Raja Yang Mengemis

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak
Lolos moderasi pada: 6 September 2017

Namaku Ben, di mata teman-temanku aku ini seorang Raja yang mempunyai mahkota yang mewah. Tapi bagiku, mahkota itu sangat berat dan aku merasa lelah serta bosan memilikinya.
Ya.. Aku ini dilahirkan dari keluarga kaya. Sejak kecil, aku tak pernah lepas dari kemewahan dan pelayanan-pelayanan oleh banyak pembantu yang disewa Ayah di rumahku. Awalnya, aku berpikir jika aku hidup seperti Raja aku akan bahagia selamanya. Tapi kali ini, entah kenapa rasanya hindupku begitu membosankan dan melelahkan. Jadi aku pikir aku ini bagaikan Raja yang dibebani mahkota seberat truk, hffftttt.

Hari ini adalah liburan semester, dimana kebosananku memuncak. Saat bosan, aku hanya bisa merebahkan tubuh di kasur sambil mendengarkan musik-musik yang bisa membuatku mengantuk. Aku mulai merebahkan tubuhku, sambil menatap langit-langit kamar aku berpikir andaikan aku bisa berkunjung ke dunia yang berbeda dari sekarang, pasti kebahagiaan akan menyambutku di mana-mana. Aku sangat berharap itu akan terjadi, tapi aku juga tidak yakin itu bisa terjadi hahaha.
Entah kenapa saat ini aku tidak mengantuk huaaah aku bingung apa yang harus aku lakukan.

Sambil melihat jendela, aku menikmati segelas jus yang telah disiapkan oleh pembantu di rumahku dan menikmati kebosananku. Hffft aku sangat bosan dan aku takut bagaimana jika nantinya aku stress. Aku memutuskan untuk berjalan-jalan ke luar rumah diam-diam tanpa sepengetahuan penjaga dan pembantu di rumahku. Karena jika mereka tahu aku akan ke luar, semuanya pasti akan mencegahku dan melaporkannya pada Ayah, karena Ayahku takut aku akan mendapat bahaya jika ke luar rumah.

“Haaahh??!! Di mana aku? Dan kenapa kedua tangan dan kakiku terikat!!? apa aku diculik? Ayaaah tolooong…” Karena aku berteriak keras, seseorang berbadan kekar dan berkulit hitam mendengar dan menghampirirku. “Diamlah bocah! Kau sudah di tanganku dan tidak akan bisa lepas!”, orang itu menghentakku dengan suara yang menakutkan sampai membuatku menutup mulut dan mengeluarkan air mata. Dia menyeretku menuju sebuah gudang tanpa cat yang terlihat kumuh dari depan, dan dia mendorongku masuk ke dalamnya serta menguncinya dari luar.

Aku terkejut ketika mendapati di dalamnya banyak anak seumuran denganku yang memakai pakaian sobek dan kotor. Di antara mereka ada duduk sambil mendekap lututnya, ada yang sedang tertidur di atas kardus kotor, dan ada yang sedang memakan nasi di kertas minyak tanpa lauk. Perasaanku bercampur aduk, aku sangat takut, aku bingung, dan aku baru ingat bahwa aku memang benar-benar diculik. Ketika aku berjalan di trotoar tadi, ada sesorang yang mendekapku dari belakang dan membuatku pingsan.

Aku sudah menangis lama sambil bersandar di tembok yang berdebu, dan tiba-tiba seorang anak laki-laki dengan tubuh yang kurus dan rambut pendek yang terlihat kusut menghampiriku dan berusaha menenangkanku, “Hoi bro, tenanglah jangan menangis terus.. perkenalkan namaku Adi, kau siapa?”. “hah.. a..aku Ben, ke kenapa kalian bbisa berada di sini? Dan apa yang ka kalian lakukan selama ini?”, aku menjawabnya dengan terbata-bata. “Kami semua sama sepretimu, kami diculik dan dipekerjakan menjadi seorang pengemis di jalan kemudian si tikus bau itu akan menariki hasil ngemis kami”, jawab Adi. “Haaah kalian ngemis? a..aku juga akan ngemis? dan apakah si tikus bau adalah orang yang besar tadi?”, aku terkejut karena bagaimananpun juga aku akan menjadi seorang pengemis, padahal setiap aku pergi dengan ayah aku selalu mengabaikan pengemis-pengemis yang mengetok kaca mobil dan meminta uang, dan sekarang aku akan menjadi bagian dari mereka yang terabaikan itu.

Sudah tiga hari aku dipekerjakan sebagai pengemis, aku tau pasti ayah sudah melaporkan polisi untuk mencariku dan pasti ayah sangat sedih. Setiap pagi, aku, Adi dan semuanya dibangunkan oleh si tikus bau dengan suaranya yang sangat menakutkan. Dengan pakaian yang lusuh, kami semua berangkat pergi ke tepi-tepi jalan membawa sebuah gelas plastik bekas air mineral, dengan suara yang memelas kami semua meminta orang-orang untuk memberi uang untuk kami. Terkadang kami menyembunyikan beberapa uang untuk membeli makan yang lebih enak. Saat mengemis, kami selalu diawasi oleh si tikus bau agar kami tidak bisa melarikan diri.

Aku tau, sebelumnya aku pernah berharap untuk bisa berkunjung ke dunia yang berbeda agar bisa mendapat kebahagiaan, tapi aku sekarang menyesal karena aku tidak bisa mensyukuri kehidupanku yang sebelumnya. Ya, aku tak tau penyesalanku ini ada gunanya atau tidak, tapi aku akan berusaha untuk keluar dari dunia pengemis ini bahkan aku juga akan mengeluarkan teman-temanku semuanya yang ada di sini termasuk Adi. Dan yang menjadi masalah sekarang adalah bagaimana hal itu bisa terjadi.

Kali ini semuanya sedang berkumpul duduk-duduk bersama di tengah lampu dengan cahaya kuning yang remang-remang sambil menggosipkan kelakuan si tikus bau dan bercanda tawa. “Hei semua.. asal kalian tau ya.. kalau aku bisa menangkap si tikus bau itu, aku pasti akan menyuapinya dengan nasi basi secara paksa.. hahaha”, ungkap Rion sambil berdiri dengan gaya sok cool. “kalau aku akan mengikatnya dan melumurinya dengan semen dan jadilah patung si tikus bau jreng jreeng”, si Riki membuat suasana semakin pecah, semuanya tertawa.. Karena aku juga benar-benar ingin bebas dan melakukan hal-hal seperti itu terhadap tikus bau, aku pun menyampaikan keinginanku kepada semuanya yang sedang berkumpul, “hei teman-teman apa kalian akan terus mengoceh seperti itu dan tidak akan bertindak sama sekali? Ayolahh, kita pasti bisa bebas jika kita berusaha, dan setelah itu kita akan membuat si tikus bau itu menjadi orang yang paling menyesal di dunia ini”. Adi menyaut perkataanku “ya! Aku pun benar-benar ingin bebas dan bertemu dengan keluargaku, aku setuju dengan Ben, kita harus menyiapkan rencana untuk kabur dari penjara ini!!”. “Baguss, ayo kita mulai susun rencananya, pertama-tama apa kalian tahu kelemahan si tikus bau?”, ungkapku.

Ya.. di pagi ini kami akan melaksanakan rencana-rencana yang tadi malam sudah kami susun, semuanya terlihat sangat semangat dan aku merasa senang melihat raut wajah mereka. Seperti biasa, kami berangkat menuju tepi jalan raya dengan diawasi oleh si tikus bau. Dan ketika si tikus bau sedang duduk di halte tepi jalan raya, kami pun memulai rencananya. Aku memberi aba-aba secara diam-diam kepada semuanya untuk lari, dan kami pun langsung lari dan ketika itu juga si tikus bau mengejar kami.

Di tengah gang kecil kami semua berhenti dan mengeluarkan sesuatu yang memang sudah dipersiapkan dari awal, yaitu kantong plastik berisi beberapa kecoa yang siap diluncurkan hehe.. Raut wajah si tikus bau itu seketika langsung berubah, yang tadinya marah dan jelek sekarang menjadi ketakutan dan tambah jelek hihihi. Sebenarnya salah satu dari kami ada yang tidak ikut menyerang si tikus bau dengan kecoa, ia terus lari menuju wartel dan menelepon polisi menggunakan uang hasil ngemis yang kami sembunyikan.

“Oke teman-teman sekarang kita akan meluncurkan kecoa-kecoa ini ke arah tikus bau!!” aku memimpin penyerangan. “haah?? Siapa yang kalian sebut tikus bau??!! Dan tolonglah jangan bermain dengan kecoa-kecoa itu, kalau tidak kalian tidak akan kuberi makan selama sebulan!!” Ujar si tikus bau mengancam kami. “Kami tidak butuh makan darimu!! Siap-siap semuaa.. satu.. dua.. tigaaaa!!! lepaskan kecoanyaaaa!!!” aku memimpin penyerangan dengan penuh antusias dan semuanya pun bersemangat. Si tikus bau itu lari ketakutan, tetapi sayangnya dia sudah dihadang oleh polisi di hadapannya sedangkan di belakanya banyak kecoa yang mengejarnya. Akhirnya si tikus bau itu lebih memilih polisi daripada kecoa hihihi

Sudah tiga hari berlalu sejak aku dan teman-temanku bisa melarikan diri dari si tikus bau. Sekarang aku sudah berjanji pada Ayah bahwa aku tidak akan keluar tanpa ijin. Di liburan ini, teman-teman seperjuanganku seperti Adi, Rion, Riki dan yang lain juga sering mengunjungi rumahku dan bercanda tawa bersama. “Hei teman-teman, walaupun kita sudah bebas tapi aku masih merasa sedih…”, ujar Riki. “Kenapa memangnya Rik?”, tanyaku pada Riki. “Karena si tikus bau sudah tertangkap polisi, padahal aku belum sempat mengikat dan menjadikannya patung tikus bau, fufu”. Jawab Riki memecahkan suasana.

Dan sekarang aku tidak sadar ke manakah kebosanan itu pergi?

Cerpen Karangan: Alya Kusuma
Facebook: Alya Kusuma
Nama: Alya Kusuma
Lahir: 12 Mei 2000 Cilacap, Jawa Tengah
Alamat: Sidasari, Sampang, Cilacap

Cerpen Raja Yang Mengemis merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Berkat Gunung Merapi

Oleh:
Ada seorang anak bernama Sasha dia sangat boros, setiap minggu dia selalu Saja meminta barang-barang baru kepada orang tua nya dia pun tidak peduli kepada orang-orang yang kekurangan waaah

Buku Yang Terlupakan

Oleh:
Lala tidak pernah mengerti tentang segala perhatian yang didapatkannya dari orang yang baru ia kenal tersebut. Tidak ada seseorang yang mampu menyelesaikan kesulitannya, selain dirinya sendiri. Hari itu ia

Kedana dan Kedini

Oleh:
Di sebuah desa yang indah, hiduplah sebuah keluarga. Keluarga itu terdiri dari 3 orang, Ibu, Kedana dan Kedini. Kedana dan Kedini itu anak yang nakal. Pada suatu hari Ibu

Gara Gara Malas Menggosok Gigi

Oleh:
“nina… Setelah siap makan, gosok gigi ya! Mama mau pergi ke usa dulu” perintah mama padaku. “iya ma…” kataku pada mama. Lalu mama pergi meninggalkanku menuju mobil. “ih mama…

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *