Miracle (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Bahasa Inggris, Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 29 August 2017

Jika aku tahu, akan menjadi seperti ini kisahnya, lebih baik aku menolak takdir yang telah tertulis yang hanya menyebabkan hatiku berkeping-keping, rasanya diriku telah kosong, rindu akan senyuman damai itu, merindukan segalanya dalam dirinya. Aku bisa saja menghapus semua foto yang ku ambil bersamanya, namun bagaimana aku menghapus memory? , haruskah aku butuh Virus agar semua isi file di kepalaku terhapus?. Namun aku harus merelakannya, karena aku tahu dia tidak pantas untuk memiliki hati polos dan jujurku ini, aku harus merelakan mimpi-mimpi gilanya terwujud tanpa kehadiranku di sampingnya, aku harus menerima keadaan bahwa dia sudah memiliki seseorang yang sepatutnya dimiliki, aku bisa apa?, aku hanya bisa membawamu menuju hal imajinasi yang bahkan tidak kumengerti sama sekali, kau tidak layak mendapatkanku, karena jika kau layak, kau akan selalu ada di sampingku, tidak peduli apapun resikonya, namun kini kau berada jauh di depanku. Meninggalkan badan yang telah lelah ini jauh di belakang punggungmu, kehadiranku sama persis seperti bayanganmu, selalu mengikuti di manapun kau berada, tapi pernahkah kau melihat ke arah bayanganmu itu?. Seperti itulah posisiku sekarang, hanya diam, gelap, dan mati. “Bahagiakah diriku saat ini?. Benarkah? Apa aku bahagia, Ya tentu saja aku bahagia” namun aku menangis di dalam kebahagiaanku ini, karena sejujurnya bagian terkecil dalam hatiku masih mengharapkanmu, dan itu menghancurkanku. Biar kuberitahu bagaimana awal dari semua kesalahan besar ini.

Semuanya berawal di Negara yang memiliki julukan Negara Pecahan Es, Ayah memberiku hadiah ulang tahun berupa tiket menuju Negara itu, ulang tahunku pada bulan Juni, dan aku akan berangkat pada pertengahan Juli, tepatnya saat musim gugur, ini sangatlah menakjubkan.

Kini aku telah menginjakkan kedua kakiku di Negeri Kanada, aku melangkahkan kedua kakiku menuju keluar bandara dengan hati yang benar-benar ingin meloncat, sejuknya udara pagi tak kalah dengan sejuknya Indonesia, dapat kulihat dedaunan yang menguning berguguran, tampak tenang namun putus asa, tertiup oleh alunan angin lembut, aku benar-benar takjub dengan semua ini, aku melamun sambil membayangkan aku adalah daun kuning yang tetap kokoh pada pohon tinggi tepat di depan bandara, benar-benar harus menerima jika takdir angin harus menghanyutkanku.

“permisi…?” kata seseorang di sampingku sambil menepuk pundakku, dan membuatku tersentak.
“iya?” jawabku, kulihat wajah orang itu, sepertinya aku mengenalnya.
“Emma, ini Om Jon” Serunya lagi sambil tersenyum, Om Jon?. Ah iya dia adalah teman dekat ayah, dialah yang akan mengurusku untuk 1 minggu kedepan.
“eh Om Jon? Kok aku pangling ya?” balasku.
“walah, masa sih? Apa Om yang semakin tua ya?, eh bagaimana keadaan ayahmu?”
“Ayah sehat-sehat saja Om”
“oh gitu, lah seharusnya ya Om yang pangling sama kamu nduk, coba lihat sekarang tinggimu sudah hampir sama denganku. Padahal terakhir kali Om lihat kamu itu, badanmu masih setinggi paha Om” pujinya sambil mengelus rambutku.
“iya om” balasku dengan senyuman.
“ayo kita pulang, apa kamu mau terus berdiri di sini?”
“tapi ke mana Om?” tanyaku.
“yo ndek rumahe Om to nduk, kan ayahmu wes ngomong to ndek ingi?” katanya sambil mengeluarkan logat jawanya
“ha…? Ntar ngerepotin om” kataku
“halah, ngerepotin opo to nduk, yo ora to. Tapi nanti kowe harus mbantu Tantene yo?” tanyanya.
“oh iya om” kataku.

Om Joni menikah dengan wanita Kanada oleh sebab itu, dia pun ikut pindah ke Kanada. Aku memasukkan koper-koper beratku ke dalam Bagasi mobil Om Jon, dan lalu menaiki Mobil tua berwarna merah itu, aku sangat lelah dan aku tertidur sesaat.

“nduk?… kita sudah sampai nduk” kata Om Jon sambil membangunkanku
“oh iya Om” jawabku sambil mengucek mata.
“kamu langsung masuk wae, ntar Kopere ben Om seng Nggowo”
“iya, makasi Om”

Aku keluar dari mobil semerah buah Cherry itu dan mengetuk pintu yang terbuat dari kayu berwarna coklat.
Seorang wanita berambut pirang membukanya dan menyapaku.
“Hello Emma, Welcome to Canada, let’s come in” katanya sambil mempersilahkanku masuk.
“Hi , Thank You… Miss?”
“Adam, but you can call me Mum if you want to” jawabnya dengan senyuman hangat.
“ok” jawabku singkat dan jelas, lalu dia membalikkan punggung menuju dapur,

Aku duduk di sofa berwarna merah maroon, rumahnya benar-benar indah, tampak modern namun terkombinasi dengan model antik khas Indonesia, bagaimana tidak?, setahuku Om John sangat menyukai karya seni.

Miss. Adam kembali menuju ruang tamu sambil membawa teh hangat dan memberikannya kepadaku.
“thanks, Mum” kataku sambil meraih gelas putih itu
“yea… no problem, so how is your Trip?”
“it’s going well Mum”
“oh I see, are you tired?” tanyanya
“yea.. lil bit” jawabku.
“nduk kamarmu ndek atas yo, ndek sebelah kamare Elliot” kata Om John saat memasuki rumah dengan membawa kedua koperku lalu menuju ke atas. Oh Elliot, jadi Om Jon punya anak. Ganteng gak ya? Apa warna rambutnya? Apa warna iris matanya? Mancung kah seperti Miss. Adam? atau mewarisi hidung lebar dan pesek Om Jon?, aku tidak tahu, tapi aku penasaran.

“Emma after you drink this tea, you must go to sleep ok?, I want to go work” katanya sembari bangkit lalu mengambil tas di kursi kayu dan keluar, perutku kenyang dan tidak muat untuk menghabiskan teh ini, aku bangkit menuju dapur dan mencuci gelas itu.
“Emma, nyopo to kui? Buru wae teko kok wes ngorahi gelas?” kata Om Jon sambil ber ekspresi sangat kasihan.
“loh Om tadi katanya suru bantu-bantu?” jawabku ketus
“lah iyo tapi mosok saiki to nduk, opo kuwe ora kesel?” tanyanya sambil menyruhku mengeringkan tanganku.
“nggak si”
“uwes kono ndang istirahat, ben aku ae seng korah-korah” cetusnya sambil menggantikanku menyuci piring yang bergeletakan di cucian piring.
“duh, om sini aku bantu, aku yang ngeringin ya?”
“ora usah, wes kono ndang turu dhisek” pintanya
“iya Om.”

Aku berjalan meninggalkan dapur dan menaiki tangga, aku menuju kamar tamu di sebelah Elliot yang tengah terbuka lebar, kumasuki kamar itu lalu kututup pintunya, kutata baju-bajuku pada lemari kayu di kamar itu, dan langsung membanting badanku pada kasur yang terlihat hangat itu, memang benar, itu terasa hangat. Aku tidak berpikir panjang lagi, mataku terpejam terbawa oleh hangatnya kasur beludru ini, terbawa dalam pangkuan imajinasi mimpi, mimpi yang tidak akan tersentuh oleh kehidupan Drama.

“driiiing… driiiing… driingg” Handphoneku berdering dan itu membuatku terbangun dari lelapku. Kulihat terdapat tulisan “6 missed call from Daddy”. Lalu handphoneku berdering lagi untuk yang ketujuh kalinya, kugeser tanda hijau di samping kiri dan menempelaknya di telingaku.
“halo? Kenapa yah?” kataku sambil setengah malas dan menguap.
“Emma dari mana saja?, kok ditelepon nggak diangkat-angkat?” tanya ayah dengan nada sedikit khawatir.
“Aku tidur yah,” jawabku dengan malas.
“oh ya sudah, ayah hanya khawatir saja, sudah makan?”
“sudah” dan aku pun berbohong, karena aku tahu ayah pasti akan menceramahiku lagi.
“oh ok, sudah dulu ya sayang”
“iya daaa” kubanting ringan Hp ku kembali menuju Kasur pink ini dan mendudukan badanku yang lemas, tidak terasa bila aku telah tertidur hampir seharian, kini hari sudah menjelang gelap, aku menuju kamar mandi dan membasahi badanku agar penat di tubuhku menghilang.

Kukeringkan rambutku dengan Hair dryer dan menggunakan baju kaos pink dipadukan celana jeans sepaha, aku duduk pada kursi meja rias dan memandangi wajahku pada cermin besar di depanku, lalu seseorang mengetuk pelan kamarku, Aku pun membukanya.

“Hello dear, you look gorgeous right now, it’s dinner time, lets go” ajak Mrs. Adam, ia langsung menuju ke bawah, aku pun mengikutinya dengan langkah kecil, aku menuruni tangga dengan hati-hati karena biasanya aku payah dalam hal ini, sesampainya menuruni tangga yang terlihat licin itu ku melihat kearah meja makan, aku melihat keluarga itu yang sedang menantiku untuk mengisi kursi kosong di depan Elliot. Oh, rambut Elliot berwarna coklat dengan kombinasi sedikit pirang, dia terlihat tampan dari belakang punggungnya terlihat gagah, dan aku pun sedikit nervous untuk melihat wajahnya, kurapikan rambutku sambil berjalan sedikit lebih cepat, dan berusaha untuk tidak melihat wajah Elliot, aku duduk pada bangku kosong di sebelah Mrs. Adam dan aku tidak tahan lagi, kulihat wajah Elliot dari balik bulu mataku, dia benar-benar tampan, sehingga membuat denyut jantungku semakin berdebar.

“ok, let’s pray” kata Om Jon.
Mereka bertiga tampak menundukkan kepala menuju piring yang masih terbalik, dan aku melihat kembali wajah sesorang di depanku, Perfect!, bulu matanya panjang dan terbalik, bibirnya semerah delima, dan hidungnya tidak mirip dengan Om John, namun matanya Beriris Coklat gelap seperti Om Jon. Doanya telah selesai, dia pun mengangkat kepalanya dan melihat ke arahku saat aku masih menatapnya, ketika aku sadar bahwa kini kita saling bertatapan satu sama lain, kualihkan pandanganku menuju Om Jon.

“Emma ayo monggo dimakan masakane tantene” kata Om Jon menawarkan makanan di depanku, hampir semuanya daging, lidahku belum terbiasa dengan bumbu-bumbu ala Kanada jadi aku bingung harus memilih makanan yang mana, makanannya sangat banyak. Semuanya sudah menyuapkan beberapa makanan ke mulut mereka masing-masing, dan piringku masih terbalik dan bersih.
“Emma what’s wrong?” tanya Mrs. Adam.
“this food is not good for you?” lanjutnya sambil mengelus rambutku.
“um, no all of this are good, but I’m Vegetarian, so I’ll just eat that apple” jawabku sambil menunjuk apel merah pada tumpukan buah di samping Mrs. Adam.
“oh ok, I don’t know if you’re Vegetarian, tomorrow I’ll make some Vegetable salad for you” kata Mrs. Adam sambil tersenyum dan mengambilkan apel merah di sampinya dan membawakan pisau kecil.
“thank you” jawabku
“ya, no problem” balasnya.
“opo yo enak to nduk? Mangan koyok ngono kuwi? opo yo wareg?” tanya Om Jon
“iya” jawabku singkat.

Mereka pun melanjutkan makan sedangkan aku memotong apel itu menjadi beberapa bagian, dan menggigitnya kecil. Apakah aku terpesona pada anak Om Jon ini?, kenapa ingin sekali aku memandangnya, namun ketika aku melakukan hal konyol itu, kedua alisnya terangkat dan melihat ke arahku, seakan-akan merasakan bahwa dirinya sedang ditatap oleh seseorang, aku takut mengganggu dinner time nya, jadi aku hanya curi-curi pandang saja pada wajah tampannya.

Dinnernya sudah selesai, Om Jon kembali memulai doa penutup, dan ketika selesai Elliot bahkan masih terduduk manis di depanku, lalu Om Jon dan Mrs. Adam pun bangkit dari kursi mereka masing-masing dan menatanya. Sosok Elliot jauh berbeda dengan anak muda jaman sekarang di Indonesia, berbeda jauh dengan kakakku, jika makan malam sudah selesai maka dia akan menuju kamar, Om Jon dan istrinya berjalan menuju ruang keluarga, dan meninggalkan kami berdua, Aku hanya menatapnya penasaran saat ini, arah matanya lurus menembus mataku, aku memaku, dan tidak tahu apa yang harus kulakukan, aku memilih berdiri dan mengambil piring-piring kotor di meja makan lalu membawanya ke dapur dan kuletakkan di tempat pencuci piring, namun saat aku ingin kembali menuju meja makan, Elliot berada di belakangku membawa sisa piring kotor di atas meja makan, alis kirinya terangkat, dia sangat dekat di depanku, lagi-lagi aku terpana, namun kali ini bukannya aku tidak bisa bergerak, namun aku tidak ingin bergerak.

Mrs. Adam datang menuju dapur, dan dapat kulihat ekspresi Mrs. Adam yang aneh, dengan sedikit tersenyum dan terheran-heran. “Elliot…?” panggilnya dengan tangan terlipat di depan dada.
“Yes Mom?” Jawabnya dengan spontan, suaranya menggelegar di dadaku, benar-benar sempurna, dari atas hingga bawah.
“it’s time to wash that plates baby, not for looking that hot girl in front of you” kata Mrs. Adam yang membuatku merasa aneh, sembari membuka kulkas dan mengambil sesuatu.
“Yea… Of course” balas Elliot dengan alis yang kembali terangkat, aku pun menggeser tubuh mungilku ke kiri namun masih tetap menyandarkan punggungku pada meja keramik yang tersambung oleh penyuci piring itu, aku kembali melihat tangannya yang sedang melumuri piring-piring kotor itu dengan busa, tinggiku hanya selengannya, sependek itukah diriku?

“You wanna help me or just watch at this dirty Plates?” tanyanya sambil melihat ke arahku.
“um… yea, what can I do for you?” tanyaku sambil membalik badanku kearah cucian piring.
“dry this plates, please “ jawabnya singkat.
“oh… sure,” kuraih tiap piring basah yang ia berikan.

“So I’m Elliot, by the way” katanya dengan nada memperkenalkan dirinya.
“well, I’m Emma “ balasku dengan senyuman malu.
“it’s nice to meet you” matanya kembali menatap lurus ke mataku, membuat tenggorokanku kembali terasa tersumbat.
“uu… um, yea, me too” kataku sambil berusaha mengalihkan pandanganku menuju piring-piring yang sudah bersih dan mengkilat.

Kini semua piring telah kering, Elliot membalikkan badannya sepertiku tadi, punggung tersandar pada sisi cucian piring, tetapi posisiku masih tetap mengarah pada jendela di depan tempat mencuci piring, meihat fokus pada bulan yang tengah bersinar terang.
“Um, you’re cute” pujinya sambil menyelipkan beberapa helai rambutku menuju belakang telinga, apa yang dia lakukan?, kenapa membuatku terbang?”
“thanks” aku pun merasa malu, namun aku tidak tahu harus melakukan apa.
“you’re Blushing, aren’t you?” katanya dengan membalik badan dan melihat bulan seperti yang kulakukan.
“Nah,” jawabku singkat, tetapi dapat kurasakan wajahku tampak hangat dan merona sangat padam. Dia hanya tersenyum kecil dan meninggalkanku sendiri di dapur, kulihat punggungnya terarah pada lantai atas, menuju kamarnya. Kucuci telapak tanganku dan mengusapnya pelan di pelipisku, perbedaannya sangatlah terasa, pelipisku sangatlah hangat.

Aku menaiki kamarku juga kali ini, pintu kamar Elliot tertutup sangat rapat, aku pun melangkah lurus menuju kamarku, aku membaringkan badanku pada kasur yang lembut ini dan memikirkan hal yang baru saja terjadi, kini aku tidak akan bisa tidur, kubuka pintu yang terbuat dari kaca di depan kasurku dan duduk pada kursi kayu, melihat ke arah angkasa, yang dipenuhi oleh bintang-bintang yang aneh, dan rembulan yang utuh bersinar, aku memandang langit Kanada malam ini,

“Emma?” pekik seseorang di teras kamar sebelahku, itu Elliot.
“Elliot?” balasku dengan lambaian tangan, dan berjalan menuju ke kiri agar lebih dekat dengannya. Balkon ini terpisah namun, hanya berjarak kira-kira 9 cm, sehingga aku masih bisa menyentuh tangannya.
“What are you doing here Emma?, it’s almost night” tanyanya lembut sembari menuju ke arahku.
“I can’t sleep” balasku.
“me neither” kata Elliot.
“look at that beautiful moon” lanjut Elliot dengan jari telunjuk tertuju pada Bulan yang sangat terang.
“yea… it’s so beautiful, but that moon had a sad story behind” kataku sambil memperhatikan wajahnya.
“oh, really? Like what?” tanyanya.
“hm, you know if Sun and Moon can’t be together right?, and The Sun will go die for shining that Moon, Beautiful moon.” Jelasku.
“yeah, you’re right, I never realize about that one” balasnya dengan mengedipkan sebelah matanya.
“Sun will go to pain for let The Moon Shining and Happy, that was a big sacrifice”
“You’re Smart, I think” kini raut Elliot berubah menjadi penasaran tentang diriku, tatapannya sangatlah dalam, terasa menembus dadaku.
“oh, not really” balasku dengan nada bahwa dia tidak serius saat mengatakan bahwa aku pintar.

“well, Elliot I’m so sorry, but I think I must go to sleep right now” kataku, raut wajah Elliot berubah lagi, kini tampak sedikit kecewa.
“ok sleep well, bye”
“bye…” balasku dan langsung membalik badan, kututup pintu kaca itu dan kubaringkan badanku, namun kedua mataku masih saja memandanginya yang tetap teguh melihat ke arah Rembulan, tampak sesekali dia melihat ke arahku, lalu tersenyum, entah apa yang salah dari diriku, dia pun membalikkan badan dan memasuki kembali kamarnya, kini aku hanya melihat sosok indah bulan, bukan pangeran.

Cerpen Karangan: Ferellie
Blog: elliemdsn.blogspot.com
Halo, aku Ferellie, bisa panggil Ellie atau Elle.

Cerpen Miracle (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


The Bouquet

Oleh:
“Malam Mbak, air panasnya sudah saya buatkan.” Yu Tum menyambutku dengan ramah ketika aku membuka pintu. “Makasih ya, Yu” ujarku tersenyum sambil meletakkan laptop di meja. “Mbak, ada kiriman

An Edelweiss from Neptune

Oleh:
“Wah gue mau lihat!” “Gue dulu!” “Gue lahh!!” Segerombol murid menyerbu papan pengumuman. Mencari nama mereka di antara ratusan nama terpampang. Berharap-harap lalu mengeluarkan beragam ekspresi. Beberapa dari mereka

Mawar

Oleh:
Mawar. Begitulah panggilannya. Orang bilang, Mawar adalah bunga yang indah dan harum. Banyak orang mengagumi Mawar. Mereka, sangat menyukai dan mencintainya. Namun, aku berbeda dengan mereka. Aku sama sekali

Matahari Inara

Oleh:
Pernahkah kamu merasakan hidup yang tak sebenarnya hidup? Dimana tubuhmu masih mampu berdiri tegak, dan kakimu masih menapak tanah – tapi sukma entah melayang ke mana. Detak jantungmu berdenting

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *