langsung melempari Pramana dengan cat yang tersisa. Pramana pun marah dan membalasnya dengan melempar kuas kuas. “hei hentikan!” teriak Komang “hentikan!” kata Cedil. Shanti dan Komang memegang Tulia sedangkan Cedil ari memegang Pramana. “jduk!” sebuah bunyi benda terjatuh terdengar.
“apa itu suara kuas yang kau lempar?” Tanya ari “bukan bukan aku yang melempar” jawab Pramana “dan bukan aku juga” sahut Tulia. “lain kali jangan pemarah begitu dan jangan emosional.” Kata Komang dia memang teman penasehat yang baik. Komang pun mengelap muka Tulia dan Pramana. Ari dengan sigap selalu membantu Komang untuk mengambil air yang bersih. “jduk!” suara itu terdengar lagi bahkan lebih keras dari suara sebelumnya. “itu sebenarnya suara apa?” Tanya Komang “ah suara segitu aja takut” sahut Tulia “palingan suara kucing atau tikus jatuh” kata Pramana “bagaimana menurutmu?” Tanya Cedil Shanti menghentikan kegiatan menulisnya.
“kalau itu suara kucing yang jatuh kurasa itu bukan karena kucing memiliki kaki yang berbulu tebal sehingga langkahnya dan jika dia jatuh maka ngak akan menimbulkan suara sebaliknya kalau tikus pasti akan mengeluarkan suara cit cit saat jatuh lagi pula beratnya ngak besar sehingga suara jatuhnya ngak terlalu keras” jawab Shanti. Ari pun mengambil air lagi dari keran belakang sekolah. Dan secara tidak sengaja menemukan kertas dengan beberapa tulisan dan keadaanya robek. “hei lihat apa yang kutemukan!” kata ari sambil berlari menuju ke kelompoknya.
“ini kertas kertas yang sudah tua dengan tulisan sambung yang ngak jelas pula lagian kertas ini juga robek” kata Cedil “hei ada tulisan angka angka uang juga!” kata Pramana. “mungkin itu kertas pembayaran mungkin yang sudah ditinggalan atau terjatuh disitu” lanjut Komang. “atau mungkin ada bangunan yang memakan kertas itu” kata Tulia “memakan? Kertas?” kata Cedil “iya seperti di film film dan juga di buku ceritanya Shanti” kata Tulia. Semuanya menoleh ke Shanti “aku memang punya buku cerita tentang itu judulnya when the villa eat the earth” kata Shanti “apa artinya?” Tanya Komang “artinya itu ketika sebuah villa memakan dunia” jawab Shanti “bukumu serem sekali apa ngak ada cerita yang bagus apa” kata Pramana “mungkin yang dimaksud dengan bukunya Shanti yang berjudul pelangi di atas kolam ceritanya bagus lho! Aku pernah minjem” kata Komang.
“jadi menurutmu villa yang ada di samping sekolah yang sudah di tutup itu memakan kertas yang banyak?” Tanya Pramana “ngak tau juga sih” jawab Tulia “apa isi ceritamu itu shan?” Tanya Komang “isinya tentang sebuah villa yang sangat aneh dan di tutup secara tiba tiba, di villa itu juga mengeluarkan suara suara aneh seperti benda terjatuh, bahkan bau yang tidak sedap seperti poop, di sana juga ngak pernah ada hewan yang pernah tinggal disana sekalipun tikus atau kucing” jawab Shanti “truss apa lagi isinya?” “em, katanya sebelum di tutup ada se ya se kotak besar kardus berisi pil pil yang banyak katanya sih itu yang membuat villa itu hidup dan ingin memakan seluruh dunia” “terus apakah si tokoh berhasil?” “tentu saja dia mampu menghentikan ulah si villa dengan membakarnya dengan api yang berasal dari sebuah tungku kayu ajaib di tengah hutan”
“kalau begitu sekarang saja kita selidiki” kata Pramana “tunggu dulu! Kita ngak bisa sekarang lagi pula sekarang juga mau sore” kata Cedil “besok saja Pramana” kata Komang ari pun mengangguk. “bau banget!” kata Tulia sambil menutup hidungnya semua anak menutup hidungnya terkecuaili Shanti yang mempunyai kelainan berupa anosmia atau ngak bisa merasakan alias ngak bisa mencium bau bauan. “baiklah sekarang saja lagi pula sekarang ada acara besar besaran di bale banjar” kata Cedil “kau tak ikut?” Tanya Komang “tentu saja aku kan ngak ikut menari disana” jawab Cedil “sekarang jam 9 pagi kita mulai sekarang yuk! Lagi pula di jalan di sekolah dan juga di desa sebelah utara lagi sepi juga para tamunya sedang keluar nonton acara itu pokoknya sepi!” kata Tulia “bagaimana?” Tanya Cedil “ya kalau semuanya lengkap kita bisa jalan” kata Komang sambil menurunkan tasnya. “kalau begitu ayo cari!” kata Cedil.

Komang dan juga Tulia berlari menuju ke ruang uks. Pramana dan juga ari pergi ke ruang guru, Cedil pergi ke kelas dan Shanti tetap di tempatnya sambil melihat isi tasnya dan membaca sebuah buku. “bagaimaa peralatannya sudah siap?” Tanya Cedil “ya sudah siap!” kata semuannya. Kalian tau apa yang dibawa oleh ketiga anak ini? Lihat aja di table
Nama Barang yang dibawa
Cedil senter kapur tulis spidol, laptop
Komang Alat p3k dan sebotol air
Pramana Sebuah pemukul baseball dan juga sebuah bola
ari Ember, permen, dan air minum serta mainan kecil
Tulia Tali, jepit rambut, ikat rambut, cermin dan juga sebuah bedak bayi
Shanti Tasnya. berisi jaket, kamera, topi buku kecil berisi rumus mipa dan juga ilmu biologi alat tulis dan sebuah buku tulis

mereka ber enam pun memasuki villa. “mungkin aja ceritanya sama dengan kenyataannya” kata Tulia “lebih baik kau menutup mulutmu dengan lakban.” Kata Pramana “apa sih mak…” “sssttt!” kata Cedil Komang pun menutup mulut Tulia. “Disini gelap” kata ari Cedil pun memberikan senter kepada teman temannya. Di tempat tersebut gelap adan debunya banyak lagi! Dan juga setumpuk kardus. “ayo kita lihat!” kata Tulia sambil mendekati kardus tersebut. Sedangkan Shanti sedang sibuk dengan bukunya dan menulis dan Komang melhat lihat ke sudut sudut ruangan. “hei isinya pil semua!” kata Tulia “pil semua?” sahut Cedil “seperti di buku ceritanya Shanti” kata ari. “bau apaan sih” kata Pramana sambil menuju ke sumber bau. “ada t*i!” kata Pramana “itu eek ya?” Tanya ari Cedil pun menuju ke tempat Pramana “ini bukan eek hewan seperti tikus dan juga kucing ataupun cecak dan tokek”

“mungkin aja itu eek manusia ngak?” Tanya Komang “soalnya bentukanya ya lonjong begitu dan besar pula”. “hei ada kain kain dan juga jaket dan juga botol minuman!” kata ari. “baiklah ayo kita berkumpul!” kata Cedil. Mereka pun duduk melingkar “apa kesimpulanmu shan?” Tanya Cedil “kurasa villa ini ada penghuninya” jawab Shanti “penghuninya? Maksudnya hantu gitu?” kata Tulia “hantu? ayo kita berburu hantu!” kata Pramana “maksud Shanti itu orang bukan hantu” kata Cedil “berarti ada yang tinggal disini donk??” Tanya Komang. “dan pil itu? Pil apa itu?” Tanya Tulia “itu pil nark*ba” jawab Shanti “nark*ba?” semua orang terkejut.
“beneran nark*ba ya?” Tanya ari “ya benar aku baca dibuku dan melihat dari cirri cirinya memang betul” “berarti ada penjahat disini” kata Cedil “hei siapa itu?!” mereka semua pun terkejut “lariii!”. Mereka pun diklejar oleh 4 penjahat dan mereka ya lari sebisanya mereka pun mematikan senternya dan memegang tali yang diberikan oleh Tulia dan berlari. “itu!” kata ari “ayo cepat kita harus bersembunyi disana!” kata Cedil mereka pun masuk ke sebuah ruangan. “pasti mereka ada disini biar kita kunci saja” kata penjahat sambil mengunci pintu ruangan tempat mereka bersembunyi.
“baiklah bagaimana ini?” Tanya ari “kita harus cari jalan keluar” jawab Cedil “aku yakin ada semacam lubang ventilasi atau jendela disini” lanjutnya. “sssttt! Lihat!” kata Tulia sambil menunjukan sebuah kurungan besar berisi serigala dengan warna tubuh putih hitam dan merah. Komang pun mengelus elus hewan tersebut “dia lucu”. “tak ada ventilasi ataupun jendela” kata Pramana. “kita dobrak saja” kata Tulia. “ya itu bisa di coba tapi kira kira pintu atau tembok yang harus di dobrak? Kurasa kita harus memilih salah satu” kata Cedil “pintu yang di dobrak bukan tembok gimana sih?” kata Tulia “benar apa yang dibilang oleh Tulia” kata Pramana
“tumben satu pendapat dengan Tulia” kata Komang sambil mengelus ngelus serigala yang sedang tidur tersebut. “kurasa tembok lebih tipis dari pada pintunya” kata Cedil “bagaimana menurutmu?” Shanti pun mengambil pengggaris lalu mengukur pintu tersebut lalu menulisnya setelah itu dia mengetok ngetok pintu dan juga temboknya. “menurutku tembok itu lebih tipis dari pada pintunya selain itu tembok bagian ini yang paling rapuh karena mungkin sudah dimakan rayap” jawab Shanti “mana mungkin ada rayap yang mau makan tembok yang ada hanya kayu” kata Pramana “pada tahun lalu telah di temukan spesies baru dari keluarga rayap ini selain itu serigala yang ada di kandang tersebut berasal dari daerah papua timur dekat dengan pegunungan tertinggi di sana dia jinak jika di perlakukan dengan baik.” Cedil menatap ke ari “kita butuh beberapa peralatan.”
Ari segera mengambil beberapa kayu. “hei dia bangun!” kata Tulia mereka pun melihat serigala tersebut. “perutnya besar” kata Pramana “aku yakin kalau dia sedang hamil” kata Komang. Serigala itu pun meraung raung dan ya kesek kesek “tenang ya?” kata Komang sambil mengelus elus serigal tersebut. Pramana lalu mendobrak kurungan tersebut sehingga kurungan tersebut terbuka. “kita akan menyiapkan seekor serigala yang akan bersalin.” kata Cedil “apa saja yang kita butuhkan?” Tanya ari “alat kedokteran” jawab Tulia “kita tak bawa banyak!” kata Pramana.
Komang pun mengambil air dan juga peralatan p3knya yang lainnya juga membantu. Shanti membertahu apa saja yang harus dilakukan, Komang dan Tulia membantu bersalin ari juga membantu dia bersiap dengan sebuah kain dan juga sebotol air sedangkan Pramana dan juga Cedil berusaha untuk membobol tembok. Dan bayi bayi mungil pun berhasil dilahirkan. “persalinan yang berhasil dengan sukses” kata Komang “ya meskipun agak menjijikan” kata Tulia. Pramana pun menendang tembok tersebut. “brruuukkk!” tembok tersebut hancur dan juga beberapa rayap juga keluar dari dalam sana. “ada rayap!” kata Tulia sambil bersembunyi di belakang Komang.

Mereka pun segera keluar dan juga si induk serigala dan anak anaknya mereka pindahkan ke tempat aman. “nah apa yang harus kita lakukan?” Tanya ari “begini..” Cedil pun mengggambar denah villa Cedil tau karena dia pernah melihat denahnya tadi jadi tak masalah. “go! Go! Go! Kelompok 3!” mereka pun berpencar mereka segera melakukan tugas mereka masing masing seperti membuat perangkap dengan bahan bahan yang sudah tersedia seperti tali kayu dan mainan tak lupa juga di dalam mainan helipkopternya ari dipasang sebuah kamera oleh Shanti dirakitnya barang tersebut dengan teliti dan juga ia langsung menghubungkannya ke laptop yang dibawa oleh Cedil.
“apa semuanya sudah siap?” Tanya Cedil “siap!” “kalau begitu ayo!”. “hai!” teriak Tulia para penjahat itu pun menoleh “ayo kejar kami kalau bisa!” kata Komang sambil mengejek mereka dengan bahasa tubuh “awas ya kalian anak nakal kalau dapat tak jadiin be guling!” ke 4 penjahat itu pun mengejar Komang dan Tulia mereka pun berlari ke tempat yang di tentukan. Cedil mengawasi mereka dari laptop. “sekarang!” teriak Tulia ari dan Pramana pun menurunkan perangkapnya berupa jaring. “nah sekarang tugas pertama sudah selesai” kata Pramana. “baiklah berapa penjahat lagi?” Tanya Tulia “menurut hasil pemantauan helicopter sekitar 5 penjahat lagi” jawab Shanti “kalau begitu kita harus siap siap” kata Komang.
“hei kalian!” teriak Pramana “uek!” “ayo kejar dia!” 3 penjahat pun segera mengejar Pramana. “jduk! Brukk!” “hahaha! Emangnya enak jatuh di lubang yang lucu ini?” kata Cedil. Komang pun bersiap dengan talinya. Dan Tulia siap dengan ketapelnya. Tulia pun segera menembak ke 2 penjahat tersebut. “siunnggg! Jduk!” “apa itu?” mereka pun segera keluar lalu berlari “awas kau!” kata penjahat itu sambil menangkap Tulia “Tulia!” “lepaskan! Lepaskan!” kata Tulia sambil meronta ronta. “hiaaa!” praman pun segera menghajar kedua penjahat itu dengan jurus bela dirinya.
“nah sudah selesai” kata Cedil “bagaimana kalau kita semua berfoto bersama?” Tanya Komang “ya aku setuju!” ari pun mulai mempersiapkan kameranya. “CIS!”. Dan polisi pun datang mereka di beri penghargaan atas usaha mereka menangkap penjahat dan juga sebuah penghargaan dari dinas kesehatan karena berhasil membantu seekor serigala melahirkan anaknya.

Cerpen Karangan: Ni Wayan Shanti Savitri
Facebook: Yan Shanti

Cerpen Kelompok 3 merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Guru

Oleh:
Hari ini aku kembali mengingatnya.. sesosok pahlawan tanpa tanda jasa yang telah tiada, ibu ke dua bagiku, guru ku yang tercinta, yang bernama Ibu Teti Khodijah. Beliau adalah sosok

Hari Hari Bersama Sahabatku

Oleh:
Pagi hari aku terbangun dari tidurku, aku bangun jam 05.00 usai itu aku berwudhu. Setelah berwudhu aku shalat subuh usai shalat subuh, aku mandi. Setelah selesai mandi aku memakai

Haruskah Aku Yang Pergi?

Oleh:
Aku merenung sambil berbaring di atas kasur. Aku merenung, mengapa tidak ada yang menganggapku ada pada Dunia ini. Kecuali Bi Inah, pembantuku. Oh iya namaku Missy Aurelia. Aku kelas

Tas Baru Dari Nenek

Oleh:
Pada hari minggu Nila dan neneknya pergi ke pasar dekat rumahnya. Ketika lewat toko-toko Nila melihat sebuah tas yang seperti boneka, akan tetapi itu bukan boneka tapi tas boneka

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Kelompok 3”

  1. ida bagus ray kerta wijaya says:

    bagus banget noks cerpenny nie mantap

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *