127 Detik

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam)
Lolos moderasi pada: 21 March 2017

Seperti hujan yang terus turun tanpa bisa kita hentikan sesuka hati, seperti itu pula kenangan itu terus terputar di otakku tanpa bisa aku hentikan. Bahkan aku tak tahu itu kenangan indah atau kenangan buruk. Terkadang aku senyum-senyum sendiri mengingatnya, tapi terkadang kenyataan menamparku bahwa hal itu hanya akan membuatku hidup dalam angan-angan. Mungkin saja bagiku untuk menjadikannya kenyataan tanpa aku harus berkhayal setiap hari. Tapi itu adalah hal tersulit untukku, aku terlalu pengecut untuk mengungkapkannya. Aku menutup rapat mulutku selama 1 tahun ini, bahkan menjauhinya saat aku mempunyai kesempatan untuk dekat dengannya. Gengsiku terlalu besar untuk mengakui aku menyukainya. Aku sungguh tak mau orang lain mengetahui aku dekat apalagi suka dengannya, bahkan aku sulit untuk mengatakan pada diriku sendiri bahwa benar aku menyukainya.

Pagi ini mentari bersinar cerah seperti biasanya. Aku mengemasi baju dan segala keperluanku ke dalam ransel dan satu kardus berukuran sedang. Hari ini aku akan pergi meninggalkan kota kelahiranku untuk menuntut ilmu ke kota orang, itu berarti aku juga akan berada jauh darinya. Aku bahagia karena diterima di Universitas impianku, tapi di sisi lain hal yang harus kukorbankan adalah berada jauh dari orangtuaku, kampungku, teman-temanku, dan juga dirinya. Aku tahu resiko itu sejak awal, tapi hal itu adalah sebuah pengorbanan demi sebuah impian. Jauh dari dirinya mungkin suatu jalan untukku agar bisa melupakannya. Menghapus semua ingatan tentangnya dan menyembuhkan luka yang ada karenanya.

Semua sudah siap, aku berpamitan dengan Ibuku dan memeluknnya. Aku akan sangat merindukanmu Ibu. Aku janji tak akan mengecewakan Ibu dan juga Ayah. Aku tak akan menyia-nyiakan pengorbanan Ayah dan Ibu. Aku akan selalu mengingat pesan Ibu untuk menjaga diri dan belajar dengan baik.

“Aku berangkat, Assalamualaikum” ucapku seraya mencium tangan Ibu. Lalu bergegas naik ke motor, ayahku telah siap menarik gas motornya untuk mengantarku ke terminal yang jaraknya sekitar 20 km dari rumahku, cukup jauh memang.
“Waalaikumsalam, hati-hati” sahut Ibuku tersenyum simpul. Namun terlihat jelas di raut wajah Ibu, lebih banyak yang ia sembunyikan daripada yang ia tampakkan.

Sepanjang jalan aku hanya melamun dengan segala pikiran yang campur aduk memenuhi otakku. Aku berharap bisa melihatnya sekali saja sebelum aku pergi jauh dari kota ini. Tapi harapan itu pudar saat aku melewati rumahnya, tak kutemukan dirinya di sana. Mungkin aku terlalu berlebihan, berharap yang tidak-tidak.

Ayahku mengerem motor mendadak dan membuat helm yang kukenakan berbenturan dengan helm yang ayahku pakai, membuyarkan semua lamunanku.
“kenapa yah?” tanyaku penasaran.
“Ada kecelakaan” jawab Ayahku.

Kerumunan orang mengelilingi korban. Sebagian orang langsung menghampiri korban untuk menolongnya, ada yang menelepon ambulans dan juga petugas kepolisian terdekat, sebagian lainnya hanya melihatnya dengan tatapan prihatin, ada juga yang ketakutan melihat darah, serta menyuarakan pendapat tentang penyebab-penyebab kecelakaan. Tak butuh waktu lama ambulans telah datang dan mengevakuasi korban di bantu dengan warga sekitar

Aku terkejut saat melihat orang yang kecelakaan adalah Alya teman baikku di SMA. Dan yang lebih mengejutkan, orang yang bertabrakan dengan Alya adalah dia, Adrian. Orang yang ingin kulihat sebelum aku pergi, orang yang sangat ingin aku lupakan. Air mataku tumpah seketika melihat darah di sekujur tubuh Alya dan juga Adrian.

“Yah, itu temanku. Kita ke rumah sakit dulu, nanti aku berangkat setelah dari rumah sakit. Aku ingin memastikan keadaannya” ujarku cepat pada Ayahku saat ambulans mulai meninggalkan lokasi kecelakaan.
“kamu yakin?” tanya ayahku meragukan hal yang akan kulakukan.
“Yakin Yah, ayo cepat” ucapku meyakinkan ayah. Ia pun langsung menstarter motornya mengikuti ambulan yang membawa mereka.

Setelah sampai di rumah sakit aku melihat mereka telah dibawa ke ruang UGD dan sedang ditangani oleh dokter. Aku menunggu di depan UGD dengan perasaan cemas dan takut, sedangkan ayah menungguku di parkiran. Aku berharap semoga mereka tidak terluka parah.

Setelah penanganan pertama, Alya dibawa keruang perawatan tapi tidak dengan Adrian yang masih berada di ruang UGD. Aku memutuskan untuk mengikuti Alya ke ruang perawatan. Alhamdulillah kata dokter yang menangani Alya, Alya hanya mengalami luka gores yang tidak begitu parah. Hanya saja ia terlalu shock sehingga membuatnya kehilangan kesadaran cukup lama.

Aku tak mungkin menunggu Alya hingga sadar, karena aku tak punya waktu lama di sini. Masih ada yang harus kupastikan sebelum aku pergi dari rumah sakit ini. Aku berpamitan pada kedua orangtua Alya dan meminta maaf karena tidak bisa menunggu Alya sampai sadar memakai alasan takut kemalaman saat sampai di kota tujuanku.
“Maaf Al, cepat sembuh” gumamku dalam hati seraya melihat Alya yang masih terbaring tak sadarkan diri.

Aku bergegas kembali ke UGD untuk memastikan bahwa Adrian baik-baik saja. Namun hal yang kulihat di depan UGD adalah kepanikan seorang nenek setelah berbicara dengan dokter yang menangani Adrian.
“Suster, bagaimana keadaan pasien korban kecelakaan tadi?” tanyaku pada suster yang baru saja keluar dari UGD.
“Pasien kehilangan banyak darah dan membutuhkan donor darah dalam waktu 24 jam. Tapi golongan darah keluarga yang ada di sini tidak ada yang sama, sedangkan orangtuanya sedang berada di luar kota dan tidak tahu apakah bisa sampai dalam waktu 24 jam. Dan ketersediaan darah di rumah sakit ini yang sesuai dengan pasien sedang kosong saat ini” terang suster panjang lebar. Tubuhku serasa melemah mendengarnya. Seluruh tubuhku merasa gemetar, namun aku mencoba mengontrol diriku untuk tetap kuat.
“Apa golongan darahnya?” tanyaku setelah mengontrol detak jantungku yang mulai tak karuan.
“A” jawab suster yang membuatku langsung bersimpuh. Aku fikir aku akan kehilangan dia. Tapi Allah menunjukkan kuasa-Nya. Aku merasa lega dan sangat senang. Mendapati bahwa golongan darahnya sama denganku. Aku bergegas berdiri dan memberitahu suster bahwa golongan darahku A dan aku ingin mendonorkan darahku untuknya.

Setelah melewati prosedur yang ada, kini darahku mulai mengalir ke tubuhnya. Kulihat ia terbaring tak sadarkan diri. Aku menyesal karena telah berharap ingin bertemu dengannya sebelum aku pergi. Lebih baik aku tak melihatnya daripada melihatnya dengan keadaan seperti ini. Tetes demi tetes air mata mengalir di pipiku.
“Kenapa kau selalu membuatku menangis?” lirihku pelan di iringi sesak yang menyeruak di dadaku. Tangisku semakin menjadi saat itu.

Semua prosedur selesai dilakukan dan donornya berhasil. Aku bergegas pergi setelah teringat kalau Ayah menungguku di parkiran. Tak lupa aku berpamitan pada nenek Adrian.
“Nek, saya pamit. Cucu nenek akan baik-baik saja. Nenek tidak perlu khawatir lagi” aku bersikap seolah tak mengenal Adrian pada neneknya.
“Terimakasih nak, semoga Allah membalas kebaikanmu”
“Aamiin, saya pamit nek. Assalamualaikum” pamitku seraya mencium tangan nenek lalu beranjak pergi dari depan ruang dimana Adrian sedang terbaring tak sadarkan diri.
“Waalaikumsalam”
“Oh iya, siapa namamu?” tanya nenek yang membuat langkahku terhenti dan membalikkan badan.
“Nadin” jawabku sambil memamerkan senyum manisku, lalu kembali berbalik dan melangkahkan kakiku pergi dari tempat tersebut.

Semenjak saat itu aku tak pernah lagi melihatnya. Aku belajar menjalani kehidupan baruku yang jauh dari Adrian. Kesibukanku sebagai mahasiswa mampu menyita banyak waktuku untuk hanya terfokus dengan tugas kuliah dan kegiatan UKM yang kuikuti. Sejenak kesibukan itu mampu membuatku lupa akan masalah yang kupunya, tetapi selalu ada celah dimana disela-sela kesibukan itu ingatan tentang Adrian terputar begitu saja di otakku yang tak jarang membuat konsentrasiku pudar.

Terkadang muncul pertanyaan di benakku, apakah aku akan terus memikirkan Adrian? Sekeras apapun aku mencoba melupakannya, tetap aku tak bisa. Karena masalahnya ada di hatiku, hatiku tidak mau melepasnya. Walau entah berapa kali hatiku terluka karena dirinya, tapi hal itu tak merubah apapun.

Sekarang satu tahun sudah aku hidup di perantauan. Minggu depan tepatnya setelah UAS aku akan pulang ke kota kelahiranku. Hal itu membuatku sangat senang dan sedikit gugup. Akhirnya aku akan kembali pulang walau hanya untuk sementara. Aku sangat merindukan Ayah dan Ibuku, aku tak sabar ingin bercerita banyak tentang hal-hal yang ku alami selama kuliah di sini.

Hari yang kutunggu pun tiba, aku berkemas membawa baju secukupnya dan keperluanku yang lain ke dalam ranselku.
Akankah aku bisa bertemu dengannya lagi? Hal itu menggangguku sejak satu minggu ini hingga kini aku berada di dalam bus. Fikiranku melayang membayangkan seperti apa dirinya sekarang. Apakah aku bisa melihatnya lagi walau hanya sebentar.

Tapi semua tak seperti apa yang kubayangkan. Walaupun sudah hampir 2 bulan aku berada di rumah, aku belum pernah sekalipun bertemu dengannya. Dan itu artinya waktu liburanku sudah tak banyak, 3 hari lagi. Mungkin memang aku tak bisa melihatnya walau hanya sekali saja. Harapan itu semakin pudar, dan aku tak ingin lagi terlalu berharap.

Hari ini jam 3 sore aku janjian dengan Alya untuk melihat pertandingan bola yang diadakan untuk memperingati hari kemerdekaan Indonesia yang ke-71. Aku mennjemput Alya di rumahnya sebelum pergi ke lapangan tempat berlangsungnya pertandingan yang tak begitu jauh dari rumah Alya. Aku sangat senang karena bisa menonton pertandingan bola secara langsung untuk yang kedua kalinya. Meskipun hanya pertandingan tarkam, tapi ini adalah hal luar biasa untukku daripada hanya menonton di TV saja. Aku tak ingin bertanya pada Alya dengan siapa kampungnya bertanding hari ini. karena jujur aku sedikit berharap lawan dari kampung Alya adalah kampung Adrian, setidaknya kalau dia tak ikut bermain aku berharap dia juga menonton pertandingan ini.

Sesampainya di lapangan seketika senyumku merekah saat mata ini menangkap sesosok orang yang sangat ingin kulihat. Dengan mengenakan jersey berwarna orange, dia terlihat semakin gagah. Aku hampir tak percaya, ini seperti sebuah mimpi untukku.

Awalnya aku mengira bahwa lawan dari kampung Alya adalah benar kampung Adrian. Tetapi semua diluar dugaanku, aku tercengang saat Alya mengatakan bahwa tim yang memakai jersey orange adalah kampungnya. Ini sebuah keuntungan untukku, karena aku bisa mendukungnya dengan bersembunyi di balik dukunganku terhadap kampung Alya.

Aku menonton di Utara lapangan dekat dengan gawang tim Adrian. Posisinya sebagai bek, membuatnya sering berada di daerah pertahanan walaupu terkadang ia maju ke depan untuk membantu penyerangan. Ini adalah suau hal yang sungguh luar biasa untukku. Sepanjang pertandingan pandanganku tak lepas dari sosoknya. Namun pada babak kedua ia digantikan oleh pemain lain.

Menonton pertandingan secara langsung terasa lebih cepat, apalagi dari tadi perhatianku tersita olehnya selama 45 menit. Semua orang yang menyaksikan pertandingan tadi, satu persatu mulai beranjak meninggalkan lapangan. Tak terkecuali aku dan Alya.

“Selalu ada hal di dunia ini yang tak bisa dijelaskan, sesuatu yang terkadang hanya menempati hati tapi tak bisa tinggal di dunia nyata”
Kata-kata itu berhasil membuatku terhenti. Kata-kata itu pernah kutulis di sebuah kertas dan kulipat menjadi rapi berbentuk bintang. Dan aku mengingat betul di mana aku meninggalkannya.

Aku membalikkan badanku perlahan. Dugaanku tidak salah sedikitpun kali ini. Aku hanya terdiam, lidahku terasa kelu untuk berbicara. Kulihat Adrian kini berdiri di hadapanku dengan tersenyum membuat jantungku mulai berdetak tak terkontrol.
“Jadi benar kau adalah Nadin yang mendonorkan darahnya untukku” ucapnya lagi. Sedangkan aku masih terdiam, aku masih belum bisa mengontrol diriku. Aku hanya tersenyum menanggapinya.
“Akhirnya aku bisa bertemu denganmu. Kau tahu? setelah aku sadar nenek bercerita tentang semua yang terjadi padaku. Tetapi nenek hanya tahu bahwa yang menolongku adalah perempuan bernama Nadin tanpa tahu siapa Nadin itu. Aku bertanya pada dokter ciri-ciri orang yang mendonorkan darahnya untukku. Dan itu seperti dirimu. Aku bertanya alamatmu pada Alya, tapi dia mengatakan bahwa kau sudah pergi ke Jakarta untuk Kuliah. Aku benar-benar tak menyangka bisa bertemu denganmu hari ini” cerita Adrian sangat bersemangat. Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya yang begitu gembira seperti telah memenangkan sebuah medali.
“bisa saja orang itu bukan aku kan?” tanyaku menyelidik.
“aku hanya menduga, dan dugaanku memang benar” jawabnya penuh percaya diri.
“bagaimana bisa kau menyimpulkan bahwa kau benar?”
“kau berhenti saat aku mengatakan kata-kata tadi. Kau meninggalkannya untukku” Ujar Adrian lagi-lagi dengan penuh percaya diri. Aku sedikit terhenyak, tapi segera menyingkirkan ekspresi wajahku yang terlihat sedikit tegang.
“Aku tidak sengaja menjatuhkannya” elakku.
“baiklah, tapi dugaanku memang tidak salah” aku hanya tersenyum geleng-geleng melihatnya yang tak berkurang sedikitpun tingkat kepercayaan dirinya.

Hari itu, saat matahari berada di kaki cakrawala dengan semburat cahaya orange yang mempesona, aku bertatap langsung dengan orang yang kucintai. Melihat sepuasnya senyum yang selama ini aku rindukan. Menatap wajahnya yang begitu teduh. 127 detik yang sangat indah.
Tapi justru saat itulah aku mulai bisa melupakan Adrian dengan sendirinya. Tak terluka lagi karenanya. Karena sejak hari itu hatiku menerima sepenuhnya, aku mengaku pada diriku sendiri bahwa aku memang menyukainya.

Terkadang untuk melupakan sesuatu yang menyakitkan, bukan berarti kita harus berjuang keras untuk melupakannya. Justru yang perlu kita lakukan adalah menerima semuanya dengan ikhlas. Karena saat kita menerima, hal itu tak kan mampu membuat kita terluka lagi.

End

Cerpen Karangan: Nur Laili

Cerpen 127 Detik merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Maaf

Oleh:
Kupandang sosok lelaki yang tengah berjalan menuju kantin bersama teman-temannya, kualihkan perhatian temanku saat hampir ketahuan memandang seseorang dan itu memerlukan waktu lama. Dia anak kelas IX B, sosok

2 Years Ago

Oleh:
Senyumku terus mengembang ketika Ia baru pertama kali menyapaku lewat saluran telepon sejak 30 menit yang lalu. Kami telah mengobrol banyak hal. Bertanya tentang keadaan setelah tidak pernah tahu

Never Leave You (Part 1)

Oleh:
-Jatuh cinta dan patah hati itu udah sepaket kayak paket COMBO di KFC- Andika Pov Setiap manusia di dunia pasti sudah familiar dengan yang namanya “Sahabat”. Pastilah. Suka duka

Ingatan Yang Pertama (Part 1)

Oleh:
Kata orang, masa kuliah itu adalah masa yang paling menentukan hidupmu. Masa depanmu, pekerjaanmu, gaya hidupmu kelak, bahkan… pasangan hidupmu. Diterima si salah satu universitas favorit di kotaku menjadi

Anugerah Terindah Yang Pernah Kumiliki

Oleh:
Namaku Raina. Aku baru menduduki bangku SMa di sebuah sekolah yang terbilang favorit. Aku termasuk orang yang sederhana dan pendiam. Ya, begitulah yang kebanyakan teman-temanku bilang mengenai diriku. Saat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “127 Detik”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *