Bisakah?

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Slice Of Life
Lolos moderasi pada: 25 October 2017

Aula PKM penuh sesak kali ini. Banyak mahasiswa satu program studi berkumpul serta bercakap-cakap di sini. Setidaknya, itu yang dilihatnya ketika menginjakkan kaki di depan pintu kaca dengan tambahan kertas persegi bertuliskan: “Tempat seleksi calon anggota baru HIMA PBSI”.

“Rame banget.” Keke mengkeret di depan pintu kaca. Salah satu tangannya menyentuh pintu dengan ekspresi nelangsa. Ia akan melakukan tes wawancara di sini. Dari kelas ia sudah menyiapkan mental dengan sekuat tenaga, tetapi ketika melihat banyaknya orang di dalam sana, nyalinya kembali turun dengan drastis.
“Pede aja, deh, Ke. Badan lo gede, masa’ nyali lo secuil,” celetuk Acha sambil tertawa geli.
“Anjay, lo!” sungut Keke menyikut pinggang Acha pelan. “Iya juga sih, ya.”
Sontak, orang-orang di sekitarnya tertawa, bukan hanya Acha saja. Keke nyengir menatap satu-persatu dari mereka. Tingkahnya selalu saja mengundang tawa geli bagi yang sengaja mendengarnya maupun yang sekilas mendengar.

Keke memasuki aula PKM yang hanya berukuran ruang untuk kuliah. Dilihatnya teman-teman sekelas sedang duduk di dekat dinding menunggu giliran tes. Matanya ia edarkan kembali pada mahasiswa lain yang sedang diwawancara. Wajah mereka terlihat tegang. Seketika satu bulir keringat turun melewati pelipisnya.

“Silahkan tanda tangan dulu untuk presensi, mbak.”

Didapatinya salah satu bangku dekat pintu kaca. Dengan cepat, ia raih kursi itu dan duduk menenangkan diri di sana.

“Eh, Ke. Presensi dulu,” tegur Nova dengan mata yang seolah-olah mengatakan “Lo dikasih tau presensi dulu malah main duduk aja!”

Kembali, Keke nyengir kuda. Dengan tanpa melepaskan pegangan tangannya pada kursi, gadis itu segera tanda tangan dan kembali ke tempat semula.

Satu-persatu temannya dipanggil. Bukan, lebih tepatnya mengajukan diri dites ketika salah satu penguji menawarkan untuk dites. Beberapa kali ia ditawari untuk dites terlebih dahulu agar tidak menunggu lama. Tapi dasar karena masih gugup, ia malah menunjuk-nunjuk teman-temannya yang lain.

“Liv, gue deg-degan banget sumpah! Tolongin gue,” bisik Keke sambil menggenggam erat tangan Oliv hingga gadis itu tersentak.
“Gila, Ke. Dingin banget tangan lo.”
Keke hanya tersenyum tipis, berusaha kembali membangun benteng-benteng pertahanan yang ia sebut mental dan nyali. Ia menghela nafas. Sebenernya, ini bukan pertama kalinya ia melewati hal-hal semacam ini. Tetapi entah mengapa, kali ini rasanya beda. Ia merasa bahwa ia mengikuti open recruitmen HIMA sia-sia belaka.

“Mbak, udah diwawancara?” tanya salah satu penguji perempuan pada Keke dan Oliv. Jelas saja Keke terkejut.
“Gue duluan aja, deh,” putusnya. “Doain gue, Liv.”
“Tentu, bro! Pede aja, tenangin diri lo.”

Keke mengacungkan jempol pada Oliv sebelum mengikuti langkah calon pengujinya hari ini. Ia duduk di kursi plastik tepat di depan pengujinya yang baru ia ketahui bernama Oik. Sambil menunggu Oik mengambil berkas di meja sampingnya, ia masih sempat-sempatnya mengelilingi ruangan dengan matanya, siapa tahu hal ini bisa menetralisir rasa gugupnya.

Tatapan matanya terhenti pada seseorang di pojok ruangan, seorang pemuda yang pernah ia lihat sebelumnya saat ospek dan di selasar gedung perkuliahan.
Pemuda berbadan tinggi kurus, rambut panjang yang dibuat jabrik -atau entah memang seperti itu dan tidak bisa diubah-, mengenakan jaket berwarna abu-abu yang senada dengan baju yang dikenakan. Setelah sekian lama, akhirnya ia dipertemukan kembali di sini.

Namun bukan itu yang membuatnya terdiam terpaku di kursi. Sejak ia menemukan sosoknya di pojok ruangan, pemuda itu telah mengarahkan matanya ke arah tempat ia akan dites. Keke mengernyit bingung. Pemuda itu lalu tersenyum simpul dan juga… manis?
Dia senyum sama siapa?

Keke menoleh ke samping kirinya di mana ada mahasiswi lain yang sedang melakukan wawancara. Semua tatapan mereka tertuju pada penguji masing-masing. Lalu kepada siapa pemuda itu tersenyum? Nggak mungkin sama gue, kan?

Keke menutup matanya. Apa yang ia lakukan? Kenapa ia tetap menatap pemuda itu? Ia membuka mata dan sekilas melirik pemuda itu, dan tetap tersenyum. Keke memalingkan muka, menghadap ke belakang, pura-pura memperhatikan salah satu temannya yang sedang menjawab pertanyaan dengan lancar.
Terbesit sebuah tanya di benaknya. Apakah ia masih tersenyum manis seperti itu?

Meski ia merutuki pertanyaannya baru saja, tetap saja ia menatap kembali pemuda itu. Gotcha! Pemuda itu tersenyum ketika ia menatapnya. Mau tak mau, seketika itu juga, ia tersipu dan langsung menghadap pengujinya.

Mata Keke menatap serius Oik di depannya, mendengar setiap kata yang terlontar dan pertanyaan klise yang biasa diberikan pada calon anggota baru. Keke tersenyum tipis kala senyuman itu melintas di benaknya, senyuman pemuda yang tak kalah manisnya.
Terbawa perasaan. Bolehkah ia berpendapat bahwa hal itu tak menyakitkan?

Tatapan matanya kembali memperhatikan penguji di depannya tanpa melepaskan senyum simpulnya. Serta diam-diam membisikkan harapan kecil di hatinya.
Bisakah kita dipertemukan kembali, Takdir?

Cerpen Karangan: DheaMboxwrite
Blog: dheaaliviawriter75.blogspot.co.id
Mahasiswi UPGRIS semester 2 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Asal Pemalang.
IG: raindhealv_
wattpad: raindhea
sankyu!

Cerpen Bisakah? merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


1 Detik

Oleh:
18 agustus 2016, perlombaan memperingati hari kemerdekaan diadakan di sekolahku. Saat itu, aku hanya melihat sebuah pemandangan yang berisikan peserta lomba. Aku tertawa melihat mereka yang dengan lucunya mengambil

Sketsa Cinta (Part 1)

Oleh:
Di kelas yang sebagian siswanya sedang sibuk dan rusuh pada jam istirahat untuk pergi ke kantin, aku melihatnya, aku melihatnya lewat di samping kelasku, dia sepertinya akan ke kantin

Rasa Terpendam

Oleh:
Safanya, itulah yang aku tahu tentang namamu, pertama aku melihatmu, mataku seolah tak bisa berkedip, seperti melihat pelangi yang indah di atas sana, aku tahu namamu dari ibumu, ibumu

Dia.. Dia.. Dia..

Oleh:
22 Agustus 2011… Fiuuuh… darahku seperti tersedot naik ke ubun-ubun. Seluruh syarafku kaku tak bisa kugerakkan. Aku terpaku. Menatapnya yang sedang berdiri 8 meter di depanku. Di seberang jalan.

Dekat di Mata Jauh di Hati

Oleh:
“Giseeelll!” teriaknya dari luar rumah. Tak ada jawaban. Fikri terus memanggilnya dan menunggu. Hingga 15 menit berlalu, tak ada seorang pun yang ke luar dari rumah tersebut. Tanpa menunggu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *