When I Realize

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Budaya, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 4 October 2018

Bercerita mengenai budaya, tentunya setiap kelompok maupun individu memilikinya. Kata orang suatu kebudayaan tidak hanya menjurus bahwa kita harus menjaga atau mempertahankannya saja, melainkan berusaha memajukan dan menghargai karena kebudayaan adalah barang yang dapat tumbuh lalu bisa hilang dan juga bisa maju.

Namaku Sendang Lelo. Saat ini aku berusia 15 tahun yang tentunya masih duduk di kelas 1 SMA. Akan aku ceritakan sepenggal pengalaman hidup yang sukses menyentak 180 derajat alur aktivitas hidupku.

Story ini berawal saat aku begitu menggilai hobi-hobiku seperti belanja online shop dari luar negeri, bermain gadget, bermain alat musik listrik, DJ, modern dance, datang ke konser musik luar, hingga menonton film hasil produk luar negeri. Intinya jauh dari kata tradisional atau apapun yang berbau kuno.
Terkadang aku juga jarang berada di rumah saat hari libur. Dan lebih memilih berkumpul bersama Intan dan Nadia yang notabenenya sahabat-sahabatku sejak SMP. Kita punya kegemaran yang nyaris sama, maka dari itu mereka seperti saudara kembarku sendiri.

Hobi-hobiku ini kerap kali mendapat ocehan nenek, paman dan bibi.
“Berhenti bermain gitar listrik itu dengan berlebihan. Selain menghasilkan suara yang sangat memekakkan telinga, benda itu juga tak menghemat listrik. Sebaiknya, kau belajar alat musik daerah seperti Bonang, Gamelan, Saronen, Angklung. Apa nenek perlu memasukkanmu juga ke sanggar tari daerah? Nenek mengatakan ini agar kau mengenal kebudayaan tanah kelahiranmu sendiri, sayang” oceh nenek waktu itu.
Kalau paman dan bibi kurang lebih seperti ini.
“Apa yang diucapkan nenek itu sangat benar. Kegemaranmu itu membuat lupa budayamu sendiri dan seperti menjurus ke budaya luar. Lalu untuk apa kau menghafal dasar negara jika kau sendiri tak bisa memfilternya”
Sikapku hanya perlu pura-pura mendengarkannya lalu mengabaikannya. Kesal? Tentu saja, siapa yang tidak kesal kalau kesukaanmu direcoki setiap waktu? Ini hidupku, aku nahkodanya jadi aku berhak melakukan apa yang aku sukai dan tidak aku sukai.

Jangan berkata aku anak pembangkang. Untuk yang masalah hobiku, aku akui bahwa aku anak paling bandel. Kalau terlepas hobiku, aku adalah anak penurut sebagaimana didikan nenek yang keras dan disiplin. Walau nenek keras mendidikku tapi ia jarang memaksa hak-hak pribadiku seperti kegemaran. Orang tua? Saudara-saudaraku? Mereka semua ada. Tapi kita tak tinggal satu atap. Mereka di Pulau Sulawesi sedangkan aku di Pulau Jawa. Walau begitu hubungan kita tetap harmonis-harmonis saja karena kita saling menjaga komunikasi yang baik.

Waktu itu Hari Minggu, hari yang paling dinanti-nantikan semua pelajar. Seperti biasa, aku berkumpul bersama Intan dan Nadia. Kita nonton bioskop hingga battle dance kami lakukan. Sampai pada pukul 1 siang, kami berhenti dari kegiatan kami lalu melakukan aktivitas kewajiban kami sebagai muslim yaitu sholat. Selepas sholat kami beranjak menuju ke KFC untuk makan siang bersama, itu tempat langganan kami jika kami ingin mengisi lambung.
Aku masih mengingatnya. Sambil menunggu pesanan kami datang, terjadi obrolan menarik diantara kami.

“Tau nggak sih? Budaya-budaya Jepang tuh bagus banget. Aku pengen pakek baju kimono” celoteh Intan.
“Lah, baru nyadar? Kemana kamu aja, tan?” tanyaku dengan nada khas meledek.
“Ih, fokus kamu ke Negeri Ginseng itu sih. Makanya buta sama yang laen. Hahaha” saut Nadia.
Aku ikut tertawa kecil menanggapi ledekan Nadia pada Intan. Lantas, Intan memasang raut cemberut setelah mendengar ledekan kami.
“Wisatawan dunia pun berbondong-bondong ingin mencoba pakaian tradisonal Jepang itu. Berbeda dengan baju tradisional negara kita, turis aja liatnya kek mentah-mentah gitu” ucap Intan.
“Iya sih. Menurutku, Kimono lebih bagus dari baju-baju tradisional dari provinsi manapun” ujar Nadia sambil mengotak-atik smartphonenya.
“Budaya Indonesia kek nggak ada apa-apanya gitu. Kalah bagus sama negara-negara tetangga. Nenekku mah marah-marah melulu. Nyuruh belajar main alat musik Bonang lah. Hello hari gini masih bau bau kuno? Nggak level sama sekali” ujarku memanas.
“Tempat-tempat wisata Indonesia pun nggak sewow tempat wisata yang dimiliki negara-negara tetangga. Huh, benar-benar standar” tambah Nadia. Lalu kami tertawa mengejek. Tak selang lama, makanan yang kami pesan sudah tertata rapi di meja kami.

Beberapa hari kemudian, sekolah kami libur panjang usai mengadakan UAS ganjil. Hal itu adalah keberuntungan plus bagi semua pelajar, termasuk kami bertiga. Untuk liburan kali ini, kami telah menyusun rencana-rencana yang akan kami lakukan bersama untuk mengisi libur panjang. Namun, rencana-rencana itu dengan setengah hati kami batalkan. Karena untuk liburan kali ini aku diharuskan pulang ke Sulawesi oleh abiku. Aku sudah berusaha keras menolaknya, tapi abi tetap bersikukuh menyuruhku pulang.

Hingga hari itu datang, paman dan bibi hanya bisa mengantarku sampai bandara. Selebihnya aku menaiki pesawat sendiri lalu di sana aku akan dijemput oleh abi dan ummi. Setelah sampai di Bandara Haluoleo Kendari, Sulawesi Tenggara aku melangkah menghampiri abi dan ummi yang sedang menungguku di pintu gerbang kedatangan. Mereka menyambutku dengan pelukan hangat.

Aku pikir rumahnya tak jauh dari bandara. Tertanya, kami harus menaiki kapal terlebih dahulu selama 2,5 jam.
“Ummi, apa rumahnya di daerah pelosok atau perbatasan? Kok pakai naik kapal segala?” tanyaku pada ummi. Mengingat ini pertama kali aku menginjakkan kaki ke Pulau yang memiliki berbentuk seperti huruf K ini.
“Tidak, Sen. Rumah kita berada di Kota. Namanya Kota Raha itu termasuk wilayah kabupaten” jawab ummi tenang.
“Pasti di sana membosankan karena tidak ada sinyal” gerutuku kecil.
“Abi jamin Sendang pasti betah dan tak mau kembali nanti” saut Abi.
Aku bermalam di Raha selama 7 hari. Di sanalah awal mula aku mendapat pelajaran yang sangat bermakna.

Hari pertama, kami pergi ke Air Terjun Moramo yang berlokasi di Kota Konawe. Pertama apa yang aku pikir adalah air terjun ini sangat mengagumkan. Air terjun yang bertingkat indah dengan 7 tingkatan utama. Suasana di sini sangat menenangkan sama seperti suasana rumah yang ada di Raha karena tak jauh dari pesisir pantai. Ini sangat bertolak belakang dengan asumsi yang dibicarakan Nadia beberapa waktu lalu di KFC, ingat kan?

Kupikir aku dan saudara-saudaraku akan berenang bebas di sini tapi tidak, kami justru mendapat didikan bak militer dari abi. Benar-benar menguras tenaga fisik dan mungkin juga batin karena abi juga tiba-tiba membentak-bentak kami. Awalnya aku jengkel sekali, meskipun capek dan kulitku serasa terbakar karena cuaca sangat terik saat itu aku harus tetap melakukan perintah-perintah abi. Ini sangat berat untuk kulakukan karena kulakukan dengan terpaksa. Dan bodohnya aku baru ingat bahwa abi adalah seorang prajurit Indonesia, alias TNI.

“Jika kau merasa berat dan sulit dalam mengerjakan suatu hal, berarti kau tidak ikhlas dalam mengerjakannya” petuah kakak pertamaku dengan logat khas daerah. Kak Sesar namanya. Dari apa yang dikatakan kakak, aku mulai menerima ini dengan sepenuh hati. Dan tak butuh waktu lama aku menyukai didikan khas dari abi karena hal ini yang pertama dalam hidupku.

Petang telah muncul menggantikan awan biru di langit Sulawesi. Kami beranjak pulang ke Kota Raha, rumah kami. Malamnya, kami diberi istirahat sejenak sampai setelah sholat isyak. Selepas itu, aku diajari abi bela diri asal Indonesia, Pencak Silat. Disela-sela kami belajar, aku bertanya kepada kak Riki kakak keduaku “Kenapa tidak taekwondo atau wushu saja? Kan lebih keren gitu”
Lalu Kak Riki menjawab bermaksud menyindirku “Bela diri asal Indonesia juga nggak kalah kerennya kok. Oleh karena itu, kami belajar ilmu beladiri bersama anak-anak yang didirikan abi. Bukan justru membangga-banggakan sesuatu milik orang lain dan lupa apa yang dimilikinya. Ingin dihargai miliknya tapi malah diremehkan, jadi bagaimana bisa orang lain menghargai miliknya?”.
Perkatakan kak Riki membuatku diam seribu bahasa. Membuat otakku terus menerus menayangkan serentetan kata-kata kakakku. Apa yang dikatakan kakakku seperti menamparku habis-habisan. Bagaimana tidak? Hal semacam ini mengingatkanku pada obrolan bersama Nadia dan Intan saat makan siang waktu itu. Malam-malam berikutnya, aku belajar beladiri sampai hari ke-7 lumayan aku anaknya agak lincah jadi aku berhasil banyak menguasai ilmu ini dalam waktu singkat.

Hari kedua, kami pergi ke Bukit Teletubies Bombana dan sama seperti Air Terjun Moramo tempat ini benar-benar sangat bagus. Melihat bukit ini membayangkan kita berada di desa the hobbit dalam film The Lord of The Rings. Flora fauna disini juga sama persis dengan Madagaskar di Afrika. Tujuannya kesini sama seperti kemarin yakni didikan militer.

Kemudian hari ketiga sampai hari keenam, aku didaftarkan abi menjadi relawati peduli alam. Aku bersama saudara-saudaraku masuk dalam komunitas resmi milik TNI bertajuk Peduli Alam Indonesia. Lewat forum ini, aku belajar sangat banyak salah satu manfaat yang bisa aku ambil adalah media praktik bagi yang berkaitan dengan berbagai materi pelajaran sekolah, sarana pembinaan budi pekerti, serta masih banyak lagi.

Tugas pertamaku sebagai relawati yaitu aku menanam terumbu karang di semua pesisir pantai di sekitar Kota Kendari seperti pesisir Pulau Bokori, pesisir Pulau Senja, Pantai Nirwana, dan lain-lain. Panorama pesisir serta kehidupan coral di kedalaman laut membuat pantai-pantai ini sangat indah bak surga dunia. Aku mulai menyadari dan yakin bahwa Indonesia juga punya banyak destinasi panorama-panorama yang lain yang wajib di-explore oleh wisatawan domestik maupun manca negara mengingat bahwa negaraku adalah negara kepulauan. God, aku seperti menjilat ludahku sendiri kala aku mulai membanggakan milik Indonesia.

Hari ketujuh, aku dan Kak Sesar mengitari Kota Raha dengan bersepeda. Aku terheran kenapa tidak pakai sepeda motor saja? Lebih cepat dan tidak mudah lelah namun tak kugubris rasa penasaranku. Sepanjang perjalanan, aku melihat banyak sekali rumah-rumah warga yang masih berkhas tradisonal daerah. Kalau dilihat rumah-rumah ini sangat unik bentuknya salah satunya atap rumah yang berbentuk seperti perahu terbalik. Pohon-pohon di sini masih sangat lebat dan asri, juga jarang terdapat pabrik industri yang berdiri.

Dan kami tiba-tiba berhenti saat ada sekerumunan orang-orang yang berkumpul di lapangan tak jauh dari kami, ramai sekali seperti ada pertunjukan yan menarik. “Itu parade” Kak Sesar menyeret tanganku bermaksud mengajakku untuk melihat parade yang dibilang Kak Sesar. Ternyata ada sekawanan muda-mudi yang sedang menari tarian daerah. Aku memperhatikannya, seperti tersedot dalam tarian-tarian itu.Tarian itu sangat luar biasa koreografrernya, aku tak bisa menjelaskannya dan terbesit aku juga ingin bisa menari seperti itu. Cepat-cepat aku mengeluarkan ponsel cerdasku lalu meangktifkan akun sosial mediaku untuk merekam dan mengvideo secara langsung parade itu.

“Bagaimana? Sangat bagus kan, dek?” tanya Kak Sesar memecah lamunanku.
“Tari Malulo, yang kedua tadi Tari Motasu, dan yang ke tiga Tari Dinggu. Itu semua berasal dari sini. Dan tari yang terakhir kau pasti tau karena berasal dari daerahmu” ujar Kak Sesar.
‘Tidak. Aku tidak tau sama sekali’. Batinku
“Yang terakhir, Tari Jaipong. Setiap tarian memiliki makna masing-masing” Kak Sesar menjawab seperti telah mendengar batinku berucap.

Setelah parade itu selesai, Kak Sesar mengajakku ke sanggar tari terdekat. Disana, aku belajar tarian daerah, memainkan alat musik daerah, dan menyanyikan lagu-lagu daerah. Aku sangat malu, karena aku tidak hafal lagu-lagu daerah satupun. Huh, untuk pertama kalinya aku ditertawakan sama anak kecil.

Malam terakhir aku di Raha, aku bersama Kak Riki dan Kak Sesar bercengkerama dengan ditemani dengan hangatnya api unggun. Perasaan marah, kesal, menyesal, khawatir, dan tak rela mulai kurasakan saat kami bercerita mengenai Budaya Nusantara, bahwa banyak sekali Budaya Nusantara yang diklaim negara-negara lain secara satu persatu. Aku baru tau jika ada warta seperti ini. Aku tak mau membiarkan ini terus berlanjut dan apapun caranya aku ingin melestarikan, membuat maju lalu membuatnya seterkenal budaya-budaya milik negara lain, tekadku.

Sudah kukatakan bukan bahwa aktivitas kegemaran hidupku berubah 180 derajat, setiba aku pulang dari Sulawesi. Aku banyak mendapat pelajaran-pelajaran hidup yang berharga tak ternilai. Aku seperti menemukan oase di tengah gurun pasir.

Selepas dari sana, aku masih menekuni kegiatan relawati PAI(Peduli Alam Indonesia). Bahkan aku juga tergabung dalam komunitas Jelajah Budaya, dimana komunitas ini akan melakukan kegiatan mengenalkan budaya-budaya Nusantara pada wiasatawan dunia dan anak-anak. Dan juga aku terdaftar sebagai anggota dari sanggar tari daerah yang disarankan oleh nenek, tak lupa juga mengikuti club pencak silat.

Lelah? Tidak, justru ini sangat menyenangkan dan juga karena aku bisa memanajemen diri. Aktivitas ‘kegemaran’ku ini membuatku sedikit lupa dengan hobi-hobiku dulu. Tapi, tidak membuatku lupa pada sahabat-sahabatku. Mereka bahkan justru mendukungku dan mengikuti jejakku. And this is the strory of a piece of my life that i thought the trip unforgettable.

Hargailah apa yang kamu miliki sekarang sebelum orang lain yang menghargainya, karena jika kau meremehkannya orang lain pun juga akan meremehkannya. Benar bukan?

The End

Cerpen Karangan: Dara Cahya
Blog / Facebook: Cahya Maudy

Cerpen When I Realize merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Penggila Hati

Oleh:
Kesalahan terbodoh yang pernah kutemui, ialah kita melihat sebuah realita, dan kita tidak memercayainya. Namanya, Ana. Sahabatku sejak kelas dua SMP. Dia satu-satunya orang yang bisa mengerti apa yang

Cinta Bukan Pilihan

Oleh:
Cerita ini dimulai saat usiaku genap 17 tahun. Saat ini aku adalah seorang siswi di sebuah sekolah ternama di surabaya, SMA Gemilang. Aku dilahirkan dan dibesarkan dari sebuah keluarga

My Secret Identity

Oleh:
Senin pagi dengan hati yang berdegub kencang, aku (Anita) sudah berada di depan laptop. Menanti sebuah hasil keputusan yang menentukan masa depan dan cita-citaku. Dengan hati-hati aku mengisi kolom

Dia Bukan Untukku

Oleh:
Namaku Lili, aku seorang gadis yang selalu ceria. Walau terkadang masalah dalam hidupku selalu datang silih berganti. Aku termasuk pribadi yang tertutup, mungkin karena aku jarang sekali bergaul dengan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *