Salju di kampung Bulan (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Bahasa Daerah
Lolos moderasi pada: 30 September 2017

Ada lebih dari 17.850 buah pulau di Indonesia, 17.850 jenis keragaman hidup dan budaya, serta 17.850 cerita dan kisah berbeda yang menakjubkan. Keindahan negeri katulistiwa memang luar biasa, pantainya, gunungnya bahkan ladangnya pun menawan. Tetapi cerita ini bukan mengenai semua itu. Bukan tentang tempat-tempat wisata yang terkenal hingga pelosok dunia. Cerita ini akan singkat saja, juga akan sederhana saja, dan berlangsung di mana bulan tersenyum di atas wajah air. Di sebuah pulau bernama Rai Hawu.

Rai Hawu berada di tanah Mahara, di barat tanah Haba dan timuran tanah Liae. Tepatnya 121o45-122o41 belahan timur dan 10o27-10o38 lingkar selatan Indonesia. Penduduk luar pulau menyebutnya Pulau Sawu. Pulau Sawu memiliki 2 tingkatan, dusun atas dan dusun bawah. Dusun atas berada di bukit-bukit Ko’ o Ma dan lerengnya, sedang dusun bawah berada di dataran rendah dan mayoritasnya bekerja sebagai petani, subur sekali mahoni dan pohon kapuk di sana. Ada 3 desa di dusun bawah dan 4 desa dusun atas, di puncak bukit Ko’ o Ma ada sebuah desa, Lede Ae sebutannya. Lede ae sangat menakjubkan, begitu langit gelap, bulan seakan hanya milik Lede Ae, begitu besar dan dekat sepanjang tahunnya.

Suatu hari di malam ke-15, tepat beberapa hari sebelum kelahiran anak pertama Do Kepai desa Lede Ae, datang seorang bersorban dan berjubah putih, wajahnya teduh dan pandangannya menentramkan. Ia tidak lama memperkenalkan diri juga tidak meminta apapun, hanya menyampaikan tujuannya dengan tegas kepada Mone Ama. Bahwa ia membawa ajaran rohmatan lil alamin, Islam. Itu tahun 1886, dan sejak itu Islam memasuki daerah dalam Nusa tenggara. Rupanya ia murid KH Agung Beluk di Jawa Tengah yang sedang menyebarkan Islam di Tanah air. Malam itu Mone Ama dan Do Kepai desa masuk Islam.

Malam berganti di Lede Ae, ternyata murid KH Agung Beluk itu tidak hanya baik hati, namun juga kuat dan pandai, ia mengajari banyak hal kepada penduduk desa, termasuk cara memperbaiki sistem ladang dan perairan. Karena kagum, maka Do Kepai memintanya untuk menamai anak pertamanya yang baru saja lahir. Utusan itu girang hatinya, dipilihkannya nama Khodijah, pun bayi itu tidak keberatan. Oh ya, bayi itu adalah aku.

Aku Khodijah Waru Ai, anak perempuan satu-satunya Do Kepai desa Lede Ae. Nama belakangku diambil dari nama Ina dan bulan lahirku, Oktober. Do Kepai desa lain memberi nama sesuai adat setempat, mengatakan arti namaku cantik sekali, mata air. Tetapi aku lebih suka dipanggil Khodijah! Kalian tahu Khodijah binti Kwailid yang luar biasa itu kan? Aku bangga sekali memiliki nama yang sama dengannya. Bayangkan saja namaku merupakan salah satu dari nama wanita terbaik menurut islam. Aku juga ingin menjadi seperti beliau, menjadi kuat, murah hati dan pintar berdagang. Aku hanya pernah diceritakan sekali tentangnya oleh Ama, waktu itu umurku 8 tahun, aku kagum sekali. Kata Ama ia tidak tahu banyak ia hanya mendengarnya dari cerita murid KH Agung Beluk dahulu. Besok-besok, aku akan menjadi mirip dengan wanita yang mulia namanya itu, tunggu saja.

“Oja! Oja! Kerei ai kapoke malam sudah ni” Aku mendengar suara Ina lantang dari bilik rumah, aku bergegas mengambil derigen air 15 kg dan menentengnya ke lereng bukit, itu mata air terdekat desa Lede Ae. Sepanjang perjalanan aku menatap langit, bulan selalu indah di Lede Ae. Besar dan menawan, itu sebabnya desa sebelah menyebut Lede Ae sebagai wowadu nata rae artinya kampong yang dikelilingi bulan.

Aku girang sekali ditugaskan mengambil air malam ini, walaupun aku memang selalu suka saat-saat mengambil air sih. Pertama, melewati rumah penduduk saat malam itu selalu ditemani nada-nada merdu, terutama rumah akuh Papade yang meski sudah renta suaranya menawan sekali. Nada itu bacaan Al-Qur’an penduduk juga suara jangrik gunung. Indah sekali. Kedua, malam ini bulan penuh di pertengahan februari. Malam yang kutunggu, malam ketika angin muson timur sedang kencang-kencangnya. Aku akan melihat salju di lereng bukit Ko’ o Ma.

Tibaah jalan setapak lereng timur bukit Ko’o Ma menuju mata air Janiri. Di sinilah salju turun ketika angin kencang ketika bulan penuh. Aku tahu salju dari kotak makanku, disana ada boneka salju dan pohon-pohon cemara yang diselimuti salju. Nah, di desa Lede Ae juga ada. Bukan salju yang sesungguhnya dan dingin. Salju Lede Ae merupakan kumpulan pohon-pohon kapuk tinggi yang sudah kelewat matang buah kapuknya, sehingga berterbangan saat ditiup angin kencang. Indah sekali menatapnya. Tanah di sekitar juga memutih, bahkan beberapa berada di atas wajah air, menemani bulan penuh tertawa.

Aku teringat akan derigen airku yang masih kosong. Keluargaku di rumah pasti menunggu. Baru saja aku menciduk beberapa gayung air, saat terperanjat oleh suara di balik pohon randu yang rendah, suaranya berat dan terdengar menganggil-manggil. Aku hampir aja lari, kalau saja tidak melihat sosok itu terlebih dahulu. Sosok yang muncul di balik dedaunan randu yang lebat. Ternyata ia seorang lelaki. Tingginya serupa Ama tetapi mungkin umurnya lebih belia. Lelaki berpakaian merah itu menghampiriku.

“Maaf membuat kaget, aku tidak bermaksud” ucapnya, aku tetap tidak menjawab. Ama bilang tidak perlu dekat-dekat orang asing. “Kepai dari desa Pedaro?” Aku menggelang. “Lede Ae” jawabku singkat. Setelah itu, tanpa titah apapun lelaki itu mengambil gayung dan derigenku yang jatuh dan mengisinya dengan air. Aku biarkan saja dia, toh dia yang membuatku terkejut seperti tadi.
“Aku menginap di desa Pedaro, lalu bosan dan berjalan-jalan hingga kemari. Aku berasal dari Nusa Tenggara kota, kemari ingin membeli tanah di Rai Hawu, tanah di sini subur sekali” Ucapnya sembari menyiduk air. Derigen air sudah penuh, ia memberikannya kepadaku dan kusambut itu dengan cepat, bergegas beranjak pulang, mana aku peduli dari mana ia berasal.

Malam itu, awal mula bencana Lede Ae tahun 1888. Sejak esok, tidak akan ada lagi salju turun di desa puncak bukit itu. Oja, gadis kecil itu, tidak akan tahu bahwa ia yang telah memulai segalanya.

Bersambung…

Cerpen Karangan: Hafizhatunnisa
Facebook: Hafizha Anisa

Cerpen Salju di kampung Bulan (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Marwah Negeri Tanah Melayu

Oleh:
Manusia tamsilkan panas dan hujan permainkan hari suka dan duka permaianan hidup akhirnya tiada daya menentang maut, rusa mati rumput subur namun patah tumbuh hilang berganti, kayu-kayu besar-kecil terhampar

Upiak Siti

Oleh:
Malam semakin larut kelam. Hening. Hanya sesekali terdengar isak tangis pilu, yang kadang ditemani nyanyian lirih jangkrik malam di halaman. Gadis bermata sipit itu meratap sendiri di sudut kamar

Saatnya Upi The Explorer

Oleh:
Hutan. Iya kali ini gue berpetualang ke hutan guys, hutan bukan tempat asing untuk anak ‘Dayak’ seperti gue, pedalaman Kalimantan Selatan, tepatnya di desa Maradap, di sanalah berdomisilinya gue

Mencari Judul

Oleh:
“Tinong… tinong…” Notifier Eager, sebuah nada pesan baru BBM dari smartphone BlackBerry putih kesayangan saya. Gerakan ujung pulpen itu terhenti tepat di atas kertas yang masih belum selesai saya

Rio Dan Bulan (Part 1)

Oleh:
Tepat pukul 08.00 suara corong megaphone menggema di salah satu sudut Parking Lot Auditorium Amanagappa, salah satu aula serba guna yang berada dalam lingkup Makassar College. Tidak jauh dari

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *