Terompet Tahun Baru

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak
Lolos moderasi pada: 14 September 2016

Hanif menutupi terompet dagangannya dengan plastik ukuran besar. Langit abu-abu, mendung. Sebentar lagi hujan turun. Hari ini terompet-terompet Hanif belum terjual satu pun. Dengan sabar Hanif menunggu pembeli. Hanif memindahkan dagangannya di trotoar depan toko sepatu. Dia minta izin karyawan toko sepatu.
“Mbak, sebentar lagi hujan akan turun. Bolehkah saya menumpang berteduh?” Tanya Hanif.
“Boleh Dik. Tidak mengganggu kok.”
“Terima kasih, Mbak.”
“Sama-sama. Oh, ya apakah terompetnya sudah ada yang laku?”
“Belum Mbak. Saingannya banyak.”
“Yang sabar ya Dik. Moga-moga terompetnya ada yang memborong.”
“Amin.”

Tiba-tiba hujan turun. Para pedagang yang berjualan di Taman Pancasila menyelamatkan dagangannya. Mereka berusaha menyimpan dagangannya agar tidak basah. Hujan turun cukup lama.
Hanif putus asa. Hari ini dia pulang tak membawa uang hasil penjualan.

Sampai di rumah, Hanif tak mendapati Bapak dan Ibu. Ke manakah mereka? Tiba-tiba datanglah Mbak Aan, tetangganya.
“Dik Hanif, Bapak dan Ibu tadi pergi ke tetangga yang rumahnya di kampung sebelah. Bapak dan Ibu diminta untuk membantu membuat cilok.”
“Terima kasih, Mbak Aan sudah memberi tahu.”
“Terompetnya ada yang laku atau tidak?”
“Hari ini tidak ada yang laku.”
“Sabar ya, Dik. “
“Iya, Mbak.”

Malam hari Bapak dan Ibu sudah pulang. Hanif membuatkan teh hangat untuk kedua orang tuanya. Bapak dan Ibu tersenyum.
“Pak, malam tahun baru tinggal besok. Terompet-terompet kita masih banyak. Kalau tak laku berarti terompet tersebut harus kita jual murah. Sama seperti tahun lalu.”
“Hanif tak usah bersedih. Tuhan sudah mengatur rezeki kita. Kalau terompet-terompet tersebut tak laku tidak perlu khawatir. Tuhan memberi rezeki yang lain. Hari ini Bapak dan Ibu diminta untuk membuat cilok oleh tetangga. Rencananya cilok-cilok tersebut akan disantap besok malam tahun baru. Selain cilok, besok Bapak dan Ibu diminta untuk membuat siomay dan batagor. Kami mendapat upah lumayan, Hanif.”
Wajah Hanif berubah menjadi lebih ceria. “Terima kasih Tuhan.”

Sore ini Bapak dan Ibu repot membantu menyiapkan makanan untuk disantap malam hari nanti. Tentu saja Bapak dan Ibu tidak bisa berjualan terompet.

Hujan turun dengan derasnya. Hanif tertahan di rumah. Hanif tidak memaksakan diri berjualan di taman.
Hanif memandangi terompet-terompet yang tertata rapi di bambu. Hujan belum juga reda. Malam semakin larut.
Bapak dan Ibu pulang. Hanif dan Ika, adiknya berangkat tidur. Hanif tetap saja risau.

Dari jauh terdengar suara mercon dan kembang api. Meskipun hujan turun, suasana kota tetap ramai. Lama-kelamaan Hanif dan Ika tertidur.

Pagi harinya, Hanif menyimpan terompet-terompetnya dalam plastik besar. Tiba-tiba terdengar ketukan pintu. Ibu membuka pintu. Ternyata Mbak Aan yang datang.
“Ibu, saya mengundang Hanif untuk datang ke rumah saya nanti sore.”
“Ada apa, Mbak Aan?”
“Keponakanku ulang tahun. Kamu datang, ya?”
“Tentu saja, dengan senang hati.”

Sore harinya, anak-anak kecil sudah berkumpul di rumah Mbak Aan. Mereka siap bernyanyi dan bersuka ria. Mereka akan makan-makan sepuasnya.

Anak-anak matanya tertuju ke luar rumah. Mereka langsung bersorak, hore! Mbak Aan bingung, ada apa ya? Mbak Aan lalu tersenyum. Mbak Aan menyambut kedatangan Hanif. Kedatangan Hanif sore ini teramat istimewa. Hanif membawa terompet dalam jumlah banyak.
“Aku mau… aku mau…,” teriak anak-anak.
“Ayo semua duduk yang rapi. Nanti semua kebagian. Tapi harus menyanyi dulu.”
“Siap…”

Hanif membawa terompet-terompet tersebut atas perintah Bapak. Sebenarnya terompet-terompet itu mau diberikan kepada Mbak Aan secara gratis. Tapi terompet-terompet itu akhirnya dibeli Mbak Aan.
“Hanif, terompet-terompet itu adalah daganganmu lo. Jadi, Mbak Aan borong ya.”
“Sebenarnya, ini mau dikasihkan buat ulang tahun keponakan Mbak Aan. Tapi, ya sudahlah. Terima kasih Mbak Aan mau memborongnya.”

Setelah makan-makan dan bernyanyi, anak-anak pulang. Masing-masing membawa kardus berisi nasi kuning dan makanan kecil, serta terompet. Keluar dari rumah Mbak Aan, anak-anak meniupnya dengan keras, bersahut-sahutan. Hanif dan Ika pulang dengan suka cita.

SELESAI

Dimuat di Koran Solopos, Minggu 3 Januari 2016

Cerpen Karangan: Noer Ima Kaltsum
Blog / Facebook: kahfinoer.blogspot.com / Noer Ima Kaltsum

Cerpen Terompet Tahun Baru merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Lomba Merajut

Oleh:
Hai namaku aldira donarita. Panggil aku dira yaa. Sekarang aku berlibur di rumah kakek dan nenek tetapi ibu dan ayah tidak ikut menginap. Aku sedang berjalan jalan mengelilingi kampung.

Bertemu Sang Idola

Oleh:
Di malam yang sunyi, di kamarnya, Aqila membayangkan wajah idolanya, yaitu Coboy Junior. Ia sangat ingin bertemu Coboy Junior. Ia selalu dilarang untuk pergi menonton konser Coboy Junior ataupun

Berlibur Ke Rumah Nenek

Oleh:
Pagi yang cerah aku dan keluarga bersiap siap untuk pergi ke rumah Nenek yang berada di kalimantan tengah. “Ayah kita naik apa ke rumah Nenek?” tanya Adikku Dina. “naik

Persami

Oleh:
Pada pagi yang cerah murid kelas 5 dan, 6 mendapat pengumuman bahwa besok sabtu Akan diadakan persami (Perkemahan Sabtu dan Minggu), lalu para murid kelas 5 pun sangat senang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *