Menjadi Yang Lebih Baik

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 17 May 2013

Perkenalkan namaku, Lala Prisicilia. Sekarang aku duduk di kelas dua SMP. Menurutku dan menurut orang di sekitarku sikap dan perilakuku sudah jauh lebih baik dari dua tahun yang lalu. Yah begitulah, baca kisahku selanjutnya, ya!

Dua tahun yang lalu, aku adalah seorang anak perempuan yang sombong, keras kepala, tamak dan segala hal yang buruk ada padaku. Di kelas aku selalu menjadi bintang kelas, nilai ulanganku selalu tinggi dari teman-teman yang lain. Namun, aku sangatlah sombong, dan tak pernah mau menolong teman yang sedang membutuhkanku. Aku juga sangat suka memilih-milih teman. Namun, ada satu hal yang membuatku berubah 180 derajat dari sikapku sebelumnya.
Suatu hari, aku terserang penyakit demam berdarah, aku tak bersekolah kurang lebih satu bulan lamanya. Tak ada satu orang teman pun yang menjengukku, paling hanya ada guru dan juga kepala sekolah.
“Apa aku seburuk itu, hingga tak ada satu pun teman yang menjengukku.” Gumamku dalam hati.
Suhu badanku semakin tinggi saja, lidahku kelu dan pahit, Ibu yang melihat keadaanku yang semakin parah, mulai kebingungan. Beliau mengantarku ke rumah sakit dan harus di rawat inap. Ibu, yang selama ini aku langgar peraturan dan nasehatnya. Dan kini dia ada saat aku dalam keadaan susah, sedih, dan sekarang ada dalam keadaanku yang kritis.

Betapa dosanya aku selama ini, Tuhan. Tak memikirkan perasaan batinnya, aku pun tak kunjung datang, untuk mengelap air matanya, ketika ia menangis. Dan, teman-temanku yang selama ini aku campakkan, aku tak pernah memberikan bantuan walau hanya sedikit untuk mereka. Kini, aku terbaring lemah. Hanya ada Ibu, yang menemaniku.
“Tok.. Tok.. Tok” Pintu di ketuk oleh seseorang dari luar.
Ibu yang tergopoh-gopoh berlari membuka pintu.
Terdengar suara anak perempuan yang sangat halus dan sopan.
“Siapa dia?” Gumamku.
“Lala, kamu sakit apa?”
Rahel, ya dia Rahel. Teman sekelasku yang sering ku hina dan ku sakiti. Dia datang, dia datang menjengukku. Mataku panas, leherku tercekat. Air mataku mengalir deras, Rahel memelukku.
“Lala, cepat sembuh ya. Kita semua kangen sama kamu. Rindu akan ocehanmu yang nyeletuk itu” Kata Rahel, memegang tanganku, yang di tusuk jarum inpus.
Aku tak berkata apa-apa, selain hanya bisa menangis, dan menganggukkan kepala.

Mulai sejak itu, aku mulai percaya dan sadar. Betapa indahnya menjadi yang lebih baik, belajar semuanya dari pengalaman, pengalaman buruk yang sebelumnya. Kini aku move on, Move On Menjadi yang lebih baik, bahkan jauh lebih baik dari sebelumnya. Aku bertekad untuk menjadi Lala Prisicilia yang baik hati dan tidak sombong. Serta senang membantu dan mendengarkan nasehat baik dari orang lain. Alhamdulillah!

Ini Kisahku, kisahmu apa?

Cerpen Karangan: Dhinii Sabilla

Cerpen Menjadi Yang Lebih Baik merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tak Selamanya Bahagia

Oleh:
Gia adalah seorang anak dari pebisnis terkenal yang kaya raya. Teman temannya selalu iri kepadanya. Ia memiliki segalanya, tas mewah, jam mewah dan apapun yang dia inginkan pasti terwujud.

Secarik Kertas

Oleh:
Matanya memerah, kulihat begitu dalam kesedihan yang dia pancarkan. Aku takut aku akan merasa iba padanya, “kita putus” dan lagi aku tegaskan kata itu kepadanya. Seketika itu pun airmatanya

Arti Hidup

Oleh:
Namaku Karin, kalau pilihan hidup itu ada aku mau banget ngejalaninya. Pagi itu aku terbangun dari tidurku yang terjaga. Kulihat jam dinding menunjukkan pukul 08.00 WIB. Aku beranjak dari

Harta Karun Itu Bukan Milikku Lagi

Oleh:
Suatu malam seorang nelayan dari sebuah desa kecil pergi melaut mencari ikan untuk mencukupi kebutuhannya sehari-hari, hari demi hari dilalui si nelayan tanpa mendapatkan ikan yang ia inginkan satu

Akhirnya

Oleh:
Halo namaku sintia ramdhani khairrunnisa bisa dipanggil nisa, aku siswa kelas 6 di sd negeri melati 2. Entah kenapa saat aku menanyakan ayah, ibu selalu menjawab “Ayah lagi cari

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *