Kutil

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak
Lolos moderasi pada: 8 January 2018

Nama aku Lira. Sekarang umurku 14 tahun. Aku punya sahabat namanya Tasya. Hari ini, kami sedang jalan-jalan menikmati sisa hari libur di Minggu sore.

“Sya, Tasya..” Aku menyikut lengannya.
“Kenapa?”
“Coba lihat orang itu, deh. Aneh! Udah kutilan, masih pede datang ke tempat keramaian kayak gini. Nggak malu, apa?” Ujarku sambil menunjukkan seorang lelaki tua dengan kutil yang terlihat jelas di kulitnya.
“Hush! Lira, jangan gitu, dong. Nggak baik gitu ke orang.”
“Ih, emang fakta, kok!” Ujarku tak mau kalah.

Lelaki tua itu yang hanya berjarak beberapa langkah dari kami kemudian menoleh. Menatapku, lalu berlalu.
Jujur, agak horor rasanya ditatap oleh orang aneh sepertinya. Tapi aku memilih cuek.

“Sya, pulang Yuk! Udah sore banget.” Ujarku setelah Pak Tua itu benar-benar hilang dari pandanganku.
“Yuk!”

Pagi hari di kamarku…
“Hoam..” Aku terbangun. Tapi tak ada kak Santi di sebelahku. Hmm, dia memang selalu bangun lebih pagi untuk menyiapkan sarapan karena kami hanya tinggal berdua di kostan ini.
Aku tertidur nyenyak sekali semalam. Namun aku merasa begitu lemas. Aku berjalan ke arah cermin. Siapa di sana? Aku? Benarkah??
Jelas saja yang di depan cermin adalah Aku. Tapi apa ini?!! Aku meraba wajahku, ada banyak kutil di sana. Dengan ukuran kecil maupun besar. Tidak, tidak! Itu tidak mungkin Aku. Wajah menjijikkan di dalam cermin yang mirip denganku itu pastilah bukan aku. Kemarin wajahku baik-baik saja. Tidak! Itu bukan Aku, aku benar-benar shok. Tidak!!!

“Lira, Lira..” Kak Santi menepuk-nepuk lembut pipiku.
“Kenapa?” ujarnya kemudian.
Aku menatap Kak Santi yang ada di sebelahku. Aku masih terbaring di atas ranjang. Kak Santi baru saja membangunkanku ketika ia mendengarku mengigau aneh.
“Kamu kenapa?” ia mengulangi pertanyaannya.
Aku bermimpi? Benarkah? Aku tergesa-gesa menuju ke depan cermin. Aku mendapati wajahku yang masih sama seperti kemarin. Tak ada kutil di sana. Aku terus menelusuri setiap senti kulit wajahku, benar-benar tak ada kutil. Hfft, ternyata Aku hanya mimpi. Yey! Aku melonjak kegirangan. Syukurlah! Terima kasih Ya Tuhan.

Kak Santi menatapku tak mengerti.
“Mimpi?” tanyanya.
Aku mengangguk cepat. Lalu buru-buru mengajaknya sarapan sebelum ia bertanya macam-macam.

Mulai sekarang, aku berjanji tidak akan menilai orang sembarangan atau menghina siapapun. Bisikku dalam hati sambil berkali-kali memanjatkan syukur pada Tuhan.

Cerpen Karangan: Mafaza
Blog: mafazatulislam.blogspot.com
Nama: Mafaza
TTL: Pinrang, 03 Jauari 2000
Sekolah: MA plus YPUI Al-Ikhwan

Cerpen Kutil merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Stopwatch

Oleh:
Saat di taman. Anto menemukan sebuah stopwach. Stopwach itu terdiri dari 2 tombol yang kiri berwarna merah sedangkan yang kanan berwarna hijau. Anto menekan tombol kiri, seketika semua berhenti.

Sahabat Selamanya

Oleh:
Malam ini sangat dingin. Mungkin karena hujan yang begitu deras di sertai petir yang besar. Melody memeluk mamanya karena kedinginan. Padahal Melody sudah memakai sweater yang tebal. Tetapi, masih

Clara dan Kaniar (Part 1)

Oleh:
Hari ini seperti biasa. Siang yang panas ini Clara pergi ke rumah kak Feby, untuk kursus memasak. Clara sudah kursus memasak di sana sejak TK, sebenarnya mama dan papa

Odol Pedes Bikin Gemes

Oleh:
Hai namaku arika putri denata. Panggil aku rika ya. Aku masih duduk di kelas 1 sd. “dek rika ayo makan malam dulu” ajak mama. “Siap mama!” kataku sambil hormat.

Atlet Tennis Meja Cilik

Oleh:
Plak…!!! Plak…!!! Plak…!!! Hmmm… Kalian tahu itu bunyi ke-Plakan apa? Owh itu Resty bersama sahabatnya yang setia, Hinno bermain Tennis Meja di halaman rumah Resty yang sangat luas. Kebetulan,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *