Cemburu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam)
Lolos moderasi pada: 4 January 2017

29 Mei 2012
Sekitar lima puluhan orang, termasuk aku dan ibuku, tengah menyaksikan prosesi pemakaman wanita paruh baya itu. Tak jauh dari tempatku berdiri, seorang lelaki yang usianya hanya beda satu tahun di atasku, tertunduk lemas. Sesekali kedua bahunya yang bidang bergerak-gerak, pertanda bahwa ia tengah menangis. Bagaimana tidak sedih, wanita paruh baya yang tengah dikubur itu, adalah satu-satunya wanita yang begitu ia cintai, wanita yang begitu ia hormati. Aku tahu betul, bagaimana lelaki itu memperlakukan wanita yang melahirkannya itu. Begitu hormat, begitu santun, sikap dan sifatnya selalu menunjukkan rasa cinta. Seringkali aku berandai-andai. Ya, andai saja jodohku kelak adalah lelaki seperti dirinya. Kalaupun jodohku itu dirinya, tak mengapa. Dengan senang hati, aku akan langsung menerimanya. Tapi, sangat disayangkan. Setahuku, lelaki yang tengah berduka itu, sudah memiliki dambaan hati di luar negeri sana. Itu pun berdasarkan desas desus dari para tetangga di kampung.

30 Mei 2012
Entah sudah berapa perempatan jalan yang aku temui saat ini. Mendadak aku tak bisa fokus menyetir. Mendadak, aku lupa jalan untuk pulang ke rumah orangtuaku. Mungkin karena pikiranku yang sedang tidak tenang.

Satu jam yang lalu, aku mendapat telepon dari Ibu, bahwa lelaki itu ditemukan tergeletak tak sadarkan diri di ujung jalan, tak jauh dari rumah orangtua kami. Dan aku yang dari awal memang selalu mengkhawatirkan keadaannya, memilih untuk segera pulang. Tak peduli dengan rapat mingguan yang masih berlangsung. Tak peduli dengan panggilan para karyawan yang tengah membutuhkanku. Aku terus berjalan cepat menuju parkiran untuk mengambil mobil.

“You have a voice that someone else can hear and you have people to hear your voice.” Hanya kalimat itu yang mampu aku dengar dengan jelas. Selebihnya, aku tak mau lagi mendengar perbincangan mereka.

Sesampainya di rumah Ibu, aku segera menemui lelaki itu. Ibu yang tengah pengajian, sengaja mengunci lelaki itu dari luar, takut-takut, ia kembali pergi tanpa pamitan, seperti yang sudah ia lakukan tadi pagi. Aku yang memang sempat merawatnya selama beberapa jam.

Hingga malam menjelang, pintu rumah Ibu diketuk oleh seseorang dari luar sana. Dan betapa terkejutnya aku, begitu aku tahu siapa tamu yang tengah bertandang ke rumah Ibu. Sejenak, aku terpaku. Tak bergeming. Melihat sesosok perempuan asing, berambut kuning keemasan, berwajah tirus, berhidung mancung, bibir yang merah merona, serta kulit tubuh yang begitu putih. Dari penampilannya dapat disimpulkan bahwa dia bukan penghuni negeri ini. Ya, ia seorang perempuan berkewarganegaraan asing.

Setelah bercakap-cakap sebentar di ambang pintu, akhirnya aku mempersilakan perempuan asing itu masuk. Lalu berkenalan dengan Ibu. Dilanjut berbincang-bincang tentang lelaki itu. Sembari menunggu terbangunnya ia yang tengah tertidur pulas di sofa.

Tak lama berselang, mungkin karena suara kami yang terlalu bising, lelaki itu menghampiri kami. Entah sejak kapan ia terbangun. Tapi, dari raut wajahnya yang masih kusut, aku bisa menilai bahwa dia memang baru saja bangun.

Perempuan asing itu segera menghampirinya yang masih berdiri di hadapan kami, lalu memeluknya erat. Pemandangan yang sama sekali tak ingin aku saksikan. Tanpa menunggu komando dari Ibu, aku segera ke dapur untuk mengambilkan lelaki itu segelas air minum. Ibu pun mengikuti aku dari belakang. Dan begitu aku kembali ke ruang tamu, perempuan asing dan lelaki itu kini tengah duduk berhadapan, berbincang tentang kematian sang Ibu dari lelaki itu. Sesaat aku dapat melihat, wajah lelaki itu masih menyiratkan kesedihan yang teramat dalam. Ingin sekali aku menggantikan posisi perempuan asing yang tengah memegang kedua tangan lelaki itu. Tapi, apalah daya. Aku hanya seorang tetangga, yang kebetulan bersahabat dengannya dari usia kami masih sekitar lima tahunan. Tak lebih, dan tak mungkin bisa lebih.

Aku merasa jenuh berada di rumah malam ini. Tepatnya bosan. Ah, bukan. Tepatnya… Ah, sudahlah! Intinya, aku hanya ingin sedang berjalan-jalan sebentar di sekitar rumah orangtuaku. Kediaman orangtuaku memang berada di dataran tinggi. Karena itu, tak heran, jika suhu di malam ini mampu membuat kuku-kuku jari tanganku membiru.

“Mbak Nety!” Tiba-tiba seseorang berteriak memanggil namaku dari arah belakang. Aku pun menghentikan langkahku yang tengah menanjak, lalu menoleh dengan cepat. Ternyata seseorang yang berteriak memanggil namaku tadi adalah Indri. Seorang gadis kecil yang masih duduk di bangku kelas 1 SD.

Dengan semangat, dia berlari ke arahku berdiri. “Mbak Nety mau kemana?” Tanyanya begitu dia sampai di hadapanku.

“Enggak kemana-mana. Hanya ingin berjalan-jalan sebentar menikmati udara segar di sini. Ada apa, Dek Indri? Ada yang bisa Mbak Nety bantu?” Kini aku berjongkok di hadapannya untuk menyamakan posisi kedua mata kami.

Gadis kecil itu mengangguk, lalu menyodorkan sebuah buku bersampul cokelat padaku. “Indri ada PR Matematika. Mbak Nety bisa bantu Indri buat mengerjakan?”

Aku tersenyum. “Bisa. Mau belajar dimana kita malam ini?”

“Di gubuk yang di atas bukit bintang saja, Mbak. Kalau malam-malam begini, udara di sana segar banget.” Tunjuknya pada bukit kecil yang berbentuk bintang itu.

“Baiklah. Ayok, kita kesana.” Kami pun bergandengan tangan, berjalan riang menuju bukit bintang.

“Mbak, cita-cita Mbak apa?” Tanya gadis kecil yang kini tengah merebahkan tubuhnya di atas pangkuanku. Sementara kedua tanganku sibuk memainkan rambutnya yang panjang. Kami baru saja usai belajar. Tepatnya, aku baru saja selesai membantu gadis kecil itu mengejarkan PR Matematikanya.

“Mmm… Apa, ya? Kalau Dek Indri sendiri, apa cita-citanya?”

“Indri ingin menjadi arsitektur.”

“Kenapa?” Tanyaku masih dengan memainkan rambut panjang si gadis kecil.

“Biar bisa ke luar negeri seperti Mas Indra.” Jawabnya polos. Deg! Hatiku mendadak terasa begitu sakit mendengar nama itu. Kusentuh dadaku yang detak jantungnya mengencang. Ada apa ini? Kenapa hatiku nyeri? Dan bayangan lelaki yang tengah bersama perempuan asing itu serta perbincangan mereka tadi, kembali terputar di otakku.

Cerpen Karangan: Anggi Puspitasari
Blog / Facebook: celotehgiegie-blog (tumblr) & Anggi Puspitasari (facebook_dengan foto profil gadis bercadar)
for more information :
@giegie.giegie (instagram)
@giegiepusvita (twitter)

Cerpen Cemburu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bird Love

Oleh:
Suara mobil menderu di pagi hari. Memang ini terlalu cepat, namum orangtuaku meminta untuk cepat pulang ke Bandung setelah lulus SMA. Jadi hari ini, aku berniat untuk pulang. Tapi

Night

Oleh:
Ini dia! Kegelapan malam yang diterangi senyum rembulan lengkap dengan maraknya bintang gemerlap. Malam akan terasa lebih sepi tanpa mereka, itu bagiku. Tidak satu pun malam yang cerah berlalu

Perasaan Yang Terpendam

Oleh:
Hay kenalkan namuku citra, aku baru saja lulus SMA dan melanjutkan kuliah di salah satu universitas swasta yang berada di Makassar. Seperti biasa, setiap Mahasiswa baru wajib mengikuti ospek

I Know

Oleh:
Aku cuma gadis biasa! aku tidak cantik, tidak menarik, soal pintar juga aku biasa saja. Masalah ekonomi pun, aku terlahir dalam keluarga sederhana. Berbeda denganmu, kau tampan, kau menarik,

Sulit Mengungkapkan Rasa Ini

Oleh:
Sasha melamun di sepanjang perjalanan liburan sekolah. Ravi, seorang pria tampan dan tinggi yang benar benar dicintainya sejak awal pertemuan mereka sampai saat ini. Ravi dan sasha adalah seorang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *