Tanarigella

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Budaya
Lolos moderasi pada: 26 February 2021

Perkenalkan namaku abdul biasa dipanggil Beddu, ayah dan mamaku merupakan perantau dari Sulawesi bersuku bugis aku sendiri besar dan lahir di jakarta, sebagai orang bugis tentunya aku selalu bertanya sama ayah dan mamaku tentang Sulawesi, karena aku sendiri tidak pernah ke Sulawesi yang notabenenya merupakan kampung halaman ayah dan mama.

Aku sendiri penasaran dengan kampung ayah dan mama karena ayah sering menceritakan kalau kampungnya itu orang hidup Makmur disana dan mayoritas masyarakatnya merupakan petani, yang unik disana bahwa tidak ada kepemilikan pribadi atas sawah tersebut dan mereka menjalankan adat sudah dari turun temurun/

Tentunya aku penasaran dong ingin kesana, lalu aku memohon kepada ayah dan setelah ayah berpikir Panjang akhirnya ayah akan membawaku ke Sulawesi dengan syarat aku harus menyelesaikan pekerjaanku di perusahan milik ayahku sendiri dan tentu aku menyanggupinya.

Dua minggu telah berlalu, pekerjaanku di perusahan ayahku sudah selesai dan tentunya aku senang dong karena ayah telah janji kalau aku menyelesaikan pekerjaan dia akan membawaku pulang Sulawesi ke kampung halamanya, setelah itu aku pun bersiap-siap karena aku sekeluarga akan pergi ke kampung halaman ayah.

Setelah melakukan perjalanan pesawat yang amat melelahkan aku pun sampai di bandara internasional sultan hasanuddin dan kemudian kami dijemput mobil keluarga yang sudah menunggu karena ayah memang mengabarkan bahwa dia akan pulang.

Setelah melakukan perjalanan darat selama 5 jam aku pun sampai di kampung halaman ayah dan mama, disana kami disambut dengan gembira dan seluruh keluarga pun berkumpul, dan pertama kalinya juga aku berkenalan dengan sepupu-sepupuku. Dan aku pun menyapa salah satu sepupuku, “haiii namamu siapa?” kataku, “namaku ahmad” katanya “oh ahmad, kamu kerja di mana ahmad”, ahmad pun menjawab “aku kerja di salah satu perusahan yang bergerak di bidang pertanian”, setelah berbincang agak lama aku mulai bertanya mengenai tanarigella yang dimana sawah mereka garap tidak ada kepemilikan pribadi yang selalu ayah katakan, dan ahmad pun terdiam sejenak dan kemudian ahmad membawaku pergi jalan-jalan katanya sambil jalan-jalan dia akan menceritakan tanarigella itu bagaimana.

Setelah itu aku dan ahmad pergi jalan-jalan menggunakan motor, setelah beberapa menit kemudian aku pun sampai di pinggir sawah kemudian ahmad mengajak ku untuk duduk di salah satu pematang sawah, lalu dia menjelaskan tanarigella itu seperti apa? ahmad bilang bahwa tanarigella adalah hukum adat kerajaan kalola yang saat ini terbagi dalam beberapa desa tanarigella yakni tanah yang memiliki system sendiri (otonomi) yang berarti bahwa masyarakat tidak tunduk pada kerajaan wajo dan kerajaan luwu tapi dilidungi oleh kedua kerajaan tersebut, setelah itu aku bertanya lagi karena merasa penasaran, “lalu apa arti dari rigella tersebut?” Lalu ahmad menjawab bahwa “arti rigella itu sendiri, rigella berarti pohon kayu yang dikupas kulitnya atau semacam dicangkok yang merupakan salah satu wujud dari otonomi tersebut dapat dilihat dalam pengelolahan lahan pertanian dimana masyarakat mengikuti aturan-aturan yang ada dalam buku tunrung datu kalola yang telah ditetapkan oleh pihak kerajaan kalola”.

Lalu aku bertanya lagi “bagimana masyarakat mengelolanya?” dan ahmad bilang kalau dari dulu sampai sekarang masyakarat mengelolah lahan tersebut secara bersama-sama atau biasa disebut komunal dan masyarakat mengikuti aturan-aturan yang ditetapkan secara bersama.

Lalu aku bertanya lagi, “kapan adat tersebut ada dan diterapkan oleh masyarakat kerajaan kalola?” kataku, lalu ahmad menjawab bahwa menurut Lontara hal tersebut sudah dilakukan sekitar abad 15-16, lalu aku membalasnya “berarti sudah dari dulu sebelum adanya Indonesia dan sudah sangat lama”, lalu ahmad mengatakan “yaa seperti itulah sudah dari dulu dan adat ini sudah turun temurun dijalankan oleh masyarakat sampai detik ini”.

Lalu aku menyimpulkan dari apa yang dijelaskan ahmad, “ohh berarti system otonomi itu di kalola sudah ada pada masa kerajaan dan digunakan juga sekarang oleh pemerintah Indonesia dimana daerah atau provinsi mengelola sumber dayanya sendiri”, lalu ahmad bilang, “bukan hanya system otonomi tapi pada abad 15-16 kerajaan wajo atau sekarang kabupaten wajo sudah mengenal yang namanya demokrasi”, lalu ahmad pun memberiku kopi yang masih hangat yang disimpam di tumbler yang dibawah oleh ahmad dari rumahnya dan tidak terasa hari sudah sangat sore aku dan ahmad pun menyeduh kopi panas sambil menikmati senja di pinggir sawah. Lalu dari cerita ahmad tadi rasa penasaranku pun terjawab dan paham tanarigella itu seperti apa.

(Sebuah cerpen untuk memperkenalkan adat istiadat masyarakat kalola wajo)

Cerpen Karangan: Patiware
Blog / Facebook: Andi Bau Sunarto

Cerpen Tanarigella merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kekejaman Cinta Budaya

Oleh:
Tik.. Tok.. Tik.. Tok.. Tik…. Suara detikan jarum jam di ruangan gelap ini membuat jantungku terasa ingin keluar dari tempatnya. Perkenalkan aku Ajeng Rahayu, aku adalah lulusan dari UNS

Terpesona Olehmu Danau Toba

Oleh:
Awan putih bergumul gumul seperti kapas berarak santai lemah gemulai di langit. Sesekali matahari yang sedang mempertontonkan kekuatan sinarnya kesal karena tertutupi oleh awan. Dengan sedikit bantuan angin matahari

Jamu Update

Oleh:
Memang ribet kalau udah urusan sakit perut, entah kenapa akhir-akhir ini aku sering buang air besar. Bolak-balik wc membuat bunda kebingungan. Apalagi kucing peliharaan ku, mengeong melulu gara-gara tidak

Pucuk Harapan

Oleh:
Siang hari langit teduh dan tampak kebiruan. Matahari bersinar terang tanpa segumpal awan pun yang menghalangi rerimbunan rumpun pohon bambu. Sejuk angin yang berhembus dari celah rerimbunan pepohonan yang

Anak Bangsa

Oleh:
Rasa kesal di hati membuatku geram. Seperti kata guru seniku bahwa Angklung LAGI LAGI diklaim negara tetangga. Apa-Apaan mereka itu!. Seperti tidak ada kebudayaan Hai, namaku Ara. Aku adalah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *