Rembulan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Budaya, Cerpen Slice Of Life
Lolos moderasi pada: 8 March 2020

Aku bingung. Kemarin aku lupa untuk menghafal geguritan yang aku pun sampai lupa judulnya. Sementara pembawa acara akan memanggil namaku sebentar lagi. Jika aku mengundurkan diri, aku tak punya alasan lagi untuk ibu. Aku tak mengisi acara hardiknas tahun kemarin. Apa sekarang aku nggak ikut lagi?

Tidak! Aku yakin nanti ibu kecewa padaku. Padahal, aku sudah janji pada ibu untuk ikut mengisi acara peringatan hardiknas tahun ini. “Huuuhh!!! Ini semua nggak bakalan terjadi kalau bukan karena kecerobohanku!!” keluh kesalku dalam hati. Teks geguritanku pagi tadi nggak ada, udah tak cari kemana mana.

Aku menyesal tidak mengikuti nasehat ibu yang selalu mengingatkanku untuk menghafal geguritan. Mataku sembab aku mencari ibu di bangku penonton. Kulihat ibu tersenyum dan melambaikan tangan kepadaku. Aku mulai sedikit bersemangat. “Aku harus bisa! Aku nggak boleh ngecewain ibu!” tekatku dalam hati.

“Kita sambut, Adinda Emilia!” sambut pembawa acara itu. Aku terkejut. Aku berada di urutan setelah adikku, Dinda. Kakiku gemetar. “Ya Tuhan, aku janji tidak akan ceroboh lagi setelah ini, aku mohon berilah aku petunjuk, Tuhan!” doaku pelan yang hampir tak terdengar.

Aku berpikir harus bagaimana. Aku ketakutan. Tak terasa, Dinda hampir selesai. Terbayang hal-hal yang memalukan di depan nanti. Lebih takutnya lagi, ketika penonton sudah bertepuk tangan untuk Dinda. Waktu seakan begitu cepat. Saking takut dan gugupnya aku, tanganku terasa dingin, dan juga ingin buang air kecil. Dinda pun tersenyum lebar. Jelas saja, ia lega karena sudah selesai menembang pangkur.

“Terima kasih, semuanya,” kata penutup yang diucapkan adikku. Pembawa acara itu kemudian memegang mic yang tadi diberikan oleh adikku. Pembawa acara itu memakai suweng hitam. Entah mengapa penglihatanku tertuju pada telinganya tadi. Mmmmhh, sepertinya aku teringat sesuatu pada suweng hitam itu, tapi apa ya? Sepertinya begitu penting, tapi apa?

Oh, ya! Aku baru ingat! Suweng yang dipakai pembawa acara itu, mengingatkanku pada nyanyian yang digunakan untuk permainan tradisional Jawa, yaitu Cublak Cublak Suweng.

“Baiklah, kita sambut, Lutfia Seli!” ucap pembawa acara itu menyambutku untuk tampil. Pertama, aku mengucap salam. Semua penonton menjawab salamku. Aku menjelaskan tentang permainan tradisional Jawa yang tidak boleh hilang. Aku mengingat semua dengan baik apa yang ada di geguritan, yaitu tentang permainan Jawa. Memang aku tidak hafal geguritannya, tetapi aku masih menghafal isinya.

“…permainan itu dimainkan oleh tiga orang atau lebih, dengan menyanyikan lagu Cublak Cublak Suweng, ayo bernyanyi bersama!” jelasku dilanjutkan menyanyi.
“Cublak cublak suweng,
Suweng teng gelenter,
Mambu ketundung gudhel,
Pak empong lela lelo,
Sopo guyu delekake,
Sir sir pong dele gopong 2x”
Semua penonton pun ikut menyanyi.

TAMAT

Cerpen Karangan: Dhea Amanda Lutfiana

Cerpen Rembulan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pai Berry Itzel

Oleh:
Di terik yang panas itu, masih sempatnya Itzel pergi memetik berry Amberblaze. Ia masuk ke dalam hutan Dinamond yang sangat lebat. Mustahil ia bisa mendapatkan semak berry yang bagaikan

Tante Susi

Oleh:
Semenjak kematian sang bunda satu minggu yang lalu, Neta sangat sedih sekali, ia merasa kesepian, kini ia sekarang tinggal bersama neneknya, dan tante Susi. Malam itu keadaan sunyi sekali,

Prestasi Vindy

Oleh:
Vindy sangat suka menggambar. Hasil gambarannya dipajang di kamarnya. Bahkan, di sekolah ia dikenal dengan ratu lukis. Suatu hari saat pulang sekolah, ia terserempet motor hingga tangannya patah. Vindy

Balon Udara

Oleh:
Halo namaku ketty, aku mempunyai tetangga bernama Profesor kranda, dia seorang ilmuan hebat, tapi menurut tetanggaku yang lain mengira dia itu aneh, aku bermimpi aku menaiki balon udara maka

Berry dan Caca

Oleh:
Berry, adalah anak Pak Ridwan seorang pengusaha terkenal di kota nya. Berry bersekolah di SD Angkasa Merdeka, salah satu sekolah terbaik di kota dia tinggal. Berry memiliki sahabat bernama

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Rembulan”

  1. Muh Haerul Ramadhan says:

    Apa ide/gagasan dari cerpen rembulan
    Seperti apa dan bagaimana proses dalam penentuan penokohan didalam cerpen rembulan tsb
    Bagaimana kesimpulan dari cerpen rembulan tersebut

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *