Anugerah Terindah Yang Pernah Kumiliki

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 14 April 2017

Namaku Raina. Aku baru menduduki bangku SMa di sebuah sekolah yang terbilang favorit. Aku termasuk orang yang sederhana dan pendiam. Ya, begitulah yang kebanyakan teman-temanku bilang mengenai diriku.

Saat itu aku bersekolah seperti hari-hari biasanya. Aku sering berangkat sekolah pagi karena aku memang terbilang anak yang cukup rajin. Selain itu aku sengaja sekolah pagi agar dapat bertemu dengan sesosok yang aku kagumi dari dulu. Ya, dia adalah seorang kakak kelasku. Namanya Rian. Aku sudah lama menjadi pengagum rahasianya. Ia seakan mempunyai karisma tersendiri yang menjadi daya tarik bagiku. Berharap untuk bisa mengenalnya lebih jauh. Tapi aku sadar, itu hanyalah sebuah mimpi. Sering aku sengaja bersekolah pagi hanya untuk dapat bertemu dan berpapasan dengannya. Itu saja rasanya sudah lebih dari cukup. Apalagi kalau aku bisa mengenalnya lebih jauh lagi. “Hey, Raina.. sadar!” kataku dalam hati.

Di sekolah aku memilih untuk mengikuti ekskul mading. Tanpa kusangka ternyata kak Rian juga mengikuti ekskul yang sama denganku. Saat aku tahu kita berada pada ekskul yang sama, entahlah, aku tidak tahu bagaimana rasanya. Antara senang dan diselimuti rasa grogi yang gak jelas. “Ah, aku tidak boleh berharap berlebihan, mungkin ini hanyalah suatu kebetulan” gumamku dalam hati.

Pernah suatu hari di sekolah ekskul mading dilaksanakan. Secara otomatis aku berada satu ruangan yang sama dengannya. “Kak Rian.., seseorang yang sudah lama aku kagumi” gumamku dalam hati. Tanpa aku sadari ternyata aku dari tadi melamun ke arahnya dan dia menyadari akan tatapanku padanya. Seketika itu aku langsung pura-pura untuk membuang muka. “Ah sial, pasti dia menyadari akan lamunanku tadi” gerutuku dalam hati. Aku takut kalau dia bisa membaca perasaanku lewat tatapanku tadi. Karena aku tahu, perasaan seseorang bisa terbaca lewat mata, karena mata adalah jendela hati. Tapi, itu hanya akan disadari oleh orang-orang yang peka.

Akhirnya ekskul pun selesai. Semua siswa yang mengikuti ekskul mading mengambil tasnya masing-masing dan langsung pergi meninggalkan sekolah. Dan ketika semua siswa sudah keluar ruangan, aku masih berada dalam ruangan ekskul tadi. Dan aku sedikit kaget, ternyata kak Rian masih berada dalam ruangan yang sama denganku. Aku berusaha memecah keheningan dengan tersenyum kepadanya. Lalu dia membalas senyumanku serta berkata “adik tadi ngeliatin kakak ya?” “Hah? Eng.. enggak kok kak” jawabku agak sedikit gugup. “Hmm, yuk kita segera pulang, hari sudah semakin sore” ajaknya sambil keluar sebuah senyuman manis dari bibirnya. “Ayo kak” jawabku singkat sambil menetralkan rasa bak bik buk yang ada dalam hatiku.

Seiring berjalannya waktu, aku menjadi semakin akrab dengannya. Apalagi berada dalam satu ekskul yang sama. Canda tawa tak pernah terlewatkan, karena dia termasuk orang yang periang. Dia selalu mampu untuk membuatku tertawa lepas.

Sore itu, ekskul mading telah selesai dilakukan. Sekolah sudah hampir sepi. Dan aku langsung melangkahkan kakiku untuk menuju pulang. Ketika aku melewati papan mading yang berada di sekitar halaman sekolah, tiba-tiba ada suara yang memanggilku, “tunggu Raina…” lalu aku menoleh ke arah suara itu yang berada tepat di sekitar papan mading. Dan ternyata itu adalah kak Rian. “Hey, kok kakak masih di sini?” tanyaku padanya. “Kakak mau bilang sesuatu ke kamu” jawabnya. Seketika itu aku langsung terdiam dan badanku terasa mulai gemetar. “Sebenarnya kakak suka sama kamu, kamu mau gak jadi pacar kakak?” tanyanya padaku. Pertanyaan itu membuatku terdiam sejenak. “Gimana Raina?” tanyanya lagi. “Maaf, aku gak bisa kak” jawabku singkat. Dia menjadi terdiam, kulihat ekspresi wajahnya menunjukkan rasa kecewa, dan air matanya hampir terjatuh. “Gak bisa nolak maksudku kak” lanjutku. Seketika itu dia spontan menatap mataku sambil berkata “jadi?” Dan aku membalasnya dengan senyuman. Dan dia langsung memeluku dengan eratnya.

Aku tak pernah percaya akan hal yang menimpa diriku. Tapi aku tahu, itu adalah sebuah keajaiban dari Tuhan. Dan dia adalah anugerah terindah yang pernah kumiliki.

Cerpen Karangan: Rosi Sumaniari
Facebook: Rosi Sumaniari

Cerpen Anugerah Terindah Yang Pernah Kumiliki merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sampur Terakhir

Oleh:
Lina mematikan musik lalu duduk di sebuah bangku. Raut wajahnya menampakkan dirinya sedang tidak bersemangat. Rifa yang melihat Lina bertingkah aneh akhir-akhir ini lalu menghampiri Lina. “Kamu ini kenapa

Sad Song

Oleh:
Kutelusuri lorong sekolah yang mulai sepi, suara sepatuku terdengar keras memecah keheningan ini. Tak ada seorang pun yang berada di sini, hanya aku. Seperti biasa, sebelum pulang ke rumah,

Sosok Masa Lalu Dari Semarang

Oleh:
Sekarang aku mengerti rasanya jauh dari orang yang kusayangi. Aku juga mengerti bagaimana caranya menghadapinya. Aku juga mengerti aku pergi namun bukan berarti aku lari. Aku mengerti mungkin bagimu

Perjalanan Cinta Singkat

Oleh:
Hari ini, mungkin hari pertamaku sekolah di Jakarta setelah perpindahanku dari Bandung. Meski aku sebenarnya tak berniat untuk pindah sekolah, namun semua ini terpaksa karena urusan kerja OrangTuaku. Ya..

Setetes Tinta (Part 2)

Oleh:
Seperti sepasang kekasih. Alissa menghela nafas berat sambil mengelus dada. Hatinya terasa mulai retak. Alissa menghela nafas lalu berbalik dengan cepat. Ia ingin segera berlari, namun malah menabrak seseorang.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *