Mantra Terakhir

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Bahasa Daerah
Lolos moderasi pada: 8 August 2021

Terdengar anjing menggonggong di kejar.. Bacaan-bacaan mantra melayang di bagai asap.
“Malam ini dusun langge sudah kemasukan maling” Kata man Imar.
Suara Burung hantu bermunculan, rumah man Imar ternyata jadi sasaran malam ini.

Imar keluar rumah, membawa Galih busur dan parang, lalu menunggu.
Benar saja, terlihat menuju kearahnya lelaki tua hanya memakai penutup kemaluan dan bebadong dipinggang.
“man imar, sini saya minta kambingnya itu”
Sambil Kambing man imar yang ia beli untuk akikah anaknya.
“Ambil saja kalau mau kepalamu pisah dari lehermu itu” Man imar menimpali.
Begitupun ramai Gonggongan anjing dan Burung hantu yang bersahutan, tidak ada satupun warga yang keluar rumah.
“Dusun langge sepertinya sudah kena ilmu maling ini” Ucap man imar dalam hati.

Di hadapannya sekarang terlihat jelas lelaki tua itu, tatapan matanya tajam, Bulu-bulu hitam diatas mulutnya bercampur putih dan tebal. Tubuhnya telah di oleh minyak maling.
“Aku ni, amaq iton”
“kenapa kemari?”
“Aku mengetes ilmu saja”
“Salah kalau ke Dusun langge”
“Kenapa”
“Setiap kami disini tidak ada yang kosong”
Lelaki tua, amaq iton terdiam. Mengangguk-anggukkan kepala dan mengeluarkan selembar kertas.
“Ini untukmu, untuk menambah ilmumu”

Man imar tahu kalau itu adalah salah satu bentuk penurunan ilmu agar ia ikut menjadi maling.
“Pulanglah, sudah terlalu pagi”
Man imar meninggalkan amaq iton masuk rumah dan menutup pintu. Meletakkan parang dan Galih busur dibawah dipannya.
Amaq iton menyelipkan kertas disela atap berugaq man imar. Lalu pergi, pantatnya hitam penuh minyak.
Man imar mengingat-ingat mantra dari puq sarju untuk melawan selaq. Burung hantu semakin ribut dan menggangu pertanda tuannya akan segera datang.

Man imar mengambil senter berniat mencari catatan mantra itu. Perlahan suara Burung hantu menghilang. Man imar keluar. Lampu senter mengelilingi rumahnya, tak ada satupun lagi.
Man imar benar-benar tidak ingat bacaan mantra itu.
“Jejuluknya saja saya ingat ini, waduh”
Man imar Menggerutu sambil merebahkan badan di berugak.

Kertas putih yang diselipkan amaq iton mengalihkan pikirannya. Kertas itu ia ambil dan langsung dibuka.
Man imar beruntung mendapatkan kertas itu, isinya adalah rahasia maling yang jarang diketahui warga Dusun langge.
Kertas itu ia selipkan kembali, gak lebih dalam sampai tidak terlihat.

Man imar kembali duduk, suara Burung hantu dan anjing tidak lagi terdengar, bahkan suara jangkrik. Sambil tetap memegang senter, man imar merebahkan tubuhnya.
Sampai beberapa saat memejamkan mata, di telinganya terdengar suara aneh yang mengerinying,
Sekujur tubuhnya tiba-tiba terasa ditindih.
Kakinya tidak bisa digerakkan.
“Selaq sudah ini,” Man imar berucap geram.
Matanya susah dibuka, tenggorokannya seperti ditekan.
Ada sedikit bacaan mantra yang ia ingat, wajah puq sarju terpampang jelas didepannya.

Man imar kemudian terlepas dari kuncian selaq. Nafasnya berat dan berulang-ulang dengan cepat.
“Untung aku tidak mati”.
Menyalakan senter, bacaan-bacaan mantra mulai berdatangan di ingatannya. Man imar ingin membaca kembali dengan sempurna.
Ia meninggalkan berugak, masuk ke rumah dan mengambil cukit.

Melangkah ke dapur dengan sorot mata gelisah, cukit tadi ia hujamkan ke kotak kayu terpasak banyak paku.
Duduk membuka kotak itu, man imar mengambil catatan mantra, membacanya dan kembali menuju berugaq.
“Kalau kosong sekarang, Kulepaskan saja mantra ini. Toh juga kalau datang dia bisa kena”. Man imar melepas mantra kemudian pergi menyalakan api.

Cerpen Karangan: Masdiyanto
Blog / Facebook: Culin klu

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 8 Agustus 2021 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen Mantra Terakhir merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Imayani

Oleh:
“Mamak! Daeng Sira kena bom!” Ijal berteriak dari pintu depan. Astaga, cepat-cepat ku tinggalkan kupasan kerang hijauku. Dari jauh ku lihat orang kampung sudah ramai berkumpul di Puskesmas pulau.

Trio Insos dari Misool

Oleh:
Sore itu warna jingga membasuh bibir pantai Kalek secara menyeluruh. Paparan senja membuat pantai berpasir putih nan lembut itu terasa semakin cantik dan eksotis, membuat siapapun yang melihatnya ingin

Sekardus Uang Cinta Untuk Lala

Oleh:
Pagi itu Selasa 20 Juni 2017. Bak petir mengelegar, gempa 9.9 skala ricter menguncang dasyat Negeri Bencoolen yang notabene merupakan pagi yang sejuk, meriah, aman, rapi, kenangan. Akronim dari

Tertembus Bedil

Oleh:
Distrik limbung, Afdeling Makassar 1917. Aku memandangi tubuhku yang telah menjadi mayit, masih ada darah segar mengalir dari bekas bedil yang menembus tubuhku, aku masih memandangi tubuhku yang dipertontonkan

Salju di kampung Bulan (Part 1)

Oleh:
Ada lebih dari 17.850 buah pulau di Indonesia, 17.850 jenis keragaman hidup dan budaya, serta 17.850 cerita dan kisah berbeda yang menakjubkan. Keindahan negeri katulistiwa memang luar biasa, pantainya,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *