Hijab Mengantarkanku Pada Cinta Sejati (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Bahasa Inggris, Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 7 April 2016

Namaku Zeehara, aku bersekolah di salah satu sekolah favorit di kotaku. Di SMA yang aku tempati, memang tidak semua murid perempuan mengenakan hijab sepertiku. Bahkan satu kelas pun sama seperti sekolah lainnya, ada laki-laki dan perempuan. Hingga suatu hari ada teman sekelasku yang mencaci makiku. “Eh, ada hijabers! Ngapain lo nempatin tempat duduk gue? Minggir lo!” bentak perempuan yang berambut panjang berwarna burgundy bernama Cheryl.

Ia adalah teman sekelasku, sekaligus artis sekolah yang dibanggakan satu sekolah, Cheryl mempunyai geng yang bernama Fanatic, yang terdiri dari Fisca, Natasya, dan Cheryl. Mereka bertiga satu kelas denganku, selain jutek dan sombong, mereka juga memilih-milih teman. “Eh maaf Ryl, aku tadi habis piket,” jawabku dengan simpel. Fisca dan Natasya hanya melirik sinis padaku dan melemparkan senyuman sinis yang pastinya tidak enak untuk dilihat. Pastinya teman-teman sekelasku juga tidak mau berdekatan dengan geng Fanatic ini, kecuali Radivan dan Alvian.

Cukup mengabaikan saja walau terkadang bicara dengan geng Fanatic bisa membuat hati seperti terbakar. Aku dan kedua sahabatku Angel dan Fe, segera pergi ke kantin sekolah. Di kantin, tidak sengaja aku menabrak Ray yang sedang membawa minuman dingin bersama Feddy. Kebetulan tanganku ditarik oleh Angel dan Fe sehingga menabrak Ray. “Astaghfirullah. Sorry, sorry Ray, aku gak sengaja beneran deh! Aku gantiin ya,” tawarku.

Untung saja kerudung putihku tidak kotor atau basah, namun kemeja putih yang dikenakan Ray sedikit basah, untung saja ia tidak membeli minuman yang aneh-aneh, hanya es teh saja. “Hmm, gak apa-apa Zee. Maaf gue gak sengaja nepuk bahu lo,” jelas Ray yang membalasnya dengan senyuman. Memang, Ray sama seperti remaja laki-laki lainnya, namun ada perbedaan juga. “Gak beli apa-apa, nih nganterin Angel sama Fe aja. Oh iya soal itu gak apa-apa, tapi lain kali hati-hati ya, aku pakai ini,” kataku sambil menunjukkan kerudung berwarna putih pada Ray, dan sepertinya Ray memahaminya.

Aku baru saja duduk di bangku kelas 10. Tapi, mengapa geng Fanatic memperlakukanku bukan sebagai teman? Seperti musuh! Padahal, di kelasku tidak hanya aku yang mengenakan kerudung, ada 3 orang di kelasku yang mengenakan kerudung termasuk aku. Namun 2 orang itu tidak pernah dihina oleh geng Fanatic, aku masih heran. Mungkin bukan kerudungnya, tapi bagaimana aku bersikap dengan mereka. Aku bersikap biasa saja, menganggapnya kawan bukan lawan, dan aku selalu fair dengan teman sekelompokku siapa pun orangnya. Oh mungkin karena model kerudungku yang syar’i ini, tidak dapat menunjukkan model fashion seperti zaman sekarang ini, perempuan berambut panjang dengan rok yang kurang bahan alias mini, pakaian ketat atau apalah semacamnya.

Angel juga berambut panjang, namun ia tahu mana pakaian yang pantas dan sopan dan mana yang tidak sopan. Begitu juga dengan Fe, ia berambut panjang juga dan sama seperti Angel. Aku tidak melihat siapa sahabatku dari penampilan mereka, namun aku melihat dari hatinya dan bagaimana cara ia berteman dengan orang lain, asal aku nyaman dengan orang itu, aku bisa berteman dengan siapa saja. Termasuk Ray, menurutku Ray itu agak berbeda dari remaja laki-laki lainnya, ia rajin, pintar, dan juga sedang menghafal beberapa surat dari al-qur’an, style-nya masih sama seperti laki-laki lainnya, pergaulannya juga sama tapi tidak melewati batas. Kenapa jadi bahas soal Ray?

Setelah lulus SMA, aku mendapat beasiswa kuliah ke Inggris. Di mana warga negaranya minoritas muslim. Tapi itu bukan menjadi hambatanku untuk mencari ilmu, karena tujuanku ke Inggris sendiri hanya untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya dan bisa membawa pulang ilmu yang ku dapat ke Indonesia. Ray juga mendapat beasiswa ke Amerika, tujuannya masih sama denganku. Selama di SMA, dengar-dengar Ray selalu memperhatikanku dari jauh. Aku mendapat kabar itu dari teman dekatnya Ray yang kelasnya selalu bersebelahan denganku. Setelah aku mendengar kabar bahwa 3 tahun terakhir ini Ray selalu memperhatikanku, dan terkadang ia suka senyum-senyum sendiri, aku masih bingung dengan Ray apakah Ray menyukaiku? Aku tidak dapat menyimpulkan begitu saja, karena sikapnya padaku biasa-biasa saja layaknya teman sekelas yang sedang berdiskusi kelompok.

Ya soal Ray aku lupakan saja, jika memang kenyataannya begitu. Toh aku dan Ray akan bertemu lagi, dan jika tidak ya hanya kenangan saja. Setelah hari kelulusanku, akhirnya aku bisa lepas dari hinaan dan makian geng Fanatic. Tapi kesenanganku tidak berhenti begitu saja. Di Inggris lebih parah lagi dibanding Fanatic. Ya, memang aku satu-satunya mahasiswa berkerudung di Universitas itu, tapi tetap saja aku bersikap santai terhadap orang-orang yang tidak menyukaiku dan penampilanku sebagai muslimah. Karena aku menghargai agamaku, yaitu menutup aurat. Sepertinya Tuhan sedang mengujiku dengan cara seperti ini, bahkan aku hanya memiliki 1 teman terbaik di Universitas ini, namanya Casey. She is beautiful, smart, and good girl, she is one of many people who understand me and always inside me. Ya, dia memang berbeda, Casey bisa menghormati dan menghargaiku sebagai seorang muslimah walaupun ia sendiri adalah non muslim.

“If you use that clothes, you like a terrorist. I am very sad about it, so you have to changes your clothes!” kata Lyra. Teman laki-laki pun hanya tertawa dari kejauhan. Dengan simplenya aku menanggapi Lyra yang sombong itu.
“Okay, before i change my clothes like you, will you change your clothes like my clothes?” aku melipat tangan di dada, sedangkan anak laki-laki di belakang sana masih tertawa tertahan dan heran melihatku. “No! This is my style!”
“Alright, now you understand what my feeling when you ask me to change my identity, have a good day!” aku melemparkan senyuman kecil untuk Lyra dan pergi meninggalkannya, sedangkan anak-anak lain yang memperhatikanku malah memasang muka sebal dan malas.

Seperti itulah aku menanggapi mereka, aku tidak perlu takut dengan orang seperti itu. Justru aku membuat mereka sadar. Tiga bulan lagi kampusku mengadakan study tour ke Jepang selama 1 bulan. Tentunya dengan tugas kuliah yang lumayan berat. Kami diperintahkan membuat laporan perjalanan, wawancara, membuat artikel, dan menulis di blog untuk di-share ke blog kampus. Di setiap tugasku, memiliki tema yang berbeda-beda. Huh! Melelahkan bukan? Sekarang aku akan pergi ke kantin, dan ternyata sudah ada Casey di sana. Aku pun menghampirinya.

“Hi Casey! What are you doing?” tanyaku.
“Hi Zee! Let’s eat! This is so special, do you want it?” Casey menawarkan sebuah makanan kebab spesial.
“Oh no, i am fast!”
“Oh, sorry i don’t know. Sorry Zeehara!” kata Casey yang hampir tersedak karena mendengar bahwa aku sedang berpuasa. Seperti itu sikap Casey, menghormatiku yang sedang berpuasa. “Okay, this evening. I will take you to the city park,”
“Are you serious? I am very like that place!”
Sore itu sangat berkesan bagiku, bisa berjalan-jalan dengan sahabatku Casey. Casey mengajakku untuk memberi makan burung di taman kota. Kemudian kami berselfie ria.

Tiga bulan kemudian. Aku sudah siap dengan perlengkapan yang harus dibawa selama study tour ke Negeri Sakura. Kebetulan di sana sedang musim semi, jadi aku bisa melihat bunga sakura bermekaran di pohonnya. Pakaian, buku-buku, alat pribadi, obat-obatan, semua sudah masuk koper. Aku dan teman sejurusanku sudah berkumpul di depan kampus, kami tinggal pergi menuju bandara yang ada di London. Baru beberapa bulan di Inggris, rasanya memang inilah tempat tinggalku sebenarnya, berbeda sekali di Indonesia. Tapi dengan seperti ini, aku jadi mudah rindu dengan negara asalku Indonesia. Berjam-jam kami duduk di kursi pesawat, akhirnya sampailah kami di Tokyo, Jepang. Para dosen sudah mempersiapkan kamar Villa untuk kami. Aku meminta agar aku bisa satu kamar dengan Casey.

Malam di Jepang begitu indah. Untung saja aku bisa berbahasa Jepang, yaa walaupun sedikit. Paling tidak untuk wawancara tugas ya bisalaaahh. Malam pertama di Jepang yang indah ditemani dengan bulan terang benderang dan sakura pink yang menawan. Ketika aku sedang melihat pemandangan alam dari lantai 5 jendela kamarku, aku melihat 2 orang laki-laki sedang duduk di bangku taman. Satu orang bule, dan satunya lagi terlihat seperti wajah orang Indonesia. Sepertinya mereka seusia denganku. Namun sepertinya aku pernah melihat orang Indonesia itu, entah di mana. Laki-laki oriental itu mengenakan jaket tebal, celana panjang, dan sepatu kets. Ketika aku perhatikan, ituu.. ituu.. itu adalah Ray! Iya, itu Ray! Tapi aku berpikir ulang, apakah benar Ray ada di Jepang? Bukankah ia sedang di Amerika? Jika itu Ray, apa tujuannya ke Jepang?

Aku yakin sekali bahwa itu adalah Ray, maka aku mencoba memanggilnya, “RAY!!!” Salah seorang itu menoleh dan mencari arah suara, benar sekali itu Ray. Lalu aku memanggil untuk kedua kalinya, Casey sepertinya mengalami Jet Leg, sehingga ia tertidur pulas sekali. Ray menemukan arah suara yang memanggil namanya, ia melihat ke arahku. Dan aku bisa melihat ekspresi wajahnya ketika berusaha untuk mengenalku, aku tertawa pelan. Aku berteriak lagi. “Raayy, wait me!” setelah aku berkata itu, Ray langsung duduk lagi dan berbincang-bincang kembali dengan temannya. Aku sampai di depan Villa, lalu aku berlari menuju Ray dan temannya. Ray sangat terkejut begitu melihat wajahku.

“Zeehara! Kamuu.. kamuu ngapain di sini? Bukannya kamu ada di Inggris?” tanya Ray, temannya pun bingung melihatku.
“Alhamdulillah kita ketemu lagi Ray! Apa kabarmu?”
“Alhamdulillah seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja. Oh iya Zee kenalin dulu ini sahabatku, Alex.” Ray mengenalkan sahabatnya padaku. Sahabatnya pun tersenyum padaku, maka aku membalas senyumannya.

“Hi, i am Zeehara. Nice to meet you,”
“Hi, i am Alex, nice to meet you too. So, are you Ray’s best friend?” tanya Alex.
“Oh, yes. He is my best friend since we’re in senior high school, 3 years ago, can you speak Indonesian?”
“Sedikit, sedikit hehe,” kata Alex dengan logat bulenya. Kami pun berbincang-bincang sebentar dan saling bertukar nomor telepon. Ray menceritakan pengalamannya di Amerika, aku juga menceritakan pengalamanku di Inggris, sedangkan Alex hanya menyimak dan mengikuti arus pembicaraanku. Malam itu kami tertawa lepas. Hingga tiba pukul 9, aku harus segera tidur karena besok aku akan pergi ke Museum melakukan penelitian.

“Ray, besok aku harus pergi ke Museum untuk penelitian tugasku. Jadi aku harus segera tidur,” kataku.
“Ya udah Zee, kamu besok hati-hati ya. Jangan lupa baca doa, insya Allah kita bisa bertemu lagi,” jawab Ray.
“Alright, Ray we must to back to our Villa. Zee, see you next time and good nightI!” kata Alex.
“Thank’s! Assalamu’alaikum, don’t forget to give me your message!” aku berjalan sambil melambaikan tangan dan setengah berbalik.
“Hai, konbanwa!” jawab Ray dengan berbahasa Jepang yang artinya, “ya, selamat malam.”

Pertemuanku dengan Ray dan Alex memang sangat singkat, tapi aku harus segera tidur untuk besok melakukan penelitian hingga sore hari. “Ohayou gozaimaaaaasu!” suaraku dapat membangunkan Casey yang masih tidur, kita akan terlambat jika belum siap-siap. “Zee, can you be silent? I am still sleeping, hooooaaapp!”
“Let’s go Casey! Or we can come late! Gogogogo!” aku menyemangatinya untuk bangun dan bergegas mandi.

Akhirnya kami tidak terlambat dan kami bergegas menuju tempat tujuan, selama di perjalanan, aku menceritakan semua pertemuanku dengan Ray dan Alex. Seperti biasa, Lyra yang selalu mengejekku akan tetap terus membullyku. Aku abaikan saja. Selama perjalanan, Lyra membicarakan kejelekanku di hadapan teman laki-lakinya yang terlihat ‘murahan’ menurutku. Aku heran, kenapa dengan hijabku ini? Apa membawa pengaruh buruk buat mereka? Apa akan menyulitkan mereka? Atau membawa bencana besar buat mereka? Toh aku yang memakai, kenapa mereka yang repot? Yaa beginilah jika mengenakan kerudung di negara yang mayoritas penduduknya non muslim. Akhirnya kami sampai juga di Musiem, tempat ini merupakan tempat di mana banyak menyimpan sejarah negara Jepang. Dari pahlawan, tempat wisata, makanan, semuanya ada di sini. Aku dan Ray sudah berencana untuk bertemu lagi setelah penelitian. Aku mendapat telepon dari Ray saat penutupan penelitian.

Via telepon:
“Halo assalamu’alaikum Zee?” salam Ray.
“Wa’alaikumsalam, what happened Ray?” tanyaku.
“Gimana, jadi kan kita ketemu? Sekalian ada yang mau aku bicarain,”
“Jadi laaahh, oke kamu di mana?”
“Aku udah di parkiran, kamu?”
“Sama, atau sekarang aja?” tanyaku.

“Kayaknya sekarang enggak bisa deh, kebetulan sekarang aku mau balik ke Villa,”
“Oh gitu, ya udah eh boleh kan aku ajak temenku? Barangkali kamu suka haha,”
“Siapa? Ya enggak lah,”
“Kenapa enggak? Dia cantik loh, baik lagi,”
“It’s okay,”
“See you!”
“See you!”

Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu datang juga, aku akan mengajak Casey untuk ikut denganku bertemu dengan Ray di tempat semalam.
“Casey, i will take you to meet my oldfriend,” kataku.
“Who is he?” tanya Casey.
“He is Ray, he was my senior high school friend since we’re 10 grade, now he live in USA,”
“He looks like a smart boy like you,”
“Sorry, i am not a boy hahaha,”

Di taman Hana ini, akhirnya aku melihat Ray sedang duduk di tempat duduk yang sudah disediakan di taman ini, dia sendirian dan tidak bersama Alex. Dia terlihat kece juga, dengan mantel berwarna krem muda lengkap dengan kupluk warna senada, terlihat Ray sangat berbeda jika tinggal di tempat subtropis seperti Amerika dan Jepang. Kemudian aku berteriak memanggil namanya. “RAY!” Ray pun menoleh ke arah ku dan Casey.

“Hey, what’s up sist!” sapa Ray dengan wajah bahagianya.
“Hey! Ray, this is Casey. She is my best friend,” aku memperkenalkan Casey dengan Ray.
“Hi, are you Ray? Nice to meet you Ray,” kata Casey.
“Oh yes i am. Nice to meet you too,” jawab Ray. Casey tidak ingin mengganggu pembicaraanku dengan Ray, memang seperti sifat Casey, selalu tidak ingin ikut campur yang tidak ada hubungannya dengan dia. Jadi, dia memutuskan untuk jalan-jalan dan selfie di sekitar taman.

“Jadi, kamu mau ngomong apa? Aku rasa, udah gak ada lagi hal penting yang harus kita bicarakan sekarang,” kataku.
“Jadi kamu menghindari aku?” tanya Ray.
“Enggak gitu juga, ya udah to the point aja,”
“Kamu tahu gak, selama di SMA kamu pernah denger kalau aku selalu memperhatikanmu dari jauh kan?” Ketika Ray bicara soal itu, aku langsung bingung harus berkata dan bertingkah apa terhadapnya istilah jaman sekarang “baper -bawa perasaan”.

“Hmm, i..i.. iya aku tahu, emang kenapa? Jadi berita itu benar?” tanyaku dengan ragu.
“Seperti itulah, aku cuma pengen kamu tahu kalau aku suka sama kamu semenjak kelas 10, aku melihat kamu itu berbeda dari remaja perempuan yang lain. Selama aku di Amerika, aku jadi kepikiran kamu terus Zee. Gimana kalau kita enggak pernah ketemu lagi dan aku belum sempat memberitahu perasaanku saat ini? Tapi ternyata Allah masih baik, kita bisa ketemu lagi,” jawab Ray dengan senyumnya yang lebar namun bibirnya tidak terbuka. Sambil ngobrol aku tetap terus memantau Casey yang masih asyik selfie di taman.

Bersambung

Cerpen Karangan: Lingga Bhatavinurel Irawan
Facebook: Lingga Bhatavinurel

Cerpen Hijab Mengantarkanku Pada Cinta Sejati (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kejutan Di Hari Raya

Oleh:
Ketika aku telah menyelesaikan pendidikanku di bangku Sekolah Menengah Atas. Aku pun melanjutkan ke Universitas Islam Indonesia. Aku masuk UII tersebut tanpa test, karena aku telah menghafalkan Kitabullah. Hari

Bersamamu Ku Gantungkan Mimpiku

Oleh:
Malam sudah sangat larut, semilir angin di luar sana pun telah memainkan senandung tidur, agar mata mata yang lelah seharian terlelap di peristirahatannya. Hingga kota ini sunyi seperti kota

Nugi dan Tita (Part 1)

Oleh:
Burung-Burung berkicau menebarkan keelokannya. Embun di pagi itu membasahi daun-daun dan ranting di pekarangan rumah. Rumput hijau terhampar luas di sana! Pagi yang menyejukkan. Kuhirup udara di sekitar rumah.

Jangan Kau Sujudkan Hatimu Kepadaku

Oleh:
“Vinda !” “Ada apa?” Kata Vinda seraya menatap Ardi yang ada di depannya yang mengajak untuk mengobrol, Vinda menghadapi obrolan Ardi yang mengajak serius. Akhirnya Vinda berusaha mengerti apa

Cinta Di Ujung Senja

Oleh:
Aku begitu menunggu datangnya senja, senja selalu hadir begitu indah dan menakjubkan. Sebuah anugerah ciptaan Sang Maha Kuasa. Aku begitu tak kuasa ketika senja itu redup, rasanya aku ingin

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *