Aku, Kamu dan Dia

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 23 November 2016

Sore yang indah dengan paparan cahaya senja yang menyinari. Saat itu di lapangan, Aldi sedang asyik latihan bermain bola bersama teman-temannya. Sambil istirahat dan sesekali meneguk air yang sudah dibawanya dari rumah. Bersamaan dengan itu Yoga sedang jalan-jalan di sebuah taman sambil menikmati senja di sore itu. Taman itu memang banyak diminati orang-orang karena terdapat sebuah danau yang airnya jernih sehingga menambah kesan suasana yang indah dan sejuk di sana. Yoga sesekali mengarahkan kameranya ke tempat-tempat yang menurutnya menarik sambil melihat hasilnya dan kembali mengulang hal yang sama terus-menerus.

Yoga memang mempunyai hobi yang beda dengan sahabatnya Aldi, dia lebih suka photography dibandingkan bermain bola menurutnya itu banyak membuang-buang tenaga. Meskipun kadang Yoga sering menemani Aldi latihan, dia hanya memperhatikan sahabatnya itu latihan saja dan sekedar hanya untuk mengisi waktu luangnya.

Sambil asyik berjalan, handphone Yoga pun berbunyi. Tiitt… tiitt.. tiitt.. “Halo Aldi, ada apa?”. “Yoga kamu lagi dimana sekarang?”. “Oh, aku lagi di taman nih biasa cari momen yang indah, hehe maaf yah aku enggak ikut nemanin kamu latihan hari ini!”.
“Ohh gitu, iya enggak apa-apa kok aku Cuma mau mastiin kamu dimana. Ya udah kamu lanjutin aja kegiatanmu aku juga mau lanjut latihan nih, ok bye”.
“ok”
Telepon berhenti dan Yoga kembali memasukkan handphonennya ke saku celananya.

“Hmm hari ini belum ada momen yang menarik untuk kufoto” gumamnya sambil terus melihat hasil gambarnya. Saat Yoga hendak kembali mengambil gambar, dia terfokus pada seorang wanita yang duduk di tepi danau sambil membaca buku dan mendengarkan musik. “Crat…” Yoga pun berhasil mengabadikan gambar sosok perempuan itu meskipun tanpa sengaja. “Eh.. cewek itu siapa yah kayaknya baru lihat dia deh di sekitar sini, hmm” gumamnya. Yoga kembali memperhatikan wanita itu, meskipun dia hanya bisa melihatnya dari satu arah saja.

Tanpa sadar Aldi pun datang dan mengagetkan Yoga. “Woi.. gimana nih hasil gambarnya?” sambil menepuk pundak Yoga. “Eh.. kamu bikin aku kaget saja” ucapnya sambil mengelus dada. “hehe maaf soalnya kamu serius banget sihh, oya gimana hasilnya aku mau lihat dong” ucap Aldi. “Oh iya nih lihat saja” sambil menyerahkan kameranya. “Wah hasilnya bagus-bagus yah, kamu memang berbakat jadi photografer sobat” sambil mengacungkan jempol. “Haha iya dong”. “Ehh cewek ini siapa?” sambil memperlihatkan kameranya pada Yoga. “Eh ini bukan siapa-siapa kok cuma kebetulan aja, aku juga enggak tahu dia siapa” sambil merebut kameranya kembali. “Ya udah yuk kita pulang aja udah hampir malam nih” sambung Yoga. “hmm gitu, ok yuk!”.

Sehabis mandi Yoga kembali ke kamarnya dan merebahkan tubuhnya ke tempat tidur. “hmm besok udah hari senin yah, minggunya cepat sekali berlalu huft” gumamnya. Sambil sibuk memainkan handphonennya, Yoga teringat dengan wanita yang sore tadi di taman. Sambil meletakkan handpohennya dia meraih kameranya dan melihat kembali foto-foto tadi sambil terus memperhatikan dengan seksama dan sesekali memperbesar tampilan gambarnya. “Aku penasaran dengan cewek ini, eh ngapain aku peduli yah hmm mending aku tidur hari ini lelah sekali besok udah sekolah aja” sambil meletakkan kembali kameranya di atas meja.

Keesokan harinya Yoga bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah sambil meraih ranselnya. “Aku ke sekolah dulu yah bu” sambil meraih sepotong roti coklat dan mencium tangan ibunya lalu berangkat. Sementara di luar rumah Yoga, Aldi sedang menunggunya sambil duduk di atas motor Aldi. Motor pun melaju dengan cepat ke sekolah. Yoga dan Aldi sekolah di SMA Nusa Bangsa di Bandung yang letaknya lumayan jauh dari rumah mereka. Tahun ini mereka sudah kelas tiga, Yoga kelas 3B sedangkan Aldi 3C. Setiap hari mereka hanya mengendarai motor secara bergiliran, tergantung siapa yang selesai duluan maka dialah yang memakai motornya dan menjemput satu sama lain. Yoga dan Aldi memang satu sekolahan tetapi mereka beda kelas, meskipun kelas mereka tetanggaan.

Mereka pun berpisah dan masuk ke kelas masing-masing. “Yoga duduk di bangku ke tiga bersama temannya Rudi dan berusaha mengatur napasnya. Tidak lama kemudian bel berbunyi tanda pelajaran pertama akan di mulai. “Tumben guru kita kali ini masuknya lama biasanyakan tepat waktu” ucap Rudi. “Hmm mungkin enggak masuk kali” jawab Yoga cuek. Selang lima belas menit berlalu guru mereka sudah datang diikuti oleh seorang siswi. “Selamat pagi anak-anak” sapa Ibu Susi. “Selamat pagi bu” jawab siswa serentak. “Sebelumnya ibu minta maaf karena terlambat masuk, oya pasti kalian bertanya-tanya dengan siapa ibu datang. Ok langsung saja dia ini namanya Lisa, siswa baru di kelas kita pindahan dari Jakarta dan ibu harap kalian semua bisa berteman baik dengannya” ucapnya panjang lebar.

Lisa lalu duduk dan langsung di sapa oleh Ririn. Sedangkan Yoga sedari tadi tidak memperhatikan dia hanya sibuk mencoret-coret di bukunya. “Eh Yoga ada murid baru tuh” ucap Rudi sambil berbisik. “Hmm iya aku dengar kok yang Ibu bilang” masih asyik dengan aktivitasnya. “Tapi kan kamu belum lihat orangnya, dia manis loh” ucap Rudi merayu. “Masa sih mana coba mana” sambil menatap seluruh ruangan kelas. “Eh enggak usah kejauhan lihatnya tuh dia duduk di depan” sambil mengarahkan kepala Yoga ke arah depan. Yoga pun memperhatikan Lisa, “Eh dia, sepertinya aku pernah lihat dimana yah” gumamnya. “Gimana maniskan?” ucap Rudi. “Biasa aja, udah ah aku mau lanjut gambar dulu” ucapnya sambil kembali meraih pulpennya. “Ish kamu nih enggak ada pekanya, nanti jomblo terus loh” ejek Rudi. “Biarin deh” jawabnya singkat. Pelajaran pun berlanjut dan akhirnya bel istirahat berbunyi.

“Wah sudah istirahat yah” ucap Aldi bersemangat dia langsung pergi ke kelas Yoga untuk mengajaknya. Saat di pintu kelas mereka berpapasan dengan Lisa dan Ririn. Mereka lama saling memperhatikan terutama Aldi “Ehh ada cewek cantik, hehe silahkan lewat tuan putri” ucapnya ramah. “Ish kamu lebay banget sih giliran lihat cewek aja gitu, yuk ke kantin” sambil menarik lengan Aldi. Lisa dan Ririn hanya tersenyum.

Sementara di perjalan menuju kantin Aldi terus berceloteh panjang lebar. “Eh Yoga kamu punya teman sekelas cantik-cantik kenalin dong” rengek Aldi. “Enggak ah kamu aja sendiri, lagian kamu kan populer di sini banyak yang suka tuh liat aja di sekelilingmu cewek terus memperhatikan dan memanggil-manggil namamu” ucap Yoga santai. “Eh mungkin maksud kamu kita berdua yang populer di sekolah ini sobat” ucapnya sambil tertawa. “Terserah kamu deh” ucap Yoga. Yoga dan Aldi memang terkenal dengan ketampanan wajah mereka dan mereka berdua aktif di kegiatan ekstrakulikuler hal itu pula yang menambah kepopulerannya di sekolah sehingga banyak wanita yang selalu ingin dekat dengannya.

Meskipun bersahabat Yoga dan Aldi memiliki sifat yang berbeda. Aldi lebih suka menggonta-ganti pacarnya tiap minggu, dia memang playboy tapi meskipun begitu tetap saja banyak yang tertarik dengannya bahkan ada yang rela jadi selingkuhannya. Sedangkan Yoga terkenal dengan kejombloannya, karena dia tidak pernah terlihat dekat dengan seorang wanita pun, meskipun banyak juga yang mengejar-ngejarnya dan mencari perhatiannya tapi dia hanya cuek dan tidak peduli dengan semua itu.

Sesampai di kantin mereka masing-masing memesan makanan kesukaannya. “Oh iya Yoga, yang cewek tadi itu siapa kayaknya aku baru lihat?” ucap Aldi sambil meneguk minumannya. “Yang mana?” sambil mengunyah makanannya. “Itu yang ketemunya depan pintu kelasmu” ucap Aldi. “Oh Ririn yah” ucapnya santai. “Bukan, kalo Ririn kan aku sudah tahu yang sebelahnya itu loh” ucapnya penasaran. “Hmm, oh kalau enggak salah namanya Lisa dia murid baru di kelasku, memangnya kenapa?” jawab Yoga. “Dia manis loh, memangnya kamu tidak tertarik dengannya?” goda Aldi. “Bilang aja kalau kamu yang naksir sama dia, jangan bilang kalau kamu mau nembak dia juga duh dia masih baru di sini kamu enggak kasian apa kamu jadiin dia korban juga” ucap Yoga. “Siapa yang jadiin korban sih, lagi pula cewek mana yang tidak tertarik sama Aldi yang gagah ini, haha” ucapnya. “Terserah kamu deh” jawabnya cuek sambil tetap mengunyah makanannya.

Seiring berjalannya waktu Yoga dan Lisa sudah mulai saling mengenal karena Lisa juga mengambil kegiatan ekstrakulikuler yang sama dengan Yoga. Sedangkan Aldi terus-terusan membujuk Yoga untuk membuatnya bisa dekat dengan Lisa. “Yoga bantuin aku dong dekatin Lisa” ucapnya memohon. “Kamu apaan sih, bukannya tidak ada wanita yang tidak bisa kamu dekatin kok sekarang malah rengek minta di bantuin” ucap Yoga santai. “Tapi Lisa itu beda dengan cewek yang lain yang pernah kutemui, sepertinya aku benar-benar menyukainya” ucapnya yakin. “Deg.. aku kenapa yah kok merasa cemburu kayak gini, apa mungkin? ah tidak tidak boleh” gumamnya dalam hati.

Lisa telah lama menyukai Yoga namun dia tidak berani mengungkapkannya. Begitu pun dengan Yoga dia mulai merasa hal yang berbeda saat bertemu dengan Lisa. Ternyata mereka punya rasa yang sama tapi mereka malu mengungkapkannya. Yoga berusaha membantu Aldi untuk mendekati Lisa, meskipun itu terasa menyakitkan untuknya. Tapi dia lebih mementingkan perasaan sahabatnya dibandingkan perasaannya sendiri.

Tidak butuh waktu yang lama Aldi dan Lisa sudah sangat dekat. Aldi selalu mengajak Lisa jalan meskipun belum ada kepastian dalam hubungan mereka. Aldi menunggu momen yang tepat untuk menyatakan cintanya pada Lisa. Dia merencanakannya bersama Yoga. “Ok besok aku akan nembak Lisa di taman belakang sekolah” ucap Aldi mantap. “Iya semoga berhasil yah” ucap Yoga. Kali ini Yoga benar-benar harus menahan perasaannya. Dia mulai membayangkan jika Aldi dan Lisa jadian, mereka pasti akan terus bertemu dan hal itu akan membuatnya makan hati.

“Lis, aku.. aku mau bilang sesuatu ke kamu” ucap Aldi sedikit gugup. “Iya bilang aja” ucap Lisa santai. “Kamu mau enggak jadi pacar aku?” ucapnya. Hal itu sontak membuat Lisa sedikit terkejut “Apa kamu nembak aku?” Ucap Lisa. “Iya Lis, aku serius” ucap Aldi berusaha meyakinkan Lisa. Di sisi lain Yoga sedang mengintip di balik tembok yang jaraknya lumayan jauh sehingga Yoga tidak bisa mendengar percakapan mereka. “Mereka ngomong apaan aja sih” gumamnya.

Yoga saat itu pulang duluan ke rumahnya, dia merasa lelah. Mungkin lelah hati, dia berusaha untuk tidak peduli dengan kelanjutan hubungan Aldi dan Lisa. Meskipun dia sendiri belum tau kepastiannya tapi Yoga menganggap bahwa Lisa pasti menerima Aldi. Kini Yoga berusaha melupakan perasaannya bahwa ia pernah menyukai Lisa walaupun itu sulit.

Saat di sekolah Yoga sibuk menata kamera yang ada di lemari kaca, tiba-tiba Lisa muncul. “Hai Yoga” sapanya. “Iya hai” ucapnya cuek. Yoga tanpa melihat Lisa langsung keluar dari ruangan. “Yoga tunggu” panggil Lisa. “Ada apa” jawab Yoga. “Kamu kok beda banget hari ini, tidak biasanya kamu cuekin aku” ucap Lisa bertanya-tanya. “Oh itu cuma perasaan kamu saja kok, oh iya kamu enggak jalan bareng sama Aldi yah kirain kalian berdua udah jadian. Aku mau ke kantin, duluan yah” ucapnya sambil berlalu. Lisa terdiam sejenak menahan rasa kecewanya “Aku enggak jadian sama siapa pun” ucapnya sedikit berteriak. Yoga menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Lisa. “Maksudmu?” ucap Yoga heran. “Iya itu karena aku suka sama kamu Yoga bukan Aldi, kenapa kamu tidak mengerti juga hah” ucapnya matanya pun mulai berkaca-kaca.
Yoga kini terdiam mendengar ucapan Lisa tanpa bisa berkata-kata. Lisa pun berlari kembali ke kelas dan berusaha menahan air matanya. “Apa yang aku lakukan” ucap Yoga dalam hati.

Cerpen Karangan: Nur Alam
Facebook: Nur Alam
Hi, nama saya Nur Alam. Kuliah di Universitas Muhammadiyah Makassar Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia.
Semoga suka dengaceritanya😊📃

Cerpen Aku, Kamu dan Dia merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dari Kenalan Menjadi

Oleh:
Aku turun dari mobil, suasananya tampak lain dari biasanya. Ya, saat ini aku berada di majenang tepatnya kota kecil di cilacap barat, suasana di kota ini tampak lain dari

Cinta Pemalu

Oleh:
Perkenalkan namaku Bimo, aku sekarang kelas 12 ipa di SMA Swasta. Aku mempunyai sifat pemalu, tapi baik. Aku mempunyai seorang perempuan yang kukagumi saat pertama aku melihatnya, dia sangat

Umid Ku

Oleh:
Sang dewa siang selalu menuntunku untuk berjalan di terangnya jalan yang kan ku lalui, dengan hembusan angin dan pancaran sinarnya. Aku selalu tersenyum di bawah payung teduh yang ku

Indahnya Cinta

Oleh:
Pagi yang cerah, dengan bersemangat Dera berangkat sekolah. Tak lupa dia berpamitan dengan orangtuanya. “Ma, pa.. Dera berangkat dulu ya” ucapnya sambil mencium tangan kedua orangtuanya. “Hati-hati ya” ucap

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Aku, Kamu dan Dia”

  1. sigma says:

    Lanjutkan ke part 2 kak . 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *