Dalam Hati

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Cinta Pertama
Lolos moderasi pada: 24 September 2016

Tempat ini masih sama. Persis ketika aku meninggalkannya sepuluh tahun yang lalu. Hampir tidak ada perubahan sedikitpun. Setiap sudutnya, detailnya, masih sama. Hanya saja, rumah yang dulu pernah aku tinggali dulu, sekarang berubah menjadi taman kota yang indah.

Aku lahir dan dibesarkan di tempat ini. Semua aku bangun dari sini. Masa kanak-kanakku hingga masa remajaku. Aku bahagia pernah tinggal disini. Kalau aku mengenangnya, tak satu pun kecacatan yang pernah aku alami selama 17 tahun disini. Semua adalah kebahagiaan. Aku mendapatkan banyak kedamaian di tempat ini. Lingkungan yang nyaman, sahabat-sahabat yang pengertian juga masyarakat yang luar biasa hangat. Rasanya sempurna sekali. Mereka melengkapi keluargaku yang pada dasarnya adalah keluarga bahagia. Kesimpulannya, tempat ini dan semua yang ada di dalamnya adalah keluarga keduaku. Dan di tempat ini pula cinta pertamaku dimulai.

Saat itu aku hampir 17 tahun. Aku sangat mengingatnya karena tepat satu minggu sebelum hari ulang tahunku. Pagi itu seorang lelaki asing menyapaku dengan ramah. Posturnya tinggi kurus, matanya sayu tetapi senyumnya manis sekali. Aku rasa saat itu senyumnyalah yang membuat aku terkesima padanya.
“SMA mana dik?” tanyanya saat itu.
Aku yang sudah bersiap berangkat sekolah menjawab dengan gemetar. “Eh, anu, SMA Negeri 1.” Aku tidak tahu kenapa saat itu tiba-tiba aku gemetar merespon pertanyaannya. Ada sesuatu bergejolak di hatiku. Tapi aku tidak tahu apa itu.
“Wah, pintar ya? SMA 1 kan salah satu sekolah favorit di kota ini. Banyak orang-orang sukses yang dilahirkan dari sekolah itu.”
Aku hanya tersenyum. Dalam hatiku berkata, sebenarnya siapa orang ini? Bahkan namanya saja aku tidak tahu. Bertemu pun juga baru kali ini. Tapi kenapa orang ini seperti sudah mengenal aku lama. Begitu juga aku. Kenapa aku merasa sangat nyaman ketika berbicara dengannya. Tanpa berkata apa-apa lagi lelaki itu pergi sambil mengembangkan senyumnya. Lagi-lagi hati ini bergetar.

Sejak hari itu aku sering berpapasan dengannya di sekitar rumahku. Entah pagi, siang, sore maupun malam. Sehari minimal satu kali aku selalu bertemu dengannya. Diajaknya bicara juga.

Empat hari berlalu sejak pertemuan dengan lelaki itu. Anehnya aku tidak pernah tau siapa namanya dan aku tidak pernah berani bertanya siapa namanya. Terus terang aku merasa canggung jika harus bertanya tentangnya. Aku ini tipe pemalu. Apalagi dengan laki-laki. Seumur hidupku bahkan aku tidak pernah tau apa yang namanya berteman dengan laki-laki. Mungkin ada beberapa teman lelaki tetapi hanya sebatas tau nama atau berbicara urusan sekolah. Selebihnya tidak. Dari kecil aku terbiasa dengan kehidupan yang dikelilingi banyak perempuan. Kakakku perempuan, saudara-saudaraku kebanyakan juga perempuan, begitupun teman-temanku yang kebanyakan perempuan. Satu-satunya lelaki yang sangat dekat denganku hanya Ayahku. Mungkin itu salah satu penyebab aku malu bergaul dengan lelaki.

Mungkin semua sudah diatur oleh Tuhan, seiring berjalannya waktu aku banyak mendengar cerita tentang lelaki itu dari tetanggaku. Itu pun tanpa aku bertanya pada mereka. Namanya sederhana. Agus Rahman. Asalnya dari Semarang. Di kota ini dia kuliah dan menetap sementara di rumah salah satu tetanggaku. Banyak yang bilang orangnya ramah dan pandai bergaul. Orangnya juga pintar.

Sabtu, 2 September 2006. Hari ulang tahunku yang ke 17. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Tidak ada perayaan atau sesuatu yang istimewa terjadi. Aku sudah terbiasa menjalani 17 kali ulang tahun dengan momen yang sama. Selama ini hanya satu kali perayaan yaitu ketika aku berumur satu tahun. Setelah itu semua dijalani dengan biasa saja. Aku pun memakluminya. Karena kupikir, dengan kondisi orangtuaku yang sederhana aku memang tidak seharusnya meminta sesuatu yang istimewa di hari istimewaku. Bagiku, kesehatan dan kebahagiaan sudah menjadi kado tak ternilai setiap tahunnya.
“Lala!” seseorang menepuk pundakku. Aku menoleh. Senyum itu mengembang. Senyum yang khas milik seseorang yang sangat kukenal.
“Kak Agus? Ada apa?”
“Selamat ulang tahun, ya?” katanya kemudian sambil menyerahkan sekuntum mawar putih. Aku tersipu. Ini pertama kalinya seorang lelaki memberi bunga padaku.
“Kok Kak Agus tau aku ulang tahun?”
“Ya tau lah? Aku tau segalanya tentang kamu. Apapun. Semuanya.” jawabnya dengan pede.
Dan sejak saat itulah pertemanan kita berlanjut.

Aku masih menyusuri taman. Mengingat lagi setiap sudut yang pernah menjadi kenangan. Kenangan yang pernah kurajut indah sebelum kejadian menyedihkan waktu itu.

Pagi itu semua berkemas. Semua warga di lingkungan RW tempat tinggalku harus segera meninggalkan wilayah itu karena ada penggusuran dari pemerintah kota. Semua warga diberi ganti rugi karena di daerahku akan dibangun taman kota. Dan kejadian itulah yang akhirnya membuat Ayahku memutuskan untuk pindah ke luar daerah. Sangat sedih rasanya meninggalkan semua yang sudah kubangun di tempat itu. Tempat lahirku, tempat tinggalku, dan tempat terbangunnya cinta pertamaku.

Ya, saat itu baru kusadari aku jatuh cinta padanya. Pada Agus Rahman. Tepatnya mungkin pada saat pertemuan pertamaku dengannya. Hanya saja semua itu tidak bisa aku ungkapkan. Hingga saat perpisahan kami pun, aku tidak bisa menemuinya. Aku berharap masih bisa bertemu dengannya untuk terakhir kali dan ketika bertemu nanti aku hanya ingin mengucap selamat tinggal dan sekedar memberi isyarat bahwa aku menyayanginya. Namun sampai waktu yang telah ditentukan aku bahkan tidak bisa menatap wajahnya. Entah kemana dia. Tak seorang pun yang tahu. Dia tiba-tiba menghilang, HPnya pun juga tidak aktif. Mungkin ketika dia datang nanti dia benar-benar kehilangan aku dan tidak akan menemukanku sampai kapanpun kecuali ada takdir yang mempertemukan kami.

Tak terasa hari telah sore. Aku harus kembali ke kehidupan nyataku. Aku hanya menitipkan rasa sepuluh tahun lalu pada tempat ini. Dimana dia telah mempertemukan dan memisahkan kami. Kalau suatu saat dia datang, dan aku yakin dia akan datang, maka berhembuslah angin dan sentuhlah hatinya dengan rasa yang kusimpan dalam hati ini selama bertahun-tahun. Cinta yang selalu aku jaga sampai aku sudah tak sanggup lagi menjaganya.

Cerpen Karangan: Diyah Ika Sari

Cerpen Dalam Hati merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Dalam Diam

Oleh:
Masa SMA merupakan masa masa terindah bagiku. Masa masa dimana aku tertarik dengan lawan jenis. Bukan berarti aku belum tertarik dengan lawan jenis ketika SMP, aku sudah tertarik akan

Aku dan Kau (Part 1)

Oleh:
“Dear Bestfriend, You’re the best, and I just can be your friend… Hopefully more than that… ” 🙂 Kamu.. Lelaki misterius yang selalu tampil rapih di depanku… Misterius? Ya..

Kaulah Yang Kusayang

Oleh:
Di dalam hati Aldy merasa tidak senang atas kehadiran mantan kekasihnya yang tak lain adalah Pika, Gadis cantik dan manis yang sangat manja. Aldy berfikir apa jadinya jika Pika

Akhir Yang Aneh

Oleh:
Menjadi seorang saksi pernikahan takkan menjadi masalah. Apa salahnya menjadi saksi. Ia hanya menyaksikan dan menikmati acara hingga usai. Seraya berbahagia dan mengucapkan selamat. Memang tak ada yang salah

Alasan Sederhana

Oleh:
Semua berawal ketika aku diajak untuk menghadiri salah satu acara ulang tahun teman sekalasku, Ika. Aku merasa terkejut ketika Ika mengundangku ke acara ulang tahunnya, bagaimana tidak? Aku dan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Dalam Hati”

  1. Arik says:

    Ditunggu karya selanjutnya dari mb Dyah Ika Sari 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *