Anak Bangsa

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Budaya, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 3 March 2019

Rasa kesal di hati membuatku geram. Seperti kata guru seniku bahwa Angklung LAGI LAGI diklaim negara tetangga. Apa-Apaan mereka itu!. Seperti tidak ada kebudayaan

Hai, namaku Ara. Aku adalah seorang murid kelas 11 di salah satu SMA Negeri di Jakarta. Suasana hatiku sangat buruk hari ini. Mengapa? Karena negera tetangga mengklaim salah satu kebudayaan di negeriku ini. Huh… hari ini sangat melelahkan ditambah dengan suasana hati yang mendung.

Siang ini kenapa panas sekali sih, dan kenapa koridor sekolah ini terasa sesak. Ya ampun… sudah berapa kali aku terus mengeluh. Sambil mencoba berjalan santai, aku melirik beberapa kegiatan yang dilakukan siswa lain dan mencoba tersenyum jika ada seseorang yang kukenal. Setelah keluar dari koridor yang menyesakkan aku menuju sebuah ruangan radio tempat para anggota berkumpul. Di sekolah ini, aku hanya mengikuti eskul mading dan kenapa aku berkumpul di ruang radio karena sesekali beberapa anggota mengisi untuk membawakan HOT NEWS.

Saat kubuka pintu, teman-teman menyambut kedatanganku dengan berbagai keluhan.
“Ara, kamu lama banget si!” sahut Alfa dengan cepat. Dia ini emang gak sabaran orangnya jadi maklum aja.
“Iya lo lama banget, bete gua!” sambar si kembar dengan kompak. Kembar tidak identik yang bernama Alma dan Anta.
“Udahlah guys… kita mulai aja rapatnya.” Lerai Riga. Aku suka banget sama sifat Riga, dia punya sifat wibawa banget. Tipe ideal aku banget.
“Hehehe maaf ya semuanya.” Aku meminta maaf kepada mereka. Sebenarnya, di sini ada sekitar 10 orang, tetapi mereka tersenyum maklum dengan sikap ngaretku ini. Aku jadi merasa tidak enak.

O iya hari ini kami gak siaran karena kehabisan HOT NEWS. Dan kami di sini akan merapatkan tentang berita selanjutnya.

“Karena Ara udah datang kita mulai aja langsung ya, kalian udah pada izin kan sama orangtua?” kata Riga memulai pembicaraan.
“Udah!” jawab kami serempak.
“Oke sekarang untuk berita selanjutnya tentang apa nich?” kata Riga enteng sambil mengeluarkan sifat alaynya untuk mencairkan suasana.
“Jangan mulai alay deh Rig jijik gua.” Sahut Rini dengan memasang wajah jijik.
“Hahahahaha.” Kami pun tertawa geli melihat pertengkaran mereka berdua.
“Oke serius!” suara Nanda menginterupsi, seketika kami langsung berhenti tertawa.

“Ehmm… Jadi?” kata Riga.
“Gimana kalau masalah kebudayaan kita aja yang diklaim itu?” Baim menjawab dengan cepat dan membuat moodku turun seketika.
“Ish, jangan ngomong itu lagi dong sebagai anak bangsa aku kesel nih.” Alfa menjawab pertanyaan Baim.
“Boleh juga tuh usul Baim, kita bisa memberi tahu kepada teman-teman bahwa saat ini kita harus lebih peduli kepada kebudayaan kita,” Jawab Naja menyetujui usulan Baim.
“Iya juga sih.” Jawab ku lesu.
“Terus… terus kita juga bisa bikin mading buat memperkenalkan kebudayaan kita yang jarang orang tau.”
“Kebudayaan yang kaya gimana nih?” sahut Andri
“Kemarin tuh aku sempet browsing, ternyata ada beberapa kaya Ronggeng Ketuk, Topeng Menor sama apa lagi ya aku lupa.” Sahut Naja sambil mengingat.
“Ih apa harus banget? Padahal kan di sekolah kita lagi ada berita HOT banget tau.” Jawab Alma.
“Berita apaan kok aku gak tau.”
“Kudet si lo, kemarin tuh ada berita yang heboh banget sebut pake inisial aja ya si J mutusin si S.” jawab Anta dengan semangat. Kami menggelengkan kepala bersama melihat si kembar kompak.
“Bukan urusan kita tau, emang kita mau apa ditegur sama sekolah karena nyiarin berita begituan.” Jawab Sinta tak menyetujui usulan si kembar.
“Kalau aku sekarang setuju sama usulan Baim deh.” Jawab ku mantap.

“Aku saranin jangan budaya Indonesia deh soalnya kuno banget mending Kpop atau gak Jpop kan lagi hits tuh.” Sahut Alfa memberikan usulan lain.
“Jangan gitu dong Fa masa kamu anggap budaya sendiri kuno.” Sanggah ku menolak usulannya.
“Gue setuju tuh sama Alfa emang budaya negeri ini kuno mending yang lain dah.” Jawab Anta.
“Karena itu kita harus membuat budaya kita lebih di kenal.”Jawab ku kesal.
“Budaya kita itu kuno makanya banyak orang malas buat mempelajarinya.” Alma ikut memberi sanggahan.
“Apa sih, kalian itu lahir di Indonesia masa gak ada rasa Nasionalisme si.” Rini ikut member pendapat.
“Mungkin kalau gue bisa milih, gue gak bakal mau lahir di Indonesia.” jawab Anta dan diangguki oleh Alma dan Alfa.
“Itu udah takdir Tuhan buat kalian lahir di Indonesia dan kalian lahir punya tujuan di sini.” Jawabku dengan kesal.
“Stop!! Kenapa jadi melenceng si kita voting aja kalau kaya gitu,” Riga mengeluarkan suara juga setelah memperhatikan kami beradu pendapat.

“Siapa aja yang setuju kalau budaya Kpop dan Jpop?” Alma, Anta dan Alfa mengacungkan tangan nya.
“Siapa yang budaya Indonesia?” Baim, Rini, Sinta, Nanda, Naja, Aku, bahkan Riga mengacungkan tangan kami bersama.
“Sesuai voting berarti budaya Indonesia yaa.” Riga memutuskan setelah dilakukan voting.

Alma, Anta, dan Alfa menatap kami dengan dengan muka marah. Mereka memang kadang menyebalkan karena tidak ingin mengalah dan ingin selalu diikuti permintaannya. Tiba-tiba mereka berdiri dan keluar dari ruang siaran. Kami bertatap muka dan menghela napas karena sifat kekanakan mereka. Setelah kepergian mereka kami melanjutkan rapat dengan cepat.

2 HARI KEMUDIAN
Pagi ini, udara sangat sejuk meskipun kendaraan sudah mulai memenuhi jalan. Aku berjalan santai dengan suasana hati yang cukup baik.
“Araaa!” Aku menolehkan kepala saat ada yang memanggil namaku. Ternyata Riga memanggilku sambil berlari.
“Kamu kenapa? Habis dikejar anjing?” Riga menggeleng di sela-sela mengatur napas.
Aku menunggu sambil dia menstabilkan udara yang masuk melalui hidungnya.

“Masa Alma, Anta, Alfa keluar dari eskul.” Riga memberi tahu maksud dia memanggilku.
“Ha! Biasanya mereka kalau marah gak sampe segitunya deh.” Aku menyuarakan pendapat.
“Gak tau tuh mereka kekanakan banget padahal udah 17 tahun.” Kami pun melanjutkan menyusuri koridor sambil berbincang.
“Yaudah lah, menurutku sih mereka bakal masuk lagi hehehe.” Aku terkekeh geli yang sudah tau sifat mereka.
“Semoga aja si yang penting kita fokus aja buat mading terus siaran. Oh iya, lu udah ketemu materinya? Ingat 3 hari lagi ”
“Udah ko tenang aja nanti tinggal di rubah kalimatnya biar kelihatan keren gitu.”
“Sip lah. Gue duluan ya, bye.”
“Bye”

3 HARI KEMUDIAN
Siaran sukses, mading udah di tempel dan banyak menarik minat siswa. Kemudian seperti perkiraanku Alfa, Alma, dan Anta masuk eskul lagi. Mereka udah mengaku menyesal si dan gak bakal ngulangin lagi. Terus mading ini di ikutin lomba dari sekolah karena isinya bagus banget dan banyak orang yang gak tau.

Cerpen Karangan: Kalimatus Sa’diyah
Blog / Facebook: Putri Anggraini

Cerpen Anak Bangsa merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ku Relakan Dia Demi Sahabatku

Oleh:
Masa-masa SMA adalah masa peralihan dari seragam putih biru menjadi putih abu-abu. Masa ini juga mulai mengajarkan akan indahnya dunia luar, persahabatan, dan juga kerja sama. Tapi, rasanya belum

Kamu yang Dulu

Oleh:
Hari ini tepat 11 bulan jika aku dan dia masih bersama. Kami memang satu sekolah, tapi kami layaknya tak pernah mengenal setelah aku meninggalkan mu. Aku masih selalu memikirkan

(Masih) Rani, Si Otak Kritis

Oleh:
Ya, ya, ya. Kehidupan pondok memang melelahkan. Cuci baju sendiri, cuci piring sendiri, menyetrika baju sendiri, makan sendiri (bohong!), tidur sendiri (bohong lagi!), mandi sendiri (ini baru bener!). Semua

1 Detik

Oleh:
18 agustus 2016, perlombaan memperingati hari kemerdekaan diadakan di sekolahku. Saat itu, aku hanya melihat sebuah pemandangan yang berisikan peserta lomba. Aku tertawa melihat mereka yang dengan lucunya mengambil

Melupakan Teman Dekat

Oleh:
Teman. Teman adalah seseorang yang paling bisa membuat kita tertawa dengan hal konyolnya. Namaku azzahra biasa dipanggil ajara, aku duduk di kelas 3 SMP. Aku punya 2 temen cowok.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *