Dafodil Terakhir

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam)
Lolos moderasi pada: 11 July 2016

Wajahnya masih terisi kehampaan serta keluguan, sebuah rompi merah melekat menutupi kemeja putih lusuhnya. Dirinya belum tamat sarjana, namun langkahnya yakin tanpa keraguan. Buku kuliahnya dikepit erat lengannya, tubuhnya tegak dan statis namun matanya menjelajahi tiap sudut stasiun. Pikirannya kembali terisi ketika melihat bangku kayu yang mulai lapuk di depan peron stasiun. Ia melihat arlojinya dan tersenyum melihat tusukan jarum jam pada angka tujuh.
Senyumannya tajam seiring matanya membuntuti seorang pria berusia lanjut dengan jas abu serta sebuah bunga yang mengisi kantungnya. Sudah beberapa minggu ia menyadari kehadiran pria tersebut di antara keriuhan jam malam serta luapan kerinduan para kekasih. Namun dirinya hanya duduk termenung, tangannya lihai memutar pulpen yang selalu ia bawa pada malam ini, malam Minggu. Pikiran mudanya hanya dapat mengkonklusikan pria tersebut sebagai seorang pria klasik, penyuka barang tua yang tidak termakan zaman.

Telah beberapa hari ini mata tajam pria tersebut hampir menyoroti dirinya yang hanya dapat diam tidak berkutit, kadang berusaha menyapa beberapa penumpang melelehkan ketegangan. Namun hari ini, setelah tiga minggu lari dari tatapannya, mata mereka saling bertemu. Sebuah momen sekejap yang menimbulkan ribuan pernyataan ambigu dari mata pria tersebut, rangkain syair kesedihan atau letupan kebahagiaan.
Anak muda tersebut tertegun melihat tatapan pria tua tersebut yang kian lama kian tajam, ia mengangkat kakinya dan memutar dirinya menuju peron stasiun. Tepat sebelum dirinya mencapai kenyaman ruang kantor, sepasang tangan mencekram lengannya dengan keras. Ia berusaha mengernyit kesakitan, meski hanya kehampaan yang mengisi aula stasiun. “Tahanlah tarian matamu itu!” ucap sebuah suara serak namun tajam pada dirinya. Matanya melebar ketika melihat pria tersebut berdiri di hadapannya.
“Maafkan saya, Tuan, saya cuma penasaran,” ucap pria muda tersebut lirih. “Lupakanlah! Anak-anak sekarang ingin merasuki tiap unsur kehidupan orang, perkenalkan nama saya Alex,” balas pria tua tersebut. Ketakutan anak muda teresebut mulai melebur menjadi keriaan melihat prospek akan datangnya sebuah cerita panjang nan menarik, “Panggil saya Roy.” Alex menatap anak tersebut tajam mendengar perkataannya yang kering akan moral dan berucap mengolok, “Jangan berharap terlalu banyak nak, kamu tidak akan paham.”

Tuan Alex menatap kering peron stasiun, memainkan pulpennya yang bergerak gesit meloncati jari demi jari. Tiga puluh menit telah berlalu sejak kedatangan anak muda tersebut, Alex tercengang melihat mata Roy yang terpaku pada dirinya, dengan senyuman mengolok Roy berucap, “Silakan, Tuan… keluarkanlah bunga di kantungmu tersebut.” Alex menggelengkan kepalanya melaknati perkataan Roy, ia berdiri dan berjalan lesu. Bunga putih di jasnya ia keluarkan, ia menatap peron stasiun tersebut dan melemparkan bunga putihnya seraya bersenandung lirih, “Dafodil terakhir…”
Tuan Alex menyembunyikan kedua tangannya dalam kehangatan saku jasnya, ia dapat merasakan hujatan mata Roy yang semakin kebingungan. Alex berjalan kembali menuju bangku kayu yang menjadi sofanya tiap Minggu malam. Ia menatap Alex dengan sebuah senyum kemenangan, “Sudah selesai hikayatnya, jangan harap engkau melihat daku lagi tiap Minggu malam.” Alex tertegun melihat air muka Roy yang statis, datar dan tidak tercengang, serta diikuti oleh rontaan keingintahuan, “Apa maksudmu? Dafodil terakhir?”
Tuan Alex bergumam tanpa henti, wajahnya dihujani kemuraman tiada henti. Dengan letih ia mengalihkan pandangannya menuju Roy yang menatap dirinya menunggu jawaban, “Sepertinya engkau tidak akan berhenti bertanya sampai engkau mengerti, ya?” ucap Alex memelas. Roy mengangguk dan mulai tersenyum lebar yang disahuti Alex dengan tatapan tajamnya. Alex menepuk pundak Roy beberapa kali dan bergumam, menyiapkan suaranya.

Wangi menyengat antiseptik telah menjadi parfum sehari-hari sejak jas putih sakral penyelamat jiwa membalut tubuhku. Sebuah papan kayu berwarna terang terpampang di depan ruangan, dengan huruf hitam bercetak tebal tertulis Prof. Alex Andini. Namaku sudah dikenal di seantero rumah sakit sebagai lulusan cemerlang Oxford di tanah Saxon. Perangai rendah hati serta tenang dan tajam mengikuti bayanganku dengan kacamata bundar yang membelangi kelopak mata.
Sebuah malam yang sangat tentram, kerlap-kerlip bintang membelangi langit hitam yang tidak berujung. Kunjunganku ke restoran necis telah menjadi pengisi Jumat malam semenjak kepulanganku ke tanah air. Beberapa pelayan separuh baya yang berjalan meneliti tiap langkahnya mulai menghafaliku, menjulukiku ‘Dokter Muda’. Aku merenungkan kembali perangai keluarga yang bersedih kehilangan kerabat, wajah penyesalan para pendosa. Atau wajah bahagia kerabat menyambut kelegaan pasien terpisahkan dari Sang Pencipta.

Aku seruputi kepahitan kopi yang kadang kala membakar lidah, namun tidak hari ini, hari ini semuanya sempurna. Pelayan kesukaanku, Heri, mulai mengucurkan berbagai hidangan dari telapak tangannya. Seporsi fettucine cabonara serta kue lollipop pintu nostalgia. Wajah-wajah indah mereka memohon ampun pada laparnya perutku, meskipun hanya colekan ringan serta irisan tipis yang kuhujamkan. Namun bukankah irisan tipis memanjangkan penderitaan?
Saputangan kuusapkan pada bibir yang bermandikan gula. Kuteguk sisa kopi yang menghangatkan perut, menutup lambung. Heri datang melihat jentikan jariku, ia tertegun menunggu uang yang akan diterimanya. Tidak lama, sesosok bayangan mulai menggelapi huruf-huruf kecil buku yang terbuka lebar di atas meja. Ayolah, bukankah dokter juga perlu liburan? “Aku sakit dokter,” ucap sebuah suara lirih nan lembut yang membanjiri pikiran dengan nostalgia serta meluncurkan rasionalitas melalui lorong imaji.

Sebuah wajah yang selalu terkenang dalam pikiran, sosok yang berdiri di antara garis buram kebencian dan cinta. Matanya dipenuhi semangat yang dulu menjadi pemandangan sehari-hari, senyumannya menusuk pipinya. Rambutnya bersaing menuruni pundak, sebuah syal menutupi leher dengan dompet kecil creme kesukaannya menggantung menuruni bahu. “Holli?” tanyaku dengan suara serak tertegun. “Alex, udah lama nggak ketemu ya,” balasnya.
Aku berdiri menarik sebuah kursi, mempersilakannya duduk. Seraya menegakkan punuknya, ia berucap dengan nada gurauan, “Tidak pernah berubah ya, Alex?” Aku tersenyum mendengar gurauannya, “Apakah kamu ingin aku berubah?” kelakarku meladeni candaannya, ia menggelengkan kepalanya dengan yakin. “Jadi gimana dokter muda? Kok nggak pernah telpon?” tanyanya. “Sudahlah, yang penting kan ketemu juga.” “Iya sih, makin tebal saja bacaanmu? Kita ketemuan lagi dong.” Bibirku melebar tersenyum menyambut rintik-rintik kebahagiaan, mengangguk dengan yakin, mata bersinar serta pundak ringan.

Bagaikan kucing yang menunggu makanannya, mata Roy melotot lebar pada Alex yang kadang kala masih tersenyum. “Hanya itu? Ayoleh, selesainya gimana?” Mendengar desakan Roy, Alex terlonjak dari nostalgianya. “Sudah jam tidurmu, nak,” olok Alex. Roy mendesak tanpa henti, dirinya sungguh dibuat penasaran oleh kisah Alex. Kadang kala Alex tidak paham dengan generasi penerusnya, generasi yang dapat tidur seharian dan yang juga dapat mendesak seharian. Maka lidah Alex mulai menari kembali, menghujani lantai dengan selaan ludah.

Sebelum bertemu kembali dengan Holli, aku telah menemukan seseorang yang serasanya tepat bagiku. Sebuah koneksi emosional, yang disebut beberapa orang sebagai ikatan batin. Namun bukan hanya hal tersebut yang menarik kami, namun sebuah cara berpikir. Cara berpikir serba pragmatis serta toleran yang jarang dimiliki orang lain, sebuah kecintaan terhadap sastra dan seni. Kecintaan yang hanya dapat dikalahkan oleh cinta kami terhadap sesama. Dialah Fina, seorang penulis yang namanya sudah harum di berbagai media cetak serta para netizen.

Sejak masa sekolah, aku sering menghujati perilaku kawan dan kerabat yang tidak pernah merasa puas. Sungguh aku oloki mereka yang melepaskan ikan di tangan demi burung di langit, mereka yang menginginkan segalanya walau akhirnya pulang dengan tangan kosong. Namun kini saya duduk dengan perasaan hampa tidak seperti biasanya, meskipun dentingan piano mengarungi aula resital yang mulai penuh. Di sebelahku, sang permati hati duduk, sebuah decak kagum serta kerendahan diri memenuhi dirinya melihat kepiawaian tangan sang maestro.

Dia berjalan mendahuluiku, segelas kopi kesukaannya digenggam di tangan. Ia membelai rambut keritingnya dan tersenyum kepadaku. Ia tersenyum manis dan berucap polos, “Sungguh permainan yang bagus bukan? Andaikan aku seperti itu.” Kalimatnya diakhiri dengan sebuah cekikan tawar serta godaan alis akan sebuah penetram hati. “Iya, memang bagus, Fina,” balasku polos. Ia tertegun mendengar ucapanku, mungkin sebuah keseduan merasuki ucapanku. Menyadari kesalahanku, kuucapkan kalimat yang biasa terlontar dari mulut. “Ayolah, kamu pasti bisa lebih baik.”
Beberapa kelas psikologi telah aku ikuti di sekolah kedokteran, namun ada satu hal yang tidak diajarkan buku cetak. Sebuah teknik yang hampir tiap gadis miliki, yang kadang membuat kami keturunan Adam kelabakan. “Apa yang mengisi benakmu?” tanya Fina. Aku hanya menggelengkan kepala dan membisu, khawatir lidah akan terpeleset menuju lubang berterus terang. Fina tersenyum senang melihat keraguanku dan menembakkan peluru selanjutnya, “Siapa dia? Oh iya, Holli sedang di tanah air.” Selesailah permainan orasiku, tebakannya menepati sasaran.
Ia merenung serta memalingkan wajah, sebuah usaha yang sia-sia mengingat perangai diriku ketika sedang menatap kosong menuju lorong perandaian. “Mungkin kamu bertanya-tanya bagaimana ku tahu, namun sudah jelas kamu memikirkan sesuatu. Tatapan manis dan penuh perhatianmu sirna ketika kita bertemu hari ini, apalagi tawarnya jawabanmu kepadaku.” Kata terakhirnya mengembalikanku kepada hadapannya, diriku resah mendengar kemurungannya yang semakin dalam. “Fina, aku dan Holi hanya teman. Sudah sejak dulu, dan kamu tahu itu…” Ia tersenyum prihatin mendengar dalihku.
Di bawah belaian angin malam serta rabaan cahaya purnama, aku berdiri memainkan pena yang terselubung dalam kantung. Fina menatapku sekali lagi, namun kini sebuah tatapan kehilangan dan keprihatinan. “Garis persahabatan adalah garis kelabu, Alex. Aku akan pulang, hari sudah larut.” Alex membalas perkataan Fina, berusaha menarik kembali hatinya. “Fina, aku dah Holi hanyalah sahabat.” Fina meluluh lantakkan dalihku, “Dan tadi kamu bilang kalian hanya teman. Sudah jelas bahwa kamu selalu mencintainya, meskipun dari jauh. Aku tidak menyalahkan kamu, karena kadang kita harus memilih antara kebahagiaan dan kenyamanan. Kini sudah jelas dimana pilihanmu bertumpu.”

Alex membasuh pipinya yang mulai diarungi beberapa tetes air mata dengan sapu tangan jingga yang sebelumnya terlipat rapi di kantung kemejanya. Roy mengamati Alex dengan perasaan yang menggugah, namun sifat kekanakannya tidak pernah hilang. “Jadi Tuan melanggar prinsip hidup tuan sendiri? Tuan memilih kebahagiaan daripada kenyamanan?” Sebuah titik amarah membakar pipi Alex, namun dikalahkan oleh kesedihan yang mendalam. Sebuah suara serak nan rendah menyahuti perkataan Roy, “Yah…. begitulah.”
“Tebakanku, kita telah sampai di babak terakhir?” tanya Roy berusaha menghibur Alex. Alex menghujat ucapannya dengan nadanya yang meniggi, “Huh! Memangnya ceritaku ini sebuah drama? Menggunakan kata babak segala. Kehidupanku tidak seperti tontonan generasimu yang merusak otak, membunuh romantisme. Biarlah aku menyelesaikan ceritaku dahulu!” Roy tersenyum tipis dan kembali melototi Alex.

Ketika usiaku masih lebih mudah serta pikiran lebih renta, aku dan Holli sering bercakap mengenai kehidupan. Kadang kala hal sedangkal pelajaran namun kadang sedalam nasihat kehidupan. Dari situlah timbul kebahagiaan daku, sebuah kebahagiaan ketika bertemu dan bercakap dengannya. Sebuah kebahagiaan yang timbul ketika cekikannya memasuki telinga atau senyumannya nampak di mata. Sedangkan mereka yang aku sukai, hanyalah sebagai alasan untuk menghindari perasaanku pada Holli karena ku tahu aku dan dia sungguh jauh berbeda.

Dirinya dikelilingi teman-teman yang sangat berbahagia bersamanya, entah mengapa sungguh mudah bagi dirinya untuk membuat orang lain tersenyum. Beberapa kali aku lihat dirinya, kadang kala perasaan tersebut timbul kembali. Namun ayolah, bukankah kami datang dari lapisan yang berbeda. Bukan berarti aku tidak mempunyai teman dan seorang penyendiri, namun cara hidup kami terlalu berbeda, teman-teman kami terlalu berjauhan, bukankah sudah kewajibanku untuk memikirkan akibat tidak langsung yang akan menimpanya.

Seperti pada hari lainnya di dunia ini, keburukan akan menang. Maka dengan sebuah lonjakan ego serta kekosongan rasionalitas, kujanjikan dia sepucuk bunga dafodil pada hari Valentinus. Namun apa kata, hari Valentinus lewat dan rasionalitas kembali merajai pikiranku. Selalu ada esok hari, pikirku. Sungguh pemikiran yang naif, mengingat aku tahu dia akan menuntut ilmu di negeri seberang. Tapi di sinilah aku, berjalan turun dari mobil sedan hitam dengan jas dokter yang masih setia menemani.

Pagi hari ini, ia berharap dapat menemuiku sebelum keberangkatannya ke kota hujan. Maka kupacu mobil, menghampiri toko bunga langganan yang menjadi pensuplai dafodil pribadiku. Aku hampiri gadis muda berambut kecokletan yang sedang mengairi berbagai bunga dan tersenyum lebar menyambut diriku. “Sepucuk dafodil ya, Nanda.” Dia tersenyum dan memelukku erat, tertawa ceria. “Wah akhirnya waktunya datang juga ya, kabari kelanjutannya ya,” lanjutnya. Aku tersenyum seraya meraih sepucuk dafodil dan memasuki mobil.

Kulihat dia menunggu di peron stasiun dengan gaun bermotif bunga berpola cerah. Ia melambaikan tangan lentiknya kepada diriku, aku tersenyum ragu namun berjalan pasti. “Halo, Holli. Selamat kehujanan ya,” candaku. Ia tertawa, memberikan sebuah simfoni bernadakan firdaus. “Iya nih, Alex. Kayaknya karirku selalu mengikuti ya,” lanjutnya. Aku tersenyum dan membalas, seraya memainkan dafodil yang terbenam dalam kantung, “Jadi kapan balik nih? Kan baru ketemu sebentar.” Dia berpikir pendek dan menjawab ringan, “Oh, dua hari lagi sudah di sini.” Maka aku lambaikan tangan menyambut kepergiannya, dafodil erat dalam kepalan tangan berpikir bahwa hari esok tidak pernah mati.

“Wah, jadinya akhirnya bahagia juga ya. Lalu Tuan menemuinya dan kalian hidup berbahagia kan?” sela Roy. Alex menatap Roy jijik seraya bergumam, “Anak penuh dongeng,” dan membalas perkataan Roy. “Aku mendatangi stasiun ini dua hari kemudian, menunggu tepat di kursi ini. Asap mengepali stasiun serta memburamkan pemandangan. Namun dapat kulihat Holi dengan jelas, dirinya berjalan menuruni tangga. Aku berlari ringan dengan dafodil sudah di tangan, tidak akan ada hari esok lagi. Namun sebuah tusukan perih menghujam dada, kududuk dan kuamati dengan kesedihan yang mendalam.”
“Di samping Holli, seorang pria berjas hitam berdasi berjalan menemaninya. Holli melihatnya lagi, mereka berdua tersenyum tertawa bersua dalam kebahagiaan. Kulihat robekan dafodil yang mengotori lantai peron, menyisip keluar dari kepalan tangan. Kandaslah harapanku, sebuah mimpi tinggi yang hanya hidup sesaat dan hanya terabadikan dalam lorong imaji. Ingin sekali rasanya daku menyalahkan dirinya, namun tidak sedikit pun dari hal ini adalah salahnya. Aku tidak pernah menyatakan perasaan kepadanya, maka hak apa yang aku punya. Kadang kala ada waktunya dimana perasaan harus melebur dengan rasionalitas.”
“Ya… beginilah jadinya nak. Seorang pria tua dengan jas putih keramat yang memeluk tubuhnya. Di balik ketajamannya hanyalah sebuah penyesalan yang dalam dan kesedihan yang suntuk. Perasaan yang rapuh dan terinjak, menantikan seseorang, baik yang dia lepaskan atau yang dia lewatkan.” Roy menepuk pundak Alex, sebuah senyuman mulai terpahat di wajah Roy. Roy hanya mengangguk-angguk seraya tenggelam dalam lautan malam.

Cerpen Karangan: Ghafi Reyhan
Sebuah pria muda yang senang membaca buku dan menulis. seorang romantis sejati serta menilik kembali moril-moril kehidupan.

Cerpen Dafodil Terakhir merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Angan

Oleh:
“GAK USAH BENGONG DEK!!” Teriakan senior memudarkan lamunanku saat memandang seorang Perempuan cantik di seberangku. Putra, itulah namaku… Aku adalah seorang mahasiswa baru di salah satu perguruan Negeri ternama

Cintamu Dingin dan Beku

Oleh:
Es jika digenggam dalam waktu yang singkat pasti membawa kesejukan. Tapi jika digenggam dalam waktu yang lama akan menimbulkan rasa kaku. Begitu juga cinta yang sedingin dan sebeku es

Virus Merah Jambu

Oleh:
Di pagi yang cerah, aku menuju sekolah ku yang berlokasi tepat di depan asrama kami. Aku pun pergi sendirian, dan aku ingat hari ini adalah jadwal piket kelasku. Dan

Rasa Yang Sama

Oleh:
“Do, Bagaimana jika aku membantumu mengangkat minuman-minuman ini?” memang ini berat tapi tidak mungkin aku membiarkan seorang perempuan yang mengangkatnya, “Memang kau sanggup Mit?” dia tersenyum dan mengangguk tanpa

Mas Kul Bukan Untukku

Oleh:
Pagi yang cerah dan matahari tak pernah lelah menyinari dunia dengan cahayanya yang menjadi sumber kehidupan bagi seluruh umat manusia. Kumulai hari ini dengan bersiap pergi ke sekolah. Aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *