Diam

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 13 April 2016

Pria itu bernama Radit. Pria yang mengagumkan, elok, tidak kasar, tetapi terkadang menyebalkan. Aku sendiri belum lama ini telah dekat dengannya. Fayza yang mungkin masih pacarnya begitu memiliki sifat yang berbeda dengan Radit. Fayza adalah seorang wanita yang tak dapat menghargai orang lain dengan baik, mementingkan diri sendiri, selalu ingin dipuji dan disayangi, padahal dia sendiri tidak terlalu menyayangi orang yang menyayanginya. Radit, pria yang ku kenal karena lomba pramuka itu begitu membuatku terjebak.

Radit, pria itu menyimpan sebuah misteri bagiku. Meski aku telah cukup dekat dengannya, aku masih memandang Radit sebagai sosok yang misterius. Entah apa yang ada dalam pikirannya sungguh sulit ditebak. Mungkin, dia masih menyukai Fayza di suatu sisi, tapi terkadang di sisi lain dia seperti membenci Fayza. Tapi bukan itu masalahku pada Radit. Ada suatu alasan kenapa aku menyebut namanya. Alasan yang sebenarnya tak boleh ada. Di suatu pekan lomba, untuk pertama kalinya aku berbicara dengannya. Berbicara dengan serius memikirkan rancangan lomba. Tapi waktu itu aku tidak merasakan apa pun meskipun cara bicaranya sangat ku kagumi. Dalam pekan lomba pertama ini, semua orang termasuk aku masih menganggapnya sebagai kekasih Fayza. Memang tidak ada yang salah dari semua itu.

Saat hari lomba pun tidak ada yang aneh. Semua berjalan biasa saja. Aku dan Radit kala itu memang belum akrab. Tapi bagiku lomba pertama ini punya bencana untukku. Aku disukai oleh kakak kelasku sendiri. Suatu tindakan yang tak terduga. Albab, begitulah namanya. Tapi meski telah mencoba, aku tak pernah bisa mencintainya. Bagaimana tidak? Aku telah mencintai seseorang sebelum ini, Rahadian. Rahadian seorang pria tampan yang ku kenal 3 bulan yang lalu. Perkenalan lewat pertemuan memalukan yang tak terduga. Dan saat ini, aku telah mencintainya. Entah itu dari kapan.

Setelah lomba pun kejadian berjalan sewajarnya. Tidak ada yang aneh ataupun ganjil antara aku dan Radit. Kecuali, mas Albab yang mengutarakan cintanya sampai akhirnya aku menolaknya. Bagaimana bisa aku menerimanya? Sungguh tidak mungkin untuk menjalin hubungan khusus dengan orang yang bahkan tak ku cintai. Ku harap dia sabar dan menerimanya juga. Hingga pada akhirnya, diadakan lomba kedua. Dari sekian banyak anggota hanya 16 orang yang terpilih ditambah Dewan Galang kelas 9. Kelas 7 yang tersisa hanya, aku, Radit, Aliyya, dan Ailsa. Di lomba inilah aku mulai dekat dengan Radit. Aku dan Radit dekat karena kami menempati bagian pos yang sama kebanyakan, seperti morse, melembang, bowling, dan kim lihat. Dan pos yang membuatku akrab dengan Radit ‘melembang’. Di sinilah awal aku merasakan semuanya.

Jum’at, 4 Maret 2016. Tepat H2 lomba kedua ini. Hari inilah semua itu berawal. Hari ini yang membuatku terjebak di hari berikutnya. Hari ini yang membuatku merasa bersalah. Hari ini yang membuatku resah. Hari ini yang membuatku tambah sakit hati. Namun menjadi hari dimana aku bisa tersenyum lagi. Dan kenangan tentang hari ini masih tersimpan rapi dalam memoriku. Hari yang mungkin ku rindukan saat ini.

Bel pulang sekolah berbunyi. Luapan kegembiraan para siswa terdengar riuh di sana sini. Semua merasa beban telah terlepas begitu saja. Semua siwa menyambut saat ini dengan teriakan senang yang tiada henti. Tak terkecuali aku. Dengan segera ku tata kembali buku dan alat tulis ke dalam tas cokelat ku yang berat. “Yes, akhirnya latihan pramuka yang serba berat tapi menggembirakan.” batinku. Aku meninggalkan kerasku dan berlari kecil menuruni tangga untuk menuju aula sekolah. Pembina dan kakak-kakak DG sudah berkumpul di sana. Aku termasuk datang terakhir. Radit melepaskan tawa manisnya dan menyindirku hingga pipiku merah karena malu. Datang terlambat dengan baju yang acak-acakan dan wajah yang lesu. Begitulah kata-katanya. Kak Zen, pembinaku menyuruh semuanya latihan sesuai tugas yang dibagi kemarin. Akhirnya aku memutuskan untuk melembang dulu. Di sana, di tempat melembang. Radit tengah mengecek bambu memastikan talinya tidak kendor. Lalu dia mempersilahkanku naik lebih dulu. Alhamdulillah aku tidak jatuh terpelanting.

Aku, Radit, dan Aliyya terus saja latihan melembang. Yang lainnya mungkin sudah lelah. Aliyya tengah menunggu di ujung bamboo. Memang dasar aku yang keterlaluan dan isengnya kelewatan, aku melembang dari arah yang berlawanan berusaha melewati Radit. Tepat saat berpapasan, hasilnya sudah tidak diragukan lagi. Aku terpeleset, jatuh terpelanting, dengan kaki tetap di atas bambu dan kepala di bawah serta sepatu berhasil melayang di tengah lapangan. Subhanallah.. malu ah! semuanya tidak kunjung berhenti menertawakanku. Sekitar jam 3 sore. Aliyya mulai haus dan kabur entah ke mana. Kak Zen akhirnya memutuskan untuk melatihku dan Radit melembang. Dan, aku selalu cepat dibanding Radit. Kami berdua nih entah saingan atau apa malah adu cepat. Padahal kak Zen gak nyuruh cepat. Tapi ya sudahlah. Setelah latihan selesai Aliyya muncul. Uft, anak ini.. cari kesempatan rupanya untuk kabur dari latihan. Tapi, ya sudahlah.

Semenjak latihan tadi, ada sesuatu yang menyelimuti hatiku. Sebuah perasaan. Entah itu apa. Setiap melihat Radit aku merasakan sebuah getaran. Sebuah getaran kuat yang membuatku seakan melayang di angkasa. Getaran itu.. kuat sekali. Seperti yang ku rasakan saat mengenal Rahadian. Tap.. tapi.. itu tidak mungkin. Aku tak boleh merasakan ini. Sangat tidak boleh. Sampai di rumah pun, perasaan itu tetap ada. Aku sangat merasa bersalah. Entah pada siapa. Aku..aku.. seharusnya tak boleh melakukan ini. Ya Tuhan.. apa yang terjadi denganku? Sebuah kesalahan besar jika aku merasakan ini. Sangat salah! mungkin bisa jadi ini adalah sebuah dosa. Oh Tuhan.. ampuni aku. Hapuskan ini semua.

Sabtu, 5 Maret 2016. Seperti biasa hari ini, aku latihan pramuka. Dan tentu saja akan sangat berat untuk hari ini. Karena besok sudah lomba. Aku bertemu Radit hari ini. Dan sepertinya perasaan itu mulai hilang. Karena pagi ini aku bertemu Rahadian. Dan aku serasa terbang tinggi sekali. Tapi ternyata perkiraanku bahwa perasaan ini telah hilang salah. aku masih menyimpan perasaan itu. Sore ini, hujan deras melanda sekolahku. Bambu melembang menjadi licin karena air. Tapi saat aku sedang asik diam, Raddit malah menantangku melembang di tengah hujan. Aku malah menerimanya. Padahal aku bisa saja jatuh jika tidak hati-hati. Dan saat melembang itu, aku menyuruh Radit melembang lebih dulu untuk menghindari resiko jatuh duluan. Aku sengaja mengekor di belakang Radit agar bambu terasa seimbang. Tapi kenyataannya aku kurang hati-hati. Dan tepat di belakang Radit, aku kehilangan keseimbanganku.

Aku mencoba sekuat tenaga untuk mengembalikkannya. Tapi sudah tak kuat lagi. Aku hampir jatuh berdebam. Tapi selamat karena refleksku bagus. Tapi sebenarnya sama sekali enggak bagus. Karena aku pegangan pada Radit. Uhh, malu dah. Radit juga tampak sewot. Aku juga pasang muka sewot padahal dalem hati pengen bilang makasih ya Radit plus semyum-senyum aneh. Hehehe. Semenjak kejadian itu, perasaanku pada Radit semakin jelas. Bahwa ternyata aku memang menyukainya. Namun aku memutuskan untuk diam karena aku tak mungkin mengatakannya. Karena sebuah kesalahan besar bagiku untuk merasakannya apalagi mengatakan padanya bahwa aku menyukainya. Sangat tidak boleh.

Cerpen Karangan: Farah Fadhiani
Facebook: Farah Fadhiani
Farah Fadhiani. Gadis berusia 13 tahun yang menulis karena hobi dan isi tulisannya asli pengalaman orang lain dan kadang juga diri sendiri. Saat ini bersekolah di SMPN 6 surabaya. Gadis ini lahir pada 2 Mei 2003 yang sungguh gak ada yang nanya.

Cerpen Diam merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dika, Zaki Dan Wahyu (Part 1)

Oleh:
Di hari yang sangat cerah begini, aku sudah ada di sekolah. Sekolah ini bukan sekolah biasa. Banyak tanaman-tanaman hijau, dan ada lapangan sepak bola, walaupun bukan milik sekolah lapangannya.

I’m Telatan Not Teladan

Oleh:
Senin pagi seperti biasa Indah berangkat sekolah dengan tergesa-gesa. Karena, lagi-lagi dia harus mengalami suatu kejadian yang membuatnya gelisah, Terpepet Waktu! “Pukul 06.45,” desis Indah sambil mempercepat langkah setengah

Flower Crown Penghujung Cinta

Oleh:
Siang itu, sama seperti biasanya. Lagi-lagi aku mencuri kesempatan untuk bisa memandangnya. Dari balik layar laptopku, aku berusaha melihatnya saat sedang menikmati makanan dan juga minuman bersama teman-temannya. Meskipun

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *