Buih

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 19 April 2017

Dengan pikiran kacau, Buih mencoba memperhatikan penjelasan pemuda di depannya tentang logaritma. Beberapa kali ia tampak melamun ketika Hilal, pemuda itu, menjelaskan materi.
Lambaian tangan di depan wajahnya berhasil membuatnya tersadar dari lamunan. “Halo? Apa kamu sudah mengerti?” tanya Hilal agak kesal. Pasalnya ia sudah menjelaskan materi itu lebih dari tiga kali dan penjelasannya sering diabaikan oleh sahabatnya itu.
Buih tersenyum kikuk, tangannya mengelus pelan pipi chubbynya, “S-sudah kok. Hahaha!” jawabnya bohong disertai tawa hambar.
Helaan nafas keluar dari mulut Hilal, “Ada apa?” tanyanya membuat senyum kikuk Buih berubah menjadi senyum kecut.
“Apa maksudmu?” Buih balik bertanya.
“Jangan pura-pura. Kamu tahu maksudku, kan?”
Buih menggulirkan pandangannya ke arah lain, “Ada masalah kecil. Tapi tak usah khawatir, aku bisa mengatasinya sendiri.”
Hilal mengerutkan dahinya, tak biasanya Buih bersikap ‘aneh’ seperti itu. Gadis itu selalu menceritakan setiap masalah padanya, baik masalah sepele maupun masalah besar. Dan feelingnya mengatakan jika Buih sedang menghadapi masalah yang sulit dihadapi seorang diri.

Tiba-tiba seorang gadis cantik masuk dan langsung membuat kehebohan di kelas. Dengan santai, gadis itu duduk di samping Hilal. “Kalian sedang apa?” tanyanya dengan suara yang lembut.
“Oh uhm. Aku –kami sedang belajar matematika,” jawab Hilal dengan gugup.
“Apa aku mengganggu?” tanya gadis itu lagi.
“Sama sekali tidak!” sangkal Hilal buru-buru.
Entah hanya perasaannya saja atau memang benar, Buih merasa kalau ia hanya jadi obat nyamuk. Dengan alasan ingin menemui teman di kelas lain, Buih meninggalkan Hilal dan Alma, gadis cantik itu.

Di perpustakaan yang senyap, Buih termenung pada salah satu bangku. Buku di depannya sama sekali tak terbaca olehnya. Pikirannya melayang, mengingat kejadian tempo hari, dimana pikirannya mulai kacau.

3 hari lalu
Di parkiran yang mulai sepi, Buih masih setia berdiri di samping sepedanya. Sesekali ia berjongkok, lalu berdiri lagi. Hilal yang katanya pergi untuk mengambil barang yang ketinggalan di kelas tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Padahal ia pergi sejak 15 menit yang lalu.
Lelah menunggu, akhirnya Buih memutuskan untuk kembali ke kelas. Mungkin saja Hilal kesulitan menemukan barang yang dicari dan membutuhkan bantuannya.

Dari balik pintu yang terbuka, Buih melihat sahabatnya sedang berbicara serius dengan Alma, salah satu siswi incaran para siswa.
“Um. Mu-mungkin agak sulit dipercaya, t-tapi a-aku benar-benar me-menyukaimu,” kata Alma gugup.
Wajah Buih mendadak pucat mendengar ungkapan perasaan Alma kepada Hilal. Badannya lemas, seakan tak punya tulang dan otot.
“Hilal pasti menerima perasaan Alma! Itu pasti!” teriaknya dalam hati. Dengan kaki gemetar, ia kembali ke parkiran dan berpura-pura tak terjadi apa-apa. Ia benar-benar tak sanggup mendengar jawaban Hilal yang sebelumnya sudah ia ramalkan.

Tak lama setelah ia sampai di parkiran, Hilal datang. “Tadi ada urusan sebentar. Ayo pulang!” ajak Hilal seraya mengambil sepeda. Buih hanya mengangguk, lalu mengikuti Hilal.
Buih menghela nafas dengan berat. Ia tahu, tak seharusnya ia memiliki perasaan ini. Tapi apa mau dikata? Perasaan itu tanpa permisi singgah di hatinya dan mengendalikannya.
Namun jauh di dalam hati, ia lebih senang jika Hilal mempunyai pasangan seperti Alma, daripada gadis sepertinya yang jauh dari kata sempurna.

“Lama sekali kamu pergi?” sebuah suara bariton yang khas membangunkan Buih dari lamunan. Ia mengalihkan pandangannya ke arah Hilal yang sedang menarik bangku di sampingnya.
“Dimana pacarmu?” tanya Buih tanpa sadar.
“Pacar?”
Buih yang menyadari ucapannya menjadi gelagapan. Ia bingung harus bilang apa.
“Maksudmu Alma?” tanya Hilal polos.
Buih tak menjawab pertanyaan Hilal. Tenggorokannya terasa perih, lebih-lebih hatinya.
“Dia bukan pacarku,” lanjut Hilal membuat gadis berwajah khas orang jawa itu terkejut sekaligus bingung. “Aku menolak perasaannya karena aku sudah memiliki orang yang aku sukai.”
“Siapa?”
Senyum jahil bertengger di wajah Hilal, dengan gemas ia mencubit pipi chubby Buih, “Rahasia!”
Buih mengaduh kesakitan. Ia menyikut rusuk pemuda tanggung itu. “Sakit tahu!” sungutnya, membuat Hilal tertawa lepas.

“Itu kamu!” gumam Hilal yang tak luput dari pendengaran Buih.
“Hah?” Buih semakin bingung dengan ucapan Hilal yang ambigu.
Hilal tersenyum lebar dengan rona merah di wajahnya, “Aku suka Buih.”

Cerpen Karangan: Itul
Facebook: Itul

Cerpen Buih merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pramuka itu Asyik

Oleh:
Teman, kalian tahu kan kalau dalam kurikulum 2013 pendidikan kepramukaan itu ditetapkan sebagai program ekstrakulikuler wajib di sekolah. Nah, begitu juga dengan sekolahku di SMA N 7 TEGAL setiap

Kepala Madrasah

Oleh:
Baru kali ini aku merasa betah dengan kepala Madrasahku. Namun bukan berarti kepala madrasahku yang dulu-dulu membosankan atau menjengkelkan ya, karena hakikatnya kepala madrasah pula seorang guru. Yang wajib

Cinta Sedih Dalam Diam Mengagumi Mu

Oleh:
Nama aku Ina. Ya semua bermula ketika aku kelas IX. Waktu itu pertama kalinya aku masuk sekolah. Hatiku dag-dig-dug karena bingung masuk kelas mana. Akhirnya aku melihat namaku tertulis

Satria Belajar Bermain Gitar

Oleh:
Ngiiiingg!!! Suara nyamuk terbang dan hinggap di lengan Satria yang sedang tertidur pulas. Satria sempat mendengarnya, ah ini pasti suara peri yang lagi terbang.. pikirnya. Nyiiittt!!! Nyamuk itu menggigit

Senandung Cinta Dalam Lagu

Oleh:
“dan izinkan aku memeluk dirimu kali ini saja… tuk ucapkan selamat tinggal untuk selamanya Dan, biarkan rasa ini kan bahagia Untuk selamanya…” (Cinta Dalam Hati – Ungu) Suara lantang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *