Di Pojok Perpustakaan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Penantian, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 29 May 2018

Ada satu pojok, di penghujung ruang perpustakaan, diapit tembok di bagian belakang dan jendela terbuka di bagian depan. Tak tahu menahu, aku duduk saja, selang dua bangku di sebelahnya. Maksud dan tujuan pun tak tahu, yang pasti hanya tempat pojok yang kala itu sedang kosong. Duduklah aku terbilang dua selang denganmu.

Engkau biasa saja, datang lebih awal. Pun, aku tak kenal dan tak tahu apa-apa. Kau, di pojok sana, buku setebal-tebalnya buku di depanmu, tidak sampai membuatku bertanya apakah itu kau baca atau tidak. Earphone biru di telingamu, tidak sampai membuatku bertanya lagu apa yang sedang kau dengarkan, laptop dengan penerangan maksimum, tidak sampai membuatku bertanya gerangan apa dibuka di layar itu. Aku cuma duduk, dan ikut-ikut belajar.

Sejam dua jam tidak ada yang berbeda, aku dengan segelas kopi, buku dan laptopku, kau dengan air mineralmu, buku dan laptopmu. Selang sejam lagi, kau berdiri, bebersih semua barang-barang bawaanmu, lalu lewat dekatku nampak permisi ingin lewat. Tersenyumlah dirimu di depanku, tidak sampai membuatku terpana. Tidak sampai membuatku mati kutu, bahkan kujawab pula senyum itu.
Tapi, iya, membuatku sampai sulit berkata. Ah! Mati aku!
Berawal dari sini kah? Di pojok perpustakaan sore itu?

Berlalu hingga esok, aku yang suka dengan pojok ruang kembali duduk di tempat yang sama. Kuedarkan pandanganku namun tak ada kulihat kau yang kemarin duduk di tempat berselang dua meja di sebelahku. Aku melanjut, tugas ini harus selesai kurang dari kelas selanjutnya. Fokusku kutajamkan, earphone sekeras-kerasnya menghilangkan suara luar. Aku, laptop dan secangkir kopi siang itu.

Jelang tak lama seusai 12 siang, sebuah suara menghentakkanku. Hanya sapaan permisi untuk lewat masuk ke pojok ruangan. Hei! Kau yang kemarin. Aku berucap seadanya, mempersilahkan lewat sekaligus maaf menghalangi jalan. Kamu, yang dengan selengkap-lengkapnya peralatanmu kembali sibuk nampaknya.
Ah! Aku bahkan tak tahu perihal semua tentangmu, pun tentang nama. Aku hanya tahu, kau, perihal pria di pojok perpustakaan.

Sehari sehabis esok hari, entah gila atau semacam apa dibuatmu, aku kembali mencari pojok. Tentang apa yang akan kukerjakan selang empat jam sebelum kelas selanjutnya pun aku tak ber-ide. Ah! Kenapa aku? Kulihat kau, dengan setelan kemeja dan celana jeans, seperti kamu pada hari yang kemarin lalu, hanya dengan warna yang berbeda. Aku lalu duduk, kita tepat di posisi hari lalu, hanya aku yang kini mulai bertanya-tanya, mengapa tak kau bawa buku setebal kamus terjemahan yang kau bawa kemarin, mulai bertanya-tanya apa yang kau dengar di balik earphone birumu, mulai bertanya-tanya sedang bersama apa dirimu dan laptop di depanmu. Ah! Aku mati penasaran.

Lalu, sekarang bagaimana? Aku berselang dua bangku di sebelah denganmu. Beruntung, tak ada yang duduk di antaranya, hingga hanya aku dan kau di sudut itu. Aku yang tengah menyibukkan diri sembari ekor mataku yang terus membututi aktivitasmu, sekali-kali kuregangkan tulang belakang dengan memutar tubuhku ke kanan dan ke kiri, bukan perkara pegal duduk berjam-jam, tapi kerana kau akan tampak jelas akibatnya.

Lalu seperti kemarin-kemarin, kau memilih menyudahi duluan. Permisi lewat tanda ingin usai dari pojok perpustakaan. Aku mempersilahkan. Ah, harus berpisah lagi, ah toh tak apa. Esok lagi aku akan datang kemari.
Ke pojok perpustakaan.

Esok lagi, esok lagi hingga terpaut lebih sudah dua minggu kita terus duduk selisih dua bangku di pojok perpustakaan. Lebih dua minggu kita saling permisi untuk lewat dan untuk pamit. Lebih dari dua minggu juga tapi perihal nama pun aku tak kunjung bertanya dan kau pun tak ingin bertanya. Ah! Untuk apa. Lebih dari dua minggu, ada semacam rencana Tuhan, perihal di antara bilik ruangan itu, tak ada yang memilih tempat kita berdua.

Siang itu, tidak seperti biasa, aku tak bisa datang ke pojok perpustakaan. Urusan lain, begitu perkaranya. Sedih benar aku siang itu, rasanya, aku benar telah mencinta. Bahkan dengan seorang yang tak pernah ku kenal dalam hariku, tapi mampu mengisi hariku.
Siang itu, aku murung temaram merana tak bertemu pria selang dua meja di sebelah.
Di pojok perpustakaan.

10:00
Tiga hari selepas kemarin, baru aku bisa kembali ke pojok perpustakaan. Girangnya aku kelewat batas, bahkan lupa tempat kalau itu adalah perpustakaan. Aku kembali mencari pojok, dua selang kutandai. Aku duduk di bangku yang selalu sama akhir-akhir ini, namun pria pojok perpustakaan tak datang. Aku terlanjur dibuat harap agar ia datang selepas siang nanti, permisi lewat seperti hari-hari kemarin.

13:00
Kala itu dimana, pun aku sibuk dibuat si tugas kuliah. Maka, lewat sejam-dua jam aku tak terlalu merasa. Lirikku pada pergelangan tangan dan jam yang terikat padanya, pukul 13:00. Aku menoleh, ke arah selang dua meja di sebelahku. Hhhh! Aku mendesah, ia balas dendam, sebab aku juga tak datang kemarin, rupanya. Aku lemas lesu dibuat hanya sebab ia tak datang, aku kocar kacir buka tutup file, ketik asal-asal dan menulis tanpa ide. Aku hilang konsentrasi padahal hari masih pagi.

Lewat satuan menit, aku dibuat bingung, seorang berbisik berucap permisi. Aku sontak, cepat menolehkan pandangan, terlalu kegirangan seperti pemburu harta karun dapat upeti. Seorang berbisik permisi, untuk lewat dan duduk di selang dua bangku di sebelahku. Tapi aku murung, sebab bukan dia, tapi orang lain, aku memberi jalan, tapi tidak tersenyum.
Kemana dia?-lirihku melirik dua bangku sebelah.

14:00
Aku duduk di bangku yang sama, dua bangku selangku sudah terisi tapi bukan kau yang telah dari tadi kutunggu. Haruskah aku menunggu lagi? Aku kesal sebab tak ingin, tapi hatiku menyuruh menunggu, aku lama tak melihat wajahnya, dan berharap ia kembali mencari pojok, sekedar duduk di sebelahku. Aku dibuat sabar menunggu, padahal adapun aku tidak melakukan apa-apa. Hanya duduk dan berharap, agar pria pojok perpustakaan mau datang. Tapi, ternyata ia tak kunjung datang.

15:00
Aku kembali menguat fokus, berusaha kembali berkutat dengan tugas, sembari menunggu. Si orang asing, sudah pergi dari bangku sebelah, ia, si bangku dua selang di sebelahku kembali kosong, tapi pria di pojok pepustakaan tak kunjung datang. Siapa yang tahu dia sekarang di mana, mungkin hari ini ia memang tidak kesini. Candu aku dibuat, tapi aku tetap menjadi kokoh untuk menunggu.

17:00
Kantuk mulai masuk, aku sudah di sini dari pagi, tugas sudah kukerjakan semua, tapi aku masih menunggu. Ini yang aku tidak suka perihal jatuh cinta, kadang aku yang serba kelewatan, aku yang menjadi pertama untuk mencinta, lalu masuk dalam-dalam, tapi tidak tahu perihal dia. Aku terlewat suka, sampai lupa bahwa ia mungkin saja tidak disuka. Hah! Selalu saja.

18:00
Biru mulai pudar, senja mulai terlukis. Matahari sudah turun, rembulan mulai naik. Aku menatap keluar jendela, buram. Kubayangkan kali pertama aku bertemu pria pojok perpustakaan itu. Hah! Ilusi, tapi hatiku serasa dihujani kupu-kupu seladang kebun bunga. Ia begitu sederhana, aku mencinta tanpa tahu siapa dan mengapa. Kenal saja tidak, tapi aku melulu dibuat tak bisa berhenti memikir. Jangka pendek, kala pertama kali bertemu sampai aku menjadi jatuh hati, terasa hanya singkat saja, tapi terasa sangat murni dan tanpa keterpura-puraan.
Aku kembali menatap dua bangku sebelah, kamu kapan datang? Aku masih menunggu-senyumlah aku.

20:00
Berada di ujung hari, ruangan akan segera ditutup. Beberapa bilik perpustakaan sudah mulai dipadamkan cahayanya, sedikit lagi semua gelap. Aku segera beberes, agak sedih sebenarnya. 10 jam benar aku di sini, menunggunya, atau sebut saja menantinya, sebab aku bahkan tak tahu dia akan datang atau tidak.

Aku kembali menengok dua bangku sebelah, hei, besok saja kita berjumpa. Aku akan kembali, jadi pastikan kau datang-gumamku.
Aku lalu menyerah, memilih keluar sambil gontai. Beberapa orang masih beberes bersiap keluar karena perpustakaan akan ditutup, akan menjadi gelap sebentar lagi. Aku keluar, berjalan menuruni tangga. Begitu di luar, kulihat langit sudah amat kelam. Hh! Pulang saja lah.

Selang beberapa saat langkah kaki, sebuah suara berteriak ke arahku.
“Hei!” setengah berlari ia menghampiriku.
Mataku melotot, ia? Bukankah ia pria di pojok perpustakaan? Kenapa ia? Apa ini? Rautku masih heran, sambil diam setengah tidak percaya.
“Hei, kau tadi di dalam sampai tutup?” ia bertanya.
Aku masih bengong dibuatnya, hanya sanggup menjawab dengan anggukan sambil hati yang terus berdebar kencang.
Deg-deg-deg… hatiku makin degup, tanganku makin dingin.
“Maaf terlalu takut untuk masuk dan menemuimu…”
Deg-deg-deg… hatiku makin degup, tanganku makin dingin.

Ia lalu tersenyum, senyum yang paling ingin kulihat hari itu. Dengan sedikit malu, ia melangkah maju ke depan, meraih tangan dinginku, lalu menatapku dan tersenyum.
“Aku suka denganmu, tapi bingung berucap dan takut untuk mengungkap… aku suka”
Deg-deg-deg… hatiku makin degup, tanganku makin dingin.
“Sejak kapan?”
“Sejak di pojok perpustakaan.” Ucapnya manis sambil memekar senyum.
Aku balas tersenyum, lalu memeluknya sambil berjinjit.

Kita, sama sama menjadi jatuh cinta, sebab pojok perpustakaan.

-XOXO-
Budi

Cerpen Karangan: Riski Budi Pratiwi
Blog: riskibudipratiwi.wordpress.com
ISTJ

Cerpen Di Pojok Perpustakaan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Menanti Cinta Hingga Senja

Oleh:
Elsa. Itulah nama seorang gadis yang penuh dengan pengharapan. Hampir setiap malam sebatang pena biru berdansa di atas kertas. Ratusan halaman diary sudah tertulis. Lembaran demi lembaran mengisahkan cinta

Ini Kisahku

Oleh:
Tak! Seorang gadis berambut sebahu menendang kaleng bekas minuman dengan amarah menggebu-gebu. Entah apa yang membuat hatinya panas. Tetapi yang jelas dia benar-benar kesal dengan ucapan anak laki-laki yang

Maroon (Part 2)

Oleh:
Seperti yang sering Lana ucapkan dengan suaranya yang lantang dan sedikit nyaring itu. Jam kosong layaknya surga dunia. Melihat bagaimana keadaan kelas sekarang, tidak bisa dipungkiri lagi. Aku pun

Kang Luffy

Oleh:
Langit hitam memekat sunyi dalam gelapnya cakrawala. Dengan ditemani jangkrik-jangkrik yang bersiul riang menyambut separuh malam. Pukul 00.22 WIB kulirik jam bermerekan 3ATN water resistant stainless biru polos, dengan

Sarung Coklat

Oleh:
Pesona senja enam sore di ibukota memang cukup cantik. Namun tak sedikit pun memikat Zizi yang sedari tadi membujukku setengah mati untuk menaruh sajadah ke masjid. “Bia… Febia, ayo

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *