Aku Takut, Mengenalmu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 7 May 2018

Namanya Putra Gauri Kevlar, Aiyra mengetahui nama itu ketika ia dan teman-temannya serta seluruh siswa berkumpul di aula sekolah untuk mendengarkan pemaparan para calon ketua OSIS yang baru, Putra merupakan salah satu kandidat dari 3 calon yang mengajukan diri menjadi ketua OSIS. Mereka bersekolah di SMA Negeri yang terletak di pinggiran ibu kota.
Pada saat acara kampanye berlangsung seluruh siswa menyaksikan pemaparan visi dan misi masing-masing calon ketua OSIS. Aiyra, Rina dan Poppy pun turut andil dalam menyaksikan kampanye tersebut.

“Ah. Payah!”. Gumam Rina
“Payah kenapa?”. Poppy heran melihat ekspresi Rina
“Coba kamu perhatikan deh, dari 2 kandidat yang berkampanye masa visi misi mereka hampir sama! Apakah enggak ada ide lain selain ‘memajukan nama sekolah kita’?” Rina merasa jengkel.
“Hmm.. emang bener sih apa yang kamu katakan, aku juga merasa keduanya biasa saja”. Sahut Poppy.
“Hey, kalian kenapa sih?”.
“Main berkomentar saja, ini kan baru 2 kandidat. Tuh lihat.. masih ada 1 calon lagi yang belum memaparkan visi dan misinya. Sebaiknya kita dengarkan dulu, jangan berisik!” Sambung Aiyra kepada Rina dan Poppy.
“Iya!” Singkat Rina dan Poppy.

Antusiasme siswa-siswi semakin meningkat ketika kandidat yang terakhir mulai berbicara di depan mereka.
“Selamat pagi semua!”
“Perkenalkan nama saya Putra Gauri Kevlar…”
Kandidat terakhir mulai berpidato memaparkan visi dan misinya

Dari postur tubuhnya, Putra terlihat lebih tegap dan tinggi di samping kandidat yang lain, rambutnya hitam rapih sama seperti kebanyakan anak laki-laki sebayanya, alis matanya tebal, wajahnya tampan, serta penampilannya yang menarik. Mungkin itu adalah beberapa alasan yang membuat semua siswi semakin atusias bahkan ada yang berteriak bangga ke arahnya.
Meskipun Putra banyak digemari seluruh siswi karena tubuhnya yang tegap dan terlihat gagah, namun tak membuat Putra merasa besar kepala dan merasa diatas angin dibanding teman-temannya. Ia tak pernah merasa jika dirinya adalah dambaan semua perempuan di sekolahnya. Justru ia tetap bersikap baik, selalu menghormati siapapun yang ada di hadapannya ketika ia hendak bicara.

“…Sekian visi dan misi yang bisa saya sampaikan. Terimakasih!”. Kandidat terakhir menutup pidatonya
Kampanye selesai. Siswa-siswi pun kembali melanjutkan kegiatan mereka, ada yang masuk ke kelas, bermain di lapangan, mambaca di perpustakaan, dan beberapa memilih makan di kantin sekolah. Berbeda dengan kebanyakan siswi yang lain, Aiyra dan kedua temannya memilih untuk tetap di aula, hanya untuk duduk dan mengisi waktu dengan berbincang.

“Bagaimana menurut kalian, dari ketiga calon ketua OSIS tadi.. kira-kira siapa yang akan terpilih ya?”. Poppy mengawali pembicaraan.
“Aku sama sekali engga tertarik. Kelihatannya, mereka hanya pintar berbicara saja dan sangat mahir pencitraan di depan. Aku enggak yakin kalo harus memilih”. Ungkap Rina.
“Ah.. itu kan hanya penglihatan kamu saja Rin.Memangnya kamu bisa nentuin mereka mahir pencitraan dari mana? Kamu sok tau ah! He he he”. Balas Poppy sambil tertawa.
“Ya kalo menurut aku sih begitu. Semua lelaki sama! Cuma pandai memikat saja, tinggal kita tunggu pembuktiannya jika ada yang terpilih nanti. Apakah tindakannya sesuai dengan perkataannya hari ini? Aku sih terus terang saja, aku enggak yakin!”. Dengan rasa jengkel Rina membalas perkataan Poppy.
“Hahaha. Dasar kamu Rin! Eh, tapi sepertinya kandidat yang terakhir sangat banyak pendukungnya ya? Sampai-sampai ada yang berteriak padanya. Apa karena semua perempuan di sekolah kita terpukau dengan ketampanannya? Ia memang tampan sih, tapi sayang.. bukan tipe aku he he”. Balas Poppy lagi.
“Apa? Aku engga salah dengar kan? ‘bukan tipe kamu’? Hello! Memangnya anda ‘tuan putri’ dari mana? Dari ‘kerajaan pecel lele’ kah? Ahahaha”. Lanjut Rina sambil bercanda.
“Wahahahaha” Rina dan Poppy sontak tertawa.

Disaat kedua temannya asik mengobrol dan tertawa bersama, Aiyra belum melontarkan sepatah kata pun, pandangannya terfokus pada satu titik. Entah apa yang dilihat dan dipikirkannya sampai ia enggan mengeluarkan suara. Ia tetap diam. Rina dan Poppy menyadari hal ini ketika ia selesai menertawai diri mereka masing-masing.

“Aiyra?”. Tangan Poppy naik turun tepat didepan mata Aiyra.
Aiyra tetap diam. Kali ini, ia tersenyum. Rina dan Poppy saling memandang mereka mulai khawatir dengannya.
“Aiyra!”. Sekarang tangan Rina yang lancang mencubit pipi Aiyra.
“Aw.. aduuh. Kamu kenapa sih Rin? Nyubit-nyubit pipi aku, sakit tau!”. Keluh Aiyra seraya memegang pipinya yang kesakitan akibat dicubit oleh Rina.
“Tuh kan pipi aku jadi merah begini? Kamu harus tanggung jawab pokoknya, aku gak mau tau!”. Paksa Aiyra kepada Rina. Aiyra mengeluarkan cermin kecilnya dan terus memandangi pipinya yang merah.
“Kamu kenapa sih? Disaat kita asik tertawa, kamu malah diam saja. Ada masalah? Cerita dong, siapa tau kita bisa bantu. Iya kan Rin?”. Tanya Poppy curiga.
“Yap”. Singkat Rina.
“Ng..ng..engga ada masalah kok. Hanya saja, aku dari tadi sedang memikirkan calon ketua OSIS yang terakhir itu lho! Kok, sepertinya aku baru lihat dia. Atau jangan-jangan dia adalah anak baru?”. Jawab Aiyra. Aiyra menjawab agak gugup, ia menutupi kekagumannya pada kandidat terakhir. Ia mulai tertarik
Sebenarnya, Aiyra baru menyadari. Bahwa kandidat yang terakhir itu, adalah lelaki yang ia temui disaat mereka duduk di kelas 10, lalu mereka berdua sama-sama kena hukuman akibat pelanggaran yang mereka lakukan.
“Kok bisa?”
“Helloww!! Kamu kemana saja Aiyra? Masa kamu engga tau sih? Anak lelaki yang paling banyak digemari karena tampan dan alisnya yang tebal itu. Waktu kelas 10… aku pernah sekelas dengannya, nama panggilannya adalah Putra. Selain tampan, sikapnya pun baik, sering bercanda, dan punya beberapa prestasi dibidang kepramukaan, ia anggota pramuka bahkan sampai tingkat Kota. Keren kan? Pantas saja dia mencalonkan diri menjadi ketua OSIS, aku rasa ia memang pantas. Aku mengenalinya”. Terang Rina kepada Aiyra.
“Oh, jadi kamu dari tadi lagi mikirin ‘calon’ yang itu? Kamu suka sama dia ya? Hehehe”. Sambung Poppy.
“Heh. Calon apa maksud kamu? Hah? suka?” Aiyra heran dengan pertanyaan Poppy.
“Calon Pacar. Iya, kamu pasti ketularan suka juga kan sama Putra. Hehehe”. Goda Poppy.
“Ciee!” Rina menambahkan.
“Ih. Kalian ini memang menyebalkan! Tadi mencubit pipi aku seenaknya saja, terus kalian malah mengada-ada dan… Sekarang kalian telah membuat perutku lapar. Sebaiknya kita ke kantin saja yuk?”. Aiyra mengajak kedua temannya menuju kantin.
“Huh, alasanmu! Bilang saja kamu salah tingkah kan!!! Hahahaha”. Seru Rina dan Poppy
Aiyra meninggalkan kedua temannya itu menuju kantin.
“Eh Aiyra tunggu kami!”
“Cepat!” Aiyra tetap berjalan tanpa menoleh.
Dalam hati Aiyra.
“Hai, Putra Gauri Kevlar”

Seminggu kemudian. Hari ini adalah pengumuman siapa yang terpilih menjadi ketua OSIS yang baru dan berhak memimpin. Setelah upacara bendera, seluruh siswa-siswi berkumpul di aula untuk menunggu siapakah ketua OSIS yang terpilih.

Di kamar ukuran 4×6 meter. Lengkap dengan kasur, meja belajar yang terletak dekat jendela, serta poster vokalis ‘The Rolling Stones’ (Mike Jagger) yang terpampang didinding dekat kasur, banyak stiker band asal inggris itu menempel di meja belajar dan di lemari. Aiyra gadis berusia 16 tahun 4 bulan 11 hari ini adalah pemilik kamar tersebut. Berbeda dengan anak gadis sebayanya yang kebanyakan lebih menggemari artis Korea atau lebih dikenal K-Pop, Aiyra sama sekali tidak tertarik dengan hal itu. Ia lebih menyukai band-band terkenal dari barat seperti The Rolling Stones, Oasis, terkadang lagu John Lennon sering ia putar di laptop kesayangannya. Bahkan, sampai-sampai ia dikatakan ‘gadis aneh’ oleh teman-temannya yang lebih menyukai K-Pop. Baginya, ini adalah kebebasan ia tak peduli orang lain berkata apa, asalkan ia tidak merugikan hak orang lain tersebut.

“Duh, di mana ya?”. Aiyra mendengar suaranya sendiri.
“Kenapa? Kenapa selalu menghilang jika dibutuhkan! Aku heran dengan topi dan dasiku, mereka selalu sembunyi dihari senin!” Aiyra mulai geram.
Ia menyerah
“Ah. Baiklah, minggu ini aku tak ikut upacara! Lagi pula, aku bosan dengan pidato kepala sekolah yang ‘singkat’ itu”. Ia menyindir kepala sekolahnya yang berpidato memakan waktu hampir 1 jam.
Tanpa topi dan dasinya, ia tetap berangkat ke sekolah

Seluruh siswa berkumpul di aula, setelah sebelumnya mendengarkan pidato kepala sekolah yang ‘singkat’ itu.
Aiyra berjalan santai menuju aula sekolah, ia ingin melihat siapa ketua OSIS yang baru. Ia ingin mendengarkan pengumuman. Ia ingin melihat Putra, sepertinya Aiyra mulai tertarik kepada sosok lelaki ini. sebelumnya ia hanya diam di kelas untuk bersembunyi karena tak ikut upacara bendera.
Ia berjalan sendirian menuju aula, dengan rasa penasaran sekaligus senang karena sebentar lagi ia bisa melihat sesosok lelaki beralis tebal itu
Hatinya senang, penuh rasa penasaran.

“Hai, Putra Gauri Kevlar. Kamu memang idola semua gadis! Aku rela, kamu tidak bisa menjadi pacar aku. Tapi, aku akan berusaha untuk tidak membuatmu kecewa, jika kamu rela berkenalan dengan aku. Aku rela menunggu. Wahai jagat raya! Sampaikanlah padanya.. aku ingin mengenalnya, bukan sekedar mendengar namanya yang indah itu”.
Aiyra hanya bisa menyembunyikan rasa ketertarikannya pada Putra. Ia tidak pernah berani bercerita kepada siapapun, termasuk Rina dan Poppy. Ia khawatir apabila ia menceritakan rasa kagumnya itu, hanya akan membuat perasaan kagumnya hilang pada sosok lelaki berbadan tegap dan beralis tebal. Aiyra kagum, membiarkan hatinya sesak dipenuhi rasa kekaguman pada lelaki tersebut.

“Jika saja, ia tidak mencalonkan menjadi ketua OSIS. Mungkin, aku tidak pernah merasakan rasa kagum ini. Ini beda sekali!” Aiyra berkata pada dirinya. Sambil menatap ke depan, ia semakin dekat dengan kerumunan manusia yang tak sabar menunggu hasil pemilihan ketua OSIS.

Resmi. Putra terpilih sebagai ketua OSIS periode selanjutnya. Putra meraih suara terbanyak di antara kedua kandidat lainnya. Dengan penuh kebijaksanaan, Putra menyatakan bahwa ia akan langsung menjalankan program kerja yang sudah direncanakan. Tanpa, tapi tapi. Ia akan melaksanakan tugas secepatnya. Dan berharap seluruh siswa ikut berpartisipasi di dalam program kerjanya yang sudah ada.

Menjelang tengah malam. Terdapat 2 orang sahabat sedang bermain catur di kamar yang cukup luas. Salah satu dari mereka, bersekolah di SMA yang sama dengan Aiyra.
“Aku melihatnya… Aku melihatnya ketika acara kampanye calon ketua OSIS, Fer!”
“Lalu? Kamu sudah ajak dia kenalan?” Tanya Feri.
“…” Ia hanya menggelengkan kepala saja
“Aku kurang berani. Entahlah. Nampaknya, berkenalan dengan gadis itu hanyalah angan-anganku saja”. Ungkapnya
“Kamu harus lakukan! Kamu bilang kamu tau gadis itu ketika kalian masih kelas 10 pas kalian sama-sama kena hukuman gara-gara kalian ketauan enggak ikut upacara. Dan dari situ kamu mulai tertarik terus bertekad akan mengajak ia berkenalan. Kamu hanya perlu bilang ingin kenalan, dan sedikit pencitraan supaya gadis itu merespon baik padamu.. beres kan? Coba dulu, jangan kalah sebelum berperang.. hehehe” Feri mencoba menyemangati sahabatnya.
“Heh enak sajak enggak ikut upacara! Dia memang enggak ikut upacara, tapi aku dihukum karena enggak pakai dasi! Fer, kamu tau sendiri kan aku ini gimana?!”
“Lagi pula, aku tidak pandai jika harus memperkenalkan diri dan seolah terlihat baik, atau lebih sering disebut pencitraan! Kamu paham kan?” Pungkasnya.
“Skak!”
“Hehehe” Feri merasa bangga.
Mereka melanjutkan permainan caturnya.

Dalam hatinya.
“Hai, Aiyra!”
“Tunggu diriku. Tunggu! Aku akan berada di hadapanmu cepat ataupun lambat. Aku yakin, jagat raya mengamini. Mungkin selama ini aku tidak pernah berani untuk sekedar berkenalan denganmu, aku memang penakut. Sebetulnya aku takut, jika kita berkenalan, rasa sayang akan tumbuh di antara kita, aku takut bila harus kehilanganmu, aku takut bila kamu harus menanggung rindu, aku terlalu takut jika semuanya hanya berlalu. Biarkanlah, aku terus dihantui rasa takut. Hingga, jagat raya menjawab doaku dan memaksa kita untuk lebih dari sekedar berkenalan”.

“Oh iya.. aku heran! Kenapa bisa ya? Untuk mengajak seorang gadis berkenalan saja, kamu takut. Tapi, kamu bisa berhasil menjadi ketua OSIS. Aneh!!” Feri menahan ketawa dan memicingkan kedua matanya.
“Wahahaha” kedua sahabat itu tertawa tanpa beban. Ditambah iringan lagu yang dinyanyikan John Lennon – Imagine. Melengkapi keakraban suasana dimalam ini.

Cerpen Karangan: Rizqi Fadillah
Facebook: Rizqi Fadil

Cerpen Aku Takut, Mengenalmu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Satu Hari Yang Berbeda

Oleh:
Aku baru saja tiba di sekolah. Berjalan menyusuri koridor, kemudian memasuki kelas. Meletakkan tas, lalu duduk di bangku yang biasa kutempati. Satu persatu teman sekelasku mulai berdatangan. Tapi tidak

Surat Untuk Kamu

Oleh:
Dulu kamu bukan siapa siapa buat aku. Aku yang cuek tidak pernah memperhatikan lingkungan sekitar secara detail. Aku hanya tau namamu. Itu pun karena kita satu kelas, jadi ketika

Kenangan Indah Masa Lalu (Part 1)

Oleh:
Angin malam terasa dingin menyentuh pipiku. Dibumbui oleh hujan yang sudah sedari tadi turun dengan derasnya menambah sensasi dingin malam ini. Aku yang kedinginan menggosok-gosokkan kedua tanganku sambil kutiup

Fright Night Kemping

Oleh:
Halo kawan-kawan baruku! Nama gua Mochammad Naufal Hanif Musyaffa. Untuk nama panggilan tinggal sebut saja namaku… “Sebut saja namanya MAWAR!!!” timpal temanku iseng. “Emangnya gua korban pelecehan kayak di

Tersimpan Sebagai History (Part 1)

Oleh:
Hai, mungkin kamu merasa terganggu dengan pesanku saat ini, tapi aku sangat berharap kamu membacanya hingga selesai hanya untuk menghargai jempolku yang kriting akibat menulisnya, aku hanya akan membuka

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Aku Takut, Mengenalmu”

  1. Dinbel says:

    Kerenssss, saya suka ceritanya,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *