Being Mine

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Penantian
Lolos moderasi pada: 1 December 2018

Suasana siang itu cukup panas, cukup panas memang untuk membuat orang nyaman berada di atas sebuah sepeda motor dengan nyamannya. Tapi berbeda dengan Saki, ia cukup bahagia dengan terpaan matahari panas dengan debu yang berterbangan sepanjang jalanan karena hilir mudik kendaraan alat berat sesekali melewati mereka. Tapi Saki sama sekali tidak menghiraukan hal itu sama sekali. Ia masih tersenyum bahagia di atas sepeda motor yang dikendarai pria berdarah jawa itu. Dadanya berdegup kencang setelah sekian lamanya. Aroma parfum pria itu masih sama dengan tiga tahun yang lalu, dan degup jantungnya pun ikut sama. Masih sama persis seperti 7 tahun yang lalu.

Sesekali pria di depannya melirik ke kaca spion untuk mengecek keadaan Saki yang sedari tadi mereka memang belum membuka percakapan. Sepertinya Saki menyadari bahwa Ranu sedang memperhatikannya, dan itu membuat pipinya terlihat memerah seketika.

“Lama ga jumpa, banyak yang berubah ya” Ranu membuka percakapan tatkala mereka sudah berada di lapangan engku putri,
“Gada yang berubah Ranu, semuanya masih sama. Semuanya sama sejak saat pertama kali kita bertemu” Saki menelan ludah ternyata itu hanya berkecamuk di dalam hatinya saja tanpa sanggup ia utarakan
“Gimana sekarang dek? Mas maulah dengar semua ceritamu” Ranu masih sama hangat seperti yang dulu. Iya dia masih sama sedikitpun tidak pernah berubah. Ranu pacar pertama Saki yang kemudian bertransformasi menjadi sahabat lama Saki. Aneh ya kebanyakan dari sahabat berubah menjadi cinta tapi Saki dan Ranu kebalikan dari semua itu, ya itu keputusan yang diambil sepasang kekasih SMA waktu itu, apa boleh buat semua telah terjadi bertahun-tahun yang lalu. Kalau sekarang kejadiannya mungkin akan berbeda. Saki tidak akan menyetujui keputusan bodoh seperti ini.

“Dek, Mas akan melanjutkan karir mas di Batam, dan kita akan terpisah untuk waktu yang sangat lama. Mas ga tau apa yang akan mas temui di sana dan siapa yang akan adek jumpai di sini, bisa jadi setelah mas pergi semuanya tidak akan sama lagi. Mas sayang sama adek, mas ga mau kehilangan adek kalau seandainya… Mas ga bermaksud menyakiti adek.. Tapi memang sebaiknya kita temenan aja. Mas harap adek ngerti”
Hati Saki berontak mendengar semua perkataan Ranu, tapi bagaimana lagi ia teramat menyayangi Ranu
“Iya mas, adek ngerti. Bagi adek siapapun status kita yang terpenting ialah mas ga akan ninggalin adek, mas selalu ada buat adek. Mas janji kan mas ga akan ninggalin adek?” rengek Saki yang sudah berada di dekapan Ranu berusaha menahan tangisnya
“Mas janji” ujar Ranu sambil mengecup lembut kening perempuan yang kini bukan lagi kekasihnya.
Hari itu hari terakhir Ranu dan Saki bertemu. Mereka tidak pernah bertemu lagi setelahnya

Ranu seperti yang ia katakan ia akan meniti kariernya sebagai atlet voli, benar saja Ranu sekarang memang menjadi seperti impiannya, yaitu spiker salah satu tim ternama di kota Batam. Sedangkan Saki sendiri, ia baru saja menyelesaikan pascasarjananya dengan nilai yang cukup memuaskan, Ia memang cukup pintar sedari sekolah. Ranu memang menepati janjinya ia tidak pernah pergi, ia selalu ada buat Saki. Bagi Ranu, perasaannya terhadap Saki, memang telah berubah menjadi kasih sayang terhadap sahabat. Namun tidak bagi Saki baginya Ranu tetaplah Ranu, iya Ranu kekasih pertamanya, bukan Ranu kekasih pertama dan terakhir.

“Dek…” Ranu membuyarkan lamunan Saki
“Emm ya Mas,” Saki menghapus bulir yang tak sengaja menetes dari kelopaknya
“Adek kenapa nangis?” Ranu menyadarinya
“Adek kangen mas…” tangis Saki pecah seketika dan Ranu segera memeluk sang gadis yang sudah terisak-isak di pelukannya. Ranu mengelus-elus rambut Saki seperti 7 tahun yang lalu saat mereka masih berstatus pacaran.
“Mas di sini, mas ga akan pergi,” Ucap pri bermata teduh itu semakin membuat tangis Saki menjadi-jadi sepertinya ia lupa bahwa sekarang ia sudah bergelar Dra. Tingkahnya tak ubah seperti anak SMA saja, sehingga Ranu menjadi semakin bingung

“Saki sayang Mas Ranu” Ujarnya ditengah-tengah tangisannya
“Iya mas tau, Mas juga sayang adek. Adek jangan nangis lagi tapi. Masa selama 7 tahun ga jumpa adek ga mau ngasih mas senyuman nangis mulu dari tadi” Ranu mencoba membujuk Saki
“Tapi sayang Saki sama mas Ranu beda, dengan apa yang Mas Ranu rasakan ke Saki, Saki sayang mas Ranu sama seperti 7 tahun yang lalu. Perasaan Saki ke Mas Ranu sedikit pun belum berubah mas, 7 tahun perpisahan kita sudah cukup membuat Saki menderita dalam penantian. Saki udah ga sanggup kehilangan mas Ranu untuk kedua kalinya. Tolong mas jangan pergi, untuk alasan apapun tolong mas jangan pergi. Tetap di sini, temani adek. Adek sayang banget sama mas” Bathin Saki berteriak berharap terdengar hingga mampir ke telinga Ranu.
Tapi tidak, Ranu tidak boleh tau tentang hal ini. Ranu bisa saja memandang jijik pada Saki yang tidak bisa profesional dan tidak bisa terima kenyataan..

“Tidak, biar aku pendam sendiri perasaan ini, aku ga mau kehilangan mas Ranu untuk kedua kalinya hanya karena sikap bodohku ini”

End

Cerpen Karangan: HA
Blog / Facebook: HA Amellia

Cerpen Being Mine merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mengagumi Itu …

Oleh:
Jika aku memikirkan kata kagum, aku adalah orang yang mudah terkagum-kagum melihat apapun yang aku sukai. Termasuk mengagumi seseorang. Terkadang juga terpikir, apa enaknya sih mengagumi? Toh nanti kamu

Menunggu Demi Dia

Oleh:
Malam itu Putra baru pulang dari kerja kelompok. Putra pun pulang mengendarai motornya dengan senang, karena Putra mendapatkan nomor wanita dari temannya sekelompoknya. Setelah sampai di rumah Putra langsung

Pertemuan Singkat di Halte Bus

Oleh:
Setiap pagi ku langkahkan kaki dengan ceria menuju Halte Bus dimana akan ada bus yang membawaku ke tempat kuliahku. Ditemani sinar sang mentari dan semilir angin di pagi hari.

I’m Not a Monster

Oleh:
Satu tetes air mata pria itu terjatuh. Rasanya menatap orang yang sangat kita cintai dari jauh adalah hal yang paling menyakitkan. Apalagi menatapnya sedang sendirian. Itu adalah hal yang

Singkat Namun Sejuta Rasa

Oleh:
Sore itu, Azel pulang dari kuliah sekitar pukul 5 sore. Menuju Stasiun, menggunakan angkutan umum. Ya, keretalah menjadi alat transportasinya setiap pergi dan pulang kuliah. Sampai di stasiun Azel

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *