Perahu Pelangi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak
Lolos moderasi pada: 27 March 2018

Di tengah hutan terdapat rumah mungil, di rumah itu tercium bau kue wangi dan enak, ternyata si warak sedang memasak kue lumpia kesukaannya sambil bernyanyi, di tempat warak memasak kue juga ada popo, rara dan cula yang sedang memasak makanan pagi mereka. Di dalam rumah masih ada yang belum bangun dari tidurnya siapa lagi kalau bukan si bobi, dia masih tidur dengan sangat nyenyak, dia akan bangun jika masakan telah selesai dimasak, itulah kelakuan si bobo yang jangan kita ikuti.

Setelah makan, mereka memulai aktifitas pagi, si cula mencari kayu bakar di sekitar rumah, warak dan rara menyapu halaman, popo menyiram bunga di sekitar rumah sedangkan si bobi terlihat hanya duduk memperhatikan mereka berkerja tanpa membantu. Pada saat itu, bobi memperhatikan si popo yang sedang menyiram bunga sambil sesekali bernyanyi, terlintas di pikiran si bobi, “mengapa tidak aku kerjai saja si popo itu pasti seru kalau aku mengerjai dia” kata si bobi sambil tersenyum.

Bobi melihat selang air yang dipakai oleh si popo dan dia menutup keran itu sehingga airnya tidak keluar, si popo heran kenapa air dalam selang tidak keluar lagi padahal tadi baik-baik saja. Bobi memberitahu bahwa mungkin airnya habis, dan menyuruh si popo melihat selang itu siapa tahu saja tersumbat. Si popo melihat selang itu dengan sebelah matanya, bobi pun langung membuka keran tersebut ketika itu saja air langsung menyiram mukanya si popo. “Hahah.. rasain kamu!!” kata si bobi dengan jahilnya, popo hanya menatap bobi dengan muka marah sambil menangis dan langsung meninggalkan bobi yang masih tertawa melihatnya.

Waktu siang telah tiba warak dan cula telah banyak mendapatkan kayu bakar untuk memasak, rumah kecilnya pun telah bersih. Tiba saatnya mereka berkumpul dan bercerita, dalam cerita si cula berkata kepada empat temannya bahwa tidak jauh dari rumah ini banyak papan kayu yang tidak terpakai lagi belum terlihat kelapuknya, si cula berniat untuk merubah papan kayu tersebut menjadi perahu, dia ingin sekali naik perahu berjalan-jalan menyusuri keindahan laut. Mendengar si cula bercerita si warak, popo, rara dan bobi sangat senang, mengapa tidak, karena sebentar lagi mereka bisa naik perhu mengelilingi laut dan mereka berjanji akan membantu si cula membuat perahu itu hingga selesai.

Hari pembuatan perahu pun telah dimulai, si cula membuat kerangka perahu dengan pintarnya, si warak popo dan bobi memotong papan kayu mengikuti kerangka yang dibuat cula, si cula berniat membuat perahu pelangi dia mempersiapkan berbagai warna membentuk warna-warna pelangi, sedangkan si rara yang cantik menyiapkan makanan tidak lupa kue kesukaan warak apalagi kalau bukan lumpia. Sebelum pemotongan kayu dimulai si cula telah membagi-bagi gergaji dari berbagai warna, si warak berwarna hijau, si popo warna kuning sedangkan si bobi berwarna merah. Saat pemotongan kayu telah dimulai, tiba-tiba si warak tiba-tiba lupa ke mana dia meletakkan gergajinya dia masuk keluar rumah tapi tidak jumpa, “di mana ya..” gumam warak. “Ada apa warak, mengapa kau terilhat bingung, ke mana gergajimu, kita sudah mau memotong kayu” kata popo. “tidak tahu, tadi aku letakkan di sini, aku takut akan dimarahi oleh si cula itu kan gergajinya.. hikhikhik” kata si warak sambil mengusapkan air matanya. “hahaha.. dasar ceroboh, lihat saja aku akan bilang kepada cula sekarang biar kamu dimarahi olenya… hahah!!.” Kata si bobi dengan senangnya dan langsung menghampiri si cula yang sedang sibuk membuat kerangka perahu.

Rara datang kepada si warak dan popo sambil membawa kue lumpia dan minum, dia kaget mengapa warak menangis tersedu-sedu. Si popo sambil ketakutan menceritakan kejadian itu kepada si rara dan popo bilang kalau gergajinya si cula hilang dan sekarang si bobi sedang pergi menghampiri si cula untuk kasih tahu kabar ini.

Beberapa saat kemudian si cula dan bobi menghampiri si warak, popo dan rara. Si cula tahu di mana gergaji itu sambil senyum-senyum membuat heran bobi, rara dan popo, dan menyuruh si warak memakan lumpia itu agar ingat di mana dia menaruhnya, setelah makan dia mencoba ingat-ingat sesuatu. “Hahahah..” kata si bobi, rara, cula dan popo. “itu gergajimu kamu dudukki dari tadi, bagimana tidak ketemu warnanya sama-sama rumput. hahah..” kata si Rara sambil berkaca melihat kecantikan mukanya. Akhirnya si warak menyadari bahwa sejak tadi dia menduduki gergaji itu dia baru ingat dan tentunya sangat malu, perkerjaan membuat perahu pelangi pun dilanjutkan, si bobi terkadang di tengah perkerjaan apalagi waktunya mengecat suka menjahili si popo.

Hari berganti hari, perahu mungil sangat cantik karena perpaduan dari bermacam macam membentuk warna pelangi telah selesai, dan sudah siap untuk dipakai, warak, cula, popo dan bobi menyiapkan keperluan untuk berangkat berkeliling laut, tidak lupa rara membawa alat kecantikannya. Saat si warak, cula, popo dan rara sudah naik perahu, tinggal menunggu si bobi, bobi lama karena dia membawa makanan dan baju tetapi sayangnya tidak boleh terlalu banyak oleh si cula itu tidak akan muat di perahu ini dan menyuruh si bobi meninggalkannya, tetapi si bobi tidak menuruti perkataan si cula dan tetap membawanya ke dalam perahu dan terpaksa mereka bersempit-sempitan di perahu. Si bobi pun tidak tenang kenapa membuat perahu yang kecil kenapa tidak yang besar saja sekalian, padahal perahu itu cukup besar dibuat kalau saja dia tidak membawa makanan dan barang terlalu banyak. Perahu sudah sampai di tengah laut, tiba-tiba perahu mereka hampir tenggelam, saat itu si bobi, warak dan popo sangat ketakutan kalau mereka bisa-bisa tenggelam. Si cula meyuruh agar makanan si bobi dibuang saja sebagian agar perahu tidak tenggelam, si bobi tetap tidak mau makannanya kesukaan dia dibuang begitu saja di tengah laut.

“Kamu mau agar kita semua tenggelam di sini apa kita selamat bobi..” kata si rara. “bagaimana kalau kamu saja yang makan makanan ini kamu kan gemuk pasti bisa menghabiskan separuh makananku”. Kata si bobi. “Enak saja kamu bilang aku gemuk!!” kata rara.

Tidak lama kemudian bobi ketakutan dan langung membuang makanan itu. Perahu pun kembali normal tidak seperti tadi, si warak, cula, bobi dan rara senang akhirnya berjalan-jalan dengan tenang. Mereka bernyanyi, bercanda, bercerita, dan tidak lupa si warak makan lumpia kalau tidak makan lumpia dia tidak akan hebat. Cula, bobi, popo dan rara pun tertawa.

Cerpen Karangan: Heni Pebrianti
Facebook: Heni Pebrianti
universitas negeri semarang

Cerpen Perahu Pelangi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Liliana

Oleh:
Liliana adalah peri yang tinggal di sebuah kerajaan awan atau lebih sering disebut kerajaan Ranjana. Ibunya bekerja sebagai pelayan istana, sedangkan ayahnya adalah penjaga kerajaan yang bekerja sepanjang hari.

My Cookie

Oleh:
Namaku zayyana putri avelia. Aku seorang gadis yang lahir di keluarga bangsawan. Biar begitu, bunda selalu mengajarkan kesederhanaan. Ayahku bekerja mengatur perusahaan kue, kayu dan kelapa sawitnya. Suatu hari,

Kue Cacing

Oleh:
Namaku, Acha. Aku mempunyai hobi memasak. Aku sangat suka bermain masak-masakan bersama temanku yang bernama Ginny. Dia juga suka main masak-masakan. Dulu, kami pernah memasak KUE CACING. Mau tahu

Pohon Pepaya Navin

Oleh:
“Aduuh… Gerah banget hari ini” gerutu Navin sembari mengusap keringat yang ada di dahinya. Sembari pulang menuju rumahnya. Memang, hari ini sangat panas sekali. Tak lama kemudian Navin pun

Hadiah Untuk Bunda

Oleh:
Namaku Driya Andana, aku kelas 4 sd di sekolah Generasi Bangsa. Aku mempunyai Bunda yang tunarunggu dan tunawicara sebelumnya Bunda bukan tunawicara karena syok saat mendengar ayah meninggal Bunda

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *