Aku Selalu di Ujung Sini

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam)
Lolos moderasi pada: 13 August 2013

Aku menempati kursi penonton terdepan namun berada di paling ujung. Selalu. Agar kedua mata yang banyak orang menyebutnya belok ini tetap dapat melihat dengan utuh potongan tubuh atletisnya dengan semua lincah gerak sepersekian detik saat berhasil mengembalikan smash keras dari lawan. Pemandangan favoritku. Tapi kadang pandangan indah itu sering terganggu oleh lalu lalang para official tim yang memang berada tepat lurus menyerongiku. Malah kadang mereka mengganggu pandangan indahku saat ia berada di momen momen penting. Seperti saat tahun lalu ketika aku gagal merekam adegan sujud syukurnya atas kemenangan yang ia raih. Aku melewatkan peristiwa itu ketika lagi-lagi para official tim berhamburan lari hendak memeluknya. Lalu setelahnya, aku hanya bisa merengek menyesalinya untuk setiap pertandingan-pertandingan selanjutnya. Selalu berdoa penuh was was agar adegan itu dapat kembali terulang tanpa aku harus melewatkannya lagi.

“Nar, ayolah buat apa kita bayar mahal mahal untuk nonton pertandingan dia kalau cuma buat duduk di paling ujung sini? Nanggung.” Rena, satu-satunya pendamping setiaku dalam melewati ritual ini – mulai berorasi. Seperti biasa. Selalu ogah-ogahan untuk menaruh pantatnya saat lagi lagi aku memilih kursi paling ujung.

Aku hanya senyum simpul, menimpalinya. Juga seperti biasa. “Nggak pa-palah Ren, dari sini kan juga masih kelihatan.”

“Kelihatan apanya? Kelihatan tu punggung orang tua bangka?”

Aku menyahutnya masih dengan sebuah senyuman. Hanya senyuman. Aku paling tidak bisa untuk banyak bicara jika itu menyangkut dengan perasaanku. Perasaan? Ya, pertandingan ini sangat erat hubungannya dengan sesuatu yang entah apa namanya selalu menjalar di perasaanku. Sesuatu yang selalu aku coba untuk menyembunyikannya rapat-rapat. Untuk kunikmati sendiri.

“Sinar, kali ini aja gue mohon loe jawab pertanyaan gue. Apa bedanya sih duduk di tengah sana sama duduk di sini? Kalo memang loe suka sama dia, harusnya loe lebih berani dong buat deketin diri loe kesana.” Rena tidak mau kalah. Selalu saja ia menghujaniku dengan pertanyaan serupa. Lalu aku lagi lagi hanya menyengir. Membuatnya terlihat geram di sepanjang pertandingan.

Rena tidak tahu. Rena tidak tahu betapa aku tidak hanya mengidolakannya. Bukan juga sekedar menyukainya, menyerukan namanya, mengagung-agungkannya seperti yang kebanyakan wanita lakukan di kerumunan ini. Aku tidak sesederhana itu.

Nama Guntur jauh lebih dulu mengawang di pikiranku, menggetarkan gendang-gendang di telingaku sebelum begitu di sorak-sorakkan di gedung ini. Aku jauh lebih lama mengenalnya dibandingkan wanita-wanita yang tidak tahu menahu itu.

Hidupku berdampingan dengan hidupnya sejak kami masih sama sama kecil. Dari dulu, aku sudah terbiasa melihat peraduannya dengan kok. Aku begitu hafal lekukan lekukan tangannya dalam mengendalikan raket. Aku menjadi salah satu penonton setianya saat ia selalu meramaikan sore dengan pertandingan antar kampung. Dan seperti sekarang ini, aku selalu menikmati aksinya dengan caraku sendiri. Dengan caraku yang tidak banyak bicara di ujung gang. Dari sinilah, sesuatu itu perlahan-lahan mulai tumbuh. Menjalari perasaanku. Yang bahkan sampai sekarang aku tidak bisa mendeskripsikan apa nama “sesuatu” itu.

Guntur mengenalku. Bahkan ia pernah suatu hari memintaku untuk mengajarinya pelajaran matematika dengan belajar kelompok bersamanya. Tapi aku menolak. Selalu menolak. Meski masih di usia anak-anak, nyatanya aku sudah tahu apa yang harus aku lakukan terhadapnya. Terhadap seorang calon superstar yang jika aku berada sedikit saja di dekatnya itu bisa membuatku tak henti-hentinya bermimpi. Bermimpi terhadap sesuatu yang pada akhirnya aku yakin akan membuatku jatuh.

Itu filosofi yang sampai sekarang masih terus kugunakan. Yang tidak akan pernah dimengerti oleh Rena atau siapapun. Filosofi jika aku berada di dekatnya itu sama artinya dengan membiarkanku dengan bahayanya terbang bersama kedua tongkat penyangga ini ke alam mimpi. Alam mimpi seorang lelaki tampan nyaris sempurna yang tidak layak diselami oleh gadis cacat sepertiku. Terlalu beresiko untuk jatuh dan sakit. Aku tidak siap untuk itu. Jadi selamanya aku hanya akan di ujung sini. Menikmati perasaan ini. Dengan caraku sendiri.

“Service oper, 20-16.”

“In-do-ne-sia!!!”

Cerpen Karangan: Norma Sari Y
Blog: normasariy04.blogspot.com
Seorang anak remaja biasa yang berumah di @normasariy4 dan bertubuh titanium 🙂

Cerpen Aku Selalu di Ujung Sini merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pergi

Oleh:
Entah berapa lama aku harus tinggal dalam kesepian yang begitu sangat menggangguku, apa yang sebaiknya aku perbuat dengan segala situasi yang sangat tidak menentu ini? Mencoba melihat sekeliling dan

Mawar Virtual (Part 1)

Oleh:
Aku dan Rindu duduk di atas batu besar, di kaki gunung tempat favorit kami saat ada hal yang mengganggu. Tempat yang selalu jadi objek pelepas pilu saat aku atau

Perasaan Yang Terpendam

Oleh:
“lel, kenapa kamu melamun?” itu lah kalimat yang selalu mengejutkan ku di waktu itu, saat itu aku masih duduk di kelas 1 sekolah menengah pertama. Tak ku sangka akan

Cinta Yang Tak Pernah Terungkap

Oleh:
Kala itu aku masih duduk di bangku SMA, saat itu aku masih labil dengan hal baru yang dinamakan cinta, aku tidak mengerti apa itu cinta, bagaimana rasanya, dan seindah

Evening Momment

Oleh:
Wajahnya seram, anak-anak akan lari tunggang langgang jika kebetulan lewat di dekatnya. Wajah datar nya sangat mengintimidasi. Kulitnya sawo matang, rambut botak, badan tegap berisi. Dia adalah satpam kompleks

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *