Bilur

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 18 January 2020

“Apa yang aku rasakan, belum tentu kau juga merasakannya. Apa yang ingin aku ungkapkan belum tentu kau mau mendengarnya”

Habis sudah novel di gegamanku ini kutelaah, waktu senjapun sudah mulai habis menuju malam. Kerjaanku setiap hari hanya itu itu saja, bersekolah sampai sore lalu berdiam diri menikmati senja bersama buku, dan saat malam datang, yah, sesungguhnya, aku benci malam. Malam selalu membuatku mengingat sosoknya, sosok yang benar benar aku cintai.

Aku tidak tahu, sudah berapa lama hatiku berlabuh pada laki laki itu, laki laki yang bahkan sampai sekarang tidak pernah mengetahui isi hatiku, lelaki yang setiap hari selalu membuat air mataku mengalir dengan sikapnya. Seperti malam biasanya, malam ini aku tertidur dengan membawa ia ke dalam buaian mimpiku. Ah, aku ingin perasaan ini lenyap.

Pagi ini aku berangkat sekolah dengan perasaan kacau, pagi-pagi sudah kena omelan ibu karena kesiangan, ditambah aku tak mendapat jatah sarapan karna dihabiskan oleh adikku. Seperti biasanya, untuk menuju sekolah aku menunggu angkutan umum di jalan raya dekat rumahku, sejujurnya, aku senang menunggu di pinggir jalan seperti ini, karena dengan begitu aku bisa melihat Rizal laki laki yang aku cintai. Dan benar, tidak lama kemudian ia lewat di hadapanku bersama temannya,

“Hay risa” Oh tidak, dia tidak mengatakan itu, dia malah tidak melihatku sama sekali. Namun entah mengapa dengan melihatnya saja aku sangat bahagia, bahkan sampai kejadian di rumah tadi aku lupakan. Bertemu rizal benar benar membuat suasana hatiku membaik. “Risa lama banget si lo!” Tegur Fanya sahabatku, dia sering menungguku di gerbang sekolah padahal aku tak pernah memintanya “Iya fan, tadi gue nungguin rizal lewat, lumayan kan buat penyemangat seharian” jawabku sambil tersenyum santai
“Lo mau sampe kapan si ngarepin dia? dia tuh gak suka ris sama lo, dia itu baik sama lo karna gak enak aja, dan lo emang gak inget sama kejadian kemaren? lo hampir celaka diabisin mantannya dia” Oceh Fanya mengingatkanku
“Iya Fan, gue tau makanya gue milih ngejauhin dia, dan pura pura gak suka lagi”
“Yaudah bagus, maaf gue ngomong gini gue cuma gak mau lo kenapa napa ris”
KRING!!…
“Eh fan udah bel kita masuk aja yuk” ajaku sambil menarik tangan Fanya.

Omongan Fanya tadi sepertinya memang ada benarnya, kejadian beberapa waktu yang lalu. Saat aku mencoba untuk mendekati Rizal namun dihalangi oleh Siska mantan Rizal yang mengamuk ingin menghajarku karena tidak terima bila Rizal didekati perempuan lain, sungguh sebenarnya perlakuan Siska terhadapku terlalu berlebihanan, sejak insiden itu semua antara aku dan Rizal berubah menjadi kecanggungan. Aku tak mau itu terulang lagi. Jika itu nantinya terulang, mungkin sampai kapanpun aku dan Rizal tak akan pernah berbicara lagi. Meskipun karena kejadian hari itu sampai sekarang aku dan rizal tak saling menyapa lagi.. Mungkin hari itu bisa menjadi kesempatan terakhirku bercengkrama dengannya. Harusnya aku lebih berhati-hati dalam memakai kesempatan. Namun benar kata orang, waktu tidak pernah bisa diputar ulang.

“Ris liat nih Rizal abis ngepost foto” Ucap Fanya sembari menyodorkan handphonenya “Wah dia ganteng bangett” Wajahku selalu berseri ketika melihat Rizal, entah dalam foto ataupun secara langsung. Namun seketika perasaanku hancur ketika melihat komentar komentar di Fotonya, ada seorang gadis berkomentar dengan kata kata manis dan dia membalasnya. Hatiku patah saat itu, aku meneteskan air mata. Kau tau? bahkan perasaanku saat ini tidak mampu didefinisikan oleh kata. Fanya memelukku, aku tahu, sahabatku pasti mengetahui apa yang aku rasakan.

Aku pulang ke rumah dengan hati galau, semakin lama rasa ini semakin membebaniku, semakin aku bingung harus berbuat apa lagi untuknya. Bukannya aku tak mau jujur dengan perasaanku, hanya saja aku di sini seakan menunggu. Entah apa yang aku tunggu. Menunggu waktu? Mungkin saja.. Ya, sampai sekarang aku belum berani mengungkapkan apa yang aku rasakan. Aku hanya mampu berkhayal, memendam semua, dan menunggu serta menjadi pengagum rahasianya dari jauh. Atau bahkan mungkin ini semua tak akan pernah terwujud. Bukan hal yang mudah melewati semua ini. Terkadang akan muncul perasaan seperti ingin tapi tak ingin. Entahlah. Mungkinkah ini yang selalu dilakukan oleh orang yang sedang jatuh cinta diam-diam..? Apalah arti semua ini. Aku hanya mampu diam dan bungkam. Tak mungkin aku berucap tiba-tiba di hadapannya. Padahal Rizal belum terlalu mengenal siapa aku, riwayatku, latar belakangku dan semua hal tentangku disaat aku telah mengetahui semua hal tentangnya. Miris memang. Lagipula ada sesuatu lain yang mengganjal hatiku. Aku tahu jika bukan hanya aku yang memiliki perasaan ini untukmu. Aku tahu aku bukanlah satu-satunya, bukan yang bisa membuatnya nyaman dan bahagia. Aku merasa jika aku tak pantas untuknya, maka dari itulah, aku memilih diam dan terus diam.

Kembali lagi ke senja, Rizal seperti senja, indah dan selalu ingin kumiliki selamanya, namun senja hanya sebentar saja menampakan keindahannya, senja akan pergi bersama malam, meninggalkanku sendiri.

Cerpen Karangan: Oktania Martyawati a.k.a Tania Martya
Blog / Facebook: Taniihuyy

Cerpen Bilur merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Secret Admirer

Oleh:
Mengagumimu adalah sebuah anugerah indah yang diberikan tuhan padaku, lewat dirimu aku mengerti arti indahnya cinta, lewat dirimu pula kujajaki selangkah demi selangkah jalan yang berbatu.. Tajam dan menusuk.

Penyesalan Dan Rindu Yang Tak Berujung

Oleh:
Aku termenung sendiri di kursi kesayanganku. Menyesali kejadian 3 tahun lalu yang telah kulakukan padanya. Saat itu aku memutuskanya tanpa alasan tapi entah mengapa aku selalu menyesalinya dan selalu

Bertepuk Sebelah Tangan (Part 2)

Oleh:
Meninggalnya kedua orangtua Fadhil memang membuatnya terpukul, jarang ia mau makan. Saat ingin makan, ia tak lapar, saat ingin minum ia tak haus, saat ia tak ingin makan, ia

Idol Tak Akan Menghianati

Oleh:
Dulu aku punya teman baik saling tolong menolong. Namanya Ge, kita juga tidak pernah bertengkar sekalipun bertengkar itu hanya candaan semata. Hingga ada satu hal yang membuat persahabatan kita

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *