Cinta Tak Harus Memiliki

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Cinta Pertama
Lolos moderasi pada: 24 March 2017

Kisah ini berawal saat kami masih duduk di bangku TK. Kala itu, aku sudah mulai merasakan apa itu cinta. Bagiku dulu, cinta adalah rasa suka kepada seseorang. Cinta dapat bersemi tatkala kita memandangi wajahnya, menyapanya, dan bahkan dekat dengannya. Dulu, aku menyukai salah seorang teman TK ku. Aku bahagia jika bisa melihatnya. Pernah suatu ketika aku dan dia duduk sebangku waktu TK. “Wah.. senangnya aku bisa satu bangku dengannya.” pikirku kala itu. Tetapi sayang, dia tidak peka sama sekali. Dia seperti tidak ada rasa padaku kala itu. Namun lambat laun, perasaan cinta itu mulai memudar diterpa angin kehidupan. Ketika aku menduduki bangku SD, aku sudah tak pernah mengingatnya lagi. Aku mulai lupa dengannya. Dengan sejuta kisah yang kami alami dulu. Saat itu aku hanya fokus dengan prestasiku.

Hingga aku menginjak bangku SMP, aku masih saja lupa dengan teman masa kecilku itu. Aku mulai menyukai seorang cowok yang menurutku lumayan tampan saat aku kelas 7. Tetapi lagi-lagi, dia tidak peka dengan perasaanku. Dia tidak menilai sebesar apa aku menyukainya. Tetapi ada untungnya juga, aku dan dia jadi semakin dekat meski dia tak tahu bagaimana perasaanku padanya. Pernah suatu ketika aku satu kelompok dengannya. Dan kala itu, dia tak sengaja memegang tanganku. “Aaa.. terima kasih Tuhan. Kau telah memberi kesempatan ini padaku. Semoga saja aku bisa satu kelompok terus bersamanya.” harapku kala itu. Meski akhirnya dia tahu, namun pertemanan kami sewaktu kelas 7 tetap terjaga. Kami sering bercanda, mengejek satu sama lain, dan kami juga sering pulang bersama (nggak berdua juga sih, kebetulan saja rumah kami searah).

Ketika aku mulai menaiki satu tangga lagi yakni kelas 8, aku semakin yakin jika aku harus mengatakan perasaanku padanya. Dia harus tahu semua. Namun sebelum kukatakan langsung, dia sudah mengetahuinya lewat teman-teman. Kupikir dia akan senang, namun takdir berkata lain. Dia justru semakin menjauh dariku. Jauh. Jauh. Jauh. Kami akhirnya saling menjauhi satu sama lain. Saat itu pula sontak aku teringat dengan teman TK ku dulu. Kala itu aku nekat, aku minta nomor teleponnya dari adik kelas. Bahkan aku sempat menginvitenya lewat BBM. Dan alhasil, kami berteman lewat BBM. Aku mencoba memulai obrolan dengan dirinya, namun apa jawabnya? Ya, dia menjawab hanya dengan 2 huruf saja, dan huruf-huruf itu adalah *Ty* (thank you), *Ye* (ya), dan masih banyak lagi. “Huft… kenapa kamu hanya menjawabnya seperti ini? Hah??” keluhku saat itu.

Lalu ketika kami akan memasuki pendaftaran SMA dia mulai chat aku. Dan kami mengobrol dengan asyik malam itu melalui BBM. Ujian Nasional, kejujuran, jurusan, semua kami jadikan bahan obrolan. Obrolan kami tidak sampai situ, dia juga sempat bertanya tentang pendaftaran, seragam, dll. karena kita memang mendaftar di SMA yang sama, yakni SMA N 1 Sukoharjo. Sampai aku sempat mengucap doa “Ya Tuhan.. jadikan aku dan dia satu kelas jika memang aku tidak bisa masuk jurusan BAHASA. Aku ingin bernostalgia seperti kala TK.. Pliss… kabulkan doaku Tuhan” pintaku. Dan.. kita satu kelas!! Ya, meski hanya dalam Masa Orientasi Siswa (MOS). Tetapi aku cukup senang bisa satu kelas dengannya meski hanya dalam hitungan hari.

Hari berlalu dan kini, aku sudah mempunyai pacar. Belum lama juga, sekitar bulan Juni lalu. Meski begitu, aku tidak sepenuhnya menaruh rasa sayangku terhadap pacarku. “Aku tetap menyukaimu. Aku suka padamu sejak kita masih TK. Tetapi, aku tak bisa mengatakannya langsung kepadamu. Aku tidak ingin melukai perasaanmu karena pacarku adalah sahabatmu sendiri. Feelingku berkata jika kamu juga menyukaiku, meski belum sepenuhnya aku yakin akan hal itu. Aku ingin kita berteman lebih dari sekedar teman..” kalimat itu terus terngiang-ngiang di fikiranku sampai saat ini. Tapi apa daya, aku tak punya nyali untuk mengatakannya langsung padamu. Aku juga sudah punya pacar, dan kau tahu akan hal itu. Andai saja waktu dapat menyatukan kita. Andai saja. “Fin.. Ich liebe dich.”

Cerpen Karangan: Anissa Nur Azizah
Facebook: Anissa Nur Azizah
Nama saya Anissa Nur Azizah. Kini saya bersekolah di SMA N 1 Sukoharjo kelas X BAHASA. Saya bertempat tinggal di Majasto, Tawangsari, Sukoharjo. Saya mempunyai hobbi menulis dan membaca cerita horor. Sekian. Salam sejahtera untuk kalian kawan !!

Cerpen Cinta Tak Harus Memiliki merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bukan Cinta Biasa

Oleh:
Dalam sujudku, aku menitip doa untukmu kasih. Aku tak akan membiarkan masalah mendekat padamu, aku tak akan membiarkan kamu terluka dalam cinta. Dia bernama Faisal, tapi wajahnya yang seperti

Cinta Dalam Diam

Oleh:
“Dear Bestfriend, You’re the best, and I just canbe your friend… Hopefully more than that…” Kamu.. Lelaki misterius yang selalu tampil rapih di depanku… Misterius? Ya.. Aku tak pernah

Cinta Yang Bersembunyi

Oleh:
Lelaki itu sedang asyik memainkan gitar kesayangannya. Lelaki itu adalah dava. Ia masih duduk di bangku SMA kelas 12. Ia termasuk cowok yang populer di sekolahnya. Tak sedikit wanita

Anugerah Cinta Terindah

Oleh:
Anugerah cinta? Aku hanya berpikir apakah ini anugerah cinta terindah yang diberikan Tuhan untukku. Cinta yang hanya sebatas kata tanpa memiliki tapi itu indah. Berhenti melihat dari jauh karena

Hujan

Oleh:
Teng teng teng bel pulang sekolah berbunyi, waktunya semua siswa pulang sekolah, tiba-tiba byurrr hujan lebat pun turun terpaksa aku harus menunggu hujan reda, tapi sepertinya terasa bosan hanya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *