Bertahan Untuk Mencintai

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam)
Lolos moderasi pada: 19 October 2018

Andi, seorang mahasiswa semester 4 yang baru saja putus dengan pacarnya, Rina. Semua orang tahu bahwa Andi adalah anak bad boy. Lihat saja, celananya sobek-sobek, rambutnya gondrong, setiap hari pulang malam, pokoknya sulit sekali melihat kebaikan dari Andi.

Pada suatu hari, Andi ditugaskan oleh jurusan untuk mengikuti seminar di kota Yogyakarta. Karena seminar telah selesai, maka Andi memiliki waktu lebih untuk menikmati indahnya Kota Yogya. Andi mengirim pesan Whatsapp kepada Yana, teman sekolahnya yang sedang menempuh kuliah di Yogyakarta, berharap Yana dapat menemaninya berkeliling dan menikmati indahnya kota. Untunglah, ternyata Yana juga punya waktu luang untuk menemani Andi. Tak lama kemudian Yana menjemput Andi.

Yana menemani Andi berkeliling kota disambi temu kangen. Mereka saling ngobrol dan bertanya-tanya tentang kehidupan meraka di perkuliahan. Tak lupa juga, mereka melakukan kebiasaan mereka saat masih sekolah. Salah satu kebiasaan mereka adalah kuliner. Andi dan Yana sama-sama suka berkuliner dan mereka biasa kuliner bersama saat masih sekolah dulu.

“Eh, kamu kok gondrong sih sekarang?” tanya Yana yang heran. Maklum saja, wajah Andi sangatlah mencerminkan wajah anak polos semasa SMA. Namun semua teman Andi sangatlah paham sifat Andi bertolak belakang dengan wajahnya.
“Hehehe iya, masa anak rock n roll rambutnya pendek.” jawab Andi dengan raut wajah khasnya.
“Lah? Bagusan gitu kok, udah panjangin aja ndi.” jawab Yana. Yana memang bukan seperti wanita lainnya. Meskipun cantik, ia bukanlah sosok wanita glamour yang menomor-satukan penampilannya, ia juga penggemar lagu-lagu rock era 80 an, pantaslah Yana mendukung penampilan Andi.
“Kamu nggak dimarahi mama gara-gara gondrong?” tanya Yana kepada Andi.
“Aku pernah sih debat sama mama, tapi akhirnya mama ngebolehin. Aku bingung, Yan, temen-temen kita pada nganggep aku nakal. Emang sih aku nggak kayak dulu pas SMA. Dulu waktu SMA aku gapernah ngerokok didepan temen-temen, gapernah pake celana sobek di depan temen, aku emang palsu dulu, aku jaim, tapi apa sih salahnya jadi diri sendiri, kenapa waktu aku jadi diri sendiri semua orang bilang aku nakal?” curhat Andi kepada Yana.
“Hahaha, udahlah, ndi. Jadi diri kamu aja. Toh aku masih nganggap kamu temen kok meskipun kamu kayak gini. buktinya nih! kita makan bareng!” Yana menjawabnya sambil tertawa.
“hahaha, iso ae awakmu iki. Iya sih aku juga mikir kayak kamu. Biarin orang lain menilai aku seperti apa, yang penting aku nggak pernah jahat ke mereka!” jawab Andi sambal tersenyum.

Percakapan demi percakapan mereka tuturkan hingga tidak terasa waktu sudah hampir larut malam. Rupanya asyiknya percakapan di antara mereka membuat Andi kembali ke masa lalu. Sepertinya Andi mulai suka pada Yana. Bagaimana tidak, Yana adalah mungkin satu-satunya orang yang bisa memahami perilaku Andi yang dinilai orang-orang tidak baik.

Andi dan Yana memang sudah lama akrab. Mereka sudah berteman sejak SMP. Faktanya, Andi menyukai Yana saat SMP dan Andi sempat ditolak oleh Yana. Yana lebih memilih sahabat Andi daripada Andi sendiri. Entah, siapa yang harus disalahkan. Yana adalah orang yang manis, ia sangatlah nyaman untuk dijadikan teman bicara ditambah lagi sifatnya yang cuek terhadap penampilannya yang menjadikan ia cantik natural. Mungkin itulah alasan Andi menyukainya di saat SMP. Sayangnya, Andi terjatuh kedalam ilusinya. Yana memanglah bersikap manis kepada Andi, namun tidak disangka ia juga bersikap manis kepada sahabat Andi, Reza. Sebenarnya, Reza adalah yang pertama yang mendekati Yana. Lalu siapakah yang salah? Entah.

Andi telah melupakan jauh-jauh tentang kejadian. Andi menganggap tidak pernah ada apa-apa yang terjadi di antara Andi dan Yana. Andi menolak untuk saling acuh tak acuh dengan Yana, meskipun tertimbun rasa sakit hati di dalam hati Andi, tapi mereka masih menjadi teman yang saling tolong-menolong seakan memang tidak pernah terjadi apa-apa.
Satu tahun yang lalu, Yana sempat bercerita kepada Andi tentang putusnya hubungan mereka. Andi terkejut dan bahkan ia tidak tahu apa yang ia rasakan. Andi sangatlah bimbang. Bagaimana tidak, Yana adalah mantan sahabatnya sendiri sementara Andi masih menyimpan sedikit perasaan kepada Yana. Meskipun begitu, Andi juga berusaha keras untuk menahan perasaannya.

Semenjak ditolak Yana, Andi sangatlah cuek terhadap wanita. Sampai teman-teman di sekolahnya menganggap Andi adalah orang yang tidak mempunyai hati. Rayuan, kode, hingga pengungkapan cinta dari temannya ia tolak. Andi tidak pernah menganggap serius jika berurusan dengan wanita, ia sangatlah takut terjatuh di lubang yang sama. Begitu pula sekarang, meskipun Andi mulai menyukai Yana lagi namun Andi berusaha keras untuk menahan perasaannya.

“Reza? Cuih! dulu aja pas PDKT bilang butuh! sekarang pas udah jadi pacar, eh, dibuang-buang. Emang cowo sama aja. Bajingan semua!” lanjut Yana bercerita kepada Andi.
“Hahahaha! yan, yan! Cowok emang cowok. Ya gimana lagi, yan? Aku aja cari pacar lihat fisik, hahahahaha! namanya juga cowok.” Jawab Andi sambil menghisap rokoknya. Memang, untuk mendapatkan perhatian Yana, cara andi cukuplah bodoh. Bagaimana tidak, ia memberikan jawaban yang tidak disukai oleh wanita. Ditambah lagi ia merokok yang merupakan salah satu alasan Yana sempat putus dengan Reza.

Namun siapa sangka tindakan Andi sebenarnya memiliki tujuan. Andi memiliki trauma dikarenakan Rina, mantannya. Andi sempat menjadi orang yang sangat baik, hampir seluruh teman kelasnya mengaguminya. Ia sempat meninggalkan teman-temannya demi mendapatkan Rina. Andi meninggalkan semua yang ia senangi, hobi, teman, sahabat hanya demi mendapatkan Rina. Semua minat Andi memanglah terlihat mencolok dimata teman-temannya. Mulai dari bermain game sepanjang hari, meninggalkan kursusnya demi latihan band, hingga tidak mengerjakan PR Karena Andi selalu keluar di malam hari bersama teman-temannya. Oleh Karena itu, meninggalkan kebiasaannya adalah hal positif di mata teman-temannya. Wajahnya yang manis dan perilaku yang baik, siapa yang tidak suka dengan lelaki seperti ini.
Namun, Andi tetaplah Andi. Sebanyak apapun perubahan yang telah dialami, sifat aslinya tetap melekat dijiwanya. Pada akhirnya Andi tidak tahan dengan kehidupannya yang palsu itu. Untuk apa berpacaran jika tidak dapat melakukan apa yang diinginkan, pikir Andi. Oleh Karena itu, Andi tidak bisa membiarkan itu terulang kembali. Meskipun Andi menginginkan Yana namun, Andi menolak untuk memalsukan dirinya lagi untuk kedua kalinya.

Semenjak hari itu, hari dimana akhirnya Andi bertemu Yana di Yogyakarta setelah sekian lama tidak bertemu, Hubungan Andi dengan Yana semakin dekat kembali. Hampir setiap hari mereka saling mengirimkan pesan lewat Whatsapp. Meskipun dekat, Andi menolak untuk menyatakan cintanya. Bukannya takut ditolak, namun Andi takut akan perpisahan diantara mereka. Bagi Andi, Yana adalah wanita yang sempurna, selain wajahnya yang cantik, namun Andi sangatlah nyaman bersosialisasi dengannya Karena ialah yang dapat memahami Andi. Yana akan menjauhinya jika Andi ditolak sekali lagi, dan bahkan Yana akan menghilang bila mereka berpacaran lalu putus, oleh karena itu Andi memilih untuk diam, dan hanya menjadi pendampingnya yang akan menghibur Yana saat sedih dan ikut tersenyum disaat Yana bahagia.

Entah bagaimana dengan Yana. Mungkin ia juga merasa nyaman. Nyaman sebagai teman. Andi menolak berharap terlalu tinggi. Saat ini, yang diinginkan Andi hanyalah tetap berkomunikasi dengan Yana. Andi sangatlah mahir untuk tetap menjaga komunikasi. Kelihatannya Yana sudah mulai percaya dengan Andi. Yana selalu bercerita tentang apapun kepada Andi selayaknya soulmate-nya sendiri.

“Ndi, makasih ya.. Aku seneng kamu selalu ada :)”
“Santai, kamu nggak pernah sendirian kok. Kalo ada apa-apa masih ada aku :))”
“Hahahaha, cie yang selalu ada :’) Kamu juga ya! jangan cerita ke siapa-siapa kalo ada apa-apa! ke aku aja!”
“Siap bos! aku selalu di sini juga menatap layar hape siap mendengarkan curahan hatimu yang ga penting!”
“Dasar cowo goblok! -_- tapi makasih ya, ndi. Kamu tahu sendiri, orang-orang yang datang ke kehidupanku ujung-ujungnya ninggalin aku. Makasih, Ndi, masih mau jadi temenku :)”
“Apaan sih, Yan? alay bet deh lu wqwqwq.”
“Eh… awas ya! besok ga jadi aku traktir!”
“eh iya-iya, ampun Yan, ampun… aku jemput deh besok hehehe, habis makan aku bayarin nonton!”
“ahh.. co cweet banget!”
“dasar -_-” sedikit dari banyaknya percakapan mereka di Whatsapp. Dua tahun kemudian mereka sudah terlihat seperti saudara kembar yang tak bisa dipisahkan. Sudah banyak orang yang menganggap mereka telah berpacaran. Sebenarnya saat-saat seperti ini adalah saat yang tepat untuk Andi untuk mengungkapkan cintanya. Namun tetaplah Andi memilih untuk menjadi temannya, pelindungnya, penghiburnya, daripada menjadi kekasihnya.

“Ndi, aku mau cerita” ucap Yana.
“Cerita aja, Yan. aku malah bahagia kamu cerita!” jawab Andi bersemangat.
“Ehh.. ehh… sebenernya, ada cowo yang deketin aku. Aku harus gimana?” lanjut Yama.
“…” Andi sempat terdiam, ia tidak tahu harus menjawab apa.
“Ndi?” tanya Yana sambal menepuk Andi.
“Ah… hahahaha, eh, terserah kamu lah, Yan! emang cowoknya kayak apa?” kata Andi sambil menahan kecemburuannya.
“Baik sih, dia suka bantuin aku, anaknya lumayan manis sih..” Lanjut Yana dengan raut muka malu-malu.
“eh.. hehehe.. kalo dia bikin kamu bahagia yaudah gaspol!” Andi menahan emosinya.
“ehm.. i.. itu.. anu.. kamunya gimana?” tanya Yana dengan gugup.
“aku? Loh aku kenapa? Hahaha.. udahlah, Yan, lakuin apa yang kamu inginkan. Selama kamu seneng aku juga seneng!” Jawab Andi sambil menahan sakit hatinya.
“aku jalanin aja dulu, Ndi. Apapun yang terjadi jangan tinggalin aku, ya! ajak aku makan terus, ya!” seru Yana sambil tersenyum menatap Andi.
“he-em!” Andi menganggukkan kepalanya dan tersenyum.

Sebulan kemudian, Andi pergi ke caffe langganannya di kampung halamannya, Pasuruan, sebuah kota yang damai tempat bertemunya Andi dengan Yana. Mereka biasanya nongkrong bersama di caffe itu, pemiliknya pun hafal dengan Andi dan Yana. Tak lama kemudian masuklah seorang lelaki, dan tidak disangka lelaki itu bersama Yana. Melihat itu, hati Andi sangatlah kacau melihat orang yang selama ini ia sayangi bersama orang lain.

“Eh, Andi! Apa kabar?” Sapa Yana.
“Yana! Baik kok! ini?” Jawab Andi sambal menunjuk lelaki di samping Yana.
“Ini Rehan, Ndi, pacar aku, yang aku ceritain ke kamu itu, lho!” Ujar Yana.

Andi dan Rehan pun berkenalan. Sepertinya memang benar, Yana tidak punya perasaan apa-apa kepada Andi. Memang mungkin sifat Yana yang selalu bersikap manis kepada orang-orang yang ia kenal. Andi tidak lah kaget, tapi tetap saja sakit hati yang ia rasakan sangatlah terasa pedih. Terjatuh di lubang yang sama, itulah yang ada di benak Andi saat ini.
“eh, aku ada acara, nih. Aku pulang dulu ya.” Ucap Andi.
“bro, ngapain buru? Santai sini aja, aku yang bayar!” Ucap Rehan.
“Udah, nggak usah. Terlambat nih, sorry ya, duluan, Yan!” Jawab Andi sambil langsung keluar dari caffe.
Perasaan Andi tercampur aduk. Sedih, marah, cemburu, menyesal, namun tidak ada yang bisa dilakukan oleh Andi. Orang yang ia cintai selama ini, sekali lagi dimiliki oleh orang lain.
Andi belum menyerah. Andi teringat perkataan Yana. “…jangan tinggalin aku, ya!…” Andi masih mempunyai harapan untuk tetap berkomunikasi dengan Yana.
“Hei, yan. ngopi yuk?” Tulis Andi di Whatsapp.
“Sori banget, Ndi… aku sibuk nih..” jawab Yana.
Andi masih terus berusaha agar bisa berkomunikasi dengan Yana. Andi mengerti jika ini masih dilanjutkan maka bisa saja merusak hubungan mereka. Tapi bagaimana lagi, Andi sudah terlanjur cinta.
“Yan, kamu free nggak?” Andi berusaha mendapatkan perhatian Yana.
“Y, sori.” Jawab Yana dengan singkat.
Andi masih belum menyerah dan masih akan berusaha. Namun sayangnya, sepertinya usaha andi benar-benar tidak membuahkan hasil. Pada akhirnya Yana benar-benar menghilang. Semua pesan dari Andi tidak pernah di balas oleh Yana. Semua telepon dari Andi juga selalu di reject. Andi punya satu cara lagi yang mungkin adalah cara terakhirnya. Andi akan mendatangi rumah Yana dan mengajaknya keluar esok malam.

Keesokan harinya, Andi telah bersiap-siap untuk mennjemput Yana. Andi hanya ingin menjaga hubungannya, tidak lebih. Mesikpun terasa sakit, Andi rela bila Yana bahagia dengan orang lain. Andi hanya tidak ingin hubungan antara mereka terputus. “Mungkin benar katamu, Yan. Aku itu bodoh.” Kalimat yang ada di benak Andi sebelum berangkat menjemput Yana.
“Halo! Yana..?” Sapa Andi sambal mengetuk pintu rumah Yana.
“Andi? Ngapain kamu?” jawab Yana.
“Keluar, yuk! beli makan atau ngapainlah terserah kamu, aku bosan,” Ucap Andi dengan ciri khas sok asyiknya.
“Aku nggak bisa, Ndi! Aku sibuk!” Bentak Yana kepada Andi.
“Untuk terakhir kali, Yan, please.” Ucap Andi dengan lembut dan menahan air matanya.
“Maaf, Ndi. aku nggak bisa.” Jawab Yana dengan muka masam sambil menutup pintu.
“Yana? Jangan ditutup! tolong dengerin aku, Yan!” seru Andi sambil mengketuk-ketuk pintu.
“Mungkin nggak semua cowo itu bajingan. Mungkin kamu yang salah. Aku yang selalu dengerin ceritamu sampai aku ngorbanin waktu tidurku. Aku yang nemenin kamu saat kamu sedih. Kalau kamu bahagia? Aku selalu ngajak kamu keluar biar kamu lebih bahagia! ini bukan soal kamu! Tapi.. tapi.. ngelakuin itu semua juga bikin aku bahagia! Kamu sendiri yang nyuruh aku nggak ngelupain kamu. Tapi kamu sendiri yang nyatanya lupa sama aku. Mungkin cowok-cowok nggak bajingan. Tapi coba lihat kaca!” Tegas Andi.
“Iya, nggak papa kok meskipun kamu nggak bukain pintu. Tenang saja, Yan! aku nggak akan berubah, kok. Kalo kamu butuh aku, kamu bisa chat aku, kamu tau kan rumahku? Kerumahku aja kalau butuh aku, hehehe. Aku pulang dulu ya! maaf ganggu.” Ucap Andi dengan memalsukan tawanya sebelum meninggalkan rumah Yana.
Semenjak itu, Andi mulai mencoba untuk melupakan momen-momen mereka bersama. Andi mulai mencari kesibukkan untuk membantunya melupakan Yana. Andi membantu ayahnya bekerja sebagai konsultan mesin sambil menyelesaikan skripsi.

Tiga bulan kemudian, sepertinya, sesuatu yang buruk sedang menimpa Yana. Andi yang sedang mengendarai mobil melihat Yana berjalan sendirian dengan matanya berkaca-kaca dan tangannya menutupi mulutnya.
“Dia cuek, deketin cewek lain, nggak pernah ngehubungin kamu, pas kamu lihat hapenya ternyata banyak cewek yang dia telponin, terus kamu marah dan kamu yang diputusin. Dia itu bajingan, kan?” ujar Andi dari dalam mobil kepada Yana yang sedang termehek-mehek.
“kamu.. kok t-t-tau?” Jawab Yana termehek-mehek.
“Halah! satu-satunya cowo di hidupmu yang bukan bajingan cuma aku! cepet masuk sini!” seru Andi dengan sifat sok asyiknya seperti biasa.
“Ndi.. sekali lagi, kamu ada buat ak..”
“bacot lu! ayo makan, laper nih!” Sela Andi.
“Ehm.. i-iya ayo!” Jawab Yana sambal tersenyum malu-malu merindukan sifat Andi yang sok asyik.

Waktu sudah mulai larut malam. Meskipun baru saja diputuskan, namun wajah Yana tidak menunjukkan kesedihan sama sekali semenjak datangnya Andi. Andi merupakan penyembuh bagi Yana, ia selalu ada setiap Yana membutuhkannya, bahkan ketika Yana sempat meninggalkan Andi. Andi menolak membahas apa yang teah terjadi kepada Yana. Andi memilih langsung memulangkan Yana.

“Makasih, ya, sudah anter aku. Sekali lagi kamu bikin aku bahagia, lagi. Aku minta ma…”
“Yan..” sela Andi.
“Aku udah mengakui kok sekarang. Kamu bener, aku goblok. Dan aku nggak mau jadi goblok lagi. Kamu terlalu berharga buat aku, jadi, aku nggak mau ngebiarin kamu sakit hati lagi. Dan aku nggak mau bikin cemburu diri sendiri.” Ucap Andi dengan menatap dalam-dalam mata Yana.
“hah? Maksudnya?” tanya Yana lagi.
“Kamu pacarannya sama aku aja, ya.” Lanjut Andi.
Perlahan mata Yana berkaca-kaca. Tak lama kemudian meneteslah air mata Yana lalu ditamparlah Andi oleh Yana. “Kamu salah, kok! aku yang benar! semua cowok itu bajingan!” ucap Yana sambal menangis.
Air mata Yana sudah tidak bisa terbendungkan sama sekali, nafasnya juga tersendat-sendat. Yana langsung memluk Andi dan menangis di dadanya. “Dasar kamu bajingan! kenapa kamu biarin aku sama Rehan!? aku cuma mau sama kamu! aku nunggu kamu! tapi aku kira kamu nggak akan mau sama aku. Ya sudah aku sama Rehan saja dan kamu ngebiarin aku!” lanjut Yana dengan suaranya yang sudah mulai tersendat-sendat.
“Aku cuma butuh kamu, aku butuh orang yang selalu ada, kenapa kamu lama sekali?! peluk aku, dasar, bego!” lanjutnya.
Andi yang dalam hatinya merasa senang perlahan memluk Yana. “ehm.. tapi.. tapi kamu jadi mau jadi pacarku kan?” jawab Andi pura-pura bodoh.
“Iya, jelas lah, bego! mau sekali!” Yana mengeratkan pelukannya.
“Makasih, Yan! aku udah lama saying kamu, aku bersyukur akhirnya aku bisa sama kamu lagi. Hehehe, masuk rumah dulu sana terus tidur. Besok pagi aku jemput makan pecel, ya?” lagi-lagi Andi bertingkah pura-pura bodoh.
“I-iya ajakin aku setiap hari boleh kok! Makasih, sampai ketemu besok, s-sa-sayang!” ujar Yana tersenyum bergembira.
Yana pun masuk kedalam rumahnya. Andi pun melaju kembali kerumahnya tersenyum di sepanjang jalan. Andi tidak pernah sebahagia ini, mendapatkan orang yang telah ia kagumi sejak SMP. Siapa sangka usahanya ternyata berhasil. Yana mungkin adalah wanita yang bisa merebut hati para lelaki. Sulit untuk membedakan apakah Yana benar-benar cinta pada seorang lelaki atau tidak Karena Yana bersikap sama terhadap semua teman lelakinya.

Andi percaya sepenuhnya terhadap Yana. Meski sempat terpikir tentang sifatnya yang bersikap sama terhadap semua lelaki. Andi memahami bahwa Yana juga butuh teman. Andi percaya bahwa ia adalah “rumah” bagi Yana. Untuk apa menjadi posesif, pada akhirnya juga akan terpisahkan oleh ketidak-nyamanan. Biarkan lah bebas, jika cinta maka untuk apa lari.

Cerpen Karangan: Bintang Rizcky Soeharwono
Facebook: facebook.com/bintang.rizcky
Baru saja mencoba menulis.

Cerpen Bertahan Untuk Mencintai merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Disaat Cinta Mulai Menyapa

Oleh:
Siang itu matahari bersinar sangat terik. Panasnya menusuk hingga ke kulit anak-anak jalanan yang mulai berhamburan menghampiri setiap mobil yang berhenti di pertigaan lampu merah. Nia dan Rangga yang

Kudoakan Yang Terbaik Untukmu

Oleh:
Aku memandang mentari senja di sebuah pelataran. Gedung kampus ini memang mengizinkan mahasiswanya untuk bersantai-santai di atap. Sehingga tempat ini menjadi salah satu tempat favorit bagi para muda-mudi yang

Serpihan Sastra Dari Alceo

Oleh:
Jakarta, 9 Juli 2007 Tahun ajaran baru kelas XI. Cowok asing itu? Mungkin dia murid baru. Rambutnya gondrong dan penampilannya tak rapi seperti tipikal cowok berandal. Tampak beberapa gelang

Selalu Menunggu

Oleh:
Aku adalah seorang perempuan yang sekolah di SMP negeri, namaku vina. Aku baru saja naik kelas ke kelas 9. Hari ini adalah pembagian kelas dan aku dapat kelas 9

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *