Trio Insos dari Misool

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Bahasa Daerah, Cerpen Slice Of Life
Lolos moderasi pada: 2 March 2021

Sore itu warna jingga membasuh bibir pantai Kalek secara menyeluruh. Paparan senja membuat pantai berpasir putih nan lembut itu terasa semakin cantik dan eksotis, membuat siapapun yang melihatnya ingin segera mengambil bagian di sisi pantai sambil menikmati angin sepoi-sepoi yang bertiup mesra. Aku yang baru saja memutuskan keluar dari rumah kayu mangi-mangi yang merupakan hadiah dari orang tua murid, tentu langsung terpukau untuk yang kesekian kalinya menyaksikan terbenamnya surya di Pantai Kalek.

Sembari berjalan menuju salah satu jembatan kayu yang menjorok ke tengah laut, aku mencuri pandang pada tiga gadis kecil berumur delapan tahun yang sedang berlarian di sepanjang bibir pantai. Tawa mereka terdengar khas dan familiar di telingaku. Mereka adalah tiga sekawan yang kunamai Trio Insos dari Misool, julukan yang terinspirasi dari Tugu Tiga Putri dari Jepara. Yang berlari paling depan adalah Anike Umpes, wanita kecil pemberani yang hampir setiap hari membantu ibunya mengambil buah mangga dan pinang untuk kemudian dijual ke kota. Yang berlari di belakang Anike adalah Oktavina Moay, wanita kecil yang suka bertanya banyak hal dan selalu tertarik mencoba pengalaman baru. Dan yang sedang berlari sambil menggandeng tangan Oktavina adalah Yoana Malibela, si kecil berhati lembut dan tidak tegaan yang selalu memberi makan ikan di pinggir pantai dan anjing kecil bernama Ong yang tidak boleh ia pelihara.

Aku tersenyum melihat kegembiraan mereka. Betapa lepas dan leluasanya mereka berteriak dan tertawa, sehingga membuatku ingin melakukan hal yang sama. Terlepas dari pemikiran itu, aku akhirnya mengalihkan pandangan ke depan dan mulai menikmati aroma laut yang selalu berhasil membuatku tenang. Aku putuskan duduk di ujung jembatan sambil membiarkan kedua kakiku terjulur ke bawah hingga menyentuh air laut yang sore ini sedang pasang. Ini adalah hal rutin yang mulai kulakukan selama hampir satu tahun mendiami pulau kecil bernama Misool di pedalaman Raja Ampat.

Meskipun sore ini ombak tak begitu kencang hingga menimbulkan musik alam yang mampu membuatku terlelap, tetapi angin yang bertiup lembut mampu membuatku menguap. Namun, sebelum mataku benar-benar tertutup, aku dikagetkan dengan tepukan lembut di bahu kananku.

“Ibu guru, awas jatuh,” Suara Oktavina yang akrab kupanggil Fin membuatku sadar. Melihat reaksiku yang sedikit kaget, malah membuat Fin tertawa.
“Ibu guru, ini ikan bakar. Sa pu mama kasi bu guru,” Anike muncul di sisi kiriku lalu ikut duduk dan menyodorkan satu ekor ikan Mubara bakar yang langsung membuatku lapar.
“Wih, terima kasih Anike.” Jawabku senang lalu mengambil ikan bakar yang diletakkan di atas daun pisang tersebut dan mulai kucomot sedikit-demi sedikit.

Byuuurrr….
Suara percikan air yang juga mengenai wajahku, berhasil membuatku menghentikan sejenak kegiatanku memakan ikan. Sepersekian detik kemudian mataku menangkap Anike yang sudah berada di dalam air dan dengan asiknya berenang ke sana ke mari.

“Baahh Fin, Yoana tempo, turun sini!” Anike mengangkat tangan kanannya sembari memanggil kedua temannya yang masih berada di atas jembatan. Yoana tampak tidak mempedulikan ajakan Anike, sedangkan Fin langsung ikut melompat ke laut dan kembali membuat wajahku terkena cipratan air. Namun aneh, aku bukannya marah justru merasa senang. Kapan lagi aku bisa duduk di pinggir pantai, memakan ikan bakar, dan terkena cipratan air laut seperti saat ini. Jika nanti akhirnya aku balik Malang, hal seperti ini akan sulit dilakukan.

“Ibu guru, tara ikut mandi air garam kah?” Anike rupanya menginginkanku untuk bergabung bersama dirinya dan Fin.
“Kan Ibu guru lagi makan ikan bakar!” Ucapku lalu melanjutkan aktivitasku mencomot ikan bakar yang sempat terhenti.
“Ibu guru, kenapa Ibu guru suka duduk di sini kah?” Tanya Fin yang saat ini kulihat sedang melingkarkan lengannya ke salah satu tiang penyangga jembatan. Seperti biasa, setiap kali bertanya, Fin selalu menatapku dengan mata penuh rasa ingin tahu.
“Karena di tempat asalnya Ibu, laut itu sulit ditemui,” jawabku jujur. Tentu saja, jika ini Malang aku harus menempuh jarak 2 jam lebih untuk bisa menikmati pantai. Sedangkan di sini, hanya perlu berjalan 3 menit menuju pantai.
“Kenapa sulit ditemui? Torang di sini hanya perlu ke jembatan belakang rumah saja tuh” Timpal Anike lagi yang berhasil membuatku tertawa kecil.
“Karena rumahnya ibu guru jauuuuuh dari pantai. Rumah ibu guru itu di kelilingi gunung-gunung tinggi.” Aku berusaha menjelaskan dengan bahasa yang sederhana.
“Berarti Ibu guru harus jalan kaki jauh-jauh supaya sampe di pantai? Kasian, ibu guru pasti cape,” Kini giliran Yoana yang buka suara setelah sebelumnya hanya diam menyimak.

Aku kemudian menatap Yoana yang duduk di sisi kiriku lalu mulai membelai rambutnya dengan lembut. Aku selalu berharap, semoga ketulusan mereka terus ada hingga kelak mereka dewasa.
“Tidak kok. Kan Ibu guru punya motor. Jadi, Ibu guru tidak perlu jalan kaki jauh-jauh.” jawabku sambil tersenyum.
“Ooooh Sa pernah lihat motor waktu antar mama ke kota untuk jual mangga” Seru Anike yang ternyata ikut mendengarkan perbincangan kami.

“Kalian bertiga, mau ikut Ibu guru pulang ke Malang tidak?” Tanyaku balik. Meskipun terdengar bercanda, sejujurnya jika boleh, Aku benar-benar ingin melakukannya. Mengenalkan mereka bertiga pada dunia yang luas dan modern. Aku selalu merasa sayang jika ketiga anak kecil dengan pesona yang berbeda ini hanya berdiam diri di satu pulau.

Mendengar pertanyaanku, ketiganya lalu terdiam dan saling bertatap-tatapan. Walaupun Aku tidak berharap mereka memahami pertanyaanku dengan baik dan serius, Aku tetap ingin mendengar jawaban dari ketiganya.
“Loh, kok diam?” Tanyaku lagi sembari memastikan mereka memahami pertanyaanku.
“Kalau Sa pergi ikut Ibu guru, Sa punya mama tidak ada yang bantu. Sa ingin sekali ikut Ibu guru, tapi Sa harus jaga Sa punya mama dan Sa punya Ade” Ucapan Anike terhenti sejenak, dia tampak memikirkan sesuatu.
“Sa akan sekolah bae-bae, terus Sa kumpul uang banyak-banyak dan main ke Ibu guru punya rumah di Malang. Bagemana?” Jawaban sekaligus pertanyaan dari Anike membuatku heran. Di saat anak-anak lain begitu senang di ajak jalan-jalan, Anike justru lebih mengutamakan keluarganya dan mengesampingkan keinginannya. Di sisi lain, dia bahkan berpikir untuk berusaha sendiri agar bisa mencapai apa yang dia inginkan. Bagaimana bisa anak sekecil ini berpikiran sejauh itu?

“Kalau Sa mau ikut Ibu guru. Sa mau naik pesawat. Habis itu Sa mau belajar bikin pesawat supaya Sa bisa bawa pesawat ke Misool. Biar Anike dengan Yoana bisa naik pesawat juga” Jawaban Fin membuatku tercengang. Membuat pesawat? Kenapa anak sekecil ini bisa memiliki mimpi yang begitu besar?
“Kalau begitu, Sa mau bantu Fin bikin pesawat saja Bu guru. Supaya yang bisa naik pesawat bukan hanya kita tiga, tapi orang-orang satu Misool juga bisa naik pesawat” Yoana menaikan salah satu alisnya lalu melirik ke arah Fin. Lirikan yang bisa kuartikan sebagai bentuk persetujuan.

Jawaban ketiganya membuatku terdiam beberapa waktu sambil mencoba mencerna apa yang mereka pikirkan. Aku tidak bisa mengatakan mimpi mereka sederhana, karena pada kenyataannya mimpi mereka sangat luar biasa. Mereka punya tujuan pada harapan yang mereka buat. Sesuatu yang sulit ditemukan pada pola pikir seorang anak kecil di pedalaman Papua.

Mendengar jawaban yang mereka lontarkan, akhirnya membuatku paham bahwa mimpi yang besar bisa lahir dari mana saja dan dari siapa saja. Mimpi yang besar tidak membeda-bedakan dari mana asalmu, apa yang Kau makan, apa yang Kau pakai, dan apa yang Kau miliki. Mimpi yang besar justru lahir dari sebuah ketiadaan. Sama halnya dengan sebuah kesuksesan yang datang dari sebuah kegagalan. Selain itu, bukankah dunia yang menakjubkan ini awalnya tidak ada kemudian dijadikan ada oleh Tuhan?

Pikiran-pikiran itu sungguh mengusik otakku sore ini. Mereka yang begitu muda, ternyata punya mimpi yang di luar perkiraan. Aku sungguh malu dibuatnya. Sambil menatap bergantian Trio Insos itu, Aku kemudian menatap ikan bakarku yang mulai dingin, lalu…

Byuuurrr…. Aku pun memutuskan ikut bergabung bersama Fin dan Anike yang sedari tadi berenang dengan bahagianya. Melihat Aku yang sudah berada di dalam air, membuat Yoana mengerutkan dahinya keheranan.
“Ibu guru bilang lagi makan ikan bakar!” Protes Yoana, lalu menunjuk ikan Mubara bakar yang tergeletak tak berdaya di atas jembatan.
“Mumpung Ibu guru lagi di Misool, Ibu guru mau menikmati pantai sepuasnya” Jawabku ringan lalu berenang masuk ke dalam air untuk menikmati terumbu karang warna-warni yang membentuk piring raksasa.

Aku lagi tidak ingin mempedulikan kekacauan yang terjadi di luar sana. Untuk saat ini Aku sungguh ingin menikmati apapun yang sudah kumiliki. Alam yang indah, teman lintas usia, dan keluarga baru yang ramah. Aku sungguh berterimakasih pada semesta yang membawaku sampai ke tempat ini. Dan dari perbincangan kami sore ini, membuat aku akhirnya menyadari sesuatu, bahwa ternyata saat ini pun Aku sedang berusaha mewujudkan mimpiku yang pernah kurapalkan di waktu dulu. “Aku hanya ingin memiliki kehidupan yang indah, dan memastikan agar orang-orang di sekitarku juga ikut bahagia”.

Cerpen Karangan: Kartika Tiara
Blog / Facebook: Kartika Tiara Syrfdn
Penulis merupakan mahasiswa di universitas yang ada di kota Malang. Gemar menulis puisi dan cerpen.

Cerpen Trio Insos dari Misool merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


(Second) First Impression

Oleh:
“Selamat berbuka!” Suasana bersahabat memenuhi ruangan itu. Reuni akbar salah satu Madrasah Aliyah di daerah Surabaya itu bertepatan dengan bulan suci Ramadhan. Sambil berbuka, mereka berbincang ringan. Saling menanyakan

Cinta Takkan Kembali

Oleh:
“Hai”, Aku tersenyum. Sebelunya kita sepakat bertemu, di tempat pertama kali kita bertemu. 10 Tahun sudah kita terpisah, tempat ini pun sudah banyak sekali berubah. Dahulu tempat ini adalah

Hanya Mimpi

Oleh:
10.30 Berlibur ke kota malang, Bersama keluarga, yang terdiri dari 3 orang. Ayah, ibu, anak (yang tentu saja itu aku). Pemandangan indah. Udara sejuk yang menusuk ujung hidung. Pohon-pohon

Aku, Kamu dan Kalian

Oleh:
“Hoaammm…”. Kurenggangkan tubuh sambil menggeser gorden di atas kepalaku. Pagi itu adalah pagi yang sama, pada pagi-pagi biasanya. Kubangunkan tubuhku dan bergegas menuju kamar mandi. Yahh.. seperti biasa hari

Bus Hitam Kursi Nomor Tiga

Oleh:
Hari ini tiba waktunya punggungku harus menempel di kursi penumpang bus selama tiga jam. Ya, dihitung juga dengan berhentinya kira-kira segitulah, kalau lebih ya disimpan saja. Ah lupakan. Aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Trio Insos dari Misool”

  1. Ruh Lakuning Ranggas Jati says:

    Ceritanya bagus banget…
    Bikin ikut hanyut dlm pengambilan ceritanya..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *