The Best Love

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Bahasa Inggris, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 9 April 2016

Pagi hari aku sudah bangun dan bersiap pergi ke sekolah.

“Nes, Ningrum udah nungguin di bawah cepetan turun,” kata ibuku.
“Iya, bu bentar lagi aku turun kok,” jawabku seikit berteriak. Tak lama kemudian aku turun. “Bu Ines berangkat dulu ya!” ujarku.
Aku berjalan menuju garasi depan, nampak seorang yang sudah tidak asing lagi olehku yaitu Ningrum ia adalah sahabatku dari kecil.
“Hai, Yum apa kabar?” Tanyaku.
“As you can see I’m alright,” jawabnya.
“Oh arrogant because returning from abroad,” ujarku.
“Iya, iya maaf Nes maaf janji gak bakal sombong lagi,” jawabnya.

“Jadi kita sekarang go to school naik mobil lo aja ya,” kata Ningrum.
“Hah gimana lo sih katanya mau naik mobil sport punya lo,” jawabku.
“Yah gimana ya mobil gue ada di bengkel lagi di service,” ujar Ningrum.
“Ya ampun Yum mobil aja gayanya sport tapi kerjaannya cuma keluar masuk bengkel aja,” jawabku.
“Udahlah gak usah banyak bawel come on go to the streets,” kata Ningrum sambil menyeret-nyeret tanganku untuk masuk ke dalam mobil.

Di dalam mobil, Ningrum mendengarkan musik dan bernyanyi-nyanyi sendirian.
“Oh god, Yum stop the zeal I could deaf,” kataku berteriak.
“Geez queen of social media up to what I said that I also want to listen den,” jawab Ningrum.
“Hentikan Yum atau aku turunin kamu di sini,” ujarku.
“Sorry, do not mean,” jawab Ningrum.
“Hari ini Ningrum udah berhasil banget buat aku kesel,” kataku di dalam hati.

Setelah aku mengendarai mobil cukup lama akhirnya aku tiba di sekolah baruku. “Ya udah kamu ke ruang kepala sekolah sendirian ya!” kata Ningrum kepadaku.
“I’m not mistaken, you send me to the principal’s office alone. You are crazy,” jawabku.
“Nes, kamu bisa ngertiin aku dong. Pagi ini aku ada ekskul,” kata Ningrum.
“Tapi Yum aku gak tahu ruang kepala sekolahnya kamu juga harus bisa ngertiin aku dong,” jawabku.
“His principal’s office on the second floor. Oh ya ingat jangan dengerin orang yang berkata buruk sama kau jangan terpengaruh emosi, tetap senyum dan have fun,” ujar Ningrum dan langsung ke luar dari mobil. “Oke Ines take a deep breath in spend. Think of this school is the first school in france,” kataku.

Aku ke luar dari mobil dan membanting pintu, nampak banyak orang yang sedang memperhatikanku, dan satu lagi yang membuat emosiku menaik aku rasa mereka satu geng mereka bilang aku itu sok kecantikan tapi aku terus menahan emosiku. Aku naik ke lantai dua dan mencari ruang kepala sekolah. “Nah ini dia nih yang gue cari mulai tadi principal’s office,” kataku pelan. Tidak menunggu lama lagi aku langsung mengetuk pintu ruang kepala sekolah. Nampak seseorang yang membuka pintu.

“Permisi Bu Deandra ada?” kataku dengan sopan.
“Oh Bu Deandranya sedang ke luar saya sekretaris Bu Deandra, pasti kamu Ines ya anak baru di sekolah ini?” kata sekretaris bu Deandra.
“Iya benar saya Ines anak baru di sekolah ini,” jawabku. “Kalau begitu ikut saya,” ujar sekretaris bu Deandra
“Nah ini kelas baru kamu have fun,” kata sekretaris bu Dendra meninggalkanku di depan kelas.
“Oke Ines, you have dared to open this door,” kataku pelan. Aku membuka pintu dan memberanikan diri untuk masuk.
“Permisi,” kataku pelan.
“Oh kamu Ines kan silahkan masuk. Sekarang kamu perkenalkan diri kamu menggunakan bahasa inggris,” kata guru baruku. “Fine ma’am,” jawabku.

“Hello all. My name is Ines indah Safitri. I’m moving from one of the schools in france. You can call me as Ines,” kataku sedikit malas.
“Oke thank you Ines. Silahkan duduk di belakang dion di sana ada satu bangku kosong,” kata guru baruku.
“Baik ma’am,” jawabku. “Baik semuanya keluarkan tablet kalian semua dan buka link yang sudah madam tulis di depan,” kata guru baruku.
“Baik ma’am,” kata semua murid. Setelah 4 jam pelajaran akhirnya waktu istirahat tiba.
“Baik semuanya pelajarannya kita hari ini kita sudahi dulu. See you next week,” ujar bu Aryn mengakhiri pelajaran.
“Huh, akhirnya selesai juga kelasnya Ningrum di mana ya? Oh yaa aku baru inget katanya kan dia di kelas 11 ipa 2,” kataku pelan. “Ya udah tunggu apa lagi saatnya cari kelasnya Yuyum,” ujarku.

Aku menyusuri koridor sekolah sambil membaca tiap-tiap ruangan, aku kurang fokus dengan jalanku sampai-sampai aku menabrak seseorang. “Aduh,” kataku.
“Ma.. Maaf,” katanya sambil mengulurkan tangannya.
“Ng.. Nggak apa-apa kok,” kataku. Ketika aku mengangkat kepalaku, “Oh my god this man feels he’s such a handsome prince. Ines should not, must not, remember your motivation there is not the name I were chasing the guy, but the guy that is chasing you,” kataku di dalam hati.

“Hai siapa namamu kenalin namaku Haikal!” ujarnya.
“Oh, Haikal kenalin nama aku Ines,” jawabku.
Kita berdua saling melihat tangan masing-masing nampak tanganku yang sedang berpegangan erat dengan tangan Haikal.
“Aduh maaf ya!” kataku melepas pegangannya.
“Nggak apa-apa kok,” jawabnya.
“Oh ya mau ke canteen gimana kalau bareng aku aja,” tawarnya.
“Boleh,” jawabku. Waktu itu aku lupa bahwa tujuanku sebenarnya adalah untuk mencari Ningrum, tak lama kemudian aku dan Haikal tiba di canteen sekolah.
“Oh ini canteennya?” tanyaku.
“Ya seperti yang kau lihat,” jawabnya.

Tak lama kemudian Ningrum menghampiriku di kantin.
“Ya ampun kamu ke mana aja sih?” kata Ningrum kata katanya tiba-tiba terhenti.
“Hai, Kal, Nes ikut aku dulu yuk sebentar. Pinjem dulu ya Kal,” kata Ningrum menarik tanganku.
“Nes kamu kok bisa sama Haikal sih. What you do?” tanya Ningrum.
“Emangnya gue ngapain, orang gue cuma barusan nabrak dia aja terus gue diajak ke kantin deh. Is he who till you startled me eat him,” jawabku dan berbalik tanya kepada Ningrum. “Ya karena secara Haikal itu orangnya cool banget, dia juga kepala basket di sekolah ini aku cuma takutnya there is someone who hates you,” ujar Ningrum.

“Ngaco kamu orang dianya fine, fine aja mungkin yang perempuan itu kale.. Yang syaraf, udah aku mau lanjutin makan dulu,” jawabku mengakhiri pembicaraan. Aku berjalan santai menuju meja di mana aku barusan makan dengan Haikal. “Udah ngobrolnya Nes?” tanya Haikal. “Yup,” jawabku. Tak lama kemudian bel masuk berbunyi.
“Aku duluan ya Kal,” ujarku. “Oke,” jawab Haikal. Aku berjalan menuju kelas sambil memikirkan perkataan Ningrum barusan. “Emangnya bener apa yang Ningrum bilang. Loh kok aku jadi cemas gini sih? Emangnya siapa aku pacar juga bukan. Ya ampun Ines, what do you think rid your mind about Haikal,” kataku di dalam hati.

Setelah 4 jam pelajaran akhirnya pelajaran telah usai aku ke luar dari kelas sesampainya di depan kelas nampak Haikal yang sedang menunggu seseorang.
“Hai Kal kamu lagi nunggu siapa?” tanyaku.
“Aku lagi nungguin orang yang ada di depanku, kenapa memangnya gak boleh?” jawab Haikal dan menayai balik.
“Nggak apa-apa sih tapi aku hari ini bawa mobil dan udah ada yang nungguin aku tuh di belakangmu,” kataku.
“Hai Kal kalau lo mau pulang sama Ines nggak apa-apa kok gue bisa bawa mobilnya Ines,” kata Ningrum.

“Heh Yum lo apa-apaan sih?” tanyaku sambil menarik tangan Ningrum.
“Udah deh lo tenang tenang aja lagian gue kan tahu kalau tuh suka sama Haikal,” jawab Ningrum.
“Silahkan Kal kalau lo mau pulang bareng Haikal, Ines mau banget kok,” kata Ningrum ke Haikal dan langsung pergi.
Aku dan Haikal berjalan menuju parkiran sesampainya di sana. “Motor lo yang mana Kal?” tanyaku.
“Tepat di depan matamu,” jawab Haikal.
“Ya udah naik cepetan,” ujar Haikal.
“Oke,” balasku.

Di sisi lain. “Eh Clara stop,” kata Karin.
“Ada apa sih Rin?” tanya Clara.
“Lihat tuh Haikal bareng siapa?” ujar Karin.
“Oh my god, Haikal pulang baren siapa sih?” kata Clara.
“Pokoknya lo harus bales perempuan itu Ra lo harus bales, karena kenapa dia udah rebut cowok lo Ra,” ujar Afi.
“Lihat aja nanti gue bakal buat cewek itu gak pernah deketin cowok gue lagi kalau perlu gue bakal buat dia gak betah di sekolah ini,” kata Clara.

Di perjalanan aku dan Haikal hanya terdiam tidak ada suara sedikit pun yang ke luar dari mlutku dan mulut Haikal. Sampai tiba-tiba Haikal mengerem tiba-tiba karena lintas tiba-tiba macet, hal itu sontak membuatku memeluk Haikal. “Ups maaf,” kataku.
“Nggak apa-apa kok,” jawab Haikal. Setelah itu aku dan Haikal dan aku kembali terdiam hingga sampai di depan rumahku. “Ya udah makasih ya Kal udah anterin aku sampai rumah, mau mampir dulu,” tawarku.
“Kayaknya gak usah deh soalnya aku ada kursus hari ini,” jawab Haikal. “Oh gitu ya hati-hati di jalan,” kataku.

Aku berjalan masuk ke rumah sesampainya di ruang tamu nampak seseorang yang sudah nggak asing lagi. “Hai Nes baru pulang sekolah ya?” tanyanya.
“Kak Fira kapan kakak pulang dari perancis, kok gak kasih tahu Ines dulu sih,” kataku.
“Mm.. Baru aja nih cowok yang nganterin kamu itu barusan pacar kamu ya?” tanya Kak Fira.
“Yah kakak aku tuh sama dia gak punya hubungan apa-apa orang aku bau kenal barusan juga,” jawabku.
“Tapi kok kelihatannya mesra banget yah,” goda Kak Fira.
“Apanya yang mesra coba, hah males aku ngomong sama kakak mendingan aku masuk kamar aja,” kataku. Aku berjalan menaiki tangga dan masuk ke kamarku, aku membuka buku diary kesayanganku dan mulai menulis.

“Dear, diary kesayanganku. Terima kasih atas hari ini ya Tuhan, karena engkau telau membuatku sangat bahagia hari ini. Hari ini aku bertemu Haikal, dan juga Kak Fira. Aku benar-benar bingung dengan perasaanku apakah aku mencintai Haikal? But I still remember with my motivation, there’s no such thing as a guy chasing me but the guy who chased me. Apakah aku harus melepas motivasiku itu? Let time do the talking.” kata-kata itu adalah kata-kata terakhir tulisanku pada hari itu, aku menutup diary kesayanganku dan menaruhnya kembali ke rak buku. Aku kembali memikirkan perkataan Ningrum waktu di kantin tadi. Tiba-tiba suara ketokan pintu menghilangkan lamuananku.

“Nes makan siang dulu yuk kakak tunggu di bawah ya,” kata Kak Fira.
“Ya kak,” jawabku. Aku berjalan pelan menuruni tangga. “Hai mom cook anything today?” tanyaku.
“Today mom cook meat and vegetables,” jawab ibuku.
“Coba deh enak loh,” kata Kak Fira.
“Mau, mau,” kataku sambil mengambil sebuah piring.

Setelah selesai makan. “Mom ke kamar dulu ya,” ujarku.
“Eh tunggu dulu,” kata ibuku.
“Ada apa bu?” jawabku.
“Kamu mash inget gak sepupumu Tyara?” kata ibuku.
“Ya ingetlah dia kan sepupuku yang paling terbaik,” jawabku.
“Besok dia akan mulai tinggal di sini dan sekolah sama kamu,” kata ibuku.
“Serius Mom aku udah lama banget gak ketemu sama dia thanks Mom aku ke atas dulu,” kataku.

Setelah tiba di kamarku teleponku berbunyi tidak ada nama yang terurai di handphone-ku.
“Siapa nih angkat daripada kepo,” ujarku pelan.
“Hello who is there?” tanyaku.
“Ini aku Nes, Haikal,” jawabnya.
“Oh kamu Kal aku kirain siapa, dapet dari mana kamu nomor phone-ku?” kataku.
“Oh kalau itu aku dapet dari sahabatmu,” jawabnya.
“Sighted tomorrow you,” kataku di dalam hati.
“Nes are you still there,” ujar Haikal.
“Iya, iya masih,” jawabku.

“Oh ya kamu ikut ekskul apa di sekolah?” tanyanya.
“Inginnya sih yang berkaitan dengan fashion and yang berkaitan dengan foto,” jawabku.
“Kalau gitu ikut aja ekskul fashion desain dan fotografer,” katanya.
“Good idea,” jawabku.
“Ya udah aku tutup teleponnya ya,” katanya.
“Oke,” jawabku. Aku berbaring di kasur dan terlelap.
Aku terbangun di pagi hari ketika sinar matahari menerobos masuk celah-celah kamarku. Nampak seseorang yang menurutku sudah tak asing lagi.

“Udah bangun,” katanya.
“Tyara kapan kamu ada di sini?” tanyaku.
“Since 2 hours ago,” jawabnya.
“Akhirnya kita ketemu lagi I am very happy you are here,” ujarku dengan senyuman yang manis.
“Dan aku sangat senang bisa nginjak rumah ini lagi,” katanya.
“Ya udah aku siap-siap dulu,” kataku.
“Do not be long,” jawabnya.
“Oke,” kataku mengakhiri pembicaraan.

Setelah aku selesai mandi aku dan Tyara menuruni tangga ke bawah, setela tiba di bawah nampak seseorang yang nggak asing lagi. “Hai Yum kenalin ini sepupuku Tyara, Tyara kenallin ini Ningrum,” ujarku.
“Hai aku Tyara,” katanya.
“Aku Ningrum,” kata mereka sambil berjabatan tangan.
“Oh ya Yum, Tyara bakal sekolah di sekolahan kita,” kataku.
“Serius, wah semakin rame dong,” jawab Ningrum.
“Insya Allah ya,” ujarku.

“Udah mau pergi sekolah?” tanyanya.
“Bentar lagi, eh Kak Fira kapan pulang kak,” kata Ningrum berbalik tanya.
“Kemarin,” jawab Kak Fira.
“Ya udah kak kita berangkat sekolah dulu ya, afraid to be late for school,” kataku.
“Already there quick way later late, study hard,” kata Kak Fira.
“Jelas lah kak,” jawabku. Aku, Ningrum, dan Tyara berjalan menuju garasi depan. Sesampainya di depan garasi.
“Aku boleh nyetir gak?” kata tyra.
“Emangnya kamu bisa nyetir,” tanyaku.
“Lihat aja nanti,” jawabnya.

“Tir kamu tuh aneh banget yah, giliran diajarin susah banget tapi giliran gak diajarin gampang banget,” kataku.
“Biasa aja kali Nes ini kan salah satu mukzizat sang Tyara iya kan Yum,” ujar Tyara.
“Terserah kalian mau bilang apa,” jawab Ningrum.
“Ngomong-ngomong gimana dan kayak apa calon sekolahku?” tanya Tyara.
“Ya gitu deh,” jawabku.

Setelah sampai di sekolah aku langsung membuka pintu mobil dan keluar.
“Eh maaf nih tapi aku masih mau daftar ekskul jadi aku duluan,” ujarku.
“Gak masalah,” jawab Tyara.
“Oh ya aku juga duluan soalnya ada urusan osis,” kata Ningrum.
“Yah semuanya serba sibuk ngak apa dah,” kata Tyara.

Aku berjalan menuju ruang pendaftaran tak lama kemudian ponselku berbunyi.
“Hah, Haikal ngapain dia nelepon gue,” kataku.
“Halo kal ada apa?” tanyaku.
“Lo bisa gak pergi ke atap sekolah cepetan ya,” jawab Haikal dan langsung menutup telepon.
“Kenapa nih Haikal menigan gue samperin aja ke atap sekolah, huh jadi aku gak bisa daftar sekarang deh nggak apa-apa deh,” kataku. Setelah aku tiba di sana betapa terkejutnya aku hiasan balon-balon dan bunga menghiasi atap sekolah, tak lama kemudian Haikal datang bersama teman-temanku yang lainnya.

“Loh Tyara kok kamu ada di sini sih?” tanyaku. Tyara hanya membalasnya dengan senyuman. Haikal mulai maju ke depan dan berkata, “Selamat ulang tahun ya Ines, di hari ulang tahun kamu ini aku mau kamu jadi pacarku,”
“Apakah kamu mau nerima aku,” kata Haikal sambil memberiku sebuah bunga mawar dan cokelat.
“Mm.. Gak mau,” jawabku dengan senyum sinis. “Nggak mau nolak maksudnya,” ujarku. Semua orang yang ada di sana bertepuk tangan, aku menerima bunga dari Haikal menurutku itu adalah bunga terbaikku. “You’re my best love,” kataku. Aku tidak tau mengapa tapi semuanya kembali bertepuk tangan.

Cerpen Karangan: Adinda Riski Oktasari
Facebook: Adinda Riski Okta Sari
Namaku Adinda Riski Oktasari. Nama panggilanku Adinda. Umurku 12 tahun. Cerpen ini adalah cerpen pertamaku. Cerpen ini aku kirimkan unuk temanku yang lagi ulang tahun tapi aku ngirimnya lebih awal aja.

Cerpen The Best Love merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Love

Oleh:
Sebuah mobil sport baru saja memasuki pelataran parkir sekolah sawasta favorit di Jakarta. Seorang laki-laki berusia sekitar 16 tahun keluar dari kursi kemudi, lalu berjalan memasuki sekolah megah itu.

Sacrifice of Love

Oleh:
Pagi ini hari pertama Senandung masuk sekolah setelah libur kenaikan kelas. Seperti biasa sahabatnya Fira selalu menghampirinya untuk berangkat ke SMAN Bina Bangsa. Sekarang mereka sudah naik ke kelas

Petualangan Aneh

Oleh:
Satu, dua, tiga… Cerita dimulai! Siang hari nampak terik. Satria melangkah menuju dapur. Dia lihat banyak sekali makanan enak. Bu Ratna ibu Satria memang pandai memasak. Tapi perut Satria

You (Part 1)

Oleh:
“Konichiwa!!! I am Chila Ozora Shibuki. Please call me Ozora. I am form Japan – Tokyo. Nice too meet you!” Ucapku. Aku memang baru pindah ke Indonesia. Rambutku panjang

Ketika Jones Mencari Cinta (Part 1)

Oleh:
Chandra adalah jones selama 9 tahun dan dia gak pernah pacaran sama sekali, tetapi karena suatu perbuatannya ia mendapat cewek luar biasa cantiknya. Kisah ini dimulai saat Chandra kelas

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *