Makan Coklat Berjamaah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak
Lolos moderasi pada: 28 March 2018

Pada suatu hari, ada seorang gadis kecil bersama ibunya sedang lari pagi di taman kota. Lalu, mereka melewati sebuah toko coklat besar yang berdiri tak jauh dari tempat mereka berada. “Mama, aku mau coklat itu. Boleh ya.” pinta gadis kecil itu. Namanya Rara. “Tapi kamu baru makan permen loli kemarin.” desah ibu. “Tapi aku mau bu..” ucap Rara mulai menangis. “Eh, jangan nangis. Aduh, ya udah yuk beli coklat.” ujar ibu mengalah. Akhirnya Rara kembali tersenyum. Lalu mereka membeli sekotak coklat besar. “Ini yang terakhir di minggu ini ya? Kamu sudah membeli permen dan coklat 5 hari berturut-turut. Nanti gigimu sakit”. Rara mengangguk patuh.

Lalu mereka berdua duduk di kursi taman di dekat mereka. Rara mulai memakan coklatnya. “Jangan langsung dihabiskan. Supaya nanti di rumah bisa dimakan lagi.” nasihat ibu. Rara segera menutup kembali kotak coklat itu. Rara sudah memakan sebagian coklat itu. Mereka pun kembali berlari.

Sesampainya di rumah, Rara segera menyimpan coklat itu di kulkas. Lalu Rara mengganti bajunya dengan baju santai. Rara ke ruang TV dan menonton kartun Hello Kitty kesukaannya. Ibunya menghampiri Rara dan menemaninya menonton TV. Tapi ibunya tidak ikut menonton kartun, melainkan membaca koran pagi.

Tiba-tiba Rara ingin buang air. Lalu Rara ke kamar mandi dan buang air. Setelah itu, Rara kembali menonton kartun. Rara teringat akan coklatnya yang tersimpan di kulkas. Rara ingin makan coklat. Rara berjalan ke dapur dan membuka kulkas. Kreeeekk… Pintu kulkas terbuka. Rara terkejut karena coklatnya tidak ada di kulkas itu.

“Ma.. Coklat Rara hilang… Huhuhu…” tangis Rara sambil menemui ibunya di kamar. Tapi, ternyata ibu Rara tak ada di kamar. Lalu Rara mencarinya ke dapur, kamar mandi, lantai atas, ruang tamu, ruang TV, dan teras. Tetapi ibu tetap tidak ditemukan. “Mama.. Mama di mana? Rara takut… Huhuhu… Mama..” tangis Rara.

Akhirnya Rara memutuskan mencari ibunya keluar. Rara menanyakan ibunya ke rumah tetangga satu persatu. Namun hasilnya nihil. Akhirnya Rara kembali ke taman kota dengan sepeda roda dua miliknya. Rara baru bisa naik sepeda roda dua. Dia masih amatir. Tak jarang Rara hampir terjatuh ketika melewati polisi tidur. Sesampainya di taman kota, Rara duduk di kursi taman di dekatnya. Dia tidak peduli apa-apa. Dia hanya duduk melamun sampai akhirnya dia tertidur.

Ibu melihat Rara sedang asyik melihat kartun di ruang TV. Ibu pun menghampiri Rara. Namun ibu juga merasa bosan melihat film kartun seperti itu. Ibu tidak suka menonton kartun. Tentu saja karena ibu sudah besar. Akhirnya koran pagi yang baru saja datang langsung diambil oleh ibu dan dibacanya dengan sangat teliti. Ibu memang berlangganan koran pagi. Saat ibu asyik membaca koran pagi, dia teringat Rara. “Di mana Rara?” pikirnya. Tapi dia mendengar suara siraman air. Dengan begitu, ibu tau bahwa Rara sedang di kamar mandi.

Tiba-tiba ibu merasa haus. Ibu ke dapur dan membuka kulkas. Kreeeekk.. Pintu kulkas terbuka. Ibu heran melihat kotak coklat di freezer kulkas. Karena ibu mengira kotak coklat itu sudah berdiam di sana minggu lalu, maka ibu membuang coklat itu. Namun ibu teringat lagi bahwa tadi pagi Rara membeli coklat. Dengan rasa khawatir bercampur rasa bersalah, ibu segera pergi keluar mencari coklat yang baru. “Apa yang akan terjadi nanti? Pasti Rara akan marah padaku. Aku harap toko coklat itu masih buka karena hari sudah mulai siang.” pikir ibu cemas.

Namun harapan ibu tidak terjadi. Semua toko yang di temui ibu sudah tutup. Hanya ada satu toko coklat yang masih buka. Toko coklat itu tidak sebagus toko coklat yang lain karena tidak ada coklat yang sama dengan coklat milik anaknya. Awalnya ibu tak yakin akan membeli coklat di sana. Tapi karena hanya toko itu saja yang buka, akhirnya dia membeli coklat di toko coklat itu. Ibu memutuskan untuk membeli chocolate dark. Tiba-tiba saat ibu mau pulang, hujan turun deras. Terpaksa si ibu berteduh dulu di toko coklat itu.

Tes.. Tes.. Rara merasa tetesan hujan mulai membasahi dirinya. “Mama.. Aku mau pulang.. Huhu…” tangis Rara lagi. Rara terus menangis. Ibunya pun mendengar tangisan Rara. “Itu kayak suara Rara.” gumam ibu. Mata ibu segera mencari-cari Rara. Matanya bergerak ke kanan dan ke kiri. “Nah, itu Rara.” batin ibu. “Rara.” panggil ibu setengah berteriak. Rara menoleh. Rara kembali tersenyum. “Mama.” ucap Rara senang. Ibu segera menghampiri Rara. Ibu sambil berlari karena tak mau bajunya basah terkena hujan. “Coklatku hilang ma.” adu Rara. Ibunya terdiam. Ibu segera membawa Rara beteduh di toko coklat kecil tadi.

“Hehe.. Maaf ya sayang. Tadi ibu kira coklatmu itu sudah basi. Makanya ibu buang.” kata ibu mengaku. “Hah? Trus gimana donk?” tanya Rara kecewa. “Tapi udah ibu gantiin nih sama chocolate dark.” ucap ibu tersenyum. “Yeeeyy… Makasih ma. Mmmmuuuaaah..” ujar Rara sambil mencium pipi ibu. “Sama-sama sayang.” balas ibu sambil memeluk Rara.

Akhirnya hujan berhenti. Lalu mereka pulang dan makan coklat bersama-sama. “Coklat yang ini lebih enak dari coklat yang tadi bu.” puji Rara. “Oh ya? Padahal coklatnya dari toko kecil tadi loh.” kata ibu.

Tiba-tiba ayah pulang. Ayah dari rumah tetangga. Tetangga mereka meminta ayah untuk memperbaiki meja mereka yang oleng akibat salah satu kaki meja itu tidak sama panjang. Tapi meja itu sudah di diperbaiki oleh ayah. “Wah, lagi pada makan coklat ya.” kata ayah agak tergiur. “Hehe. Iya. Makan bareng yuk pa. Coklatnya banyak nih.” ajak Rara. Akhirnya mereka makan coklat bersama.

Cerpen Karangan: Syarifa Fadhila
Rara adalah gadis kecil yang berusia 6 tahun. Dia adalah anak tunggal. Ayahnya berkerja sebagai pegawai kantor, tapi tak jarang dia membantu tetangga memperbaiki alat-alat perobatan yang cacat. Ibunya bekerja sebagai ibu rumah tangga dan guru. Ibunya menjadi guru di sekolah Rara.

Makasih yang udah baca my cerpen

Cerpen Makan Coklat Berjamaah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Momen Terburuk

Oleh:
“Huahm”. Rasanya malas banget untuk beranjak dari tempat tidurku. Hari ini adalah hari sabtu, aku harus bangun untuk berangkat sekolah sebelum terlambat. Dengan mata yang masih setengah terpejam aku

Misteri Arwah Tari

Oleh:
Hai, namaku Karen. Huh.. Aku menghapus keringatku. Tadi saat jam IPA, guruku menyuruh untuk kerja kelompok pada malam hari. Temanya tentang bulan dan tumbuhan. Bagaimana bulan naik dan turunlah

Maut Menjemput Sahabat Ku

Oleh:
Aku Fadhlil kelas 7 SMP, aku mempunyai sahabat yang bernama Gilang, setiap hari aku selalu pulang bersama dengan dia, belajar bersama, dan bermain bersama. Suatu hari Gilang mengikuti orangtuanya

Nggak Bisa Main Uno

Oleh:
“Jadi gak Sop?” tanya Entin “Jadi apa? Main uno di foodcourt bareng Rio?” “Bukan main bareng Sop, tapi aku disuruh ngajarin Rio main uno” “Apaaa?! Gak bisa main uno?”

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *