Smart

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak
Lolos moderasi pada: 11 September 2017

Naya memohon-mohon pada Bundanya. Sejak minggu kemarin, Naya sudah minta dibelikan Smartphone dan Jam tangan seperti milik Fiara, temannya.

“Ayolah Bunda.., Pliss..” Naya merengek-rengek seperti anak kecil. Padahal dia sudah kelas 6 SD. “Naya.., kamu kan mau ada Try Out, UN, dan ulangan-ulangan lainnya. Kamu harus fokus belajar Nay” nasehat Bunda. “Tapi Bun, plisss…” pinta Naya dengan wajah memelas. Bunda terdiam sejenak. “Hmm.., kita buat kesepakatan aja, gimana?” tawar Bunda. “Kesepakatan?” tanya Naya. “Ya, bila kamu mendapat peringkat pertama dan masuk di SMP negeri, Bunda sama Ayah bakal beliin kamu Smartphone sama Jam tangan yang kamu inginkan itu. Gimana?, mau nggak?” tawar Bunda lagi. “Boleh deh Bun, janji ya” kata Naya. “Siip deh”.

UN yang dinanti-nanti akan tiba seminggu lagi. Naya bertekad untuk mendapatkan peringkat pertama. Selama ini, Naya hanya bisa dapat peringkat 6, 5, 4, ataupun 3. Kali ini, Naya bertekad untuk mendapatkan peringkat pertama.
Walau sulit, tapi Naya tak putus semangat. ‘Aku bisa!, Aku bisa!, Aku pasti bisa!, walaupun tak bisa, setidaknya ku telah mencoba’. Kata-kata itulah yang membuat semangat Naya untuk mendapat peringkat pertama semakin menggebu-gebu.

Minggu pagi yang cerah, Naya memulai aktivitas hariannya. Sholat subuh, jogging atau bersepeda, mandi pagi, ganti baju, dan sarapan pagi.

“Hmm.., Bunda masak apa hari ini?” tanya Vita, Kakak pertama Naya. “Bunda masak Nasi goreng seafood plus telur ceplok, Puding cokelat dengan vla, dan juga susu hangat” jelas Bunda dengan senyum lebar. “Pasti enak” celetuk Felly, Kakak kedua Naya. “ya iya dong..” canda Bunda.

Selesai sarapan, Naya buru-buru mengambil buku. Bukan buku cerita loh ya, tapi buku pelajaran. Yap, Naya akan belajar. Padahal, Naya nggak serajin ini loh biasanya. Tekadnya yang kuat untuk punya Smartphone kali ya?, hi.. hi.. hi..

Esok harinya…
Pagi-pagi buta, sekitar pukul setengah empat pagi. Naya sudah membaca buku. Sambil menunggu adzan subuh, Naya membaca buku. Rajin juga ya?.

“Allahu akbar.. Allahu akbar…” gema adzan subuh terdengar. Naya beranjak mengambil air wudlu. “Brrr…, dinginnya,” gumam Naya. Selesai sholat subuh, Naya membaca bukunya lagi.

“Bun, yah, Naya berangkat dulu ya, Assalamualaikum..” pamit Naya. “Iya, Vita sama Felly juga berangkat, Assalamualaikum,” sambung Kak Vita. Mereka bergantian mencium punggung tangan Bunda dan Ayah.

“Hai Naya!” sapa Fifi, sahabat terbaiknya. “Hai juga Fi!, nanti kamu duduk di ruang 1 atau 2?” Naya membalas sapaan Fifi sekaligus bertanya. “Aku ada di ruang 2 Nay, kamu sendiri?”. “Aku ada di ruang 1 Fi, ya udah, aku mau masuk kelas dulu ya,”.

Kringg.. Kringgg.. Kringgg…
Selama seminggu, kelas 1-5 diliburkan. Seru banget sih, Naya jadi iri deh. Itu semua dilakukan agar tidak menganggu ke-fokus-an peserta UN saat mengerjakan soal.

Pengawas ruangan masuk. Pak Yushep namanya. “Sebelum Bapak membagikan soal pada kalian, Kalian harus menaruh tas di depan. Di atas meja hanya ada pensil, penghapus, dan papan dada” ujar Pak Yushep tegas. Para murid mengumpulkan tas mereka masing-masing di depan.

Huuufffttt…, 25 soal Matematika menanti Naya. Naya berusaha tenang. 25 soal itu Ia kerjakan dengan tenang dan rileks. “Nay!, Nay!” panggil seseorang dari belakang bangku Naya dengan berbisik. Naya menoleh. Oh, itu temannya, Rizky. “Ada apa?” tanya Naya. “Nomer sembilan sama nomer lima belas itu apa?, nyontek dong” kata Rizky. “Enak aja kamu Riz, kerjain sendiri dong!” ucap Naya dengan tegas. “Dasar pelit!” ucap Rizky ketus. “Biarin,” balas Naya. “Heh kalian!, diam!” tegur Pak Yushep. Iihh.., gara-gara Rizky, Naya jadi kena marah deh.

Seminggu berlalu. Sekolah berjalan seperti biasanya. Pengumuman nilai akan diumumkan Minggu depan. Ih, bikin tambah deg-degan aja deh.

“Nay, ke kantin yuk!” ajak Fifi. “Ayo Fi, perutku juga udah mulai keroncongan nih, ” canda Naya. Mereka berdua tertawa. Sesampainya di Kantin, Geng Sasha sudah menanti. Mereka itu jahat. Geng Sasha terdiri dari Sasha, Liona, Tyas, Nike, Rosy, dan Wenda. Mereka suka memajak, mem-bully, dan menyogok para guru. “Heh kalian!” bentak Sasha. “Apaan sih Sha?, kita ini mau jajan, minggir!” balas Fifi yang bertubuh gemuk menyenggol tubuh Sasha yang ramping. “Eh!, kamu berani ya, sama kita?!” bentak Nike. “Kita itu punya hak buat jajan tau!, emang sekolah ini punya kalian apa?!” balas Fifi mulai geram. Terjadilah adu mulut. “Diaaammm!!” teriak Naya. Seketika mereka mulai berhenti mengoceh. “Apa kalian tidak malu sama adik kelas?!, seharusnya Kalian mencontohkan hal-hal yang baik pada Mereka!, bukan sebaliknya!” marahku pada Sasha dan gengnya. Mereka terdiam. “Oh My God!!, Nona Naya sudah marah!, ayo friend’s, kita pergi!” ajak Sasha pada gengnya. “Dasar Gil*!, gak tau malu banget sih” ucap Fifi seraya mengepalkan tangannya.

Minggu berikutnya…
Hari pembagian rapor. Para wali murid berdatangan ke sekolah. Cuaca hari itu sangat panas. Ibu Kepala Sekolah pertama-tama memberi sambutan, lalu ceramah, dan yang terakhir pengumuman juara kelas dari Kelas 1-6.

“Peringkat 3 dari kelas 6-C adalah Maritsa Putri.., Peringkat 2 adalah bla.. bla..”. Dan saatnya pengumuman peringkat untuk kelas 6-A, kelas Naya.

“Peringkat ke-3 diraih oleh.., Raulfa Diaz Maharani..” ucap Ibu Kepala Sekolah. “Peringkat ke-2, diraih oleh Satrio Narendra..” ucap Ibu Kepala Sekolah lagi. “Peringkat pertama.., diraih oleh..”. Jantung Naya berdegup kencang. “Hafidza Wirda Zalfa..” ucap Ibu Kepala Sekolah. Harapan Naya untuk menjadi peringkat pertama pupus sudah. Tapi tunggu, ada satu lagi!. Masih ada harapan bagi Naya.

“Dan yang dinanti-nanti, yang meraih Juara Umum di Kelas 6 adalah…”. Mulut Naya komat-kamit membaca do’a. Sasha berharap dialah yang menjadi Juara Umum karena Sasha sudah menyogok Ibu Kepala Sekolah. “Putri Naya Fadhilla!!!..” kata Ibu Kepala Sekolah. Naya tak menyangka. Naya bersyukur karena usahanya selama ini tak sia-sia.

Di rumah..
“Sesuai janji, Bunda akan beliin kamu Smartphone model terbaru dan jam tangan yang kamu inginkan tempo hari” kata Bunda. “Nggak usah Bun,” tolak Naya. “Loh, kenapa?, bukannya kamu pingin sekali punya Smartphone ya?” tanya Bunda. “Enggak Bun, Karena pintar itu tidak harus mendapatkan hadiah,”.

E N D

Cerpen Karangan: Arifah Kaifah Yasak
Facebook: Arifahyasak Arifahyasak
Maaf ya, kalau cerpennya masih kurang bagus dan salah pengetikan. Ditunggu sarannya ya teman,
Salken dari ku,
Rifa

Cerpen Smart merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pahlawan Bangsa

Oleh:
Pada suatu hari yang cerah, Echa yang sedang nonton TV sambil makan cemilan yang dibeli Mama dari Singapura. Ia menonton kartun kesukaannya. Walaupun sudah umur 15 tahun, ia masih

Dream World

Oleh:
“Key, aku sangat penasaran dengan markas pink di taman dekat rumahmu itu!” Seru Kalissa tiba-tiba. “Ya, aku juga. Anehnya, semua orang tidak melihat ada markas pink di taman itu”

Tasya and Nita

Oleh:
Tasya dan Nita sudah bersahabat sejak kecil. Mereka berdua selalu bersama disaat senang maupun susah. Bahkan, mereka sering berlibur bersama. Suatu hari, ada anak baru di sekolah mereka, namanya

Sahabat Yang Telah Hilang

Oleh:
Aku mempunyai seorang sahabat yang bernama Risa saat di Sekolah Dasar. Kami saling mengenal saat di kelas 4 SD. Dia adalah orang yang sangat baik, cantik dan juga pintar.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *