Berdamai Dengan Takdir

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam)
Lolos moderasi pada: 5 May 2018

Aku membuka tas sekolahku, dan mendapati benda itu lagi. Ya, surat berwarna merah muda itu lagi. Entah sudah surat keberapa yang sudah kudapat dalam kurun waktu seminggu ini. Bukanya Aku punya banyak penggemar, Aku bahkan nyaris tak punya. Hanya satu, dan dia adalah kakak sepupuku sendiri. Ya berbait-bait kata cinta yang tertulis sangat rapi dalam kertas merah muda dengan gambar kartun favoritku (mickey mouse) itu adalah karya Mas Karel, anak dari kakak Ayahku.

Seandainya surat itu bukan dari Mas Karel, mungkin Aku akan sangat senang. Tapi dia itu Mas Karel, kakakku, yang dulu waktu kecil, kita selalu main bersama, makan bersama, bahkan kami sering mandi di sungai bersama. Dan sekarang Mas Karel mengatakan bahwa ia mencintaiku, mencintai bukan menyayangi selayaknya kakak terhadap adiknya.

Tentang Mas Karel yang mencintaiku, sudah bukan rahasia lagi dalam keluarga besar kami. Jangan tanya bagaimana reaksi Ayah, Ayah sangat marah tentu saja, Apalagi Nenek. Beliau menganggap Akulah yang harus bertanggung jawab atas kondisi ini, alasanya karena Aku perempuan. Akulah yang selalu disalahkan, Mas Karel tentu saja tak tau, jika rasa tak wajarnya menimbulkan beban bagi adik kecilnya ini.

“Tante Laras, Om Karel di depan tu. Tau kalau tante di sini, makanya enggak mau masuk rumah, maunya Tante yang manggil katanya” teriak Esna, Esna adalah keponakanku, anak dari kakak kandung Mas Karel, Esna lebih tua dua tahun dariku, atau seumuran dengan Mas karel. Esna jugalah yang sering dijadikan kurir jika Mas karel mau memberikan surat untukku.

“kebiasaan Mas karel” ucapku sebal.
“suruh Om nya masuk dulu ih tan, entar kalau Mama tau, Mama marah sama Aku lho!”
“Enggak mau ah” tolakku. “Tante mau pulang aja”.
“Kok malah pulang sih, ini drama koreanya lagi seru serunya lho” teriak Esna. Aku tak peduli dengan teriakan Esna ataupun dengan drama korea yang baru kutonton setengahnya.

Di depan aku melihat Mas Karel sedang duduk di teras rumah Esna, ia memejamkan matanya sambil bernyanyi kecil. Aku menatap Mas karel, ia sangat tampan, baik, rajin shalat, Ia selalu melindungiku saat banyak cowok yang menjahiliku.

Tak dapat kupungkiri sejujurnya Aku juga mencintai Mas karel. Banyak yang mengantri untuk jadi pacar Mas karel, tak heran Dia bukanlah tipe pria yang tak mudah dicintai meskipun Mas karel bukanlah perayu ulung, juga bukan tipe badboy sekolah. Ia tampan, agak sedikit kaku, dan terkesan cupu, tapi ia adalah orang yang baik, patuh pada orangtua, dan sifat itulah yang banyak dikagumi cewek-cewek.

Ketika Aku sibuk dengan pikiranku sendiri, tiba tiba Mas karel membuka matanya. Membuatku kaget dan lekas mengalihkan pandanganku.

“Laras sejak kapan kamu di situ” sapanya begitu menyadari keberadaanku. Aku hanya berdoa mudah mudahan Mas Karel tak menyadari kalau aku mengamatinya dari tadi.
“Enggak Kar, aku baru aja keluar” dustaku.
Aku melihat raut wajah karel berubah kecewa, aku tau ini pasti tentang aku yang tak lagi memanggilnya dengan embel embel mas, seperti jaman dahulu kala, karena jika aku memanggilnya ‘mas’ ia akan meledekku karena panggilan itu akan terdengar seperti panggilan sayang.
“Mau ke mana?” tanyanya begitu Aku berlalu pergi.
Aku tak menjawab, dan hanya terus berlalu, sebenarnya ada banyak hal yang ingin kukatakan pada Mas karel. Termasuk mengenai sikap semua orang padaku, tentang cemoohan keluarga padaku. Tapi aku tak ingin membuat Mas karel merasa bersalah, cukup aku saja.

Mas Karel menghentikan langkahku dengan mencekal lenganku erat.
“Berhenti mendiamkanku Ras” ucapnya sendu.
“Kamu pikir saja sendiri, mengapa aku seperti ini” ucapku ketus.
“aku enggak tau kenapa” desianya. “kalau ini tentang rasa cintaku ke kamu, aku enggak tau di mana letak salahnya”
“apanya yang salah?” tanyaku tak percaya.
“aku yakin Al Quran bahkan tak melarang kita menikah”
“kamu enggak pernah memikirkah perasaan Ayah sama Bude, perasaan Nenek sama kakek” teriaku.
Mas Karel menunduk. Maaf mas, batinku.

“Sekarang mau kamu apa?” tanya mas karel setelah lama terdiam.
“Aku mau kita seperti dulu, tak ada cinta hanya sayang, atau jika kamu enggak bisa menjauhlah dari aku, di hati aku ada orang lain, namanya Pras dan aku enggak mau kamu ganggu aku lagi” dustaku.
Maaf, aku mencintaimu Muhammad karel prasetio. Maaf karena membuatmu terluka, aku harus pergi karena aku tak mau melukaimu jauh dari ini.

Aku tau Mas karel terluka dengan sikapku yang acuh tak acuh padanya. Tapi aku tak mau membuat Mas karel ikut terluka lebih dalam bersamaku. Aku tau hubungan kami bukan hubungan terlarang kami hanya saudara sepupu, tak ada larangan untuk kami menikah. Tapi bagaimana pandangan orang terhadap kami nantinya, bagaimana kecewanya orangtua kami. Jadi biarlah kali ini kami terluka, toh lukaituakan sembuh seiring berjalanya waktu. ya, aku harap seperti itu.

Dan ternyata itu hanya harapanku, nyatanya setelah tujuh tahun berlalu rasa sakit ini masih sama. Aku dan Mas karel saling diam, selama tujuh tahun ini juga kami hanya bicara seperlunya.

Aku beberapa kali pacaran, tapi ketika mereka menyakitiku aku akan mengingat Mas karel, Mas karel tak pernah menyakitiku, mungkin pernah, yaitu ketika ia pulang membawa pacar pacarnya. Mas karel jadi playboy pacarnya sering gonta ganti. tapi akhir akhir ini tidak, gadis manis itu sepertinya akan menjadi tambatan terakhirnya.

Kata Raisa (adik esna). pacar Mas karel yang sekarang adalah tante yang baik dan cantik. Aku sakit karena itu, Mas karel bukan orang yang layak disia siakan, dan dulu aku melakukanya.

Mas karel meski mungkin sudah tak mencintaiku lagi, tapi ia tetaplah kakak yang baik, aku ingat Dua tahun yang lalu saat kami, maksudku bersama teman teman yang lain jalan jalan bersama, tak ada satupun yang mau membawaku, mas karel dengan rela membawaku serta, itu adalah kali pertama dan terakhir aku membonceng motor mas Karel dalam kurun waktu tuju tahun ini.

Dan sekarang aku hanya mencoba berdamai dengan takdirku, takdir di mana aku memang tak berjodoh dengan mas Karel.
if you not made for me, i belive that you made to other woman who better than i am.
terima kasih untuk pernah mencintaiku.
my gentleman cousin.

END

Cerpen Karangan: Herlina nasyiroh
Facebook: Herlina Mutia Nasyiroh

Cerpen Berdamai Dengan Takdir merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


The Seniors Novelist

Oleh:
Aneh, dia selalu memandangku seperti itu. Layaknya singa lapar yang menemukan mangsa. Dan sedetik selanjutnya, dia akan tertawa seperti sedang menoton stand up comedy. Nicholas Yovian, Kakak Kelas menyebalkan

Cinta Dalam Hati

Oleh:
“Mungkin ini memang jalan takdirku. Mengagumi tanpa dicintai.” Itulah kutipan lirik lagu yang dinyanyikan oleh group band asal Indonesia yang bernama Ungu. Setiap kalimat dalam lirik tersebut seperti tengah

Pertemuanku Dengannya

Oleh:
Aku menyimpan perasaan yang selama ini tak ada satu orang pun yang tahu, yang tahu hanya aku dan Tuhan. Aku bertemu dengan dia saat aku masih duduk di SMP.

Dari Senyum Itu

Oleh:
Pertemuanku pertama kali dengan seorang peri, begitu aku menyebutnya hingga detik ini, adalah ketika hari pertama perkenalan masuk SMA atau biasa disebut MOS. Ketika para siswa baru merasakan berbagai

KetentuanMu

Oleh:
Sejak awal tak pernah ada niat Putri untuk sekolah di tempatnya sekarang berdiri, jangankan untuk sekolah untuk menginjakan kaki di depan pintu gerbang saja mustahil fikirnya. Bukan karena dia

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *