Cinta ini Tak Salah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam)
Lolos moderasi pada: 26 September 2017

Seorang gadis sedang berjalan tergesa-gesa dengan dua orang sahabatnya karena waktu sudah menunjukan pukul 16.15 dan itu artinya mereka sudah terlambat 15 menit dari waktu dimulainya kegiatan. Dia gadis itu, Sania namanya dan dua sahabatnya Nia dan Dewi akan mengikuti kegiatan sosialisasi yang diadakan di kampus mereka. Mereka adalah mahasiswa di salah satu kampus di NTT. Sania sebenarnya enggan mengikuti kegiatan tersebut, karena dia merasa kegiatan itu hanya untuk mereka yang sudah lulus S1.

“Hei! Apa kita harus pergi?”
“Kenapa? Kau tidak mau?” Dewi dan Nia bertanya secara bersamaan
“Bukan tak mau, aku hanya merasa malu saja bagaimana kalau kegiatan ini hanya untuk mereka yang sudah bergelar strata 1?”
“Hei! itu tidak mungkin” sergah Nia
“Iya. Bukankah kau diberitahu kalau hari ini kegiatanya?” Dewi menimpali
“Iya juga sih, tapi itu juga karena aku…”
“Kau apa?” Nia dan Dewi memotong ucapan Sania
“Bertanya” gumamnya dalam hati
“Ayolah! Apa kau tidak ingin melihat “Dia”?”
Yah lagi-lagi dia. Demi bisa melihat pria itu Sania memutuskan untuk pergi bersama kedua sahabatnya.

Sebenarnya siapa sih pria itu? Pria itu seseorang yang Sania suka. Dia seorang dosen di kampus Sania dan dua sahabatnya kuliah. Saking sukanya dia mencari tahu segala hal tentang si dosen. Mulai dari facebook, twiter, email, sosmed si dosen yang lain, nomor handphone, alamat rumah, tanggal lahir, apa yang dia suka dan tidak suka. Benar! Sania mencari tahu segala hal tentang si dosen bernama Bobby. Dia tak pernah seperti ini sebelumnya. Menyukai seseorang hingga menjadi seperti ini. Bahkan sahabat-sahabatnya kadang berpikir dia sudah mulai gila.

“Baiklah! Ayo lebih cepat lagi jalannya. Kalian juga tidak ingin terlambat kan?” ajaknya sambil mempercepat langkahnya. Nia dan Dewi hanya saling melempar pandangan bingung. Sedetik kemudian mereka juga mempercepat langkah mereka dan mengikuti Sania layaknya pengawal kerajaan di drama-drama saeguk Korea.

“Eh Sania sejak kapan kau menyukai pak Bobby? Tanya Dewi beberapa hari kemudian ketika mereka sedang duduk di kantin kampus.
“Entalah!” Sahut Sania tak yakin kapan dia mulai menyukai pak Bobby. Dia mulai mengingat-ingat kapan tepatnya dia mulai menyukai si dosen satu itu.

Pak Bobby sendiri belum menikah padahal sudah berkepala tiga. Menurut Sania dia orang tertampan di kalangan mahasiswa dan para dosen. Bukan hanya menurut Sania, sebenarnya banyak mahasiswi yang sependapat dan menjadi penggemarnya. Kenyataannya pak Bobby itu bukan orang yang gampang diajak bicara terutama untuk hal-hal yang menurutnya tidak penting untuk dibicarakan. Dia juga jarang (sebenarnya bahkan tak pernah) tersenyum terutama pada mahasiswa seakan-akan senyum adalah sesuatu yang sangat mahal. Ini apa yang dikatakan orang-orang di kampus.

“Tapi pak Bobby itu sedikit membosankan. Dia jarang tersenyum atau berbicara pada mahasiswa. Kasihan sekali orang yang jadi pacarnya. ” ujar Nia
“Betul! Sania! Apa kau akan terus menyukainya? Kau akan merasa bosan dengan sifatnya yang seperti itu!” Dewi menasehati sahabatnya.

Sebenarnya menurut Sania, pak Bobby itu kebalikan dari apa yang dikatakan mereka. Pak Bobby tidak hanya tampan dan pintar, tetapi juga orang yang tepat untuk diajak berdiskusi atau sekedar bertanya sesuatu. Pada satu kesempatan dia juga bisa jadi seperti buku diari. Sania sendiri sering bertanya kepada pak Bobby hal-hal yang kurang dipahaminya. Dia juga beberapa kali menceritakan sesuatu yang menurutnya bersifat rahasia.

“Kurasa tidak, aku malah semakin suka dia seperti itu” timpalnya

Memang awalnya Sania juga berpikir pak Bobby orang yang aneh, sombong, dan super pelit ketika memberikan nilai pada mahasiswa. Dia sendiri mendapat nilai C untuk salah satu mata kuliah yang diasuh pak Bobby. Tetapi semua pikiran itu seakan sirna ketika untuk kedua kalinya dia datang ke rumah pak Bobby dan meminjam buku. Pak Bobby memang memiliki sebuah perpustakaan kecil di ruang tamu rumahnya. Menurut pak Bobby perpustakaan itu terbentuk berkat kerjasama dengan beberapa temannya. Pak Bobby seperti orang yang berbeda. Dia tersenyum ah lebih tepatnya tertawa, bercanda, bahkan mengerjai Sania.

“Pak! Apa baru bangun?”
“Tidak. Kenapa?”
“Kelihatan seperti baru saja bangun tidur.”
“Tapi masih terlihat keren kan?” hah sok keren sekali dosen satu ini Sania mengumpat dalam hati
“hmmmm… apa pak Bobby tahu tidak kalau di kampus itu mahasiswa sepertinya takut atau sebenarnya segan berbicara dengan pak Bobby?” tanyanya sejurus kemudian
“Benarkah? Ah… Mungkin karena aku terlalu tampan yah?” waduh gila pak Bobby bukan hanya sok keren, tapi juga narsis. Sania menggumam perlahan lalu menjawab
“Mungkin saja. Apa buku-buku ini boleh kupinjam?”
“Tentu saja. Kau punya KTP?”
“Tidak.” Pak Boby tersenyum sambil memegang hidungnya
“Bagaimana dengan kartu mahasiswa?”
“Itu! Aku juga tidak punya.”
“Hah? mahasiswa apa yang tak punya kartu mahasiswa? KTP? semua orang diatas 17 tahun punya!. Apa kau WNA? Pak Bobby bertanya tanpa jeda
“KTP? Aku punya, tapi bukan daerah sini dan… dan… masa berlakunya habis. Kartu mahasiswa? Pak Bobby itu kan dosen harusnya pak juga tahu kalau kami belum punya kartu mahasiswa.” Sania membela diri
“Jadi?” tanya pak Bobby
“Jadi…buku-buku ini boleh kupinjam tidak?”
“Bagaimana yah…?”

Sania akhirnya bisa meminjam 3 buku. Sebenarnya dia diberi kesempatan meminjam 6 buku sebagai pengunjung pertama. Sania mengingat saat itu. “Apa aku mulai menyukai pak Bobby sejak saat itu, yah?” pikirnya. Tak lama kemudian dia tertawa terbahak-bahak dan berjalan meninggalkan kedua sahabatnya yang terheran-heran melihatnya.

“Kurasa dia benar-benar sudah gila karena pak Bobby” kata Dewi
“Kurasa juga begitu” Nia menimpali

Sania sedang duduk di perpustakaan kampus. Sebuah buku terbuka di depannya. Sebenarnya dia tidak sedang membaca buku tersebut. Matanya tertuju pada sesosok pria di seberang sana. Iya… dia sedang memandang pak Bobby yang sedang berdiri dan bercakap-cakap dengan beberapa dosen. Meski dari kejauhan pun pak Bobby terlihat sangat keren. Sania tiba-tiba merasa tak pantas menyukai seseorang seperti pak Bobby. Bukan hanya tampan, pintar, tapi juga berasal dari keluarga yang cukup terpandang. Banyak mahaiswi yang memujanya. Dia ibarat aktor yang punya banyak penggemar. Tapi, tentu saja dia aktor di kampus bukan di televisi. Banyak orang memperhatikan dia. Apapun yang dilakukan pak Bobby selalu jadi perhatian hampir seluruh isi kampus. Sedangkan dia… dia hanya seorang gadis biasa, tidak pintar, dan keluarganya juga tidak kaya. Sania sangat tahu itu, tapi entah kenapa dia tak bisa menghilangkan rasa suka tersebut. Rasa suka yang mungkin akan berubah menjadi cinta.

“San… kami tahu kau orang yang tidak takut dan malu berbicara dengan pak Bobby. Kau cukup dekat dengan dia. Tapi, kau akan punya banyak musuh kalau penggemarnya tahu.” Nia yang dari tadi fokus pada buku yang dibacanya menasehati.
Nia benar. Ingatan Sania kembali pada percakapannya dengan salah seorang staff kampus yang juga merupakan salah satu penggemar pak Bobby dua hari yang lalu.

“Kau! kau benar-benar beruntung!” Ujar si staff dengan nada yang terkesan mengejek
“Memangnya ada apa?” Sania bertanya dengan wajah bingung
“Kau tahu berapa lama pak Bobby berkeliling dan mencarimu? aku tidak tahu ada urusan apa sampai orang sekeren dia harus berkeliling dan mencarimu? sepertinya pak Bobby akrab denganmu.”
“Benarkah?”
“Dia jarang tersenyum apalagi bicara pada kami para staff yang ada di sini. Tapi dia mencarimu? Dia bahkan sering memanggil namamu kalau melihatmu datang kemari.”

Dari nada dan cara bicara si staff saja Sania sudah bisa tahu kalau dia tidak suka ada orang yang sedikit dekat dengan pak Boby. Apa jadinya kalau dia benar-benar dekat dengan pak Bobby seperti yang beberapa sahabatnya bilang? Tentu saja dia akan punya banyak musuh di kampus.

“Aih… benar-benar perasaan ini kan milikku sendiri. Belum tentu pak Bobby juga punya perasaan yang sama denganku kan? Jadi, kenapa aku harus punya banyak musuh? Ini bukan sesuatu yang salah kan?” dia bergumam perlahan dan berjalan keluar dari perpustakaan dengan mata yang terus memandang pak Bobby di kejauhan sana.

Sania memang benar. Cinta bukan sesuatu yang salah. Dalam hati Sania berdoa agar rasa suka dan cintanya berbuah manis seperti yang dia tonton di drama-drama korea, meski tidak untuk saat ini.

End

Cerpen Karangan: Sun
Facebook: Sun Naitboho

Cerpen Cinta ini Tak Salah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Yang Terdalam

Oleh:
“Banyak yang mengatakan makna cinta sendiri itu sebenarnya apa? ENTAHLAH aku sendiri pun tidak tau pasti tapi disini aku bercerita tentang cinta yang terdalam, ada banyak jenis cinta di

Sebatas Mimpi

Oleh:
Jika aku tidak mencintainya. Percayalah, aku pasti sedang berbohong. “Sa.. kita ketemuan yuk.. kangen ni” seru suara di ponsel milikku. Itu Maya, teman semasa SMA ku. Dia adalah sahabat

Sekejap Mata

Oleh:
Pagi ini aku berangkat sekolah seperti biasa. Aku berangkat bersama temanku dan menaiki sebuah bus kota. Bus yang sudah terlihat tua dan kumuh itu mengantarkanku pergi sekolah. Bus berhenti

Harapan Menjadi Nyata

Oleh:
Pagi yang cerah dengan suara burung yang berkicau. Sinar matahari yang menghangatkan tubuh. Aku terbangun dengan senyum menawan. Pagi hari ini seperti biasa aku berangkat ke sekolah. Di sekolah

Cerita Yang Tidak Dimulai (Part 2)

Oleh:
Tidak pernah terlalu takut, tidak juga terlalu berani. Karena cinta terlalu besar sehingga tidak ada yang perlu ditakuti. Tapi restu terlalu jauh untuk diraih sehingga aku tidak berani bermimpi.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *