Dewa Yunani

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam)
Lolos moderasi pada: 21 June 2014

Suara bising roda beradu dengan rel berdesing, sesekali berdecit lalu mengeluarkan suara keras, asap mengepul seperti pipa rok*k. Aku sudah mendapatkan tempat yang nyaman ketika kereta melaju. Jam empat dini hari, aku mengencangkan jaketku, meminum teh yang baru saja kubeli di stasiun tadi.
“boleh saya duduk disitu?”
Aku menoleh, wanita muda dengan wajah kusut dan pucat, dia tersenyum, kuperhatikan dia, sekilas aku seperti pernah melihatnya, dia kerepotan dengan berbagai macam barang bawaannya. Aku balas tersenyum lalu mengangguk, menyilahkannya duduk.
“silakan” ujarku. Wanita itu buru-buru menurunkan barang bawaannya, duduk di kursi di hadapanku.
“Anda mau teh? udara di luar sangat dingin” kataku sambil menuangkan segelas teh untuknya, asap menguar dari gelas.
“Terima kasih, di luar memang dingin sekali” katanya sambil menyambut teh yang kuberikan.
“Saya Desy” katanya lagi, lalu menjabat tanganku.
“Ve, Verena” kataku
“Nama yang indah, saya juga menamakan anak saya dengan nama Ve” katanya, lalu hening.
“Anda percaya cinta pertama?” tanyanya kemudian, aku mengangguk.
“Anda pernah mengalaminya?” tanyanya lagi.
“Setiap orang pasti pernah mengalaminya bukan?” jawabku pendek, menghirup aroma teh dalam-dalam. Ia tersenyum.
“Cinta pertama jarang berakhir bahagia” gumamnya. Aku menatap ke luar jendela kereta, suasana sudah mulai remang-remang, matahari perlahan menyembul dari balik pepohonan, embun mengkristal. Kereta tetap melaju, meninggalkan semua yang dilaluinya, satu persatu dengan cepat, pohon itu fragmen kenangan, mengumpul menjadi satu, aku terbawa.
“Anda kelihatannya punya masa lalu yang buruk tentang cinta pertama” kataku padanya, tehku sudah mendingin, di luar sekarang sudah benar-benar terang, kereta terus melaju.
“Sepertinya iya, apakah cinta pertama anda manis?” katanya balas bertanya, aku menatapnya sebentar, tersenyum.
“sebenarnya lumayan” kataku
“Oh ya?”
“Lumayan menyedihkan” kataku lagi, awan-awan bergerak, hanya beberapa tahun, tidak bahkan beberapa hari saja semua kejadian berubah menjadi kenangan.
“Bisakah aku mendengar kisah cinta pertamamu?” kata Desy, aku mendongak, menatap wanita yang baru kukenal itu.
“Tentu!” kataku pendek. Desy mengatur posisi duduknya.

“Hari ini latihan di rumahmu kan Ve?” kata suara di belakangku sambil menepuk bahuku, aku terkejut. Iko!
“Iya, Dina udah kamu kasih tahu?” tanyaku, iko menggeleng.
“Kamu kan saahabatnya” katanya lagi.
“Kamu kan pacarnya” balasku
“Aku kan baru tahu sekarang” katanya lagi, aku mengangguk, menyerah, tak ingin berdebat dengannya. Aku membereskan buku-buku yang berserakan di mejaku. Hening sesaat, aku diam.
“Ya udah deh, see you ya neng” kata Iko akhirnya, lagi-lagi aku hanya mengangguk, pura-pura sibuk membereskan buku-bukuku, padahal semuanya telah selesai kumasukkan.
“Ga ngomong nih Ve? sekarang kok jadi kaku ya, aku sama kamu?”
Aku mengatupkan mataku rapat-rapat, menekan dadaku keras-keras, aku tidak berani membalikkan badanku untuk menatapnya. Aku menghirup nafas dalam-dalam, aku tidak tahan.
“Lagi ada masalah ya?” katanya serius, aku mengernyitkan alisku.
“Masalah apa?” tanyaku, Iko menatapku dalam-dalam.
“Ga ada masalah apa-apalah ko” kataku akhirnya, tidak tahan dengan tatapan menyelidiknya. Aku mengambil tasku lalu pergi, aku sungguh tidak tahan berada disini.
“Kalau ada apa-apa cerita ya Ve! aku juga kan sahabatmu” teriaknya, aku hanya mengangguk dan mangacungkan jari jempolku. Aku berjalan melewatinya, dia masih berdiri disana. Aku berjalan keluar, melihat dina hendak bicara aku menunjuk ke kelas.
“Iko kan?” kataku tersenyum, Dina mengangguk lalu balas tersenyum.
“Ntar latihan dramanya di rumah kamu kan Ve?” tanyanya. Aku mengangguk.
“Jangan telat ya bang!” kataku.
“Iya, iya neng!” katanya, aku lalu berjalan meninggalkan dua sahabatku itu, membiarkan mereka berdua membuat hatiku seperti digantungi ribuan kilo besi. Aku menekan dadaku keras-keras, perasaan seperti ini pasti hanya semu Ve, besok pasti akan menguap, menguap seperti kabut. Batinku.

“Kasetnya yang mana Ve?” tanya Iko sambil mengutak-atik tumpukan kaset di depannya. Aku sibuk membaca komik yang baru saja kubeli tadi pagi.
“Yang ada gambar cewek kumpeni” kataku tanpa menoleh.
“Cewek kumpeni ya?” katanya sambil terus mencari di antara tumpukan kaset.
“Nah Ketemu” pekiknya “Yang ini kan Ve?” katanya sambil mengacung-acungkan kaset yang didapatkannya.
“Iya masukin ajake DVD playernya” kataku masih tanpa menoleh. Aku mendengar Iko memasukkan DVD lalu menekan tombol play. Sunyi sesaat, aku masih asyik dengan komikku. Terdengar suara kemresek lalu suara-suara aneh.
“Astaga! film apaan tuh Ve?!” teriak Iko kemudian, aku terpaksa mendongak, aku menatap televisi, aku terkejut setengah mati karena yang kulihat adalah gambar yang tidak seharusnya kulihat.
“IKO! MATIINNN” jeritku, aku buru-buru menutup kedua mataku, Iko lalu bergerak cepat menekan tombol stop dan mengeluarkan kaset yang parah itu.
“Parah lu Ve! itu mah film bok*p, film p*rno” kata Iko bergidik. Aku menggeleng-gelengkan kepala tak percaya dengan apa yang baru saja kulihat.
“Ternyata kamu punya film yang begituan ya Ve? hahahaha” Iko terbahak-bahak, aku menempeleng kepalanya keras.
“Dasar sinting! aku juga ga tahu ada film begituan disitu. Lagian kamu disuruh ngambil yang gambarnya cewek kumpeni malah ngambil yang bukan-bukan” semprotku.
“Ini kan kumpeni! lagian juga tadi aku tanya kamu bilang iya”
Aku diam, lalu beberapa saat kemudian kami tertawa terbahak-bahak, konyol! maka jadilah hatiku bertambah kalut dengannya, aku akan terus berpura-pura tak pernah punya perasaan apa-apa dengannya, itu lebih baik. Aku masih SMP, perasaan ini hanyalah perasaan yang dimiliki anak-anak, aku akan segera melupakan perasaanku saat aku menemukan dewa yunani yang lain. Hiburku.

Aku melihatnya disana, dia berdiri, bergurau dengan teman sekelasnya, SMA! dia tetap sama, tidak ada yang berubah sejak aku mengenalnya dari SMP, waktu cepat sekali bergerak, tapi dia tetaplah dia.
Jantungku berhenti berdenyut, jarakku hanya beberapa meter darinya sekarang darinya, arteriku macet, sial! aku semakin dekat dengannya, ingin rasanya kubalikkan badanku lalu mencari jalan lain, terlambat! dia menoleh, melihatku! nafasku tak beraturan, aku mencoba mengendalikan diriku.
“Hai Ve!” sapanya, senyumnya mengembang. Aku balas tersenyum padanya, senormal mungkin, melambaikan tanganku lantas kujulurkan lidahku. Aku berlalu, juga senomal mungkin, padahal kau tahu, dadaku rasanya ingin meledak, hatiku mengembang dan tak sudi mengempis, mengembang, mengembang sekali. Untung saja otakku masih bisa kukendalikan. Melihat senyum Iko langsung membuatku terbahak-bahak dalam hatiku, wajahku cerah, kedua sudut bibirku terangkat.
“Olala! rupa-rupanya Iko ya? Dewa Yunanimu!” Aci menyenggolku, aku terkejut, aku tergagap-gagap, Aci adalah teman sebangkuku sekarang. Aku ketahuan.
“Ngaku, aku ngerti kok, tatapanmu kepadanya, cerianya wajahmu setelah saling sapa, ckckckck” katanya, aku menjitaknya, dia mengaduh. Kuteruskan membayangkannya, menggumamkan namanya berkali-kali, lalu menulis namanya sebanyak mungkin. Aku akan tertawa terbahak-bahak, cinta kadang bisa membuat orang waras jadi sinting, dan orang sinting menjadi gila sepenuhnya.
Begitu SMA, hubungan Iko dan Dina selesai. Berita ini kudengar dari beberapa temanku SMP, beda domisili itu alasannya, Iko satu sekolahan denganku, Dina tidak. Aku gembira, jahatkah aku? aku masih punya kesempatan dengan dewa yunaniku. Tapi kesendirian Iko tak bertahan lama, ia akan dikabarkan telah bersama cewek X, wanita Y, dan si Z, terakhir aku dengar dia telah bersama Vita, teman sekelasnya. Aku? tetap berdiri sendiri, perasaanku akan kacau jika dia bersama wanita lain, dan akan berseri-seri saat hubungannya dikabarkan kandas, aku tetap tak bergerak.
Semenjak SMA aku tidak pernah sekelas dengannya, perlahan-lahan dia mulai berubah, sekarang ketika dia melihatku, Ia seperti tak melihat siapa-siapa, aku orang asing baginya, ini membuatku terluka, tapi perasaanku tak jua mau hengkang dari hatiku, pun aku tak punya keberanian mendekatinya.

“Ga ada perkembangan Ve?” tanya Aci di sampingku, aku kusut, soal kimia yang kukerjakan tidak juga mampu kuselesaikan.
“perkembangan apa?” kataku balas bertanya.
“Yaelah, siapa lagi yang ada dalam otakmu sekarang? dewa yunani lah” kata Aci, aku mendengus.
“Ga ada. Stagnan! jalan di tempat, grakkk!” kataku. Aci ngakak, aku melengos.
“Makanya neng, PDKT, Usaha! Minimal biarkan dia tahu perasaanmu. Berapa lama kamu mendem tuh perasaan?” aku pura-pura sibuk.
“5 tahun neng! ga jebol tuh hati” aku diam.
“ga ada kesempatan” ujarku pendek
“banyak kesempatan, kamu yang males nyari, kamu yang ga berani.” Aku masih diam. Selama ini yang kulakukan hanyalah melihatnya dari jauh, mengawasinya, lalu berpura-pura. Aku berusaha menyadarkan diriku bahwa jalanku dan jalannya berbeda.
“dia makin jauh ci, makin ga kenal, kelas 3 ini malah aku dan dia ga pernah nyapa.” Aku menghela nafas dalam-dalam. “kayanya aku musti belajar ngeikhlasin dewa yunani Ci, aku udah nyerah pada pertarungan yang tidak pernah kulawan. Aku menyedihkan ya Ci, aku bodoh ya, mencintai orang yang sama sekali ga menyukaiku” Aci menggeleng, memelukku.
“Kalau emang jodoh, kita pasti bakal ketemu ya ci?” kataku lagi, Aci menusap-usap punggungku, menguatkan.
“Itu sudah tepat. Semangat Verena!” Aci mengepalkan tangannya, aku hanya tersenyum.
Biarlah aku tetap menjadi penggemarnya, pemujanya! itu cinta yang indah. Aku menekan dadaku berulang-ulang. Dewa Yunani, menguaplah seperti kabut.

“Siapa? Kenapa?!” teriakku keras, Aci menempelkan jari telunjuknya di bibirnya, menyuruhku diam.
“Vita hamil gara-gara Iko,” kata Aci sekali lagi, petir menyambarku, banjir bandang meluluh lantakan semua serpihan hatiku, iko, iko, iko, aku menggumamkan namanya berulang-ulang. Iko, iko, kamu iko? Vita? aku setengah tak percaya.
“Jangan becanda kamu Ci,” teriakku, air mataku ambrol. Aci menggeleng.
“Si Vita udah keluar Ve, ikonya masih sekolah, soalnya mau ujian nasional, maafin aku ve” kata Aci. Iko, Iko, aku terus menggumamkan namanya berulang-ulang.
“Dia cowok baik-baik Ci” isakku.
“Dunia bisa berubah Ve!” bisik Aci, memelukku. Aku masih tidak bisa percaya. Duniaku runtuh.

Aku suka caranya memakai tas gendong hanya dengan menggantungkannya pada satu sisi lengan saja, aku suka caranya berjalan, aku suka caranya duduk dan melepaskan tasnya di meja. Keren! Keren sekali! Aku suka caranya bicara, lembut tapi bertenaga, sedikit tapi mengena, tidak berkoar-koar seperti ayam.
Aku suka gaya berpakaiannya, tidak terlalu rapi, tapi sopan, sesuai aturan tapi keren. Aku suka caranya bertanya, caranya tertawa, dan caranya memandang. Matanya adalah kombinasi tujuh warna pelangi, matahari terbit, aurora, dan bintang gemintang, cerah bersinar-sinar, damai menentramkan.
Aku suka guyonannya meski guyonan itu telah kudengar ribuan kali, bagian terindah aku suka melihatnya menyanyi. Ahhh apa yang ada dalam fikiranku? aku menyukai hampir semua hal tentangnya. Aku gila? aku berlebihan?
Aku pengagumnya, dia tidak tahu. Biarlah, biarlah seperti itu, akan kuperhatikan kau dari sini, langkahmu, tatapanmu, gayamu. Tetap, tetaplaah seperti itu, jangan ada yang berubah. Jangan sadar! kumohon jangan sadar ada aku disini yang menatapmu dengan mata yang berbinar-binar. Biarkan aku yang sadar dulu, bahwa tak ada artinya menatapmu dengan binar-binar itu. Dewa Yunani, menguaplah, hilanglah dibawa angin, tolong menguaplah dari hatiku.

Aku berdiri di stasiun, membawa beberapa barang bawaanku, lalu melangkah pergi. Seseorang memegang pundakku, aku menoleh.
“Desy?” kataku, Desy tersenyum kepadaku, lalu merogoh kantung celananya, mengeluaakan sesuatu lalu memberikannya padaku.
“Hadiah untukmu, ahh bukan! maksudku kenang-kenangan, ucapan terima kasihku karena telah menceritakan sesuatu yang hebat dalam perjalanan kali ini. Semoga kau mendapatkan cintamu dalam pencarianmu. Semoga cinta yang kau dapatkan nanti tidak akan menguap seperti kabut. Jika kau menemukannya, lekas ungkapkan, jangan kau pendam. Seberapapun besarnya harga dirimu” ucapnya, memelukku, aku dilanda kebingungan.
“Terima kasih” kataku, Desy berbalik lalu melangkah pergi, aku terpaku, menatap punggungnya yang makin lama makin menjauh. Aku membuka sesuatu yang diberikan kepadaku, aku tertegun, mengamati benda itu, aku sangat mengenali benda ini. Gantungan kunci panda, hadiah yang kuberikan pada Iko saat ulang tahunnya dulu, tepat ada tulisanku disana. Kenapa benda ini bisa berada padanya?
Jantungku berdegup kencang, aku perlahan mengingat wajah Desy, dia? Vita? istri Iko? Tapi bukankah Vita sudah meninggal saat melahirkan anaknya? aku merinding

Cerpen Karangan: Eva A.S
Facebook: Eva Anis

Cerpen Dewa Yunani merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Miss Es Batu

Oleh:
Gue lagi bingung mau ngapain, pekerjaan rumah udah gue selesaikan dengan amat baik dan dengan gaya yang super duper indah. Bayangin aja setiap pagi sebelum gue berangkat kuliah gue

Pengagum Rahasia

Oleh:
Hari masih sedikit berkabut, daun-daun menyapaku dengan lambaiannya, matahari juga terbit dari ufuk timur, aroma udara terasa segar, segera ku tancapkan sepeda motorku ke sekolah yang kira-kira 30 menit

Menyebut Namanya Dalam Sujudku

Oleh:
Hari ini, aku sungguh tak percaya dengan takdir allah. Bagaimana tidak? Dia satu kelas denganku. Ketika kelas 10, tak jarang aku menyebut namanya dalam sujudku, salah satunya agar dia

Ketika Cinta Menghampiri

Oleh:
Ketika cinta menghampiri, dunia terasa lebih indah. Dan hati, merasa terisi. Namun, jika cinta hanya membawa luka, sebaiknya jangan pernah datang dan jangan pernah ingin tersentuh cinta. Cinta yang

Dafodil Terakhir

Oleh:
Wajahnya masih terisi kehampaan serta keluguan, sebuah rompi merah melekat menutupi kemeja putih lusuhnya. Dirinya belum tamat sarjana, namun langkahnya yakin tanpa keraguan. Buku kuliahnya dikepit erat lengannya, tubuhnya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *