Senampan Daun Pisang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Budaya
Lolos moderasi pada: 21 May 2021

Apakah benar yang berbicara adalah diri kita sendiri dan bukan lisan? Yang berbicara adalah perasaan terbaca dari tingkah-tingkah dan mimik wajah? Atau barangkali hanya hati yang tak pernah seorang pun mengerti terhadap apa yang dibisikkannya kepada lisan dusta yang menangis bahagia atau senyuman masam itu. Tidak ada yang tahu pasti makna ‘hatilah berceloteh itu dan lisan hanya kiasan darinya yang masih begitu kelu. Maka dalam perburuan ini tidak ada yang dapat dihasilkan kecuali lelah dan napas yang terengah.

Mungkin akan seperti menunggu hujan reda yang sama halnya menunggu sembuh dari terlena. Duduk di sebuah –cukuplah- selusin kenangan dan membiarkan kerinduan mengguyurnya habis. Tak habis-habis. Karena ditanam air mata itu. Membuah kolam atau mungkin saja mencipta lautan. Menembus langit akibatnya si cikal bakal hujan rintik-rintik. Dan gerimis tubuhnya merupakan memori masa lalu begitu menawan. Maka ditunggulah hujan. Tatkala hujan datang, reda hujan tak pernah lagi diharapkan.

Begitulah nasib pembicaraanku malam ini, tak ada yang mengetahuinya pasti apa yang kubincangkan bersama malam. Itu karena sulitnya menafsiri lanskap syair pujangga Arab yang sepenggal katanya tentang kalam itu. Innal kalama lafil fu’adi wa innama ju’ilal lisanu alal fu’adi dalila. Yang mana jika diterjemahkan secara bebas yaitu: ‘hatilah berceloteh itu dan lisan hanya kiasan darinya yang masih begitu kelu’. Kalam itu berada di hati. Sedangkan lisan dicipta hanya untuk menjadi keberadaan kalam sebagai bukti. Begitu terjemahan aslinya.

Pabila renta umur dunia memperparah penduduknya dalam berinteraksi. Dan benar masih saja terpenuhi janji para sesepuh menyemarakkan dan mempersatukan anak-anaknya, remajanya, bahkan yang sepuh-sepuh juga, dengan tradisi lokal yang melekat erat di setiap yang masih merasa memiliki urat. Yaitu tradisi senampan daun pisang. Perubahan tak terelakkan tersebab pergeseran zaman dan juga pergantian generasi. Tak bisa berbohong lagi bahwa satu generasi dengan generasi yang lain pasti mempunyai sebuah perubahan dan perbedaan.

Senampan daun pisang yang diselenggarakan setiap pekan itu dulu-dulu merupakan ajang pembuktian bakat kebahasaan Indonesianya. Sajak-sajak daerah yang diterjemahkan menjadi bahasa Indonesia. Atau barangkali semacam puisi mantra yang dengan sebuah wajah khas dan pembawaan suasana serta diiringi nyanyian pendamping begitu juga instrumen alat-alat ringan seperti seruling, indah betul suasana pada masa itu. Masa dahulu kala sebelum lahirnya diriku. Itu kata embahku. Lalu berganti generasi yang dilalui oleh embahku dan kawan-kawannya adalah bukan sekadar memberikan pertunjukan olah bahasa saja, melainkan juga diikutsertakan olah kanuragan dan ilmu-ilmu kuno lainnya. Disana yang katanya setiap sebulan sekali ada pertunjukkan uji kesaktian. Orang-orang pada memamerkan sabuknya masing-masing. Dan sampai pada saat aku dilahirkan, ilmu macam itu mulai dihentikan oleh kakekku. Katanya terlalu bangga akan kemampuan diri yang padahal sebenarnya hanya berupa titipan ilahi. Itu tidak boleh!

Jadi, aku tidak neppa’I/bertepatan dengan hal-hal berbau mistik. Dan untung sekali bagiku, karena aku rada-rada penakut. Dan untuk zamanku cukup sederhana. Senampan daun pisang digelar dan obrolan pun juga digelar. Makan sudah disiapkan dan cerita pun berhamburan. Dari olah muka yang begitu kentara sekali dan dari perburuanku terhadap makna syair itu, aku jadi tahu mungkinkah yang berbicara adalah bukan lisan, melainkan hal-hal lain yang berada disekitar kita yang mencakup perasaan atau apalah itu? Mungkinkah?

Dipelajari pula hal ini pada generasi setelahku, yaitu generasi anak-anakku yang juga tradisi ini masih berjalan dengan lancar. Dengan telepon pintar di masing-masing tangan. Bermain apalah itu. Terlihatlah kegembiraan yang tidak dibuat main. Dan pada generasi kami –aku dan sak zaman- terlihat senyum masam sendiri. Apa mungkin ada kecemburuan terhadap masa-masa sekarang yang mana senyumnya begitu bebas yang beda dengan zaman dulu yang baru bisa tersenyum jika tahu akan makna dari kisah yang disampaikan.

Ngomong-ngomong. Kisah itu yang disampaikan dulu-dulu adalah cerita yang tidak biasa. Fabel. Atau setidaknya sajak bermajas tinggi yang pastinya orang yang tersenyum paham adalah orang yang ahli sastra. Dan jika yang tidak tertarik sastra juga ikut tersenyum, husnuzon saja dia masih terbilang waras. Jadi yang sekarang zamannya sudah beralih ke zaman peralihan dari peradaban kuno ke zaman modern, jadinya khas dari zaman kuno itu sedikit-sedikitnya tidak terlalu ditampakkan. Malu katanya.

Ah. Buat apa malu dan aku masih sibuk bersajak lantang saat senampan daun pisang digelar walau dengan bentuk lain. Memandang senampan daun pisang sekarang bukan lagi di tengah hutan. Bukan lagi dikerumuni orang-orang seperti pada zaman kakekku yang masih ada pertunjukkan segala macam. Bukan lagi dengan nampan yang memang terbuat dari daun pisang besar itu. Atau dengan suguhan yang mungkin hanya sebuah ubi jalar, pisang atau tanaman-tanaman yang dapat dimakan bersama. Kacang-kacangan! Itu favorit kakek saya dulu. Atau satu buah besar semangka yang dibuat senampan itu. Semongko! Naik turun ritme lagu. Karena sebelum senampan daun pisang itu akan dilaksakan, ada semacam rapat pleno yang harus dihadiri para sesepuh untuk merencanakan apa saja yang akan ditampilkan pada saat itu. Meriahnya raut wajah kakek nenek yang tidak bisa tergambarkan jelas. Mimik wajah yang aneh. Unik sekali jika membayangkan masa-masa yang nenek-nenek bahkan gadis-gadis memakan daun sirih. Memerah mulutnya dipenuhi warna sirih yang harus mati tanpa bersalah. Hehe, majasnya keluar.

Sedangkan sekarang sesepuhnya adalah aku dan kawan-kawan yang mana tidak berlaku lagi yang namanya perencanaan untuk senampan daun pisang. Tidak begitu berkesan saat menghadiri rapat pleno itu. Pada sibuk dengan tangannya masing-masing. Bukan gatal-gatal atau apalah itu, namun fokusnya masih berada pada dunianya masing-masing yang padahal acara ini akan dilaksanakan besok malam. Eman! Acara sepekan sekali yang seharusnya… Sudah bungkam saja diri ini. Raut wajahku ini sudah…

Bersajak yang merupakan rangkaian acara senampan daun pisang generasi ayah ini, nak. Engkau tidak tahu betul rasanya bersyair indah. Seperti yang akan ayah sampaikan nanti. “Dan dibukalah acara senampan daun pisang” Tidak ada sorak meriah? Tidak seperti masaku yang saat acara ini dibuka, meriahnya tidak bisa kalian bayangkan. Ada adu tatapan yang lama yang menang. Ada adu bersajak dan macam-macam itu. Sekarang sepi. Hening. Disaksikan anak-anakku melakukan rutinitas sendiri-sendiri di acara senampan daun pisang yang seharusnya harus bersama kawan-kawannya. Melakukan ‘ritual’ apa gitu. Telepon pintar itu membuat dunia barunya. Tidak ada senampan daun pisang sekarang? Tidak ada. Atau mungkin ‘ritual’ barunya anak-anak zaman sekarang adalah apa yang mereka ciptakan di genggamannya. Aku tidak tahu.

Menunggu hujan reda yang sama halnya menunggu sembuh dari terlena. Duduk di sebuah –cukuplah- selusin kenangan dan membiarkan kerinduan mengguyurnya habis. Tak habis-habis. Aku duduk sehabis membuka acara. Sendiri. Senampan daun pisang dihidangkan dan tak ada nampan dari daun pisang. Berganti wajah. Mungkin benar yang berbicara bukanlah lisan. Maka kulihatlah nampan itu kelu lidahnya yang sebenarnya mau berteriak bertanya atas acara apa ini? Acara keluarga? Tapi kok sepi! Begitu juga hidangan berganti wajah baru. Instan itu. Dan ternyata dia juga berteriak penuh tanda tanya, kenapa tidak lahap betul? Apa sakit? Jadinya aku bersajak: hujan yang diartikan tangisan. Sembuh dari terlena yang diartikan sembuh dari terlena pada bayangan, pada mimpi panjang, terlena pada sebuah kenangan. Cukuplah selusin kenangan yang artinya itu sudah membuatku bahagia walau cuman sepuluh kenangan saja. Tak habis-habis yang artinya itu adalah yang kuinginkan. Terjemahan yang buruk, bukan? Ya kalau diterjemahkan disini nanti jadi bosan bacanya kalian. Seperti bosannya anak-anakku dalam memeriahkan acara senampan daun pisang itu. Bosan entah karena apa. Tak tahu.

Dan gerimis tubuhnya merupakan memori masa lalu begitu menawan. Maka ditunggulah hujan. Tatkala hujan datang, reda hujan tak pernah lagi diharapkan. Itu penggambaran untuk kalian bahwa aku masih bermesra dengan kenangan. Makanya, harap jangan diganggu orang ini dalam dunianya sendiri. Biarkan saja.

IBNU SYA’NAH. RUMAH 03/05/2021

Cerpen Karangan: Uwais Qorni
Blog / Facebook: Ibnu Sya’nah

Cerpen Senampan Daun Pisang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Keajaiban Dunia

Oleh:
“Alisha cepat! Ibu sama Ayah udah siap nih!” Aku pun segera keluar rumah setelah mengambil barang-barangku. Hari ini Aku akan ke India karena Aku mendapat beasiswa kuliah di Univers

Agungnya Desaku

Oleh:
Hidup di tengah-tengah desa yang masyarakatnya masih memegang teguh kepercayaan sejak dulu, yang masih kental kebudayaannya sampai sekarang tidaklah luntur membuat Dhuan harus mengikuti semua peraturan-peraturan, mitos atau kebiasaan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *