Tes IQ

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak
Lolos moderasi pada: 20 February 2017

Namanya Shahenda Misha Rafailah Shafana. Panggilannya, bisa Misha, Henda, Failah, Fana dan Shafa. Tapi mereka seringnya memanggilnya Failah. Tapi, kedua orangtuanya dan ketiga kakaknya manggilnya Misha. Ia anak yang kurang mampu. Bapaknya hanya penjual balon anak-anak, sedangkan Emaknya ibu rumah tangga saja. Failah anak keempat dari empat bersaudara. Kakak pertamanya, sudah menikah dan mempunyai anak 3 dan suami. Jadi, Failah dan Kedua kakaknya itu punya keponakan/kemenakan. Kakak keduaanya, mendapat beasiswa kuliah ke Swiss. Meskipun ketiga anaknya di tempat jauh, tapi mereka tetap mengunjungi orangtuanya. Mereka tak malu punya keluarga kurang mampu. Kakak ketiganya juga mendapat Beasiswa Kuliah di tempat sama dengan kakaknya kedua. Failah, mendapat Beasiswa di MI AKHLAKUL KARIMAH II. Karena, ia sangat cerdas. Ia kelas 5 – Ali Bin Abu Thalib. Di MI itu, diisi oleh anak kaya. Apalagi, sahabat Failah, Lya (baca: lea), anak sekelas dengan Failah, anak paling kaya di MI. Ia bersahabat dengan Failah karena ia baik, cantik, pintar, putih, dan lainnya. Semua MI sangat menyegani Failah. Tapi, ya tapi, ada saja orang yang membenci Failah! namanya Gigih. Ia iri pada Failah. Ia juga sekelas dengan Lya dan Failah.

Pada tanggal 22-09-2016 pada jam pelajaran kedua, Math..
“Perhatikan!!” seru seseorang didepan pintu kelas Failah. Itu pak Romy, kepala Madrasah Akhlakul karimah II. Suara pak Romy memecah keheningan mereka saat mengerjakan tugas dari guru matematikanya, bu Verry.
“Hari senin, tanggal dua puluh enam september, diadakan tes IQ! tahu tes IQ? tes IQ itu singkatan dari Intelligence Quotient, menguji kecerdasan seseorang. Jadi, kalian bapak kasih Formnya. Kalian isi. Bagi yang mau sertifikat untuk mengetahui apa kalian pintar, harus bayar lima belas ribu rupiah!!” jelas pak Romy. Pak Romy memberi satu lembar Form 1 anak.

Failah langsung mengisi Formnya.
“Hmm… harus disuruh tandatangan orangtua! nanti minta tanda tangan bapak saja!” gumam Failah. “Heh! pasti anak miskin itu nggak akan bisa mengerjakan soalnya!!!” seru Gigih sombong. “Heh! loe Gih, jangan sombong loe!!! Buktinya, mengapa Failah juara 1 terus!” elak seseorang laki-laki, Abid. Ia sahabat Failah kedua setelah Lya. “Iya!” semua teman sekelas Failah menimpali. Kebetulan, bu. Verry sedang tak di kelas. “Sudah, cukup!!” teriak Failah. Semua temannya diam.

Failah diam-diam mengambil uang tabungannya yang dua puluh ribu, ia ambil RP 15.000 untuk bayar Sertifikat. Ia sudah meminta tandatangan kepada bapaknya. “Semoga sukses, Misha! doaku selalu untukmu dan orangtua!” itulah percakapan antara Failah dengan kakaknya dengan handphone bapaknya. Ia bercerita tes IQnya kepada kedua orangtuanya dan kakaknya yang berada di Swiss dan Jakarta.

Hari ini tes IQ-nya. Kelas 5 pas jam pelajaran kedua. Tet.. Tet.. Tet.. bel istirahat berbunyi. Semua siswa/siswi berhamburan ke luar kelas. Kecuali Failah dan Lya, mereka makan bekal mereka yang dibawa dari rumah. “Failah! kuberi ini, ya….!” ujar Lya seraya memberi cupcake. “Makasih, Lya! maaf aku nggak bisa beri kamu makanan mahal!” ungkap Failah seraya menerima cupcake dari Lya. “Ye… aku, tuh bangga sama kamu! walaupun sederhana, tapi tetap bersyukur nggak kayak adikku, Ulya, ia tak ada syukurnya! selalu mau lebih! kan ada temannya yang miskin, malah ia mengejeknya. Jadi ia diskors selama 2 hari!” seru Lya. Failah hanya cekikikan melihat mimik wajah Lya ketika marah memang lucu. Hari ini, Failah membawa sambal ikan teri buatan emaknya yang enak (sampai pernah Lya minta, ketagihan) dan tempe goreng yang lezat. Pastinya buatan emaknya yang sehat dan halal.

Tet.. tet.. tet.. bel tanda jam pelajaran kedua dimulai sekaligus kelas 5 Ali Bin Abu Thalib dan 6 – Abu bakar.
Orang yang memberi soal IQ pun datang. Ia perempuan, namanya Ningrum. Ia menjelaskan caranya. Lalu dikerjakan sendiri. Tesnya sampai 1-3. “Wah!!! ini kan, soalnya semua kayak diajari Fifi!” gumam Failah. Fifi adalah dulu majikan bapak. Tapi, karena pindah ke kota lain, semua karyawan baik pelayan maupun sopir (pekerjaan bapak sebelumnya) dipecat. Fifi mengajari Failah belajar. Makanya ia pintar (wong dulu sebelum Fifi pindah ia anak paling cerdas di sekolahnya). Ia mengerjakannya nggak kayak Gigih yang ngoceh kesal karena soalnya susah-susah. “Tetot!! waktunya habis! silakan kumpul!” seru bu. Ningrum. Semua mengumpulkan. Setelah tas IQ, mereka melanjutkan pelajaran mereka, IPS yang diajarkan oleh guru IPS mereka, pak Eryk.

Besoknya, pada jam pelajaran pertama, pak Romy masuk ke kelas Failah. “Anak-anak! ini hasil tes IQ kalian!” ujar pak Romy seraya memberi satu-persatu anak. Ada yang senang karena bagus, ada juga yang cemberut karena tidak bagus. Bahkan, ada yang mencuekkin hasilnya dan asyik dengan kesibukkannya sendiri. Di tangan Pak Romy masih ada 1 sertifikat lagi. “Bapak ada sedikit pengumuman, di sini ada anak yang tes IQnya paling tinggi di kelas ini! namanya…, “putus pak Romy seraya membalik Sertifikatnya yang memang disengaja balik. Semua melongo di sertifikat itu terdapat nama “Shahenda Misha R. S”. “130?!” Gigih tak percaya bahwa Failah mendapat nilai segitu.

Pada jam Istirahat…
Gigih mengintip dari pintu kelasnya, melihat Failah dan Lya makan bekalnya sembari tawa canda. Dengan gugup, Gigih menghampiri mereka. “Eumh…. Engg…. Eh… Ahmm…. Ngg….. Fail.. lah.. Ly.. Lya…. aku.. min.. nta.. maaf… atas perbuatanku yang jelek!” ungkap Gigih yang awalnya gugup. “Eumhh… Aku, sih terserah Failah! gimana, kamu maafin, ndak Fa?” usul Lya. “Iya aku mau, kok!” ujar lembut Failah. Mulai sekarang, Failah, Lya, dan Gigih menjadi sahabat selamanya.

Cerpen Karangan: Alyaniza Nur Adelawina
Facebook: Alya Aniza
Hai! seru, tak. Sebelumnya, aku minta maaf jika itu nama kalian, kupakai untuk watak antagonis (jahat). Ini adalah kisah nyataku. Tapi kuubah dan kuberi tambahan sikit. Oya, kalian sudah pernah tes IQ belum? cukup sekian dariku. Dadah!!!

Cerpen Tes IQ merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Berpetualang Di Desa Hijau

Oleh:
Namaku Adelia Lia, biasa dipanggil Lia. Liburan sekolah kali ini aku dan teman-teman berencana liburan ke Bandung. Ke sebuah desa kecil yang hidup damai dan tenteram, yaitu desa farmer

Cup Cake Untuk Anna

Oleh:
Namaku Carissa. Tiga hari lagi ulang tahun sahabatku. Annabella atau akrab dipanggil Anna. Aku ingin memberikan hadiah pada Anna karena waktu aku ulang tahun Anna memberikan aku kado sebuah

Teguran Itu Cahaya Masa Depan

Oleh:
Namanya Tanika, ia sangat malas pergi ke sekolah. Sering ia ditegur Guru BP agar tidak terlambat. Tapi Tanika menghiraukan perkataan Guru BP. Tanika berubah semenjak orangtuanya sering bertengkar pada

Sang Naga Dan Pemuda Yang Cerdik

Oleh:
Alkisah ada seorang petani yang mempunyai dua anak-anak laki. Keduanya tidak memiliki hubungan yang baik layaknya kakak dan adik saling menyayangi. Sang kakak sangat benci kepada adiknya karena ketampanannya.

Gaun Untuk Clarisa

Oleh:
Hai, namaku Yunita Adela, panggilan akbrabku adalah Dela. Aku baru menginjak bangku kelas 5 SD. Di kelasku, aku mempunyai seorang sahabat yang sangat baik namanya Clarisa. Hari itu, Anna

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *