10 Januari

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Cinta Pertama, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 22 August 2017

Waktu cepat berlalu, namun tak akan mampu mengikis rasa rinduku yang semakin hari kian mendalam, harapan dan asa yang kupunya bagaikan sebuah dermaga yang luas dan tak pernah mengering, tetapi tak pernah tersinggahi oleh dia, inilah antara aku dan perasaanku yang terpendam, sangat terpendam hingga dia tak pernah mengetahuinya, dia adalah seorang pemuda yang beranjak dewasa, sedari dia remaja aku sudah menaruh hatiku pada dirinya.

Heningnya malam disertai dinginnya yang seakan merayuku untuk tertidur sekarang juga, namun tak akan sanggup meruntuhkan niatku di malam ini, karena akan kutunggu hingga pergantian hari, esok adalah tanggal 10 januari, tepat dia berulang tahun yang ke-21, rasanya waktu cepat sekali berganti hingga kini dia sudah menjadi seorang mahasiswa jurusan teknik di salah satu universitas di kota ini, aku mulai berani mengucapkan selamat ulang tahun ketika dia beranjak 17 tahun, ketika itu aku sudah tidak bisa melihatnya lagi, karena kita sudah berada di sekolah yang berbeda, dia bernama Heri, nama yang tak asing di telingaku, bagaimana tidak setiap hari nama itu selalu terngiang di pikiranku dan kadang selalu terucap dalam lisanku, walau dia tak Nampak namun hati dan pikiranku selalu mengatakan hal yang sama jika membahas tentang Heri.

Di kamarku yang sederhana, mata ini tak pernah lepas dari pandangan jam dinding yang menempel di dinding kamar, tepat pukul 00.00 wib, kuambil handpone yang ada di meja kecil di samping tempat tidurku, lalu aku masuk ke akun facebooku dan mengirimnya pesan “Happy birthday her, semoga Allah senantiasa menjagamu, semoga kamu senantiasa bersujud kepada penciptamu”. Aku lega bisa mengirimkan pesan itu kepadanya, semoga do’a ku dapat dikabulkan oleh Allah SWT, dan semoga dia menjadi pribadi yang lebih baik lagi, setiap tanggal 10 januari aku dapat melihat ketikan tangannya, dia selalu membalas pesanku dengan kata “iya ya makasih”, dibalas seperti itu saja, rasanya aku seperti terbang ke langit melintasi awan-awan.

Hari ini adalah hari perpisahan di sekolah, aku memakai kebaya berwarna merah, kerudung berwarna merah, dan sedikit riasan di wajahku, di dalam sekolah telah banyak murid-murid lainnya yang begitu formal memakai kebaya bagi siswi dan untuk para siswa ada yang memakai jas, adapula yang memakai kemeja batik, aku duduk bersama temanku mia, menghadap panggung yang cukup besar, mia banyak menceritakan masa-masa di smp kepadaku.

“Aduh gak kerasa ya, kita udah mau lulus lagi, vid” ucap Mia,
“Iya, seakan baru kemarin kita masuk smp, udah mau lulus lagi nih hehe” ucapku
“Hai mia, hai vidi, cie cantiknya kalian pada pakai kebaya” sapa Windy

Windy mengajak kami berdua untuk ke dalam kelas, bersalam salaman dengan teman-teman lainnya, aku menemukan Heri bersama kawannya, dia baru sampai di sekolah, dia terlihat tampan, dengan memakai kemeja berwarna biru laut, bermotifkan batik berwarna putih, memakai jeans berwarna hitam, rambut yang cukup rapi, dia melihat ke arahku, aku langsung memalingkan pandanganku padanya, dia memang selalu melihat ke arahku, aku masih ingat satu persatu tatapannya yang mengarah kepadaku, karena itulah aku selalu bertanya Tanya tentang tatapannya itu, hingga kebiasaan memandangnya juga, mungkin dari situlah rasa ini muncul dan tumbuh di hatiku, seakan tatapannya adalah media dimana perasaanku tak terkendali.

Di salah satu tembok menuju tempat perpisahan telah disediakan kain besar berwarna putih membentang menempel di tembok, setiap siswa wajib menandatangani di kain tersebut per kelas dan per absen, aku melihat dia di nomor absen ke 18, tandatangan yang sederhana, dia memang sederhana, dia selalu pulang duluan setiap bel sekolah berbunyi, tidak seperti anak-anak yang lainnya yang selalu nongkrong sebentar di sekolah, aku sedang duduk lagi bersama Mia dan Windy, aku melihat Heri melihatku dan tiba-tiba dia tersenyum malu sembari mengusap kepalanya, lalu berputar arah “iya ayo kita difoto” ucapnya kepada temannya yang ada di sampingnya, suaranya terdengar di teligaku, “Apakah dia salah tingkah?” pertanyaan itu yang menetap di kepalaku, mungkin dia salah tingkah karena melihat Mia atau Windy, aku tak ingin punya perasaan percaya diri, takutnya apa yang aku asumsikan salah, mungkin suatu saat dia yang akan menjawabnya langsung.

Hari ini pembagian ijazah aku sedang mengantar temanku Tiwi ke fotocopy di seberang sekolahku, aku menunggunya sembari duduk di atas tembok yang seperti tempat duduk, mataku mengarah ke sebuah gerbang kecil di sekolah, aku senang sekaligus kaget, kudapati sosok Heri sedang duduk di sana dibalik gerbang menatap ke arahku, aku yang melihatnya menjadi salah tingkah, aku menunduk dan sesekali melihat lagi ke arahnya, dia masih menatapku, jantungku berdetak nyaring sekali hingga aku tak hanya bisa merasakannya tapi juga mendengarnya, cukup lama aku terpaku di sana, dan ketika aku melihat lagi ke arah sana, tak ada lagi sosok itu, kulihat dia berjalan bersama temannya menaiki angkot, dan saat itu adalah saat terakhirku melihatnya, aku tak bisa lagi untuk melihat tatapannya, aku selalu flash back ke masa itu, dari dia berumur enam belas tahun dan kini mengijak dua puluh satu tahun.

Mungkin aku salah kira, dugaan yang selama ini aku asumsikan mungkin salah, hingga sekarang dia tidak pernah mencariku ataupun menghubungi aku, tapi entah kekuatan dari mana aku masih ingat betul tentang tatapannya dia, aku tak bisa melupakannya, mungkin ini yang dinamakan “power of love”, aku masih mengawasinya walau hanya lewat media sosial, terserah dia akan mengatakan apa akan aku, yang ku tau dia telah menjagaku hingga detik ini dari cinta yang salah, dan dia hingga detik ini belum pernah mengumumkan hubungannya dengan seseorang, ataupun foto berdua dengan seorang gadis di akun sosial miliknya, itu sudah cukup berharga bagiku, setiap tanggal 10 Januari aku selalu bisa menyapa dan mendo’akannya, biarlah menjadi rahasia Allah tentang aku dan dia, jika berjodoh itulah yang terbaik, jika tidak pastilah ada yang lebih baik.

Cerpen Karangan: Novita Dewi Indiani
Facebook: Indiani Wiendiani

Cerpen 10 Januari merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tuhan Kumohon Sekali Lagi (Part 2)

Oleh:
Annisa tampak terlihat cantik mengenakan kaos dengan rok pas atas lutut, dengan mengenakan sneakers warna putih, rambutnya digerai. Dia sengaja untuk terlihat sangat cantik hari ini, hanya untuk bertemu

Ketika Rasa Dipertemukan

Oleh:
Waktu… seperti sungai, selalu mengalir, meskipun kita menyentuh air sungai tersebut, tak akan sama dengan air sungai yang pernah kita sentuh sebelumnya. Air sungai itu akan terus berlalu dan

Gara Gara Si Kembar

Oleh:
“Tan, kamu mau nggak jadi pacarku?” Kata-kata itu masih terus terngiang di telingaku. Kata-kata yang singkat namun langsung mengena di hati. Kata-kata yang terlontar langsung dari bibir seorang cowok

Harapan Kosong

Oleh:
Angin malam senantiasa menyentuhku yang tengah sendiri dalam naungan pohon mangga ini. Melamunkan kisah indah yang dulu sempat terlukis namun pahit pada akhirmya. Flashback Aku sudah menyukainya dari dulu.

Friendzone

Oleh:
Nama gue Nadila Salshabila yang akrab disapa Nadil. Disini gue mau cerita tentang kisah cinta gue yang amat sangat rumit dengan seseorang panggil saja Dav. Kita ketemu di sekolah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *