Kucing Malang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak
Lolos moderasi pada: 9 May 2016

Hewan lucu nan imut yang biasa dipanggil kucing, kini tinggal bersamaku. Sesaat sebelumnya ku temui hewan itu kesepian tak bersama induknya. Kasihan memang, anak kucing selucu dia sendirian. Hari-hari pertamaku bersama dia sungguh sangat menyenangkan. “Gembul!” panggilan dia untuknya. Dengan langkah anak kucing pada umumnya, membuatku ingin tertawa. Ia mendekat padaku, mengusapkan kepalanya pada tanganku yang sedang mengelus bulu indahnya. “Hahaha, sudah sudah, aku geli hahahaha,” dia sungguh menggemaskan bukan? setelah menyadari bahwa aku memang geli, ia berhenti melakukan kegiatannya. Kucing itu lalu menatapku dengan tatapan seolah-olah ia berkata ‘aku lapar’. Aku tahu itu, lalu aku berikan sebuah botol susu yang sedari tadi ku pegang kepada anak kucing itu. Ia sangat lahap meminumnya. “Astaga, apakah kau selapar itu?” ucapku tersenyum.

Aku pun membuatkan sebuah rumah kecil untuknya. Hanya sekedar untuk penghangat baginya kala malam hari tiba. Ku buatkan ia rumah dari sebuah kardus bekas dan beberapa kain bekas yang masih bisa dipakai. Melihatnya tertidur pulas, aku bertanya-tanya, ‘Ke mana induknya pergi? mengapa ia tega membiarkan anaknya sendiri?’ Sebuah pertanyaan itu terkadang muncul di benakku, tanpa bisa ku jawab satu per satu. Hari demi hari, aku selalu setia merawat dan memberi kasih sayang tulus kepada anak kucing itu. Aku mengerutkan dahiku dalam. Sebuah perbedaan terjadi pada kucing itu. Bukan, ia bukan berubah menjadi besar. Namun, perutnya kian membuncit. Dan langkahnya pun tak seimbang. Kenapa dia? apa dia kekenyangan? sepertinya tidak. Esok hari, setelah pulang sekolah aku langsung menemui kucing itu.

Betapa terkejutnya aku. Ku temukan kucing itu berbaring lemas dengan mata yang setengah terbuka. Ku sentuh tubuhnya, ia bergetar hebat. Aku bingung, cemas, khawatir. Yang ku lakukan hanya berdoa dan menutupi ia dengan kain yang sedikit tebal. “Gembul kau kenapa?” pikiranku mulai negatif. Tak lama kemudian ia bangkit, entah apa yang ia lakukan. Berjalan menuju sebuah tempat penuh tanah. Dua kali lebih terkejut. Ia memuntahkan isi perutnya. Namun biasanya yang ke luar mungkin susu atau makanan. Kucing ini memuntahkan hewan lain yang ku kira lebih mirip cacing gulung. Ia terus mengeluarkannya dengan tubuh yang bergemetaran. Dengan wajah cemas, deg-degan, aku meminta tolong kepada temanku yang sudah biasa merawat kucing.

“Mia!!” ku panggil namanya terus menerus. Sampai seorang perempuan yang sebaya denganku mengenakan pakaian santai ke luar dari rumahnya.
“Ada apa Rima?” tanyanya kepadaku. “ikut denganku sekarang! Kucingku dalam bahaya,” aku langsung menariknya dan membawa dia ke rumahku. Lebih tepatnya ke tempat di mana kucing itu berada. Kucing itu kini terduduk lemas masih dengan tubuh yang gemetar.
“Aku tidak tahu kenapa, tiba-tiba saja saat aku pulang sekolah ia langsung lemas dan memuntahkan seperti itu.” Mia menatap kucing itu dengan miris.

Kebetulan, malam ini adalah malam minggu. Aku berencana membawa kucingku itu kepada Mia. Saat ingin membawa kucing itu, aku melihat kucing lain yang lebih besar sedang terduduk menghadap rumah kecil yang di dalamnya ada anak kucing. Aku membatin ‘Apa jangan-jangan kucing ini adalah induknya?’ ya sudahlah terserah kucing itu akan melakukan apa. Aku langsung membawa kardus yang berisi anak kucing ke tempat Mia. Setelah memberi keluhan bak pasien kepada dokter. Gembul akan diberi obat cacing untuk sementara. Beberapa hari kemudian, keadaan anak kucing itu membaik. Aku memutuskan menitipkannya pada Mia agar dia merawatnya. Semenjak itu, aku merasa kesepian. Biasanya gembulah yang selalu menghiburku. Setelah berbulan-bulan tak bertemu, aku mendapatkan sebuah berita dari Mia.

“Rima, aku minta maaf .. aku tak bisa merawat gembul dengan baik, tadi pagi aku menemukannya tergeletak dengan penuh busa di mulutnya,” aku terdiam cukup lama. Aku bingung ingin berkata apa. Aku tentu saja sedih mendengarkannya. Namun aku tak bisa melakukan apa-apa. Dalam hati aku berkata, ‘Selamat tinggal gembul, semoga kau tenang di sana.. maafkan aku jika selama ini tak bisa merawatmu dengan baik.’ Atas kejadian itu, aku mempunyai sebuah pelajaran. Ternyata tak mudah merawat seekor hewan seperti kucing.

Cerpen Karangan: Nisrina Dwi Cahyani
Blog: parkhyera150.wordpress.com

Cerpen Kucing Malang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Si Penghapus Kecil

Oleh:
“Abduh…, bunda pergi ke mall dulu, yaa…, kamu mau ikut enggak?” Tanya bunda. “ikut…” jawabku. “kalau begitu, sekarang juga kita ke sana!” kata bunda. “oke!” sorakku. Setelah berada di

Saat Saat Kita Bersama

Oleh:
Namanya Elicia Fitra Andryna biasa ku panggil Elic, dia yang selalu menyemangatiku di mana-mana, dialah sahabat sejatiku, aku selalu kasihan padanya dia selalu diejek oleh temannya. Suatu hari.. “Hei,

Ulang Tahun Bunga yang Ke-12

Oleh:
Besok adalah ulang tahun Bunga yang ke-12 tepatnya pada tanggal 21 April. Setiap ulang tahunku aku ingin orang tuaku merayakannya, karena sejak masih kecil ulang tahun itu tidak dirayakan

Belajar Memasak

Oleh:
Libur telah tiba, saatnya semua barang-barang yang berhubungan dengan sekolah di simpan. Seperti: buku tulis, tas, sepatu, dan semacamnya. Rabu pagi ini, aku pergi ke taman di depan kompleks

Dua Kelinci Pemberani

Oleh:
Pada zaman dahulu kala hiduplah 2 ekor kelinci yang selalu hidup bersama sejak kecil. Mereka hidup dengan tentram, damai, aman dan rukun. Walaupun mereka tidak mempunyai ikatan saudara, tetapi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *